Pedang dan Kitab suci (06-10)

Su Kiam in Siu Lok
Puteri Harum dan Kaisar atau Pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung

Jilid 6
DENGAN ucapan itu dia mau artikan “
“Bukti kedosaanmu sudah ditangan kita, sekalipun kau bunuh kita berdua, juga sia-sia saja.”
Justeru dalam saat yang tegang itu, dari luar pintu Lou Ping menyerang dengan huito kearah

Siu Ho. Sekalipun Tiong Ing amat benCi Siu Ho, tapi dia tak mau orang itu sampai binasa

dirumahnya. Tanpa mengetahui dulu siapa penyerangnya, Tiong Ing perlu menolong jiwa orang

itu. Hampir bersamaan waktunya, thiat-tan ditimpukkannya, tepat mengenai tangkainya.

Meskipun huito itu agak membeluk jalannya, tapi ujungnya tetap menyasar kebahu kiri Siu Ho.
Sebaliknya, karena nampak orang melindungi musuhnya, memakilah Lou Ping dengan lantangnya :
“Bagus kau, bangsat tua yang sudah menganiaya suamiku. Mari kau bunuhlah aku sekali!”
Dengan berpintjangan, Lou Ping menobros masuk terus menyerang Tiong Ing dengan sepasang

wan-yang-tonya. Karena tak memegang senjata, Tiong Ing sembat sebuah kursi untuk

menangkisnya, katanya:
“Sabarlah, kita bicara dengan pelan-pelan dulu!”
Lou Ping sudah bertekad untuk mengadu jiwa. Dengan tak hiraukan omongan. Orang, ia segera

menyerang gencar dengan ilmu golok warisan ayahnya. Sepasang goloknya merangsang dalam

jurus-jurus serangan hebat. Tiong Ing insyap bahwa orang-orang HONG HWA HWE menuduh dia

menyual Bun Thay Lay. Untuk itu dia berusaha akan menyelaskan, karenanya dia tak mau balas

menyerang dan hanya main mundur saja.
Lou Ping makin gencar memainkan sepasang goloknya, dan pada saat itu Tiong Ing sudah

terdesak sampai keujung tembok. Selagi dia dalam keadaan yang beru saja itu, tiba-tiba Lou

Ping merasa ada sambaran angin memukul dari arah belakang. Cepat-cepat ia bungkukkan tubuh

seraja sabetkan sebelah goloknya kebelakang kepala.
Menyusul dengan itu, kembali ada angin menyambar, maka Buru-buru Lou Ping gerak kan goloknya

yang panyang untuk membabat kaki orang. Begitu orang itu loncat mundur, Lou Ping terus

berputar badan. Ternyata penyerangnya itu ialah puterinya Ciu Tiong Ing.
”Kau seorang perempuan yang tak tahu membalas kebaik an. Dengan baik-baik kutolong kau,

tetapi berbalik kau akan membunuh ayahku!” demikian damperat Ciu Ki pada Lou Ping.
”Kau orang Thiat-tan-Chung hanya berkedok kebaikan palsu. Suamiku telah kau aniaya. Kau

minggirlah, aku tak kan mengganggumu!” kata Lou Ping, siapa lalu berpaling kearah Tiong Ing

dan terus menyerangnya lagi.
Tiong Ing angkat kursi untuk menangkis, maka Buru-buru Lou Ping menarik pulang senjatanya.

Menyusul dengan itu ia menyerang lagi tiga jurus serangan berantai. Tiong Ing berkelit kian

kemari dan ber-ulangdua berseru supaya Lou Ping berhenti menyerang. Ciu Ki menjadi gusar

terus maju menghadang Lou Ping. Dan kini keduanya saling bertempur dengan seru!.
Dalam hal pengalaman, Lou Ping lebih atas dari Ciu Ki. Tapi karena ia terluka tambahan pula

pikirannya kusut, maka setelah bertempur sampai tujuh atau delapan jurus. Lou Ping mulai

keteter.
”Berhenti!” seru Tiong Ing tiba-tiba .”
Tetapi. kedua orang yang tengah bertempur itu tak meng hiraukan seruan itu, sementara itu

Ban Khing Lan Buru-buru menolong Cabutkan huito yang menancap dibahu Siu Ho dan dibalutnya.

Keduanya juga menyaksikan pertempuran antara kedua jago betina itu.
Karena puterinya tak dengar kata, marahlah Tiong Ing. Diangkatnya kursi terus akan

dihantamkan ketengah untuk memisah, tetapi tiba-tiba terdengar suara yang aneh dan menyusul

sebuah bayangan bundar menobros masuk. Dengan bersenjatakan sepasang kampak, seorang kate

tahu-tahu terus menghantam Ciu Ki dengan sehebat-hebatnya.
Ciu Ki loncat menghindar, lalu dengan gerakan “sin-liong-to-ka” naga sakti mengibas sisik,

ia balas menabas pundak orang. Namun orang itu tinggal diam saja. Dia hanya pakai tangkai

kampak untuk menangkis. “Trang.” Ben turan itu menggetarkan tangan Ciu Ki, malah begitu

keras sampai kesemutan rasanya dan goloknya terlepas.
Dengan sebat, Ciu Ki loncat mundur dua tindak. Dibawah sinar lilin yang menerangi ruangan

tersebut., dilihatnya sang lawan itu adalah seorang bongkok yang aneh sekali potongan

tubuhnya. Si Bongkok tak mau mengejarnya, hanya memandang kearah Lou Ping. Demi melihat

kesajangannya, hati Lou Ping bukan buatan girangnya, serunya :
“Sip-ko!”
”Su-ko dimana?” balas menanya si Bongkok.
Lou Ping menunyuk pada Tong Siu Ho bertiga, lalu berseru : “Dia dianiaya oleh orang-orang

ini. Sip-ko (kakak kesepuluh), kau balaskanlah sakit hatinya!”
Mendengar itu, dengan tanpa tanya apa-apa, si Bongkok Ciang Cin terus menyerang
Tiong Ing, siapa karena tak membekal senjata apa-apa, terus loncat keatas meja dan berseru :
“Berhenti dulu!”
Tapi Ciang Cin menyusuli lagi membabat kaki Tiong Ing. Apa boleh buat, Tiong Ing terpaksa

loncat kebawah lagi. Karena si Bongkok menghantam dengan sekuat-kuatnya, maka kampaknya itu

menancap beberapa dim kedalam meja, dan untuk sesaat sukar untuk ditariknya.
Adalah pada saat itu, Kian Hiong dan Kian Kong yang mendapat laporan, segera bergegas

datang. Kian Kong lalu mengangsurkan senjatanya kim-pui toa-to pada sang suhu. Juga nona Ciu

Ki yang beradat berangasan, nampak Lou Ping dan si Bongkok begitu kurang ajar, segera

berseru :
“Beng toako, An samko, jangan kasih lepas kawanan berandal yang mengaCau Thiat-tan-Chung

ini.”
Bertiga mereka segera menyerang pada Ciang Cin. Si Bongkok tidak gentar, tiba-tiba iapun

berteriak :
“Ayo, Chit-ko, lekas kau keluar menemui suko. Kalau masih ayal-ayalan, akan kudamprat

leluhurmu!”
Kiranya bersama Bu-Cu-kat Ji Thian Hong, Ciang Cin terus menempuh perjalanan siang malam

untuk lekas-lekas menuju ke Thiat-tan-Chung. Ketika sampai di Thiat-tan-Chung, hari sudah

malam. Thian Hong sebenarnya akan menyerahkan karcis nama untuk minta bertemu dengan Ciu

Tiong Ing. Tetapi si Bongkok tanpa bilang apa-apa, terus menobros masuk saja. Apa boleh

buat, Thian Hong terpaksa mengikutinya. Dan ketika dia baru sampai, tahu-tahu si Bangkok

sudah bertempur dengan Ciu Ki, Kian Hiong dan Kian Kong. Maka ketika si Bongkok

menereakinya, dia Buru-buru menghampiri kesamping Lou Ping.
Saat itu Lou Ping dengan napas tersengal-sengal memutar sepasang goloknya terus akan

menyerang Tiong Ing. Begitu melihat Thian Hong, ia menjadi girang sekali.
Dengan adanya kursi itu disitu, tentu bereslah urusannya. Menuding pada Tong Siu Ho dan Ban

Khing Lan, segera ia berseru :
“Merekalah yang mencelakakan suko”
Biasanya Thian Hong selalu bersikap hati-hati. Tapi kali ini karena mendengar sukonya

dianiaya orang, tanpa berpikir panyang lagi dia terus menyerang Siu Ho dengan senjatanya.
Bagi Siu Ho dan Ban Khing Lan sebenarnya sangat girang melihat orang HONG HWA HWE bertempur

dengan orang Thiat-tan-Chung. Mereka memperhitungkan orang HONG HWA HWE yang hanya tiga

orang itu, tentu akan kalah. Dan pada saatnya mereka baru akan turun tangan untuk

membekuknya, untuk menCari pahala.
Malah Siu Ho tetap merindukan Lou Ping, dan selama itu dia awasi dengan mata tak terkesiap.

Maka dia begitu gelagapan, ketika Thian Hong loncat membacok. Syukur dia masih bisa berlaku

sebat untuk menangkis dengan goloknya.
Perawakan Thian Hong yang pendek kecil itu, sembabat sekali dengan Siu Ho. Tapi dalam buge,

Thian Hong lebih unggul. Beberapa kali Siu Ho terpaksa mundur saja. Malah dilain saat,

tangan kiri Thian Hong yang pegang tongkat besi dikibaskan keluar, menyusul tangan kanan

yang memegang golok ditikamkan ke lawan. Siu Ho Buru-buru berkelit ke kiri. Tapi dia hanya

memperhatikan serangan disebelah atas dan lupa menyaga serangan musuh yang menikam dari

bawah. Maka sekali pahanya termakan golok, piauwsu itu segera berguling-guling ketanah.
Ketika Thian Hong akan menyusulkan tongkatnya, tiba-tiba terasa ada angin menyambar

punggungnya. Karena tak ke buru memutar diri, dia terus inyak dada Siu Ho untuk loncat

kemuka. Dan secepat-cepat kilat dia memutar badan, untuk menangkis senjata Ban Khing Lan

yang hendak membokong tadi.
Dengan sepasang senjata ping-thi-tiam-kong-jwan (semaCam golok runCing) dikotaraja pernah

Khing Lan jatuhkan sepuluh orang lebih jago-jago silat yang ternama. Dengan keangkeran

itulah dia baru dapat menyabat Cong-kauw-sip dari The-ong-hu (istana pangeran The). Senjata

itu dia jakinkan selama dua tahun. The jin-ong karena akan mengangkat dia ke kedudukan yang

lebih tinggi, lalu titahkan dia mengawani Ciauw Cong, agar bisa mendirikan pahala.
Dengan Thian Hong, dia menemui perlawanan yang seru. Meski sudah puluhan jurus, belum ada

yang menang dan ka lah. Khing Lan makin bernapsu. Kalau sampai tak dapat mengalahkan si kate

itu, dia pasti akan ditertawakan oleh Siu Ho. Maka segera dengan gerak “khong jiok gay

ping”; burung gereja pentang sajap, dia tikam Thian Hong dengan bernapsu sekali.
Thian Hong menghadangkan tongkatnya besi, sedang golok dia tabaskan kemuka lawan. Dengan

thi-jwan ditangan kanan, Khing Lan menangkis, diteruskan memapas kepala. Kalau Thian Hong

tak keburu menarik kepalanya kebelakang, pasti akan tepapas, karena ujung thi-jwan itu hanya

terpisah satu dim dengan kepalanya. Diam-diam Thian Hong me ngakui akan kelihaian sang

musuh. Kini dia berganti Cara nya bertempur. Karena tubuhnya pendek, maka dia tujukan

serangannya kekaki lawan. Golok dan tongkat dirangkapkan kebawah untuk memotong kedua paha

orang.
Khing Lan menegakkan sepasang thi-jwannya untuk me lindungi sang kaki. Tetapi tak

disangkanya, serangan Thian Hong itu hanya kosong belaka. Betul golok masih diteruskan

menabas, tetapi tongkat Cepat-cepat berganti arah, lurus menotok muka lawan. Betul? Khing

Lan tak berdaya lagi untuk menangkis, maka terpaksa dia
gunakair gerak “thiat pian kiao” jembatan gantung, untuk buang dirinya kebelakang.
Benar dia dapat lolos dari bahaja, tapi keringat dingin membasahi sekujur badannya. Dan

bertempur lagi dalam beberapa jurus, dia merasa kewalahan.
Dilain partai, Ciang Cin berkelahi seperti seekor kerbau mengamuk.
”Kian Kong, Cepat-cepat kau tutup pintu desa, wftenyaga ja ngan ada musuh yang bisa masuk,”

seru Kian Hiong.
Namun sepasang kampak Ciang Cin makin gencar, hingga untuk beberapa saat itu Kian Kong tak

dapat lepas keluar gelanggang, Melihat itu berserulah Ciu Ki :
“An-jiko, lekas kau pergi, biar sibongkok ini aku yang melayani!”
Dikatakan „bongkok,” hinaan yang paling dikutuknya se umur hidup itu, meluaplah dada Ciang

Cin. Dia mengge rung dan mengerang. Ciu Ki dan Kian Hiong perhebat serangannya, maka

dapatlah Kian Kong loncat keluar.
”Semua harap berhenti dulu, dengarlah penyelasan lohu ini,” tiba- Tiong Ing berseru.
Kiang Hiong dan Ciu Ki menaati, terus mundur beberapa tindak. Begitupun Thian Hong juga

mundur, dan serunya :
”Ciang sipte, berhentilah. Dengarkan penyelasannya.”
Tetapi si Bongkok tak ambil perduli, terus menyerang saja. Ketika Thian Hong akan maju

menCegahnya, tiba-tiba Ban Khing Lan menghantam punggungnya dengan thi-jwan. Karena tak

menyangka. Thian Hong tak keburu menyaganya. Cepat-cepat dia tarik badannya, tetapi bahunya

terhantam, hingga sampai dia terhuyung-huyung. Serunya dengan penuh ke marahan :
”Bagus, kamu orang-orang Thiat-tan-Chung memang banyak-banyak tipu muslihat.
Dia salah sangka, mengira Ban Khing Lan itu orang Thiat-tan-Chung. Biasanya dia itu tenang

orangnya. Tapi dibokong begitu, dia marah betul-betul. Bahunya yang sebelah kiri karena

terluka, dia tak dapat mainkan tongkatnya besi lagi. Dengan hanya memakai sebatang golok di

tangan kanan, dia serang Ban Khing Lan. Walaupun lengkapnya harus memakai tongkat, namun dia

tetap gunakan ilmu golok „ngo-houw-toan-bun-to.” Tetapi gerakannya kurang linCah, karena

luka dibahunya itu sangat mengganggu sekali.
Disebelah sana Ciang Cin masih mengamuk, adalah Siu Ho yang enakdua berdiri agak jauh.

Dengan mulut berkemak-kemik tak lampias, dia tudingdua kearah Lou Ping. Karena huitonya

hanya tinggal sebatang, Lou Ping tak mau sembarangan melepas. Dia Cuma mengangkat goloknya

untuk mengejar Siu Ho, siapa berlari-lari memutari meja seperti lakunya anak main godak.
“Kau jangan keliwat galak, suamimu kan sudah mening gal, lebih baik kau menikah dengan

Tong-toaya ini saja,” serunya sembari berlarian.
Hati Lou Ping memang sudah gelap, mendengar kata-kata Siu Ho itu, ia kira suaminya

betul-betul sudah meninggal. Seketika itu pandangannya terasa gelap, kepalanya berat terus

roboh tak ingat orang. Melihat itu, tersipu-sipu. Siu Ho lari menolong nya. Tapi kini Ciu

Tiong Ing sudah tak kuasa menahan kemarahannya lagi. Dengan kim-pui toa-to, dia juga berlari

memburu kearah Lou Ping. Maksudnya akan menghajar Siu Ho yang kurang ajar itu.
Tetapi kalau memang sudah seperti digaris, maka kesala han faham itu makin menjadi-jadi.

Justeru pada saat itu, menobroslah seseorang kedalam ruangan itu dengan berseru keras-keras.
“Kau berani melukai suso-ku mari kita mengadu jiwa.” Dengan sepasang siang-kao (gaetan)

orang itu menyerang Tiong Ing dari dua jurusan, kearah tenggorokan dan ke bawah perut.

Nampak wajah gagah, perwira dari orang itu, dan gerakannya begitu linCah sekali, Tiong Ing

merasa segan. Dia hanya menangkis pelan-pelan sambil mundur setindak katanya : “Saudara ini

siapa, harap suka beritahukan nama dulu!”
Orang itu tak mau menyawab dan hanya membongkokkan badan untuk memeriksa Lou Ping yang

wajahnya puCat seperti kertas itu. Ketika dirasakan hidung Lou Ping masih mengeluarkan

napas. Cepat-cepat didorongnya keatas kursi, sedang wan-yang-to diletakkan disisinya.
Melihat orang-orang yang bertempur itu makin seru dengan tak menghiraukan permintaannya,

Tiong Ing marah. Tapi pada saat itu, dari luar terdengar seseorang bertereak keras sekali.

Menyusul itu terdengar gemerenCingnya suara senjata ber adu. Tak lama kemudian, munCullah An

Kian Kong dengan menderita kekalahan, dikejar oleh seseorang.
Segera Tiong Ing mengetahui bahwa orang itu bertubuh gemuk dan tinggi. Tangannya memegang

sebatang pian yang beratnya tak kurang dari tiga 0 kati. Kian Kong ternyata tak berani

saling berhantam senjata dengan orang itu.
”Pat-te, kiu-te. Kalau hari ini kita tak basmi orang-orang Thiat-tan-Chung, sungguh tak

legah sekali,” Thian Hong berseru kepada sigemuk itu.
Orang itu bernama Thiat-tha Nyo Seng Hian, orang nomor delapan dalam HONG HWA HWE Sedang

yang sikapnya gagah tadi ialah Kim-paoCu Wi Jun Hwa, menempati kedudukan nomor sembilan.

Meng hadapi setiap pertempuran, terutama dengan tentara negeri, Jun Hwalah yang selalu

paling berani sendiri se-olahdua akan menantang maut. Tapi anehnya, selama itu belum pernah

dia mendapat luka berat, hingga Kawan-kawan nya mendiuluki dia “Kim-pa-Cu” atau macan tutul

bernyawa sembilan.
Kedua orang itu, aclalah bantuan HONG HWA HWE dari gelombang kedua. Sampai di

Thiat-tan-Chung, sudah hampir tengah malam. Mereka segera nampak, pintu Thiat-tan-Chun

terang benderang dengan kawanan Cengteng yang membawa obor dan senjata, seakan-akan

menghadapi musuh besar. Segera Jun Hwa maju berseru :
”Orang she Nyo dan she Wi dari HONG HWA HWE akan mohon meng hadap pada Ciu loenghiong, harap

saudaraa suku tolong melaporkannya.”
Mendengar bala bantuan HONG HWA HWE datang, sedang didalam pertempuran sedang berlangsung

dengan hebatnya, An Kian Kong tak mau kasih mereka masuk, perintahnya malah ke pada para

Cengteng : “Lepas panah!”
Kira-kira duapuluhan Centeng segera pentang busur dan se ketika itu segunduk panah muntah

keluar. Dengan gusar, Jun Hwa dan Seng Hiap putar senjatanya untuk menangkis. Malah Jun Hwa

angot penyakitnya, terus menyerbu kearah hujan panah itu.
Melihat Caranya dia terdyang ba haja, Centeng-centeng itu ketakutan sendiri. Yang tak keburu

menyingkir, kena keterjang .
Juga Nyo Seng Hiap ikut menerdyang , tapi dihadang Kian Kong dengan goloknya. Seng Hiap

bertubuh tinggi besar, bertenaga kuat sekali. Gerakan piannya, terbitkan deru angin yang

keras. Kian Kong tak berani menangkis dan hanya loncat menghindar. Setelah ada kesempatan,

baru dia kirim baCokan. Sekalipun Seng Hiap berbadan gemuk, tapi gerak annya tetap gesit.

Dengan gerak “membabat ribuan serdadu” dia menyabet sekuat-kuatnya. “Trang,” demikian golok

dan pian saling beradu dan Kian Kong segera rasakan tangannya ke semutan sakit sekali.

Goloknya terpental keatas.
Seng Hiap memang tak berniat mengambil jiwanya, maka setelah lawan lari, tak dikejarnya dan

hanya loncat dari tembok desa terus masuk kedalam Thiat-tan-Chung. Karena tak kenal jalanan,

sedang hari amat gelap, telah menyem patkan Kian Kong mengambil goloknya lalu menghadangnya

lagi. Kini pemuda itu berkelahi dengan hati-hati, namun dalam beberapa gebrak saja,

lagi-lagi gigir goloknya telah kena disabet pian Seng Hiap, sampai bengkok.
Begitu sembari memberl perlawanan, Kian Kong terus mundur sampai keruangan tengah. Ketika

Seng Hiap mengi rim sabetan kearah muka, Kian Kong tarik kepalanya ke belakang, lalu

mengangkat sebuah meja untuk ditangkiskan. Sebelah ujung meja segera terpapas kutung,

ber-keping-keping bertebaran. Melihat itu Ciu Tiong Ing leletkan lidahnya dan diam-diam

memuji akan kelihaian jagos HONG HWA HWE Dan pada saat itu Kian Kong sudah mandi keringat,

beberapa jurus lagi tentu berbahaja jiwanya. Maka bertereaklah Tiong Ing se kuatduanya :
“Para enghiong dari HONG HWA HWE, dengarlah lohu akan bicara.”
Jun Hwa dan Seng Hiap segera berhenti, malah Jun Hwa memperingatkan Thian Hong yang waktu

itu tengah bertempur dengan Ban Khing Lan, supaya berhenti juga. Tapi Thian Hong malah

bertereak keras-keras:
“Awas, jangan kena ditipu!”
Belum ucapan itu selesai, Ban Khing Lan benar menyerang lagi. Kuku garuda kuatir kalau nanti

fihak Thiat-tan-Chung bergabung dengan orange HONG HWA HWE Karena itu, dia tak mau kasih

kesempatan untuk mereka berbicara. Namun Jun Hwa ternyata sudah berjagadua. Tak mau dia

mundur meng hindar, sebaliknya malah menyambutnya dengan serangan juga. Melihat itu Khing

Lan kaget. Nyata musuh tak hirau kan jiwa. Dan Buru-buru dia tarik kembali piannya.
Saat itu setelah menolong Lou Ping hingga tersedar lagi, memakilah Thian Hong dengan

gusarnya :
“Kalangan kangouw sama memuji kau sebagai orang yang sangat berbudi tinggi, tak tahunya

kalau seorang licik yang sombong. Kau atur tipu daya yang rendah, adakah itu perbuatan

seorang enghiong?!”
Tahu juga Tiong Ing bahwa mereka salah paham, namun dia marah juga dimaki begitu, teriaknya

tak tahan :
“Kau orang-orang HONG HWA HWE, terlalu menghina orang!”
Dia singkap jubahnya dan menyerukan sang murid supaya mundur.
“Kian Kong mundurlah, biar aku siorang tua meminta pengajaran dari para orang gagah yang

ternama itu,” demikian teriaknya.
Setelah Kian Kong mundur, Tiong Ing maju dengan me megang golok, katanya : “Saudara yang ini

siapa?”
Nampak yang tampil kemuka seorang tua berjanggut putih, Seng Hiap Buru-buru rangkapkan kedua

tangan memberi hormat sambil berkata :
“Aku yang rendah ini ialah Thiat-tha Nyo Seng Hiap,”
”Pat-ko, tak usah kau terlalu merendah, situa inilah yang menipu suko,” demikian

sekonyong-konyong Lou Ping berseru.
Mendengar keterangan itu, kagetlah Seng Hiap dan Jun Hwa berdua. Malah setelah dapat

mendesak Ban Khing Lan mundur, Jun Hwa berputar badan terus menyerang Tiong Ing. Sepasang

gaetan bagaikan angin menyerang perut orang.
Dengan kerahkan lwekang, Tiong Ing tanCapkan goloknya kebawah untuk menangkis, maka

memballah gaetan Wi Jun Hwa. Bahwa buge lawan memang tangguh sudah diketahui oleh Jun Hwa.

Tidak mundur, tapi dia malah menyerbu.
Sedang Ciang Cin yang dikerojok Kian Hiong dan Ciu Ki, masih bertarung dengan gigihnya.

Dengan napas ter engahs, Kian Kong akan membantunya. Jadi kini si Bongkok dikerubuti tiga.

Sementara itu, Seng Hiap mendapat lawan Ban Khing Lan.
Dalam partai sana, ternyata beberapa kali Tiong Ing mem beri kelonggaran, tapi rupanya Jun

Hwa tak mengetahui dan tetap tak mau mundur. Golok Tiong Ing dibolang-baling kan dengan

sebatnya, maka terpentallah gaetan Jun Hwa yang sebelah kiri.
Melihat bagaimana hebat permainan golok jago Thiat-tan-Chung itu, tahulah Thian Hong bahwa

dia harus lekas-lekas bantu Jun Hwa. Namun sekalipun Tiong Ing orangnya tua, tapi dia tetap

tak kalah menghadapi dua jago HONG HWA HWE itu. Malah kini golok diputarnya sedemikian

santernya, hingga badannya seperti ditutup dengan gulungan sinar putih, makin lama, makin

gagah orang tua itu. Menampak fihaknya masih belum menang, berserulah Thian Hong

keras-keras:
“Ngo-ko, liok-ko, bagus kau orang pun sudah datang, lekas lepas api. Bakar saja

Thiat-tan-Chung ini, urusan belakang!”
Ini sebetulnya adalah siasat dari sikanCil Thian Hong, untuk memeCah pikiran lawan.

Sebenarnya ngo-ko dan liok-ko dari HONG HWA HWE jakni Siang He Ci dan Siang Pek Ci belum

datang kesitu. Kedua saudara ini masih menyalankan perin tah Cong-tho-Cu ke Thio-ke-po untuk

mengawasi gerak-gerik kawanan kuku garuda dikota raja.
Tipu seruan itu ternyata berhasil. Oranga Thiat-tan-Chung sama terkejut. Malah karena

berajal, Tiong Ing hampira termakan gaetan Wi Jun Hwa. Setelah semangatnya kem bali, Tiong

Ing lancarkan serangan golok “sam-nyo-gay-thay” tiga ekor kambing menerdyang gunung.

Serangan berantai dari tiga jurus itu, dapat memaksa Thian Hong dan Jun Hwa mundur beberapa

langkah. Menggunakan kesempatan itu, Tiong Ing enyot tubuhnya keambang ruangan, maksudnya

akan Cegat musuh yang hendak melepas api.
Namun bagaikan bayangan, Jun Hwa tetap membayang i nya. Orangnya belum sampai, gaetannya

sudah tiba, menusuk Tiong Ing. Tiong Ing memutar toa-tonya. Begitu sepasang gaetan lawan

membal, dia teruskan membaCok. Malah bukan begitu saja. Kaki kanan jago tua ini disapukan

berbareng tangan kirinya menyotos. Wi Jun Hwa Buru-buru loncat ke samping. Tapi tangan kiri

Tiong Ing dijulurkan menyadl kuku alapdua, untuk dipukulkan kebahu lawan. Gerakan ini

dinamai “sam-hap,” salah sebuah jurus istimewa dari pukulan “ji long tam san” atau Ji-long

menyelidiki gunung, salah satu tipu dari Siao Dim Pai.
Tadi Jun Hwa hanya pusatkan perhatian pada ilmu golok lawan, dan lengahlah dia bahwa musuh

sekonyong-konyong menyusuli pukulan tangan kosong. Menghadapi serangan golok, kaki dan

pukulan tangan, benardua Jun Hwa keripuhan. Yang dua masih dapat dia hindari, tapi yang

ketiga dia kewalahan. Seketika dirasakan sebelah bahunya itu seperti tertimpa mar-til. Itu

saja Tiong Ing masih berlaku murah, hanya menggunakan seperempat tenaganya, kalau tidak,

tentu si Kim-pa-Cu itu terluka berat. Namun sekalipun demikian, tak urung Jun Hwa

sempojongan beberapa tindak.
Kiranya orang she Wi ini betul-betul bandel. Belum sang kaki berdiri jejak, sudah dienyotkan

lagi kemuka, berbareng dalam gerak “burung hong memutari sarang” sepasang gaetannya

merangsang tubuh Tiong Ing. Nampak serangan itu, marahlah Tiong Ing, serunya :
”Engko kecil, padamu aku tak punya hutang dendam seperti membunuh ayah atau merebut isteri,

mengapa kau begini bernapsu? Aku sudah berlaku murah, kau seharusnya mengerti!”
“Kau telah membunuh soeko sekalipun aku tak dapat menang, tapi kau tahu tidak, aku ini ialah

Kiu-beng Kim-pa-Cu (si macan tutul yang punya sembilan nyawa)?” demikian Jun Hwa menyahut

berbareng menyerang.
Melihat orang tak tahu diri, Tiong Ing mendongkol hatinya. Tapi kalau lihat kegagahan orang,

dia merasa sayang juga, katanya pula :
“Selama lohu hidup hampir enam tahun ini, belum pernah melihat setan yang tak sayang jiwanya

semacam kau ini!”
“Makanya hari ini kau disuruh melihatnya!” jawab Jun Hwa.
Berbareng gaetan menusuk, golok Thian Hong pun me nabas. Mendadak Tiong Ing apungkan diri

keatas, toatonya dibarengkan membabat senjata lawan. Mata golok, mema-pas kedalam, sikutnya

berbareng menyodok, tepat mengenai tulang rusuk lawan. Inilah jurus ilmu silat Siao Lim Pai

yang disebut “Lui-he-Ciu.” Kalau dengan sepenuh tenaga, patahlah tulang rusuk orang.
Sekalipun begitu, Jun Hwa keluarkan keluhan sakit, terus jongkok kebawah.
“Kiu-te, kau mundurlah” seru Thian Hong.
Jun Hwa paksakan berbangkit lagi, dengan mendeliki Tiong Ing, dia angkat sepasang gaetan

untuk menyerang lagi.
“Kau ini betuia tak patut dikasihani!” bentak Tiong Ing.
”Lekas lepaskan api, Cap-ji-long, kau jaga pintu bela kang, jangan kasih orang lolos!”

tereak Thian Hong dengan keras.
Demi tereakan itu, guntyang lah pikiran Ciu Ki, dia tak mau melajani si Bongkok lagi dan

pikirnya akan membunuh biangkeladi dari kerusuhan ini. Dengan segera dia menyerang Lou Ping.
Sejak mendengar suaminya binasa teraniaya, dengan sa dar tak sadar Lou Ping duduk dikursi.

Bagaimana hiruk pikuk orang-orang bertempur didalam ruangan besar, baginya hanya seperti

melihat bayangandua berkelebat kian kemari. Pi-kirannya kosong sama sekali, tak tahu apa

yang sedang berlangsung disekitarnya situ.
Dan ketika golok Ciu Ki melayang tiba, Lou Ping hanya memandangnya dengan tersenyum simpul

saja. Wajahnya seperti orang menangis urung. Melihat wajah yang demikian sajunya, batallah

Ciu Ki menyerang. Ia ambil sepasang golok wan-yang:to, lalu diangsurkan kepada Lou Ping dan

katanya:
”Ayo kita bertempur!” Dengan acuh tak acuh, Lou Ping menyambuti senjata nya. Dan Ciu Ki

Cobadua membaCoknya pelan-pelan , untuk menge tahui apakah nyonya itu menangkis apa tidak.

Kembali Lou Ping tertawa, dengan sembarangan saja ia gunakan golok pendek ditangan kanannya

untuk menangkis, sedang goloknya panyang dibuat balas menusuk. Melihat itu Ciu Ki mengelah

napas legah, serunya : “Nah, begitu, Ayo kau berdirilah!”
Lou Ping menurut, tetapi luka dipahanya itu memaksa dia harus duduk lagi. Demikian maka yang

satu duduk dan pi kirannya kosong, sedang yang satunya berdiri dan bernapsu sikapnya, segera

adu senjata. Baru beberapa jurus, ber teriaklah Ciu Ki tak sabar : “Ayo, yang keras! Siapa

yang akan bermain-main denganmu?”
Dia jengkel melihat sikap orang yang acuh tak acuh itu. Dengan orang begitu, ia tak sudi

bertempur. Dan pada saat itulah dia dengar tereakan Thian Hong untuk melepas api, maka nona

itu segera tinggalkan Lou Ping terus lari keluar.
Baru saja melangkah keambang pintu, diluar sudah ada orang yang membentaknya :
“Hem, mau lolos ja?”
Dengan kaget, Ciu Ki loncat balik kebelakang. Diantara sinar lilin, ternyata ada dua orang

tengah mengadang dimulut pintu. Orang yang membentak itu, mukanya putih seperti salju, sinar

sepasang matanya seram seperti iblis. Ciu Ki hendak mengawasi orang yang satunya, tapi ia

merasa aneh, sinar mata iblis itu, seakan-akan mempunyai pengaruh besar sekali, hingga ia

tak berani mengalihkan pandangannya. Tanpa terasa, ia memaki : “Huh, setan getajangan!”
Tak terduga orang itu menyawab dengan dingin : „Benar, aku inilah Kui Kian Chiu!”
Selama ini Ciu Ki tak takut pada siapapun, tetapi mendengar suara orang yang begitu dingin

menyeramkan, betul-betul ia sampai bergidik, tapi ia Coba tabahkan diri dan mem bentak :

“Apa kau kira aku takut padamu?”
Ucapan itu untuk menutupi kejerihannya. Dan berbareng mulut mengucap, tangan mengajun kan

golok kearah kepala orang. Dengan sikap yang dingin, orang itu menangkis dengan goloknya.

Sepasang matanya tetap menatap sinona dengan tajamnya. Ternyata gerakan orang yang le mah,

adalah gerakan seorang achli lwekang. Diam-diam Ciu Ki berCekat hatinya. Ia paksakan lagi,

untuk menabas.
Orang itu benarlah algojo HONG HWA HWE yang bernama Kui-kian-Chiu Cap-ji-long Ciok Siang

Ing. Dia sebenarnya murid Cabang Pat Kwa Bun. Setelah masuk HONG HWA HWE, sering ia minta

pelajaran silat pada sam-tang-keh Tio Pan San. Pan San ajarkan ilmu golok Thay Kek padanya.

Namanya saja persaudaraan angkat, tapi sebenarnya mereka berdua itu adalah guru dan murid.
Dengan ketenangan dan kelemahan gerak Thay Kek, segera Kui-kian-Chiu dapat menguasai

permainan lawan. Sedang dilain partai, Kian Hiong dan Kian Kong rasanya tak ungkulan lagi

melawan si Bongkok Ciang Cin. Juga permainan sepasang ping-thi-tian-kong-jwan dari Ban Khing

Lan telah dipatahkan oleh pian Seng Hiap. Orang she Ban ini tak berani bertempur lagi, dan

hanya ber-putardua diseke liling meja sembari memper-olokdua lawan yang berbadan gemuk, tak

bisa mengejarnya. Sedang si Tong Siu Ho entah lari kemana, Pihak Thian-tan-Chung hanya Tiong

Ing-lah yang berada diatas angin menghadapi Thian Hong dan Jun Hwa. Pikir Tiong Ing, setelah

dapat menundukkan kedua lawannya itu, dia baru akan jelaskan duduknya perkara.
Demikianlah golok dimainkannya makin gencar, hingga kedua anak muda itu terpaksa mesti main

mundur-mundur saja. Selagi begitu, tiba-tiba tampak seorang melesat maju, dengan sekali

teriak: “Mari aku saja yang temani kau main-main !”
Tahu-tahu senjatanya sebatang gajuh besi terus menghantam. Senjatanya sebilah kajuh besi,

tapi gerakannya “Lou Ti Sim mengamuk dengan tongkatnya”. Jadi thiat-Ciang dipakai seperti

tongkat. Dalam tipu “Chin Ong pian Ciok” Chin Ong menghajar batu, thiat-Ciang itu dari

belakang punggungnya sendiri terus menghantam pundak lawan, hebatnya bukan buatan.
Melihat tenaga orang sangat besar, Tiong Ing mengegos kekiri, dari situ dia balas membaCok.

Orang itu Buru-buru me megang thiat-Ciang dengan kedua tangan untuk dipalang kan dan terus

disapukan. Itulah jurus “kim Coa kiam gwat” ular mas memotong rembulan, Cepat-cepat dan

keras sekali.
Ciu Tiong Ing adalah murid Siao Lim Pai. Dia kenal serangan lawan itu, ia miringkan tubuh

untuk berkelit, dan nampak alisnya dikerutkan, seperti orang yang tengah me mikir sesuatu.

Sambil bertempur, dia terus mundur-mundur, tapi sikap kakinya tak berobah. Pada saat itu

tampak Ban Khing Lan lari menghampiri. tiba-tiba secepat-cepat kilat, Tiong Ing mem balik

tangan, membaCok kepala Khing Lan.
Kiranya tahulah Tiong Ing, bahwa salah faham orang-orang HONG HWA HWE tidak bisa diterangkan

karena selalu digagalkan Ban Khing Lan. Terhadap kedua kuku garuda jg akan memeras uangnya

itu, Tiong Ing memang marah betul. Tapi kalau mesti bertentangan dengan orang-orang

pemerintah, itulah berba haja. Berpuluh tahun dia hidup dengan tenang dan bahagia, sekali

bentrok tentu hanCur berantakan. Tiong Ing seorang tuan tanah yang kaja. Dua puluh tahun dia

berusaha keras dan berhasil mengumpulkan harta. Sawah dan ladangnya sangat banyak sekali.

Sudah tentu, sedapat mungkin dia tak mau berbuat kesalahan pada Ban Khing Lan.
Disamping itu, untuk HONG HWA HWE dia telah bunuh anaknya sendiri, tetapi ternyata mereka

tak kenal adat, sekurang-kurangnya menghormatinya sebagai orang yang lebih tua. Kalau dia

mau, dengan segera dapat dia pecundangi mereka, baru nanti memberi penyelasan. Tapi ternyata

orang-orang HONG HWA HWE makin lama makin banyak-banyak, dan pertempuran makin berkobar

hebat. Kalau diteruskan, tentu akan ada korban yang jatuh. Dan salah faham itu tentu berobah

menjadi permusuhan benardua- Kini jago tua itu berkeputusan, untuk membasmi biangkeladinya

yaitu Ban Khing Lan, baru nanti semuanya beres.
Disabet golok besar dari Ciu Tiong Ing, terbanglah semangat Ban Khing Lan. Cepat-cepat dia

mundur selangkah, tapi dalam pada itu Seng Hiap sudah memburu dari belakang. Orang she Ban

itu, Cepat-cepat enyot tubuhnya keatas meja, lalu berseru keras-keras:
“Bun Thay Lay Sudah kita tangkap, tentu pemerintah sedikitnya akan memberi hadiah selaksa

tail perak, kau akan bunuh aku untuk mengkangkangi sendiri hadiah itu?”
Ban Khing Lan memang liCin. Dia Cukup faham akan maksud Ciu Tiong Ing. Karena itu, dia tetap

akan adu orang-orang Thiat tan-thjung dengan orang-orang HONG HWA HWE dan dilepas kannya

lidah beraCun itu.
Tadi sewaktu Tiong Ing membaCok Khing Lan, orang-orang tertegun sejenak dan berhenti

berkelahi. Tapi ketika men ngar kata-kata Ban Khing Lan, dalam suasana yang penuh dengan

hawa pembunuhan itu, mereka tak dapat berpikir dengan dingin. Dengan mengerang, si Bongkok

Ciang Cin mengampak Tiong Ing lagi.
Sesak napasnya Tiong Ing rasanya, karena murka. Namun dia tak berdaya untuk menyelaskan, dan

terpaksa mengang kat golok untuk menangkisnya.’ Adalah Thian Hong yang masih-bisa berpikir

jernih. Dia tahu bagaimana dalam per tempuran tadi Tiong Ing selalu berlaku murah, dia duga

tentu ada sebab-sebabnya, maka Cepat-cepat ia berseru:
“Kiu-te jangan bertindak sembarangan!”
Namun napsu membunuh sudah menguasai diri si Bongkok, hingga tak didengarnya seruan itu.
Orang yang menggunakan thiat-Ciang (kajuh besi) adalah Thong-tauw-ngo-hi Ciang Su Kin.

Dengan thiat-Ciangnya itu dia sabet pinggang Tiong Ing, siapa Buru-buru miringkan tubuh

untuk berkelit. Tapi pada saat itu, dari arah belakang Seng Hiap melepaskan kong-pian untuk

memukul pundaknya.
Merasa ada samberan angin dari belakang, Tiong Ing putar goloknya untuk menangkis, dan

begitu berbenturan, lengan keduanya sama-sama terasa kesemutan. Nyo Seng Hiap, Ciang Cin dan

Ciang Su Kin adalah HONG HWA HWE punya “tiga samson” tenaganya luar biasa kuatnya.
Waktu Tiong Ing berbenturan senjata lagi dengan Ciang Cin, untuk kedua kalinya, tangannya

merasa kesemutan. Dan pada saat itu, thiat Ciang Ciang Su Kin pun menghan tam golok Tiong

Ing, tak ampun lagi golok jago Thiat-tan-Chung terpental dari tangannya, melesat keatas

menancap pada tiang penglari dan ter-katungdua disitu.
Kian Hiong/Kian Kong berdua sangat terkejut ketika nampak senjata suhunya terlepas. Serentak

mereka akan membantunya, tapi Cepat-cepat dihadang oleh Wi Jun Hwa dengan sepasang

gaetannya.
Jago Siao Lim Pai itu tak gugup sekalipun goloknya sudah terlepas. Sebat luar biasa dia

melesat kearah Seng Hiap. Dengan gerak “kiong-Cian-jong-kun” busur terbentur kepalan, tangan

kiri menyawut tangkai pian, sedang tangan kanan membarengi dengan sebuah jotosan kedada Seng

Hiap.
Sudah tentu Seng Hiap gelagapan atas kesebatan jago tua itu. Dalam gugupnya dia gunakan ilmu

“tangan kosong merebut senjata,” untuk merebut kembali kong-piannya. Dengan kedua tangan dia

kerahkan tenaganya untuk mem betot, dan akan berhasil. Tapi dadanya tak keburu dijaga, dan

“bluk” pukulan Tiong Ing menimpahnya.
Kiranya Seng Hiap sangat andalkan akan ilmu thiat-poh-san (weduk) yang telah dijakinkan

dengan sempurna. Sekalipun tidak mempan dengan tombak atau golok, apalagi kalau senjata

biasa, kebanyak-banyakan tentu takkan mempan. Gelarannya “thiat-tha” itu berarti dia

seumpama menara besi kokohnya.
Tenaga pukulan Tiong Ing adalah laksana palu yang dapat meremukkan kepala kerbau. Dia kaget

bukan terkira, se waktu melihat Seng Hiap tak kurang suatu apa. Walaupun sebenarnya,

sakitnya terasa disunsum dan jantung. Dia burus sedot ambekannya, untuk menahan sakit.

Berbareng itu dia membetot kongpian yang masih dipegang Tiong Ing dengan sekuat tenaganya.

Sedang Tiong Ing pun tak kurang eratnya menarik. Hingga sesaat itu, terjadilah tarik me

narik.
Selagi begitu, Ciang Cin dan Ciang Su Kin berbareng ajunkan senjatanya kepada Tiong Ing.

Dalam saatdua yang berbahaja itu, Tiong Ing segera lepaskan pegangannya, serta dengan sebat

tangannya kanan mengangkat meja terus dilemparkan kearah Ciang Cin dan Su Kin. Dan menyusul

dengan itu, Kian Hiong loncat kepinggir untuk lepaskan bcberapa pelor, maksudnya untuk

menahan kedua lawan yang mengancara suhunya itu.
Begitu dilemparkan, lilin diatasnya segera padam. Seketika itu timbullah suatu pikiran pada

Kian Hiong. Berturut-turut dia lepaskan pelor untuk membunuh mati semua penerangan lilin

diruangan itu, hingga keadaan disitu menjadi gelap gulita.
Semua orang yang bertempur menjadi gelagapan, lalu sama-sama mundur kebelakang. Seluruh

pertempuran berhenti semua.
Sampaipun untuk bernapas, mereka sama tak berani, takut ketahuan musuh. Selagi dalam

kesunyian suasana yang tegang itu, tiba-tiba dari luar ruangan terdengar Inagkah kaki orang

mendatangi, dan ketika pintu terbuka, masuklah seorang yang membawa obor. Dandanan orang itu

seperti anak seko lahan, sebelah tangannya yang satu memegang sebatang suling. Begitu masuk

dia terus berdiri tegak disamping dan mengangkat obornya tinggi dua. Diantara sinar obor,

masuklah tiga orang pula. Seorang tojin, menggemblok pookiam, lengan bajunya yang sebelah

kiri diselipkan pada pinggang nya. Ternyata dia hanya berlengan satu. Yang seorang lagi

mengenakan jubah tipis, wajahnya berseri-seri seperti batu giok, dandanan dan sikapnya

seperti kongcu. Dibelakangnya mengikut seorang boCah dari belasan tahun umurnya.
Keempat orang itu yaitu Kim-tiok siuCay Ie Hi Tong, Cwi-hun toh-beng-kiam Bu Tim tojin dan

Cong-thocu (ketua umum) yang baru dari HONG HWA HWE ialah Tan Keh Lok. BoCah itu adalah

pelajannya. Saat itu Thian Hong berbisik kepada Wi Jun Hwa :
“Awas, jagalah jangan sampai orang-orang Thiat-tan-Chung bisa ada yang lolos.”
Keduanya melingkar kebelakang Tiong Ing dan orang-orang Thiat-tan-Chung. Kian Kong tahu

maksud musuhnya itu, dengan gusar dia maju selangkah, untuk menegurnya tapi Buru-buru

diCegah suhunya dengan berbisik :
”Jangan bersuara, lihat apa mereka kata.”
Saat itu tampak I Hi Tong membawa dua lembar karcis, maju kehadapan ketua Thiat-tan-Chung,

setelah memberi hormat lalu berseru :
”Cong-thocu HONG HWA HWE Tan Keh Lok dan ji-tangkeh Bu Tim tojin akan mohon bertemu dengan

Ciu loenghiong dari Thiat-tan-Chung”.
Kian Hiong maju menyambutinya untuk diserahkan pada suhunya. Melihat surat itu ditulis

dengan kata-kata merendah a.l. Tan Keh Lok dan Bu Tim membahasakan diri seba gai orang

tingkatan bawah, Tiong Ing Buru-buru rangkap kedua tangan memberi hormat seraja berkata :
”Kunyungan tamudua yang terhormat kedesa ini, menyesal jauh.dua tak dapat kusambut. Mari

silahkan duduk.”
Tiong Ing perintah orang-orang nya supaya mengatur lagi meja kursi dalam ruangan itu yang

sama sungsal sumbal tak ke ruan. Demikianlah setelah sudah rapih dan lilin-lilin pun dinya

lakan kedua fihak segera ambil tempat duduk masing-masing. Pada rentetan fihak tamu tampak

duduk menurut urutduaan kedu dukannya: Tan Keh Lok, Bu Tim, Ji Thian Hong, Nyo Seng Hiap, Wi

Jun Hwa, Ciang Cin, Lou Ping, Ciok Siang Ing’, Ciang Su Kin, Ie Hi Tong. Dan Sim Hi, itu

pelajan Tan Keh Lok, berdiri dibelakang tuannya.
Pada saat itu Hi Tong mengerlingkan matanya kearah Lou Ping, siapa nampak kepuCatduaan

wajahnya. Dia menduga-duga adakah kejadian malam itu, sudah diketahui oleh Ciok Siang Ing.

Dia lihat roman algojo ini begitu keren sekali.
Kiranya setelah Lou Ping berlalu, Hi Tong seperti orang yang kehilangan semangat dan Cemas.

Hampir dua hari dia ubek-ubekan disitu untuk menCari Lou Ping. Kalau sampai bertemu musuh,

tentu berbahajalah Lou Ping, karena pahanya masih luka. Maksudnya dia akan memberi

perlindungan secara bersembunyi. Namun sia-sialah dia menCarinya itu, karena Lou Ping waktu

itu sudah berada di Thiat-tan-Chung.
Pada malam ketiga, bukan Lou Ping yang dijumpainya melainkan Cong-thocu Tan Keh Lok dan

ji-tangkeh Bu Tim tojin. Segera kedua pemimpin HONG HWA HWE menjadi sangat gu sar, ketika

diberitahukan bahwa Bun Thay Lay telah “di jual” oleh orang-orang Thiat-tan-Chung. Berkata

sang Cong-thocu ;
“Sekalian heng-te kita sudah menuju Thiat-tan-Chung, siapa tahu mereka bakal tertipu oleh

Ciu Tiong Ing. Seba-liknya kita pergi kesana dulu, baru nanti kita tolong Bun suko.”
Bu Tim setuju. Mereka tiba di Thiat-tan-Chung justeru diruangan itu sedang dilakukan

pertempuran sengit dan te-pat Kian Hiong lepaskan pelor mem-bunuhduai lilin. Maka Hi Tong

segera nyalakan obor.
Begitulah difihak tuan rumah, duduklah Ciu Tiong Ing, Beng Kian Hiong, An Kian Kong dan Ciu

Ki. Melihat ge-lagatnya kedua fihak akan mendapat penyelesaian, diam- Ban Khing Lan

menyelinap kepintu. Tapi ketika dia akan nyelo-nong keluar, Thian Hong loncat kemulut pintu

menghadang-nya, katanya :
“Jangan pergi dulu, kita bicara secara terang.”
Melihat fihak lawan berjumlah besar, dia tak berani menentang dan terpaksa balik kembali.

Setelah kedua fihak sama memperkenalkan nama, tahulah tuan rumah bahwa tetamunya itu adalah

orang-orang kenamaan dalam kalangan liok-lim. Tapi diam-diam jago tua itu merasa heran

nampak Cong-thocu mereka yang masih begitu muda, dan yang lebih mirip dengan seorang kongcu

dari pada seorang pemimpin besar yang anggotanya semua jago-jago kangouw yang gagah.

Orang-orang HONG HWA HWE tampak menghormat sekali pada Cong-thocu muda itu, hingga diam-diam

Tiong Ing menjadi tak habis mengerti.
Sebaliknya nampak orang senantiasa mengawasi saja, dikiranya akan menaksir kepandaiannya,

maka marahlah Cong-tho-Cu itu, katanya dengan dingin :
“Karena bertempur dengan kuku garuda dan mendapat luka-luka berat, su-tang-keh Pan Lui Chiu

Bun Thay Lay terpaksa datang meneduh kemari. Demi persahabatan kaum bu-lim, Ciu locianpwe

teiah begitu baik untuk memberi pertolongan. maka dari HONG HWA HWE disini aku haturkan

terima kasih.”
Sembari berkata begitu, dia berbangkit untuk menyura. Ciu Tiong Ing tersipu-sipu membalas

hormat, dan diam-diam dia kagum atas ketajaman ucapan anak muda itu, yang nyata-nyata

menyewernya secara halus. Dilain fihak Bu Tim dan Hi
Tong pun sangat kagum dan diam-diam merasa girang bahwa kini HONG HWA HWE betul-betul

mempunyai seorang pemimpin yang ber kewibawaan dan luas pandangannya.
Tidak demikian dengan si Bongkok Ciang Cin yang tak mengetahui arti sebenarnya dari ucapan

sang thocu, maka berserulah dia keras-keras:
“Cong-thocu, situa itulah yang menCelakai Bun suko!”
Wi Jun Hwa yang duduk disisihnya Buru-buru menarik bajunya dan melarangnya jangan mengaCau

pembicaraan. Tan Keh Lok seperti tak mendengarnya, dan dengan sopan san tun berkata lagi:
“Bahwa pada tengah malam buta saudara-saudara kita telah me ngunyungi tempat locianpwe,

adalah memang tak pantas, harap locianpwe suka maafkan. Itulah disebabkan karena kita

mendapat kabar Bun suko mendapat kesukaran dan Buru-buru akan menyemputnya. Dan entah

bagaimana keadaan penyakit Bun suko itu, mungkin locianpwe sudah panggilkan sinshe, mohon

locianpwe suka bawa kita orang kepadanya.”
Habis mengucap begitu, pemimpin muda itu berbangkit, dan seluruh rombongan HONG HWA HWE pun

ikut berbangkit. Seketika itu Ciu Tiong Ing kemekmek, tak dapat memberi penyahutan. Disaat

itulah Lou Ping berseru dengan nyaring :
”Suko telah dibinasakan mereka, Cong-thocu, kita minta orang tua itu mengganti jiwanya.”
Ciang Cin, Nyo Seng Hiap, Wi Jun Hwa dan lain-lainnya serentak menggerung, dengan melolos

senjata masing-masing, mereka menghampiri kemulta. Dengan tabah Beng Kian Hiong pun berdiri

lalu berkata :
“Bun-ya datang kemari, memang ada soalnya”
”Nah, kalau begitu harap Beng-ya antarkan kita kepadanya.” Thian Hong memutus omongan orang.
“Ketika Bun-ya, Bun naynay dan Ie-ya ini datang kemari, lo-ChungCu kita sedang tak berada

dirumah. Akulah yang menyuruh orang mengundang sinshe ke Thioke-poh, hal ini Bun naynay dan

Ie-ya tentu mengetahuinya. Kemudian da tanglah petugas-petugas pemerintah. Kami merasa malu

tak dapat melindungi sehingga Bun-ya sampai tertangkap. Tan tangkeh, kalau menganggap kita

kurang sempurna memberi penyambutan, memang kita akui. Kalau mau bunuh, bunuh lah. Aku orang

she Beng jika sampai jerih, bukan seorang hohan. Tetapi kalau sekalian tangkeh menuduh

loChungCu kami menyual sahabat, itulah kurang pantas!”
Lou Ping- serentak maju kemuka, seraja menuding ia memaki :
”Orang she Beng, kau masih tak malu menyebut hohan. Coba jawablah, kau suruh kita sembunyi

dalam gowa yang demikian rapatnya, kalau sebelumnya tidak ada perjanyian, masa mereka bisa

mengetahui persembunyian kita?
Disemprot begitu, Kian Hiong tak dapat menyawab. Per istiwa Ciu Ing Kiat kena dipikat untuk

menyual rahasia, orang-orang Thiat-tan-Chung merasa malu semua. Biar bagaimana takkan

diCeritakan pada orang luar. Maka berkatalah Bu Tim pada Ciu Tiong- Ing :
“Waktu peristiwa itu terjadi mungkin benardua Ciu lochungcu tak berada dirumah. Tetapi kata

orang „naga harus punya kepala, orang punya pemimpin.” Soal kejadian di Thiat-tan-Chung kita

hanya dapat meminta pertanggungan jawab loChungCu saja, maka sukalah memberi jawaban.”
Tiba-tiba Ban Khing Lan yang bersembunyi dipinggir berseru dengan lantang :
“Anaknyalah yang membuka rahasia itu, mengapa dia tak mau serahkan anaknya itu pada kau

orang?”
”Ciu locianpwe, benarkah itu?” tanya Tan Keh Lok sambil melangkah setindak lagi.
Ciu Tiong Ing orangnya jujur, sekali-kali tak mau omong justa. Dia anggukkan kepalanya.

Sesaat itu terdengarlah suara berisik dari orang-orang HONG HWA HWE, dan mereka makin mera

pat, sambil menantikan tindakan sang! thocu lebih lanyut.
Tan Keh Lok palingkan pandangannya kearah Ban Khing Lan, tanyanya dengan keren:
“Siapakah dia, belum sempat menanyakan gelaran saudara?”
“Dia adalah salah seorang kawanan kuku garuda yang telah menangkap Bun suko!” menyelutuk Lou

Ping.
Tanpa mengucap apa-apa, dengan tenang ketua HONG HWA HWE itu maju kemuka Ban Khing Lan dan

tiba-tiba dia ulurkan tangan merampas kong-jwan orang she Ban itu, terus dilemparnya.
Dan tak kurang sebatnya, tahu-tahu kedua tangan anggauta kuku garuda itu telah ditelikung

kebelakang punggungnya, kemu dian Cukup dipegangi dengan tangannya kiri saja.
“Aduh, aduh!” Khing Lan mengerung kesakitan, tapi dia tak berdaya untuk berontak lagi.
Gerakan Tan Keh Lok itu luar biasa sebatnya, sehingga orang-orang tak dapat mengetahui

gerakan apakah yang diguna kan tadi. Ban Khing Lan bukan sembarang jago, bugenya lihai

sekali. Hal ini disaksikan oleh orang-orang HONG HWA HWE sendiri. Tapi kini ditelikung oleh

pemimpin muda itu, dia tak dapat berkutik sama sekali. Hal itu bukan saja menajubkan

orang-orang Thiat-tan-Chung, sekalipun orang-orang HONG HWA HWE sendiri sama kemekmek dan

terkejut. Karena selama ini hanya di ketahui bahwa Cong-thocunya itu adalah achliwaris

satuanya dari Thian Ti koayhiap, tapi bugenya sebegitu jauh, belum pernah mereka lihat

dengan mata kepala sendiri.
“Dimana kau bawa Bun suya?” bentak Tan Keh Lok.
Ban Khing Lan membisu, malah mengunyukkan sikap yang sombong, Tan Keh Lok totokkan jarinya

kearah orang, seraja bentaknya :
”Kau bilang tidak?”
Ban Khing Lan mengeluh kesakitan, dan menyerit :
„Kau hendak menyiksa orang Cara begini, bukanlah laku seorang hohan kalau mau bunuh,

bunuhlah”
Ucapan itu terhenti dengan berketesnya butir-butir keringat dari atas kepalanya, ketika Tan

Keh Lok kembali menotok jalan darah “jwan-ma-hiat.” Kali ini Ban Khing Lan betul-betul tak

dapat bertahan lagi, lalu bisiknya dengan lemah :
“Aku bilang ……… aku bilang.”
Waktu Tan kembali menotok „khi-ie-hiat”-nya, meluncur kan beberapa patah kata dari mulut

Khing Lan : „Kalau ingin menolong dia, harus pergi ke Pakkhia.”
“Dia belum binasa,” seru Lou Ping dengan menahan napas.
”Sudah tentu belum, dia kan pesakitan penting, siapa yang berani membunuhnya!” sahut siorang

she Ban.
“Omonganmu ini boleh dipercaya?” kembali Lou Ping menegasi.
“Masa aku berani menyustaimu.”
Karena dihadapi oleh rasa girang yang meluap-luap, Lou Ping roboh tak ingat diri. Hi Tong

segera ulurkan tangan hendak membangunkannya, tapi seCepat-cepat itu pula dia tarik kembali

sang tangan. Adalah si Bongkok yang Buru-buru memapahnya seraja berseru :
“Suso, kau kenapa?”
Disamping itu dia melirik kearah Hi Tong, karena merasa heran atas kelakuannya barusan.

Berbareng pada saat itu Tan Keh Lok perintahkan pada pelajannya untuk mengikat Ban Khing

Lan.
“Saudara-saudara sekalian, yang terpenting kita tolong Bun suko dulu. Perhitungan disini

besok kita bereskan lagi.”
Semua orang-orang HONG HWA HWE nyatakan setuju. Pada waktu itu Lou Ping yang sudah tersedar

dan duduk dikursi, sampai kucurkan air mata karena girangnya. Tan Keh Lok lalu tinggalkan

tempat itu. Ciang Cin tetap memapah Lou Ping yang masih pintyang itu. Ketika berada diluar,

Cong-tho-Cu itu mengangkat tangan lagi dan berkata pada tuan rumah :
“Maaf, banyak-banyak membikin repot. Budi tentu terbalas dan takkan kami lupakan. Kelak kita

berjumpa lagi.”
“Hem,” demikian Tiong Ing perdengarkan suara hidung. Dia tahu sehabis menolong Bun Thay Lay,

orang-orang HONG HWA HWE itu pasti akan datang membikin perhitungan lagi.
”Kalau kauorang tetap buta dengan kenyataan, akupun tak jerih,” demikian pikirnya.
“Habis menolong Bun suko, akulah Ciang bongkok, yang pertama-tama akan minta pengajaran dari

enghiong hohan Thiat-tan-Chung ini,” seru Ciang Cin.
“Dengan kawanan anying atau beruang saja masih kalah tingkatannya, maCam apa disebut

enghiong!” seru Seng Hiap.
Mendengar itu marahlah Ciu Ki, puteri Tiong Ing, serunya : „Kau maki siapa?”
“Kumaki orang tua yang tak punya perikemanusiaan dan yang tak becus urus rumah tangganya,”

balas Seng Hiap tak kurang sengitnya.
Kiranya meskipun si „menara besi” ini mempunyai ilmu thiat-pohsan, namun jotosan Tiong Ing

yang kena dadanya tadi, sakitnya bukan kepalang. Tambahan lagi Bun Thay Lay ternyata

“dijual” oleh putera musuhnya itu makin meluaplah kebenCiannya dan mendamprat

sekena-kenanya.
Ciu Ki yang beradat berangasan itu segera melangkah maju dan balas mendampratnya :
”Telur busuk macam kau, berani menista ayahku!”
“Hah! Budak perempuan ini!” bentak Seng Hiap seraja berlalu, karena dia paling benci

bertengkar dengan orang perempuan.
Karuan Ciu Ki makin berkobar amarahnya, masa ia disa makan seperti budak hina. Memburu maju,

berserulah ia : “Kau mau apa?!”
“Panggil kakamu, katakan aku Thiat-tah Nyo Seng Hiap mau bertemu!”
“Ha, kakaku?” balas Ciu Ki dengan heran.
“Ada soal jual sahabat, akan ada juga soal minta bertemu sahabat. Kokomu kan sudah menyual

Bun suko, habis dia bersembunyi dimana?” Wi Jun Hwa ikut mengomong.
Ciu Ki tetap tak mengerti maksud orang, karena ia tak merasa punya koko. Sebaliknya Kian

Hiong segera mengeta hui bahwa karena mendengar kata beracun dari Ban Khing Lan, oranga HONG

HWA HWE itu telah salah faham. Karena keadaan sudah memaksa, maka Kian Hiong bertekad akan

mewakili suhunya, dan berserulah dia keras-keras:
“Liatwi kalau masih ada perkataan apa-apa, silahkan nyata kan sekarang, agar besok tak usah

merepotkan liatwi untuk berkunyung kemari lagi!”
“Kita akan minta berjumpa dengan koko dari nona ini,” Ciang Cin ikut bicara.
“Kau, si bongkok ini, sudah edan barangkali. Mana aku punya koko?” Ciu Ki mendamprat dengan

sengit.
Dikatakan “bongkok” begitu, Ciang Cin menggerung, terus ulurkan sepasang tangan
Cakar garuda untuk meraum muka sinona. Ciu Ki Cepat-cepat menabas dengan goloknya dan

peCahlah pertempuran. Ciang Cin dengan ilmu silat tangan kosong “lin-na-kang” melajani Ciu

Ki yang memainkan golok.
Juga Wi Jun Hwa kibaskan siang-kaonya, sambil berseru :
”Beng-ya, mari kita main-main sebentar!”
“Silahkan Wi-ya mulai lebih dulu!” sahut Kian Hiong.
Menyusul dengan itu, disana Ciang Su Kin pun mulai bertempur dengan Kian Kong.
”Kalau kawanan penyual teman ini tetap merintangi, kita bakar saja rumahnya ini!” tereak

Seng Hiap.
Pertempuran makin seru, disana sini terdengar gemeren Cingnya senjata beradu. Melihat itu

tak kuasalah Ciu Tiong Ing menahan hatinya katanya pada pemimpin HONG HWA HWE :
“Bagus, HONG HWA HWE hanya pandai gunakan lidah melukai hati orang dan mengandalkan jumlah

besar untuk menindas.”
Seketika itu bersuitlah Tan Keh Lok keras-kerasseraja mene puk tangan dua kali. Tiba-tiba

pertempuran berhenti, dan orang HONG HWA HWE mundur berdiri dibelakang pemimpinnya.

Berkatalah Tan Keh Lok :
”Ciu loenghiong memaki kita andalkan jumlah banyak-banyak untuk menCari kemenangan. Aku yang

rendah ini seorang diri akan mohon pengajaran loenghiong!”
“Itulah bagus,” sahut Tiong Ing. “Tadi kita sangat meng agumi gerakan Tan tangkeh, dan

mengakui bahwa sifat eng-hiong itu sudah kentara sedari masih berusia muda. Lohu ingin

sekali menerima pelajaran. Entah tangkeh mau ber main-main dengan senjata atau tangan;

kosong saja?”
”Golok kan sudah menancap di penglari, bagaimana mau bertanding dengan senjata,” Ciok Siang

Ing berkata dengan tajam. Dan memang ucapan itu telah memerahkan telinga Tiong Ing.
Semua kepala sama mendongak keatas penglari, memang benar disitu tertanCap sebatang kim-pwe

toa-to. Tiba-tiba ada sebuah bayangan mengapung keatas.
Dengan sebelah tangan memegang tiang bandar, sebelah tangan satunya menCabut golok itu. Dan

enteng laksana kapas, bayangan itu melayang turun lagi, terus menghampiri dihadapan Tiong

Ing dan me nekuk separoh lututnya seraja mengangsur senjata itu keatas kepalanya, katanya :
”Ciu lo-thay-ya, inilah golokmu.”
Melihat bayangan itu ternyata Sim Hi, pelajan Tan Keh Lok, orang-orang sama terkesiap. Tidak

dikira kalau boCah yang masih begitu hijau, ilmunya mengentengi tubuh sudah se demikian

lihainya.
Diunyuki permainan begitu, Tiong Ing makin merah wa jahnya. Dia hanya perdengarkan suara

“hm,” tanpa menghiraukan Sim Hi, dia berkata pula pada ketua HONG HWA HWE :
”Tan tangkeh silahkan memakai senjata, lohu akan melayani dengan tangan kosong saja.”
Waktu itu Kian Hiong Cepat-cepat menyambuti golok yang diangsurkan oleh Sim Hi, lalu

membisiki suhunya :
“Suhu tak boleh menuruti kemarahan, pakailah senjata untuk tempur dia.”
Kiranya Kian Hiong kuatir betul-betul suhunya akan melajani senjata musuh dengan tangan

kosong, itu tentu berarti rugikan namanya. Pada saat itu Sim Hi, sudah mengambil keluar

senjata, terus diangsurkan pada majikannya.
”Cong-thocu, dia mau adu tangan kosong, baik thocu juga pakai tangan kosong untuk

mengalahkannya,” bisik Thian Hong.
Ternyata dia ini beranggapan lain. Bahwa tanda-tanda mengun jukkan kalau Ciu Tiong Ing itu

lebih bersikap bersahabat daripada bermusuhan terhadap HONG HWA HWE Sekali gunakan sen-jata,

tentu bakal ada yang mati atau terluka. Rasanya dengan tangan kosong lebih sesuai.
Kedua kalinya, dia pernah rasakan kelihaian permainan golok Tiong Ing, yang meskipun

dikerojok bersama Wi Jun Hwa, tetap tak terkalahkan. Apalagi dia tak ketahui ba gaimanakah

ilmu senjata dari Cong-thocunya. Tadi yang disaksikannya ialah gerakan tangan Tan Keh Lok

sewaktu menelikung Ban Khing Lan, memang lihai dan sebat sekali. Jadi terang, kalau ilmu

silat tangan kosong dari pemim pinnya itu sangat lihai. Dengan berkelahi tangan kosong, dia

bermaksud agar Cong-thocu bisa merebut kemenangan.
Tan Keh Lok menyetujui anyuran Thian Hong, dan katanya pada tuan rumah sembari tak

ketinggalan merangkap kedua tangannya :
”Aku yang rendah akan mohon beberapa jurus gerakan tangan kosong dari Ciu lo-eng-hiong.

Harap lo-enghiong berlaku murah.”
“Ah, Tan tangkeh terlalu merendah”, sahut Tiong Ing.
Ciu Ki tampil kemuka untuk bantu meloloskan jubah ayahnya, sambil membisikinya :
“BoCah itu mahir tiam-hiat, harap ayah berlaku hati-hati.”
Nona ini kelihatan marong wajahnya. Sebenarnya ia di liputi kemarahan hebat, hanya musuh

berjumlah banyak-banyak, dan rata-rata mereka bugenya lihai-lihai. ia pun menginsyapi gen

tingnya suasana saat itu.
“Kalau sampai terjadi apa-apa atas diriku, pergilah kau pada Kho sioksiok-mu di Lan Ciu.

Dikemudian hari jangan sekali-‘ kau terbitkan onar lagi.” Tiong Ing memberi pesanan pada

puterinya dengan suara bisik-bisik.
Dengan hati berat, Ciu Ki angguk-anggukkan kepalanya. Kala itu Song San Beng sudah

perintahkan kawanan Congteng untuk menyingkirkan meja dan kursi-kursi di ruangan itu,

sehingga kini merupakan sebuah ruangan kosong yang luas. Pada empat penyuru, dipasanglah

lilin-lilin besar yang menyinari ruangan itu dengan terang sekali.
Ciu Tiong Ing tampak tampil ditengah-tengah, merangkap kedua tangannya, dia berkata :
”Harap silahkan memulai.”
Dengan tiada menukar jubahnya yang panyang , Tan Keh Lok dengan tenang menghampiri

ditengah-tengah. Sembari meme gang kipas yang terus dikipas-kipaskannya, katanya dengan lan

tang: “Aku yang rendah ini kalau sampai kalah, tentu akan mengundang semua Cianpwe dari

kalangan persilatan daerah barat utara sini untuk menyaksikan penghaturan maaf kita kepada

loenghiong. Dan selanyutnya anggota-anggota HONG HWA HWE tak kan menginyak didaerah Kamsiok

sini.”
“ucapan Tan tangkeh ini terlalu berat,” jawab Tiong Ing.
Tan Keh Lok mengangkat alisnya, lalu bertanya :
“Tetapi sebaliknya kalau lo-Cianpwe yang “salah tangan,” lalu bagaimana?”
Jago Thiat-tan-Chung itu dangakkan kepalanya seraja tertawa. Dengan menguruti jenggotnya dia

menyahut : “Seluruh penghuni Thiat-tan-Chung, tua muda, bersedia serahkan jiwa pada Hong Hwa

Hwe!”
“HONG HWA HWE meskipun hanya sebuah perkumpulan kecil yang tak berarti, tapi dapat juga

membedakan budi dengan ke jahatan. Bagaimana kita disuruh membunuh orang-orang yang tak ikut

berdosa? Kalau aku beruntung dalam pertandingan ini, kita akan berlaku kurang ajar untuk

minta agar locianpwe suka serahkan putera locianpwe yang memboCor kan tempat persembunyian

Bun suko itu. Kalau kelak Bun suko dapat kita tolong dengan selamat, aku menyamin tak kan

mengganggu seujung rambutnya dan akan mengantar kan kembali kesini. Tetapi kalau sampai Bun

suko kena apa-apa maaf, kita terpaksa suruh dia mengganti jiwa,” demikian kata Keh Lok.
Mendengar disebut-sebutnya sang putera, teringatlah Tiong Ing akan kecintaan ayah dan anak,

dan tak terasa matanya mengembeng air mata. Tapi pada lain saat sambil mengulap mukanya, dia

berkata :
“Sudah jangan banyak-banyak berkata, silahkan mulai!”
Tan Keh Lok selipkan kipasnya kedalam dada, berdiri te gak dia rangkap kedua tangan dan

berkata: “Silahkan!”
Semua mata mengawasi pemimpin muda itu dengan tak terkesiap. Diam-diam mereka kagum atas

sikapnya yang agung perbawa itu. Ciu Tiong Ing menaati peraturan Siao Lim Pai, tangan kiri

dibuka, tangan kanan mengepal. Dia tahu sebagai angkatan muda, ketua HONG HWA HWE itu pasti

tak mau menyerang dulu. Maka diapun tak mau tunggu lama-lama lagi, terus menyerang muka

sitetamu dengan gerak “Co Cwan hoa Chiu.” Pukulan itu luar biasa kerasnya, kepalan belum

tiba anginnya sudah menampar muka.
Tan Keh Lok bergerak dengan “han kee poh,” tangan kanan menyampok pukulan Tiong Ing,

berbareng tangan kirinya menyikut lambung orang. Pukulan ini adalah ilmu silat Siao Lim yang

disebut “tan hong tiao yang” burung hong meng hadap matahari.
Gerakan itu membuat kesima semua orang. Mereka sama tak mengira kalau pemimpinnya itupun

dapat gunakan ilmu silat Siao Lim Pai untuk lajani ilmu silat dari Cabang Siao Lim yang

diyakinkannya berpuluh tahun itu. Sampaipun Ciu Tiong Ing sendiri merasa heran.

Su Kiam in Siu Lok
Puteri Harum dan Kaisar atau Pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung

Jilid 7
DEMIKIAN jurus demi jurus. Tan Keh Lot berkelahi dengan ilmu silat Siao Lim Pai yang

dimainkannya dengan mahir sekali. Sehingga walaupun namanya bertempur, tapi nyatanya mereka

itu seperti orang berlatih karena gerakan masing-masing sama sumbernya.
Lebih sepuluh jurus telah berlangsung, tapi masih belum ada yang terdesak. Ciu Tiong Ing

adalah seorang jago Siao Lim Pai yang telah mencapai punCaknya kesempurnaan. Gerak kaki dan

tangannya, senantiasa mengeluarkan deru samberan angin. Ke lebihan ilmu silat Siao Lim Pai,

adalah dalam hal kesebatan. Demikianlah Tiong Ing makin lama makin gesit.
Pada saat itu dia bersilat dengan gerakan “jong-siao lim” yang terdiri dari tiga tujuh

jurus. Baru sampai separoh, Tan Keh Lok segera terdesak. Selagi begitu Tiong Ing berseru

keras sembari memutar tubuhnya kekiri, dari situ dengan gerak secepat-cepat bintang jatuh,

dia rangsang lawannya. Tan Keh Lok buru- mundur selangkah, namun biar bagaimana, orang-orang

Hong Hwa Hwe sama mengeluarkan jeritan tertahan, karena hampirs saja pemimpin muda itu tak

dapat loloskati diri.
Kini Tan Keh Lok tidak lagi gunakan Siao Lim Kun, tap”! berganti dengan

“ngo-heng-lian-hoan-kun” juga salah suatu ilmu silat yang lihai dari; Siao Lim Pai. Dalam

salah satu jurusnya yang dinamakan “oh-liang-jay-kwa” naga hitam menyambar semangka, dia

hajar dada orang.
”Bagus!” seru Ciu Tiong Ing sembari masih tetap gunakan jurus ilmu silat Siao Lim Kun untuk

memusnahkan serangan.
Setelah lewat beberapa jurus, mendadak Tan Keh Lok ganti menyerang dengan

“pat-kwan-yu-sim-Ciang,” menyerang sana-sini sambil ber-putardua. Karena jubahnya berge

rombongan, maka diantara sinar lilin, tampaknya seperti sepuluh buah bayangan yang mengitari

lawan.
Ciu Tiong Ing Cukup berpengalaman, dengan tenang dia sambut setiap serangan, hingga lawan

tak dapat berbuat banyak-banyak. Ketika Ciu Tiong Ing kirim sebuah serangan lagi, Tan Keh

Lok gunakan lweekang untuk pegang tangan orang. Gerakan itu adalah dari ilmu silat Thay Kek

Kun yang disebut “ji hong si pit”.
Tan Keh Lok bergerak dalam gerakan Thay Kek Kun, de ngan ketenangan melajani kekerasan,

dengan kelemahan me nundukkan kekuatan. Dia halau setiap serangan, dia enyahkan setiap tipu

gerakan. Pada waktu itulah mata semua orang baru sama terbuka dengan penuh kekaguman. Sejak

dulu ilmu silat Thay Kek Pai mempunyai sifata keistimewaan sendiri, dan sedikit saja yang

dapat memiliki sempurna. Sekalipun muda usia ketua HONG HWA HWE itu, tetapi ternyata dia

mempunyai ilmu gwakang dan lwekang yang sempurna. Suatu hal yang jarang terdapat dikalangan

kangouw.
Thiat-tan Ciu Tiong Ing, jago Siao Lim yang kawakan itu, terpaksa harus melajani dengan

hati-hati. Memang nampak nya gerakan kedua lawan itu lambat, tapi dimata achli silat,

pertempuran itu lebih dahsyat dari semula. Sampai pada jurus kedua, keduanya masih belum

mengunyukkan mana yang lemah.
Tiba-tiba Tan Keh Lok berganti Caranya berkelahi. Kini dia gunakan ilmu silat Tiang Kun dari

kaum Bu Tong Pai, se bentar pula dengan ilmu silat “toa-lin-na-hwat” yang terdiri dari tiga

enam jurus, lalu dengan “hun-Ciat-Cho-kut-Chiu” dan lain saat lagi dengan ilmu silat Gak-ke

san-Chiu.
Baik kawan maupun lawan sama terpesona, tak habis-habisnya mengagumi. Bahwasanya pemimpin

muda dari HONG HWA HWE itu kaja dengan pelbagai ragam ilmu silat, yang kesemuanya sukar dan

jarang dapat dijakinkan. Dan mereka sama me nantikan dengan perhatian, ilmu silat apa lagi

yang akan dikeluarkannya.
Ciu Tiong Ing tetap bertekun menggunaklm ilmu silat Siao Lim Kun, dan nampaknya dia tak

jsatfhpai keteter. Ber puluh tahun berkelana dikalangan Sungai Telaga, jenis ragam ilmu

silat dari Cabang apa saja telah diketahui dan dijumpainya. Sekalipun achli yang mahir

dengan berbagai ilmu silat seperti Tan Ken Lok tersebut belum p’ernah di lihatnya, tapi

dengan mengandal pada Siao Lim Kun, dia dapat melajaninya dengan tak sampai kewalahan.
Suatu saat, jago Siao Lim Pai itu tiba-tiba melangkah se tindak, sebat luar biasa, dia kirim

pukulan kiri kekaki lawan. Dan selagi anak muda itu akan menarik tubuh, tahu-tahu lawan

telah gunakan gerakan “li-hi-bak-thing” ikan lehi menggoyang angsan, „
“Rett” tahu-tahu jubah Tan Keh Lok pada bagian dada telah rowak seperti terbeset.
“Maaf!” seru Ciu Tiong Ing.
Muka Tan Keh, Lok merah padam. Cepat-cepat kedua jarinya akan menotok jalan darah

“jwan-ma-hiat” dari lawan, namun lawan telah bersiap, maka keduanya terlibat lagi dalam

pertempuran yang gigih.
Kembali pada saat itu orang-orang sama ke-heranduaan lagi. Karena mereka tak tahu ilmu silat

apa yang digunakan oleh ketua muda itu, ilmu „Toa-kim-na-Chiu” dicampur dengan tiamhiat

(totokan). Tangan kiri bergerak dalam “Cat-kun,” tapi tangan kanannya bergerak dalam

“Bian-Ciang” pukulan kapas. Gerak serangannya seperti “pat-kwa-Ciang,” tapi gerak

penyagaannya seperti Thay Kek Kun. Gerak ragamnya, seperti tak keruan, kaCau balau, sehingga

mata orange yang mengikutinya sama berkunang-kunang.
Kiranya ilmu silat itu adalah Ciptaan dari Thian Ti koay-hiap, Wan Su Siao, yang disebut

“peh-hoa-jo-kun” ilmu silat ratusan bunga. Thian Ti Koayhiap sejak muda gemar belajar buge.

Dia merantau jauh sekali untuk mengunyungi dan berguru pada gurudua yang ternama, sehingga

mahirlah dia akan peibagai Cabang ilmu silat. Setelah itu dia menetap didaerah Sinkiang,

untuk menyembunyikan diri.
Disitulah dia mulai mejakinkan ilmunya, mengambil kele bihan dari sesuatu Cabang ilmu silat,

mehtyang kok sana-sini dan achirnya terCiptalah “peh-hoa-jo-kun”-nya itu. Ilmu silat ini

bukan saja sukar diduga” tapi juga mempunyai keistimewaan sendiri, yaitu yang terletak pada

gerakan “jo” salah. Benar jurus- gerakannya hampir serupa dengan apa yang terdapat dalam

Cabang ilmu silat yang terdapat di kalangan kangouw, tetapi sebenarnya tidak sama. Bermula

lawan tentu mengira bahwa serangannya itu adalah tipuan, tetapi dia nanti akan menjadi kaget

setelah menangkis dan dapatkan bahwa serangan itu bukan seperti yang diduganya.
Untuk mejakinkan ilmu silat luar biasa ini, orang harus mahir dalam ilmu gwakang dan

lwekang, kim-na-kang, tiamhiat dan ilmu mengentengi tubuh. Sejak Thian Ti koay-hiap Ciptakan

ilmu tersebut, dia sendiri belum pernah meng gunakannya. Dan murid tunggal satu-nya, ialah

Tan Ken Lok ini.
Begitu Tan Keh Lok keluarkan “peh-hoa-jo-kun”-nya, orang- sama menyaksikan perobahan pada

jalannya per-tempuran itu. Dengan sepasang tangannya, Ciu Tiong Ing berusaha untuk menangkis

dan melindungi mukanya. Dan sembari begitu, dia terus mundur-mundur saja. Dia bingung untuk

menduga gerak serangan anak muda itu. Bukan saja gerakannya aneh, pun pukulannya, totokan

jarinya, mengandung jurus’dua dari ilmu golok dan pedang. Betul-betul dia gelagapan.
Ketika melihat ayahnya terdesak kalah, Ciu Ki sibuk seka li, lalu berseru keras:
“Ilmu silat apa yang kau keluarkan itu? Sungguh gila! Katanya adu silat, mengapa kau gunakan

pukulan yang tak keruan maCamnya itu?”
Baru saja dia berseru begitu, dari luar ruangan masuk lah dua orang sambil bertereak:

“Tahan!”
Ternyata mereka, bukan lain adalah Liok Hwi Ching dan Tio Pan. San. Tapi justeru orange Hong

Hwa Hwe akan membuka mulut kepada kedua orang ini, tiba-tiba terdengarlah dari arah luar

seorang berseru dengan keras sekali:
„Api.. ada api! Lekas padamkan kebakaran!” Dan berbareng dengan tereakan itu, api sudah

menyilat masuk ke ruangan itu.
Ketika itu Tiong Ing sedang dirangsek oleh Tan Keh Lok, begitu mendengar tereakan rumah dan

seluruh isinya dima kan api, dia terkesiap juga dan untuk sesaat pikirannya bujar memikirkan

hal itu. Cukup sesaat saja, sekonyong-konyong paha kirinya terasa kesemutan, dan dia merasa

kakinya le mas. Ternyata “hu hi hiat” atau jalan darah dipahanya, telah kena tertotok orang.

Ciu Tiong Ing, jago tua yang telah berpuluh tahun malang melintang dikalangan Sungai Telaga

dengan belum pernah dijatuhkan orang itu, kini sempojongan akan roboh kebelakang.
“Ayah!” demikian dengan Cepat-cepat Ciu Ki memburu untuk memapahnya, sembari melintangkan

goloknya untuk melin dungi sang ayah, bilamana musuh akan menyerangnya lagi.
Tapi sebaliknya Tan Keh Lok tak mau memburu, dia ha nya mundur selangkah, seraja berkata:
“Bagaimana kata Ciu loenghiong sekarang?”
„Baik, aku mengaku kalah. Anakku kuserahkan, mari ikut aku”, balas Tiong Ing dengan

murkanya.
Dengan dipapah oleh puterinya, Tiong Ing menuju keluar ruangan.
Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching dan sekalian orange HONG HWA HWE sama mengikuti Tiong Ing.

Melintasi dua buah ruangan, tampaklah api makin besar. Dalam malam yang gelap gulita, api

itu menyulang keydara, merah marong diantara kabut asap yang ber-gumpaldua memenuhi angkasa

itu. Beng Kian Hiong, An Kian Kong dan Song San Beng siangdua sudah me ngepalai kawanan

Congteng untuk memadamkan api.
„Saudara-saudara, kita bantu memadamkan api dulu!” kedengar an Ji Thian Hong mengajak

Kawan-kawan nya.
“Hem, kau yang suruh orang melepas api, sekarang pura-pura mau menjadi orang baik-baik ,

ja?” Ciu Ki mendamprat.
Tadi iapun mendengar, Thian Honglah biangkeladi yang memerintahkan membakar, mengingat itu,

dengan tanpa hiraukan musuh berjumlah besar ia angkat goloknya untuk monyerang orang itu.

Thian Hong biirudua menyingkir. Ciu Ki makin kalap, dan terus akan mengubernya. Tapi telah

diha dang Tio Pan San yang memberi nasehat untuk berlaku tenang dulu. Sekalipun Ciu Ki

ber-jingkrakdua meronta-ronta, tapi dengan hanya menyempitkan tangan pada gigir golok, Pan

San telah membuatnya tak berdaya.
Tiong Ing tak hiraukan hal itu dan terus melangkah ke belakang. Orang-orang HONG HWA HWE

menjadi terkesiap, ketika menge tahui bahwa ruang itu adalah tempat lingtong (ruangan je

nazah). Dua batang lilin putih, menyinarkan Cahajanya yang pudar, hingga keadaan ruangan itu

sangat menyeramkan sekali. Begitu Tiong Ing menyingkap kain selubung putih, maka tampaklah

sebuah peti mati yang hitam warnanya. Tutup peti itu ternyata masih belum dipaku. Kiranya

sete lah puteranya meninggal, karena Ciu Ki masih belum pu lang, maka Tiong Ing belum mau

menutup peti itu dulu, agar nanti. Ciu Ki dapat kesempatan untuk melihat adiknya untuk yang

penghabisan kali.
“Bahwa anakku telah memboCorkan tempat persembunyian Bunya, itu meniang benar. Dan kini kau

orang akan mem bawa anak itu, baiklah, mari ambillah dia!” demikian kata Tiong In°; dengan

suara tak lancar.
Nyata jago tua Itu masih terkenang akan putera yang dikasihinya itu. Menampak seorang

jenazah anak kecil ter hampar didalam peti mati, orang-orang HONG HWA HWE itu tak habis

herannya. Maka berserulah Ciu Ki:
„Adikku adalah seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun. Dia sebetulnya belum mengerti

apas dan telah menunyuk kan tempat persembunyian orang she Bun itu. Ketika ayah pulang, dia

begitu murka dan sampai tegah untuk membu nuh dengan tangannya sendiri. Karena inilah maka

sampai ibuku marah dan meninggalkan rumah. Bukankah ini meng girangkan hati kalian? Kalau

masih belum puas, Ayo orang HONG HWA HWE, bunuhlah kita, ayah dan anak berdua, Ayo!”
Seketika itu orange HONG HWA HWE sangat menyesal sekali, alas perbuatan mereka terhadap

orang tua Ciu Tiong Ing yang ternyata seorang perwira yang menyunyung tinggi rasa ke adilan

dan peri kebajikan itu. Rasa sesal, terharu dan menghormat itu, memenuhi dada setiap orang

HONG HWA HWE, se hingga ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.
Si Bongkok Ciang Ciu adalah orang pertama yang meng unyukkan ketulusan hatinya. Melangkah

kemuka, dia segera menyura dihadapan Ciu Tiong Ing, seraja berkata:
„L.oya, tadi telah bersalah besar terhadapmu, aku Ciang”
Bongkok, dengan ini meminta maaf se-besarduanya.
Habis berbuat begitu, kembali dia menghadap kearah nona Ciu Ki untuk menyura dan berkata

pula:
„Nona, maafkanlah aku. Seterusnya panggillah aku „bong-kok” sekehendak hatimu, tak

sekali-kali aku berani marah.”
Mendengar itu, Ciu Kie tertawa urung.
Pada saat itu ber-turutdua Tan Keh Lok, orang yang pernah memaki orang tua itu jakni Lou

Ping, Nyo Seng Hiap, Chi Thian Hong dan lain-lain orang HONG HWA HWE, sama datang menyura

untuk menghaturkan maaf pada Tiong Ing. Jago tua yang keras hati ini

tersipu-sipumembalasnya. Berkata pemimpin HONG HWA HWE:
„Kebajikkan yang Ciu loenghiong tumpahkan pada HONG HWA HWE, akan kita ukir sampai mati.

Saudara-saudara sekalian, kita perlu lekas padamkan api, Ayo lekas bertindak!”
Mereka serentak menyingsingkan lengan baju. Tapi ternyata api berkobar dengan hebatnya,

sehingga langit seperti dibakar warnanya. Gentengdua berguguran ketanah, belandar dan

penglari roboh disana sini, gegap gempita dihimpit dengan tereakan kawanan Conteng yang riuh

itu.
Propinsi Anse, terkenal daerah “sarang” angin. Setahun penuh, tak ada seharipun yang tak

berangin. Angin bukan sembarang angin, tapi angin besar yang kiiat sekali. Diki pasi oleh

sang angin, tambahan lagi air sangat sukarnya, maka api itu rasanya susah untuk dipadamkan.

Thiat-tan-Chung yang megah luas itu, sebentar lagi akan menjadi tumpukan puing rata dengan

tanah.
Adalah dalam keadaan begitu, Ciu Tiong Ing tetap meme gang peti mati puteranya, sikapnya

seperti orang yang tak sadar. Api sudali menyilat masuk kedalam ruangan, sedang Wi Jun Hwa,

Ciok Siang Ing, Cio Su Kin dan lain-lain.-nya sama berusaha untuk memadamkannya.
Nampak ayahnya seperti orang yang kehilangan semangat itu, berserulah Ciu Ki:
„Ayah, Ayo kita keluar dari sini!”
Ciu Tiong Ing tak mengacuhkan, dia hanya memandang dengan tak terkesiap pada peti mati

puteranya. Tahulah kini orange itu, bahwa ayah yang sengsara itu tak tegah untuk lepaskan

peti mati jenazah puteranya itu dimakan api. Tiba-tiba Ciang Bongkok membungkukkan badannya

dan berseru pada Seng Hiap:
“Pat-ko, kau letakkan peti keatas punggungku sini!”
Seng Hiap menurut, begitu peti diang-kat terus ditumpang kan keatas punggung si Bongkok

siapa terus mendukungnya keluar. Dengan dipapah puterinya, Tiong Ing berjalan keluar diikuti

oleh rombongan HONG HWA HWE Mereka beristirahat disebuah lapangan diluar Chung. Tak

berselang berapa lama, ter dengarlah suara gemuruh keras dari tiang penglari wuwung an rumah

yang jatuh ketanah. Karena tak berdaya untuk memadamkan api, sekalian orang sama berkerumun

disebelah Tiong Ing.
„Astaga! kuku garuda itu masih didalam sana!” tiba-tiba Sim Hi bertereak dengan kaget. Dan

dia terus loncat akan menolongnya, tapi diCegah oleh orang banyak-banyak.
„Orang yang banyak-banyak dosanya itu, biarkan saja terbakar hangus disitu,” seru Ciok Siang

Ing.
„Sayang , orang piauwkok itu diberi kemurahan,” tiba-tiba Lou Ping bertereak.
„Siapa. dianya?” tanya Tan Keh Lok.
Lou Ping Ceritakan halnya Tong Siu Ho, si Cumi-cumi itu. Juga Kian Hiong menuturkan tentang

kedatangan orang itu untuk menyelidiki Thiat-tan-Chung.
“Benar, tentu dialah yang melepas api!” kata Thian Hong.
Semua orartg pun menduga, tentu perbuatan orang she Tong itu. Pada suatu kesempatan Thian

Hong mengerlingkan matanya kearah Ciu Ki, siapa juga justeru melirik Thian Hong. Maka

bertemulah sinar dari ke-empat mata! Buru-buru keduanya membuang muka karena jengah.
„Kita harus tangkap orang itu,” Tan Keh Lok nyatakan pikiran, lalu memerintah:
“Chi jit-ko, Nyo patko, Wi kiuko, Ciang sipko, kauorang berempat leicas peCahkan diri menuju

keempat jurusan. Dapat menawan atau tidak, dalam satu jam harap sudah kembali lagi kemari!”
Keempat orang itu bergegas-gegas menyalankan perintah Sedang disebelah sini, tampak Liok Hwi

Ching pasang omong dengan Ciu Tiong Ing. Mereka sama mengagumi satu sama lain. Pada saat itu

kembali Tan Keh Lok meng haturkan maaf pada Ciu Tiong Ing seraja berkata:
„Karena HONG HWA HWE maka loenghiong sampai mengalami ke adaan begini. Budi loenghiong akan

kami balas sekuat usaha kami. Tentu kita Cari Ciu lothaythay supaya dapat kembali pada

loenghiong. Thiat-tan-Chung sudah menjadi abu, H.H H. yang akan membangunnya. Kerugian dari

sekalian saudaraa Cengteng, HONG HWA HWE yang mengganti. Harap semuanya jangan kuatir.”
Nampak Thiat-tan-Chung menjadi abu, Tiong Ing meng elah napas. Berpuluhdua tahun membangun,

habis dalam se malam. Tetapi mendengar ucapan pemimpin HONG HWA HWE itu, Buru-buru dia

menyahut.
“Jangan Tan tangkeh mengucap begitu. Harta benda adalah barang titipan. Kalau kau tetap

beranggapan begitu, sama saja artinya dengan menghina aku, tidak mau meng anggap aku sebagai

sahabat,” demikian katanya.
Ciu Tiong Ing paling gemar bergaul. Dia saksikan bagai mana tadi orang-orang HONG HWA HWE

matiduaan berusaha menolong api, dan bagaimana sikap mereka yang begitu mengindahkan

padanya, diam-diam hatinya terhibur. Sekalipun Thiat-tan-Chung musna, tapi dia dapatkan

pengganti yang berharga: tali per sahabatan dengan begitu banyak-banyak orang gagah.
Setelah diadakan pemeriksaan, selain hanya kira-kira sepululian prang yang luka terbakar,

yang mati atau luka berat saja tidak ada. Ketika kemudian Song San Beng sampaikan kata-kata

pemimpin HONG HWA HWE itu pada sekalian Cengteng, mereka menjadi terhibur juga.
Selagi orang masih sibuk, datanglah Wi Jun Hwa dan Ciang Bongkok melapor pada Tan Keh Lok

bahwa Tong Siu Ho tak dapat diketemukan sekalipun sudah diCari sampai enam atau tujuh li

jauhnya, Tidak berapa lama, Thian Hong dan Seng Hiap pun munCul, dengan tangan kosong juga.
“Tidak apa, dia. kan orangnya Tin Wan piauwkok, biarkan dulu besok kita urusi lagi,” habis

berkata begitu Tan Keh Lok berpaling kearah Tiong Ing, katanya:
„Ciu locianpwe, untuk sementara ini sekalian Cengteng itu akan disuruh kemana?”’
„Soal ini, besok pagi sesudah keadaan tenang, kita pikir kan lagi,” kata siorang tua.
„Siaotit ada usul, harap ioCianpwe suka pertimbangkan,” tiba-tiba Thian Hong menyelak.
„Jit-ko kita ini terkenal sebagai Bu Cu Kat, dia banyak-banyak sekali akalnya,” kata” Tan

Keh Lok setengah bersendagurau.
Melirik pada Thian Hong, nona Ciu Ki perdengarkan suara hidung, lalu berkata pada Kian

Hiong:
“Beng toako dengarlah, ada orang yang melebihi hebatnya dari Cu Kat Liang, banyak-banyak

akal, pun bisa buge!”
Kian Hiong hanya tersenyum, maka berkatalah Tiong Ing: “Ji-ya, Coba kau bilanglah.”
„Kukira setelah orang she Tong itu melarikan diri dan orang she Ban itu tak kelihatan

kembali, kawanan kuku garuda itu pasti akan melapor pada pembesar negeri. Me nurut

pendapatku, lebih baik orang-orang Thiat-tan-Chung ini menuju ke barat saja, untuk

menantikan suasana kalau sudah agak reda. Kalau kita ketimur menuju kota Ti Kim Wi, rasanya

kurang leluasa.”
Tiong Ing setuju, katanya: “Benar, lotit memang tak ke Cewa sebagai Bu Cu Kat. Besok kita

berangkat ke Anse. Disana aku punya sahabat yang rasanya takkan keberatan menerima kita

untuk beberapa hari saja.”
Mendengar ayahnya malah memuji Thian Hong, Ciu Ki mendelu hatinya. Walaupun sekarang sudah

nyata bahwa Thian Hong bukan yang membakar Thiat-tan-Chung, tapi entah bagaimana, ia benCi

pada orang itu. Makin melihat, makin muak rasanya.
Setelah mengumpulkan semua Cengteng dan keluarganya yang berjumlah enamdua orang itu, maka

Tan Keh Lok menyerah kan sepuCuk surat pada Song San Beng seraja berkata:
„Kali ini saudara-saudara menderita kerugian besar, untuk itu aku merasa menyesal sekali.

Untuk menetap di Anse, tentunya saudara-saudara semua memerlukan ongkos, maka dengan ini

suka lah kiranya mcnerima sedikit pemberian yang tak bcrarti ini.”
Begitu melihat surat itu, terkejutlah Song San Beng, se hingga untuk sesaat dia tak dapat

berkata apa-apa. Kian Hiong mendekatinya, dan tampak olehnya pada surat itu terdapat tulisan

yang berbunyi. „Dengan surat ini harap diberikan sepuluh ribu tail perak”. Dibawah tulisan

itu, terdapat tanda tangan yang bagus, entah apa bunyinya.
“Tan tangkeh, kebaikanmu itu kita terima dengan senang hati, tapi uang yang begini

banyak-banyak, menyesal kami tak dapat menerimanya,” kata Kian Hiong.
„Setiba di Anse harap Song-ya pergi kekuil Giok Hi To Kwan untuk mengambil uang tersebut.

Untuk keluarga Beng-ya dan An-ya masing- harap diserahkan seribu tail. Song-ya sendiri harap

mengambil 500 tail. Sedang untuk enamdua saudara itu, masing-masing supaya diberi seratus

tail. Selebihnya silahkan pakai untuk ongkos jalan,” menerangkan Tan Keh Lok.
Bermula Beng Kian Hiong mau menolak, tapi telah dide sak oleh anak muda pemimpin itu. Kian

Hiong memandang kearah suhunya, akan minta pertimbangan. Sifat Ciu Tiong Ing adalah tangan

terbuka. Dia paling benCi orang yang main sungkanduaan, maka katanya:
„Karena itu sudah menjadi kehendak Tan tangkeh, kau terima saja dan lekas haturkan terima

kasih.”
Apa boleh buat mereka Cepat-cepat haturkan terima kasih. Adanya Tan Keh Lok tak menghaturkan

apa-apa pada Ciu Tiong Ing dan puterinya, karena sangat menghargainya. Untuk Itu legahlah

hati jago tua itu.
“Tan tangkeh, betul-betul kau mengliargai mukanya seorang tua ini,” kata Tiong Ing seraja

menepuk bahu ketua HONG HWA HWE itu.
Tiong Ing titahkan San Beng segera ajak rombongannya berangkat ke Anse untuk meneduh

ketempat kediaman Go tay koan-jin dulu. Kelak setelah urusannya selesai, mereka akan

dipanggil lagi.
“Ayah, jadi kita tak ikut pergi ke Anse?” tanya sang puteri.
“Mana bisa, Bun suya tertangkap ditempat kita, bukankah kita ikut bertanggung jawab untuk

monolongnya?” Mendengar maksud ayahnya akan ikut membebaskan Bun Thay Lay, giranglah hati

Ciu Ki, Kian Hiong dan Kian Kong.
“Maksud mulia dari Ciu locianpwe, sangat kita jun jung dengan rasa terima kasih yang

se-besarduanya,” demikian Tan Keh Lok Buru-buru menyang gapi. “Tapi menolong Bun suko itu

adalah soal pembunuhan dan perlawanan pada kekuasa an pemerintahan. Liatwi sekalian adalah

rakjat baik-baik yang hidup dengan tentram, jauh berbeda dengan orang-orang peran taUan

kangouw seperti kita orang ini. Bukankah hal itu sangat tak leluasanya?” Kita hanya akan

mohon petunyuk dan renCana dari Ciu lo Cianpwe saja. Tentang membasmi kawanan kuku garuda,

menolong Bun suko, biarlah kita sendiri saja yang mengerjakannya.”
Thiat-tan Ciu Tiong Ing mengelus mengurut jenggotnya, lalu katanya.
“Tan tangkeh, kau tak perlu kuatir akan merembetdua kita orang. Kalau kau menolak kehendakku

yang akan menolong
seorang sahabat itu, artinya kau menganggap sepi padaku!”
“Ciu loenghiong adalah seorang lelaki yang mulia ambe kannya. Semua orang kangouw sama

mengetahui dan meng hormatinya,” Liok Hwi Ching ikut menimbrung.” Andai kata dia bukan

seorang begitu, aku yang belum mengenalnya tentu tak berani gegabah menyuruh Bun su-ya

meneduh ke tempat kediaman beiiau!”
Tan Keh Lok termenung sejenak, lalu katanya:
“Begitu tinggi keluhuran budi Ciu loenghiong, kita seluruh anggauta HONG HWA HWE takkan lupa

sampai mati.”
Malah Lou Ping seketika itu maju menghampiri dan ber lutut dihadapan Ciu Tiong Ing, katanya

dengan serta merta:
„Loya rela membantu, aku atas nama keluarga Bun dengan ini haturkan beribu terima kasih.”
“Bun naynay, kau legahkan hatimu. Kalau tak dapat me
nolong Bun suya aku bersumpah tak mau jadi orang lagi,” kata Tiong Ing seraja

tersipu-sipumengangkat nyonya muda itu bangun. Habis itu dia minta pada Tan Keh Lok supaya

lekas mengeiuarkan perintah untuk berangkat.
Dengan ucapan merendah, Tan Keh Lok minta lagi agar Tiong Ing dan Hwi Ching, dua jago tua

itu, memberi petunyuk, Sudah barang tentu Hwi Ching menolak dan minta agar ketua itu sendiri

yang mengeluarkan perintah sendiri dengan segera.
„ Kalau begitu baiklah”, demikian aehirSnya Tan-Keh Lok berkata.
„Saudara-saudara sekalian, lebih dulu kita bersembahyang pada Hong Hwa loCu kita!” seru Tan

Keh Lok pada orang-orang nya.
Dia suruh ambilkan sebuah pakaian baru, untuk ganti pa kaiannya yang telah robek didada itu,

setelah itu dia pimpin saudara-saudaranya untuk bersujud menghadap kearah selatan. Mereka

memberi hormat (Paikui). sampai tiga kali. Selesai itu, baru pemimpin muda itu memberikan

perintahnya. Apr yang membakar Thiat-tan-Chung sudah padam, hanya sana sini terdengar suara

kretekan tangkaidua potongan kaju yang masih dimakan lelatu. Dengan chidmat, sekalian

orang-orang HONG HWA HWE itu mendengari perintah ketuanya:
Pertama: Sebagai pelopor dimuka, ialah Kim-tiok siuCay, Ie Hi Tong dan SeChwan Siang hiap

Siang He Ci dan Siang, Pek Ci sebagai penghubung untuk memberi warta tentang keadaan Bun

Thay Lay.
Rombongan kedua terdiri dari: Cian-pek ”Ji-lay Tib Pan San sebagai pemimpin dengan

anggautanya: Sipemberani Ciang Cin, Kui-kiam-Chiu Ciok Siang Ing.
Rombongan ketiga, pemimpinnya: Cui-hun-to-bing-kiam Bu Tim tojin dengan anggauta: Thiat-ta

Nyo Seng Hiap, Thong thao-ngo-hie Ciang Su Kin.
Rombongan keempat dipimpin sendiri oleh Tan Keh Lok dengan anggauta: Kiu-beng kim-pao-Cu Wi

Jun Hwa, clan sikaCung Sim Hi.
Rombongan kelima dipimpin: Bian-li-Ciam Liok Hwie Ching dengan anggauta: Sin-tan-Cu Beng

Kian Hiong, Tok-ka-houw An Kian Kong.
Rombongan keenam dipimpin: Thiat-tan Ciu Tiong Ing, dengan anggauta: Kio Li-kui Ciu Ki,

Bu-Cu-kat Chi Thian Hong dan Wan-yang-to Lou Ping.
“Ie su-sip-te, harap segera berangkat. Saudara lain-lainnya supaya mengasoh lebih dulu.

Besok kita berangkat ke Thio-ke-poh, lalu berpenCaran kita memasuki Kao-ko-kwan untuk

mengadakan rapat lagi,” demikian Keh Lok achirnya.
Dan setelah memberi hormat kepada sekalian; saudara, berangkatlah Ie Hi Tong dengan

rombongannya. Baru saja kudanya berjalan beberapa langkah, dia berpaling kearah Lou Ping,

siapa kelihatan menundukkan kepalanya. Rupanya nyonya muda itu sedang terbenam dalam

renungan lain, sedikitpun tak mengacuhkan akan keberangkatan Hi Tong itu. Anak muda itu

mengelah napas panyang , terus mengeprak kudanya berlari dengan kentyang .
Masing-masing orang lalu menCari tempat, untuk mengasoh.
„Chi jit-ko, kita telah membuat Ciu loenghiong menjadi berantakan rumah tangganya. Kepergian

kita untuk menolong suko kali ini, harap kau taroh perhatian, agar supaya pembesardua negeri

jangan sampai mengetahui tentang ikut nya loenghiong itu dalam rombong’an kita ini. Selain

itu, suso telah terluka, untuk kepentingan suko, ia tentu akan ber tempur matiduaan nanti.

Inipun harap kau berdaya untuk menCegahnya. Sebaiknya rombongan jit-ko ini jangan berjalan

dengan Cepat-cepat, kalau bisa supaya jangan sampai ikut bertempur,” kata pula Keh Lok.
Chi Thian Hong menyatakan akan memperhatikart nasehat ketuanya itu.
Baru saja mereka tidur dua jam, hari sudah terang tanah. Cian-pik ji-lay Tio Pan San segera

pimpin rombongannya berangkat.
„Sip-ko, jangan kau terbitkan onar dijalan, jangan banyak-banyak minum arak,” Lou Ping

memesan Ciang Bongkok.
„Suso, harap jangan kuatir. Sebelum suko tertolong, aku tak mau menenggak setetes arakpun

juga,” sahut si Bongkok.
Si Bongkok Ciang Cin itu kiranya seorang setan arak. Begitu masuk, dia sering gegeran dengan

orang. Tetapi bila perlu, diapun dapat menCegah minum. Inilah kelebihan dia.
Beberapa waktu kemudian, rombongandua dari Bu Tim tojin, Tan Keh Lok dan Liok Hwi Ching

ber-turutdua berangkat. Yang terachir, barulah rombongan Ciu Tiong Ing. Setiba di

Thio-ke-po, penduduk disitu sudah mendengar berita kebaka ran di Thiat-tan-Chung, dan

ber-dujundualah mereka datang menghibur Ciu Tiong Ing, Sampai ditempat ini Ciu Tiong Jng

berpisahan dengan Song San Beng yang disuruhnya me mimpin rombongan Cengteng pergi ke Anse.

Sedang jago tua itu terus melanyutkan perjalanannya ke timur.
Disepanyang jalan, Ciu Ki tetap ributs bertentangan dengan Thian Hong saja. Dimata gadis

berangasan itu, segala gerak-gerik Thian Hong itu serba salah. Sekalipun ayahnya

ber-ulangdua mendampratnya, Lou Ping juga ber-kalidua menasehatnya, malah Thian Hong

sendiripun suka mengalah, namun anak itu tetap memusuhinya saja. Lama-lama Thian Hong

jengkel juga, pikirnya:
„Hanya karena memandang muka ayahmu, maka aku mau mengalah, masa aku sungguh-sungguh jerih

padamu? Di kalangan kangouw,- enghiong mana yang tak mengindahkan aku, Bu Cu Kat ini? Dasar

sial, kini aku mesti menelan rongrongan seorang budak semaCam dia!”
Sengaja dia memperlambat kudanya, hingga berada di belakang mereka. Rupanya dia mendongkol,

dan tak mau bicara. Kalau menginap dirumah penginapan, sehabis makan dia terus masuk tidur.

Tak mau dia pasang omong dengan mereka. Begitulah pada hari yang ketiga, rombongan Ciu Tiong

Ing ini sudah melalui kota Ka-ko-kwan.
Nampak puterinya tak mau mendengar kata itu, beberapa kali Tiong Ing telah memberi

dampratan. Betul saat itu dihadapan sang ayah, Ciu Ki berjanyi menurut, tapi begitu

kelihatan Thian Hong, kumatlah penyakitnya untuk meng ajaknya bersetori pula. Diam-diam

Tiong Ing terkenang akan isterinya. Apabila ia itu disini, pasti akan dapat mengajar adat

pada puterinya yang bengal itu. Tetapi kini dimanakah sang isteri itu, diapun tak

mengetahuinya.
Memikir sampai disini, jago tua itu berduka hatinya. Tambahan pula tampak bagaimana Thian

Hong berada di sebelah belakang dengan sikap yang mengunyuk kejeng kelan itu, dia makin tak

enak hatinya.
Malam itu sampailah mereka di SouwCiu, lalu menCari rumah penginapan yang terletak didekat

pintu kota sebelah timur. Thian Hong kelihatan pergi dan tak lama lagi dia kembali, lalu

berkata kepada Ciu Tiong Ing dan Lou Ping:
„Ie sipsu-ko belum dapat menCium jejak Bun suko, juga belum bercljumpa dengan Sejwan

Sianghiap.”
„Bagaimana kau bisa tahu? Jangan ngelantur, ja!” Ciu Ki tahu-tahu sudah memutus keterangan

orang.
Thian Hong tak mau menyawab, hanya melirik dengan ekor matanya kearah gadis yang dibenCinya.
„Daerah sini terkenal dengan araknya yang kesohor. Ayo, jit-ya pergi dengan aku ke warung

arak Heng Hwa Lauw diseberang jalan sana untuk minum,” kata Tiong Ing.
“Baiklah, locianpwe,” sahut Thian Hong.
“Ayah, aku ikut!” seru Ciu Ki tak mau ketinggalan.
Thian Hong ketawa.
“Apa maCam, ketawa! Masa aku tak boleh ikut?” Ciu Ki iototkan matanya.
Thian Hong melengoskan kepalanya, seperti tak dengar apa-apa:
“Ki moaymoy, kita sama- pergi dah! Siapa yang tak mem bolehkan orang perempuan minum ar.ak

di Ciulauw?” kata Lou Ping dengan tertawa.
Ciu Tiong Ing ternyata seorang ayah yang berpandangan bebas, dia tak melarang puterinya.

Begitulah keempat orang itu terus menuju ke Heng Hwa Lauw dan memesan bebe beberapa hidangan

dan arak. Air sumber di Souw-Ciu dengan apa arakdua itu dimasaknya, ternyata sangat jernih

sekali. Karena itu, untuk daerah barat utara, arak SouwCiu kesohor lezatnya. Begitu

menCiCipi, mereka segera menga kui akan kehebatanya arak disitu. Pelajan kembali menghi

dangkan nampan bakpja keluaran SouwCiu yang kenamaan itu. Pia itu empuknya seperti kapas,

putih meletak meng giurkan selera. Selama makan pia itu, tak putus-putusnya mulut Ciu Ki

me-mujidua kelezatannya. Karena diwarung situ banyak-banyak orang, mereka tak mau

menyinggung urusari Bun Thay Lay. Hanya pemandangan alam “sepanyang tempat yang telah

dlaluinya itulah yang dijadikan bahan omong-omong mereka. Tiba-tiba Ciu Tiong Ing berkata

pada Thian Hong:
“Pemimpin HONG HWA HWE Tan tangkeh itu masih begitu muda usianya, mirip dengan seorang

kongcu, tetapi dia paham dengan “ilmu silat berbagai Cabang, sungguh jarang terdapat. Ketika

bertanding . dengan aku tempo hari itu, pada saatdua terachir dia gunakan ilmu silat yang

luar biasa aneh nya, entah apa itu namanya. Adalah Chi-ya mengetahuinya?”
Sebenarnya Ciu Ki pun sudah lama menyimpan pertanyaan itu, maka dia menaroh perhatian besar

untuk jawabannya.
„Sebenarnya akupun baru pertama kali itu berjumpa dengan Tan tangkeh Kecil, mendiang le

lotangkeh telah meng antarkannya ke gunung Thian San untuk belajar silat pada Thian Ti

koayhiap disana. Ilmu silat itu, kurasa adalah Cip taan dari koayhiap sendiri,” menerangkan

Thian Hong.
„Hong Hwa Hwe yang pamornya begitu kesohor didaerah Kang-lam, pemimpinnya seorang kongcu,

bermula aku tak percaya. Tapi belakangan setelah mengenalnya baik dalam perCakapan maupun

pertempuran, barulah kuketahui bahwa selain bugenya tinggi, juga pengetahuannya luas sekali.

Seorang pemimpin yang tepat dan Cakap. Memang orang tak boleh diukur dari usianya.”
Mendengar jago tua itu tak habis-habisnya memuji ketuanya, Thian Hong dan Lou Ping merasa

girang. Begitulah mereka #a|fang omong dan minum arak dengan gembira sekali. Hanya Lou Ping

begitu terkenang akan nasib suaminya yang belum ada ketentuannya itu, nampaknya selalu

berduka saja.
“Dalam beberapa tahun ini, banyak-banyak sekali jago-jago baru yang munCul dikalangan

persilatan. Dengan begitu akan tetaplah bersemarak keharuman Sungai Telaga, patah tumbuh

hilang berganti. Hilang yang tuadua, yang mudadua tetap tampil meng g’anti. Misalnya seperti

kau sendiri, laote, yang paham bun dan bu itu, memang jarang terdapat di kangouw. Maka harap

kau jangan sia-siakan bakatmu itu, untuk melakukan suatu pekerjaan besar”, kata Tiong Ing

lebih jauh.
Thian Hong tersipu-sipumeng-iakan dan haturkan terima kasih. Sebenarnya jawaban “ja” dari

Thian Hong diperun tukkan anyuran Tiong Ing supaya „melakukan pekerjaan besar” itu. Tak

tahunya, Ciu Ki telah menduga salah. Dengan perdengarkan suara ejekan dari hidung menggerutu

lah si-Centil itu:
„Huh, dipuji orang, masa ja, ja” saja!”
Setelah meminum seCawan lagi, kembali Tiong Ing berkata:
„Konon kudengar mendiang Ie lotangkeh itu adalah seorang achli Siao Lim Pai yang jempolan,

dengan begitu sama de ngan kaumku. Scbenarnya telah lama aku berhasrat mengun jungi untuk

berkenalan. Namirn karena dia tinggal di Kanglam dan aku berada didaerah barat utara, maka

be lumlah dapat kulaksanakan. Dan harapanku itu kini tak mungkin terpenuhkan lagi, setelah

beliau meninggal itu. Be berapa kali kuberusaha untuk menyelidiki sumber kaum lotangkeh itu,

tapi selalu gagal saja.”
“Semasa hidupnya marhum Ie lotangkeh tak pernah me nyebut asal kaumnya, baru setelah beliau

akan menutup mata, menerangkan bahwa dulu dia belajar buge digereja Siao Lim Si di Hokkian,”

jawab Thian Hong.
“Akupun seorang murid Siao Lim Si juga,” kata Tiong Ing seraja mengangkat Cawannya. Dia

kerutkan jidatnya sejcnak, lalu bertanya lagi:
“Almarhum itu punya Ciridua apa pada mukanya?”
“Sampai pada usia enam0 tahun, marhum masih kelihatan ga gah. Hanya pada ujung keningnya

sebelah kanan terdapat sebuah bekas luka besar, hingga alisnya sebelah kanan tidak ada

lagi.”
Mendengar penuturan Thian Hong itu, sekonyong-konyong Cawan arak Ciu Tiong Ing terlepas

jatuh kelantai, dan jago tua itu kelihatan menguCurkan air mata. Katanya dengan suara

sember:
“Oh, suheng, suheng. Memang sudah kuduga tentu kau, tetapi rupanya kau me-nyiaduakan jerih

payahku.”
Melihat perobahan dan sikap Tiong Ing yang luar biasa itu, Thian Hong sangat terkejut.
“Laote, Bun naynay, apakah kau orang tahu bahwa Ie lotangkeh-mu itu bukan orang she Ie?”

tanya Tiong Ing ke mudian.
“Ja, dia orang she Sim,” sahut Thian Hong. Kembali Tiong Ing keluarkan seruan tertahan,

katanya: „Benar, dia memang she Sim. Namanya sebenarnya jalah Sim Ju Ko, dia adalah

suhengku. Hubungan kita, suheng dan sute berdua, sangat mesra sekali. Apalagi dikemudian

hari karena melanggar peraturan, dia telah diusir oleh suhu. Sejak itu aku tak mendengar

lagi tentan’g beritanya. Kese luruh polosok Sungai Telaga kumenCarinya, tapi tetap tak ada

orang yang mengetahulnya. Kukira karena putus asa, dia tentu menyembunyikan diri. Tak

tahunya kalau dia sudah merobah she dan namanya dan telah mendirikan suatu ge rakan yang

begitu mulia tujuannya itu. Dulu pernah kude ngar bahwa ketua dari HONG HWA HWE itu orang

dari golongan Siao Lim Pai, untuk membuktikan prasangkaku, maka kutulis sepuCuk surat.

padanya. Tapi dengan katas yang sungkan, dia telah membalas suratku itu dengan sikap seperti

mem perlakukan seorang yang baru dikenalnya. Karena kukenal sifat suhengku yang jujur dan

sayang padaku itu, aegera kupercaya bahwa dengan jawaban itu, teranglah bahwa ketua HONG HWA

HWE itu bukan suheng. Dan karenanya, tak kuse lidiki lebih jauh. Oh, suheng, mengapa kau

perlakukan sutemu ini begitu dingin?”
Sampai disitu kembali nampak Tiong Iftg berduka, lalu katanya pula:
“Kalau siangdua kuketahui dia, tentu biar bagaimana ku periukan berkunyung ke Kanglam. Kini

orangnya sudah me ngasoh kealam baka, dan harapanku untuk menyumpainya takkan terlaksana

se-lama-lamanya.”
„Ie lotangkeh berbuat begitu, tentu ada sebabhja. Dia paling gemar bergaul, kalau sampai dia

tak mau kenal lo Cianpwe, tentulah bukan sewajarnya,” kata Thian Hong.
“Huh, orange HONG HWA HWE itu, paling suka memandang sebelah mata pada orang, jangan kata

dalam hatinya. CiCi Ping, aku tak mengatakan kau lho,” tiba-tiba Ciu Ki menyelak.
Thian Hong tak menghiraukannya.
“Sewaktu meninggal, dia herpesan apa?” tanya Tiong Ing.
„Disini banyak-banyak orang, dan penurunan itu panyang sekali. Baik malam nanti kita

lanyutkan perjalanan, dan memilih suatu tempat sepi yang CoCok untuk kita pasang omong lagi.

Aku sendiripun mempunyai beberapa soal, karena Ciu locianpwe adalah sute dari Ie lotangkeh

tentunya mengeta hui juga riwajat semasa mudanya. Aku akan mohon beberapa pengunyukan dari

locianpwe,” kata Thian Hong.
Ciu Tiong Ing setuju, lalu menyuruh pelajan membikin perhitungan.
“Harap tunggu sebentar, aku akan turun kebawah dulu,” kata Thian Hong.
“Laote, akulah yang menjadi tuan rumah, tak usah kau yang bajar,” sera Tiong Ing.
“Baik,” jawab Thian Hong terus turun kebawah loteng.
“Hem, sikunyuk jual lagak!” Ciu Ki tak kuat untuk tak memberi komentar.
“Anak perempuan tak boleh sembarangan bicara!” damprat ayahnya.
“Ki moaymoay,” kata Lou Ping. „Jit-ko kita itu orang yang paling banyak-banyak akal, kau

Cari urusan dengan dia, hati-hati lah tentu dia akan membalas kau.”
“Seorang lakidua yang lebih kate dari aku, masa mesti dibuat jerih!” sahut sigadis.
Ciu Tiong Ing akan mendampratnya lagi, tapi segera tak jadi sebab dengan suara tindakan

kaki. Itulah Thian Hong yang segera mengajak mereka berangkat lagi. Begitu sete lah

mengambil baranga bekalannya, ke-empat orang itu me neruskan perjalanannya lagi. Untung

pintu kota masih belum keburu ditutup.
Sekejap saja mereka berempat telah melalui tiga 0 lie, dan Ciu Tiong Ing lalu ajak

rombongannya untuk mengasoh dibawah gerombolan puhun yang tumbuh ditepi jalan. Kala itu,

keadaan disitu sunyi senyap. Tapi ketika Thian Hong akan membuka mulut, tiba-tiba jauh dari

arah sebelah sana, terdengar suara seperti bunyi telapak kuda. Cepat-cepat a dia tem pelkan

kupingnya ketanah, lalu katanya:
“Ada tiga ekor kuda, lari menghampiri kemari.”
Atas isjarat Tiong Ing, mereka segera membawa kudanya bersembunyi dibalik batu besar. Tidak

berselang berapa lama, betul juga ada tiga ekor penunggang kuda lalu disitu untuk menuju

kearah timur. Diantara sinar rembulan, tampak ke tiga penunggang kuda itu memakai ikat

kepala putih dan jubah berkembang, dan danannya menyerupai orang Wi. Pada kuda masing-masing

terselip golok.
Setelah mereka lenyap dari pemandangan, barulah Tiong Ing mengajak duduk ditempatnya tadi.

Bahwa selama mereka meninggalkan Thiat-tan-Chung boleh dikata siang ma lam terus berjalan,

hingga tak ada waktu untuk ber-Cakapdua. Maka kesempatan ini digunakan oleh Tiong Ing untuk

me nanyakan pada Lou Ping mengapa Bun Thay Lay sampai bisa ditangkap oleh pemerintah Ceng

Tiauw. Segera Lou
Ping memberi keterangan sbb.:
“Perkumpulan kita HONG HWA HWE merupakan duri dimata peme rintah Ceng, itulah sudah terang.

Tetapi anehnya, kali ini mereka telah mengirimkan banyak-banyak sekali jagoanya yang ber

kepandaian tinggi untuk menangkap sampai dapat pada Bun suko. Dan hal itu merupakan lain

perkara lagi. Kira-kira pada pertengahan bulan jl., Ie lotangkeh buru~> datang ke Pak khia

dengan mengajak kita berdua suami isteri. Sampai di kota raja tersebut., diam-diam lotangkeh

suruh kita untuk menyelun dup keistana untuk menemui kaisar Kian Liong. Sudah barang tentu

kita terkejut dan menanyakan keperluannya. Namun lotangkeh tak mau menerangkannya. Lalu suko

men jelaskan, bahwa hongte itu sangat galak sekali, sebaiknya undang juga Bu Tim totiang,

Tio samko, SeChwan Siang-hiap dan lain-lain datang ke Pakkhia untuk ber-sama-sama memasuki

ista na. Pula mengundang Chit-ko (Thian Hong) supaya merenCanakan penyerbuan itu.”
Mendengar itu, Ciu Ki melirik pada Thian Hong dan berkata dalam hati:
„Huh, masa orange begitu banyak-banyaknya, sama membutuhkan kepandaian sikate ini?”
“Pendapat suya itu memang tak salah,” demikian Tiong Ing berkata.
“Ja, tapi Ie lotangkeh menerangkan bahwa urusan menemui Kian Liong kali ini sangat penting

sekali artinya. Kalau terlalu banyak-banyak yang masuk istana, salaha menerbitkan salah

faham hebat. Suko tak berani membantahnya lagi. Begitulah malam itu kita berdua memasuki

istana. Suko yang terus menyelinap kedalam dan aku yang menyaga diluar. Saat itu kita sangat

gelisah sekali. Kira-kira dua jam kemudian suko munCul kembali, dan kami terus pulang dengan

selamat. Ke esokan harinya kami tinggalkan Pakkhia menuju ke Kang lam. Ditengah jalan, diams

kutanyakan suko tentang perter muannya dengan baginda Kian Liong. Menurut suko, dia telah

berhasil menghadap baginda, tetapi karena soal itu adalah soal yang maha penting yaitu

gerakan untuk mero bohkan pe merintah Boan Ceng, maka dia tak mau menerangkan lebih jauh

padaku. Hal itu bukan karena ia tak mempercayai diriku, tapi ia kuatir nanti malah

membahajakan diriku saja, maka akupun tak mau mendesaknya.”
“Tanggung jawab suheng memang besar sekali,” seru Tiong Ing.
“Setiba di Kanglam, kita lalu berpisahan. Kami kembali ke Thayouw, dan lotangkeh pergi ke

HangCiu,” kembali Lou Ping melanyutkan keterangannya.
“Sampai berpuluh tahun, dia tak dapat melupakan ke nangannya,” seru Tiong Ing mengelah

napas.
“Kenangan apa sih?” timbrung Ciu Ki.
“Mana kau tahu?” sahut sang ayah.
“Justeru karena itulah aku bertanya,” si Centil menyang gapi.
Tiong Ing tak hiraukan. Melihat itu Thian Hong meri ngis ewah, keruan saja Ciu Ki mendongkol

ke-maluduaan.
Sejak dia kembali dari HangCiu, sikapnya berobah sekali. Kelihatannya dia berobah lebih tua

sepuluh tahun. Sepanyang hari dia tak mau bicara. Dan lewat beberapa hari kemudian lalu

jatuh sakit. Kata suko. karena orang yang diCintai lotangkeh meninggal dunia, maka dia

sangat berduka sekali …………..”
Mengucap sampai disini, Lou Ping dan Thian Hong sama menguCurkan air mata, juga Ciu Tiong

Ing tampak ber linangdua. Mengulap air matanya, Lou Ping berkata:
“Sebelum menutup mata, lotangkeh telah panggil hiangCu dari Iwe-sam-tong dan gway-sam-tong,

dan meninggalkan pesanan supaya Siaothocu (Tan Keh Lok) yang harus menggantikan

kedudukannya. Ditandaskannya, bahwa disitu lah letak bangunnya kembali kerajaan Han.”
“Saothocu membahasakan apa dengan kau orang punya lotangkeh itu?” tanya Ciu Tiong Ing.
“Dia adalah anak angkat lotangkeh. Siaothocu adalah pute ra dari Tan Siang Kok di Hayling.

Dalam usia 15 tahun, saothocu telah lulus dalam ujian kiatgoan. Tak lama ke mudian,

lotiangke membawanya keluar dan mengirimkannya ke Hwe Poh untuk belajar buge pada Thian Ti

koayhiap. Urusan ini, boleh dikata semua orang kangouw sama me ngetahuinya. Tentang

bagaimana seorang kongcu dari ge dung Caysiang bisa mempunyai ayah angkat seorang bulim,

kita sendiri tak mengetahuinya.”
„Mungkin Bun suya mengetahuinya,” kata Tiong Ing. “Rupanya diapun tak tahu,” sahut Lou Ping.

„Ketika akan menut.up mata nampak lotangkeh mempunyai suatu rahasia besar dan minta bertemu

dengan siaothocu. Tapi karena perjalanan begitu jauh, maka telah tak keburu lagi. Da-lam

pesanannya lotangkeh minta supaya ketua dan waktu ketua dari keenam tong (daerah) supaya

menyemput saothocu untuk merundingkan gerakan besar. Disamping itu, lotang-keh diam-diam

bisiki suko supaya lekas-lekas menemui saothocu sen diri untuk menyampaikan pesan

rahasianya. Tapi apa laCur, ditengah perjalanan suko mesti menghadapi benCana begini ”

Sampai disini, suara Lou Ping menjadi sember, tapi ia paksakan berkata lagi:
“Kalau sampai suko kena apa-apa pesan lotangkeh tentu takkan ada lain orang yang

meneruskannya.”
“CiCi Ping, kau jangan bersedih. Kita tentu dapat me nyelamatkan suya,” seru Ciu Ki

menghiburnya.
Lou Ping Buru-buru tarik tangan Ciu Ki, dan paksakan bersenyum dengan saju.
„Bagaimana Bun suya bisa terluka?” tanya Tiong Ing pula „Kita orang ber-gantidua secara

bergelombang menuju ke perbatasan sebelah barat utara untuk menyambut saothocu. Kita berdua

suami isteri, jatuh pada gelombang yang paling achir. Setiba di SouwCiu, sekonyong-konyong

ada delapan orang pahlawan kelas satu (si wi) yang menCari kita dirumah penginapan. Mereka

mengatakan membawa titah dari baginda agar kita lekas menghadap ke Pakkhia. Suko menyawab,

bahwa nanti setelah menyambut saothocu, barn nanti akan pergi kekota raja. Dengan kata-kata

halus, kedelapan siwi itu menasehati agar suko lebih meng’utamakan firman keizer daripada

uru san partai. Namun suko tetap membantahnya. Demikianlah karena sama-sama kerasnya,

pertempuran tak dapat dihindari lagi.
Kedelapan siwi itu adalah pahlawandua pilihan dari istana. Dengan tertentu, kita makin

terdesak. Suko umbar kema rahannya. Dengan bernapsu dia telah dapat merobohkan dua orang

siwi. Malah saking gemasnya dia pukul binasa yang tiga orang. Sedang yang dua lainnya telah

kena hui to-ku. Karena melihat gelagat tak baik, salah seorang dari mereka segera kaburkan

diri. Sekalipun kita berhasil dapat menghalau mereka, tapi suko juga mendapat beberapa luka

yang ber bahaja. Karena selama pertempuran itu, dia selalu berada dimukaku, sehingga dengan

begitu, sedikitpun aku tak sampai terluka.”
Ciu Ki terlongong-longong mendengari bagaimana Lou Ping menuturkan dengan gaja periuh

bersemangat tentang kega gahan suaminya melawan kedelapan siwi itu. Setelah berhenti

sejenak, Lou Ping meneruskan penuturannya lagi:
“Karena tak dapat tinggal lama- di SouwCiu, kita terus menuju ke Ka Ko Kwan. Sebenarnya

sampai di Thio-ke-po saja suko sudah tak kuat meneruskan perjalanan lagi, dan terpaksa

menginap dihotel untuk merawat luka-nya. Apa yang kita harapkan jalah solekasnya saothocu

dan rom bongan saudara- kita sudah dapat kembali dan melalui tempat situ. Tapi diluar

dugaan, kawanan kuku garuda dari Pakkhia dan LanCiu terus mengejar kami. Dan bagaimana

kelanyutannya, kukira kauorang sudah dapat mengetahui sendiri.”
“Kian Liong loji mengapa begitu takut dan benCi suko. Kalau begitu keselamatan suko untuk

sementara tentu ter jamin, kuku garuda itu takkan berani mengganggu seorang tawanan yang ‘

begitu penting sebagai dia,” kata Thian Hong.
“Pikiranmu itu benar, laote,” sahut Tiong Ing.
“Mengapa daripada lekas- pergi ke Thio-ke-po untuk me numpas kawanan kuku garuda dan

menolong Bun-ya kauorang malah menuju ke Thiat-tan-Chung untuk mengumbar tangan jahatt”

tiba- Ciu Ki menyelak.
Ciu Ki masih ingat peristiwa pambakaran rumahnya, karena garadua HONG HWA HWE itu. Dalam

kesempatan itu, dia sem prot Thian Hong, orang yang dulu menyuruh lepaskan api itu.
“Budak perempuan, jangan omong sembarangan!” bentak ayahnya.
Thian Hong tetap tulikan telinga dan lanyutkan penuturannya:
„Karena saothocu main sungkan tak mau terima keang katannya sebagai Congthocu, maka mereka

sampai terlam bat beberapa hari belum ada keputusannya. Dan lagi kita tak menyang ka kalau

orang berani menepuk lalat dimulut sepasang suami isteri harimau seperti suko dan suso yang

lihai bugenya itu.”
„Kau digelari orang sebagai Bu Cu-kat, mengapa tak beCus menduganya?” kembali Ciu Ki

menyentil.
Karena sungkan dengan sang ayah, Thian Hong tak dapat melampiaskan kemendongkolannya kepada

gadis yang genit itu. Palingdua dia bungkem dengan unyuk muka keCut.
“Kalau jit-ya ini sudah bisa menduganya, kita kan tak bisa berkenalan dengan saudara-saudara

dari HONG HWA HWE Terutama dengan seorang bun-bu-Coan-Cay (pandai ilmu surat dan buge)

sebagai Tan tangkeh itu,” Buru-buru Tiong Ing menutupi kesungkanan Thian Hong. Berpaling

kearah Lou Ping dia bertanya pula:
„Siapakah pasangan Tan tangkeh itu? Puteri atau sioCia keluarga bangsawan atau lihiap dari

kalangan persilatan?” “Tan tangkeh belum punya pilihan!” sahut Lou Ping. Ciu Tiong Ing

termenung sesaat.
“Ciu locianpwe, kapankah kita minum arak-kebahagiaan dari adik Ki?” tanya Lou Ping dengan

tertawa.
Tertawalah Tiong Ing mendengar itu, katanya:
„Budak itu tolol dan lantyang , siapa yang sudi? Kalau dia mendapat pasangan orang tua saja

sudah untunglah!”
Maka tertawalah Lou Ping.
“Tunggu saja setelah nanti urusan menolong suko selesai, tentu akan kuajak suko untuk

menCarikan pasangan buat adik Ki. Tanggung kauorang tua tentu puas.”
“Kalau kauorang terus omongi diriku, aku akan berjalan dulu sendiri,” anCam Ciu Ki.
Semua yang mendengarnya sama tersenyum. Malah karena tak tertahan, Thian Hong tertawa

gelakdua. Sudah barang tentu Ciu Ki menjadi marah.
„Kau tertawai siapa?” bentaknya.
„Aku tertawa pakai mulutku sendiri, ada sangkutan apa denganmu?” balas Thian Hong.
Ciu Ki orangnya paling suka berterus terang, dia tak bisa simpan ganyelan dalam hatinya,

lalu sahutnya pula:
„Hm, apa aku tak mengerti ketawamu itu? Kau orang bermaksud jodohkan aku pada Tan Ken Lok.

Dia kan kongcu seorang sinsiang, tidak setimpal dapat aku? Kou orang-orang HONG HWA HWE

begitu me-nyanyungdua dia seperti anak mas, aku tak ambil pusing. Ketika bertempur dengan

ayah, dia pura-pura sungkan, tapi sebenarnya dia jahat sekali. Biar aku tak kawin seumur

hidup, daripada dapat suami orang yang banyak-banyak tipu muslihatnya itu!”
Tiong Ing marah disamping merasa geli juga. Dia Coba menCegah, tapi puterinya tak mau

hiraukan, dan berham buranlah kata-kata itu dari mulutnya.
“Sudahlah, sudah. Kelak suami adik Ki tentu seorang ho han yang jujur dan pandai bicara,

bagaimana, puaskah kau locianpwe,” tanya Lou Ping menggoda Tiong Ing.
“Budak tolol, apa tak malu diketawai Chit-ya? Ha, sudahlah mari kita tidur, besok kita

berangkat pagidua,” kata Tiong Ing.
Demikianlah mereka berempat segera mengambil selimut dan tidur dibawah puhun besar situ.
“Ayah, apa kau membekal makanan? Aku lapar sekali,” i.ibadua Ciu Ki berbisik.
“Tidak bawa. Kau lekas tidurlah, besok kita berangkat pagian dan singgah di Song-king,”

jawab Tiong Ing.
Tak berapa lama, menggeroslah sudah orang tua itu dengan nyenyaknya. Sebaliknya, karena

lapar Ciu Ki masih bergulak-gulik tak dapat tidur. Menoleh pada Lou Ping, pun orang itu

sudah pulas. Tiba-tiba dilihatnya Thian Hong bangun, dan diam-diam kelihatan menghampiri

ketempat kudanya. Heran Ciu Ki dibuatnya, dan diam-diam dia mengawasi perbuatan si kate;tu.
Karena gelap, tak dapat dilihatnya dengan jelas apa yang dikerjakan Bu Cu-kat, hanya samara

seperti dia itu mengambil pauwhok dari atas kudanya. Dan ketika duduk kembali, dia pakai

selimut untuk menutupi badan, dengan sedapnya dia berkemak-kemik mengunyah sesuatu.
Meiihat Itu, dengan gemas Ciu Ki balikkan tubuh meng hadap kearah lain. Tak sudi ia

melihatnya. Tapi Thian Hong betul-betul menyengkelkan. Tidak saja dia sengaja mengunyah

dengan makin kerasnya, tapi juga tak putus-putusnya sang mulut ber-keCapdua memuji kelezatan

makanannya itu.
Karena tak tertahan lagi, Ciu Ki Cobadua menCuri lihat makanan apa yang dikunyah sikate itu.

Kalau ia tidak ber buat begitu itu sih malah baik. Tapi begitu dia Cobadua meng intainya,

maka tak tertahan lagilah air liurnya mengalir. Rasa laparnya makin menagih dengan hebatnya.
Kiranya tangan sikate itu tengah memegang sebuah ben da putihdua dan disampingnya masih ada

setumpuk lagi. Tak salah lagi, itulah bakpia dari SouwCiu yang luar biasa lezatnya. Kiranya

sewaktu Thian Hong pamitan turun dari loteng Heng Hoa Lauw kemaren itu perlunya akan beli

pia itu.
Karena. biasanya selalu mengajak setori saja, maka se kalipun sangat kepingin, tapi Ciu Ki

tak berani meminta nya. Paling banyak-banyak ia hanya meng-harapdua supaya Thian Hong itu

lekas tidur, baru nanti pianya dapat digasak. Syukur kalau ia sendiri bisa iekasdua tidur.

Tapi kejadiannya malah sebaliknya. Tiba-tiba hidungnya tersampok dengan bau arak yang mar

biasa harumnya, dan menyusul terdengar berkeru Cukan arak turun ditenggorokan Thian Hong,

disela dengan elahan napas kepuasan.
Serasa tak tertahan lagi, maka berserulah Ciu Ki dengan uringduaan: “Setan apa malamdua buta

menenggak arak itu? Ayo jangan mabukduaan disini!”
“Boleh, boleh “ sahut Thian Hong sambil meletakkan guCi araknya, terus menggelundung tidur.
Tapi Bu Cu-kiat itu memang tukang mengili hati orang. Sengaja guCi itu tak disumpalnya dan

ditarohkan disisih kepalanya. Sudah tentu baunya terbawa angin ke-manadua. Sewaktu diwarung

arak Hong Hoa Lauw kemaren, tahulah dia bahwa Ciu Ki seorang nona yang dojan minum, maka

sengaja dia mempermainkannya begitu.
Ciu Ki ketika itu betul-betul mati kutunya, matanya merem melek tak bisa tidur. Untuk

mendamprat, tak ada alasan nya. Tapi kalau disuruh diam saja, betul-betul tak kuat hatinya.

Kembali ia balikkan muka kesebelah sana, mata dan hidungnya ditekap dengan selimut. Tapi dia

tak dapat lama-lama berbuat begitu, karena lekas juga ia merasa engap. Maka kembali ia

berbalik lagi. Tiba-tiba diantara sinar rembulan dilihatnya sepasang gembolan yang terletak

disebelah ayahnya, berkeredepan mengeluarkan Cahaja.
SeCepat-cepat kilat timbullah suatu pikiran dalam hati sinona. Cepat-cepat ia ulurkan tangan

menyemput sebuah gembolan, terus ditimpukkan kearah guCi arak Thian Hong. „Prukk… guCi

peCah berantakan dan arak menyiram basah selimut Thian Hong.
Namun Thian Hong rupanya sudah tidur pulas, dan tak menghiraukannya. Karena melihat ayahnya

masih menggeros dan Lou Ping pun tak ada suaranya, maka Ciu Ki lalu me rangkak untuk

mengambil kembali gembolan tadi. Tapi begitu tangannya diulur, tiba-tiba Thian Hong

membalikkan badannya, sehingga gembolan itu tertindih dibawahnya, dan berbareng itu dia

menggeros keras-keras.
Bukan main terkejutnya Ciu Ki. Cepat-cepat ia tarik tangannya. Bagaimana bebasnya ia

bergaul, namun ia tetap seorang sioCia yang tak dapat melepaskan rasa malunya. Untuk merogoh

gembolan yang tertindih badan Thian Hong itu, rasanya masih belum sampai hatinya. Namun

kalau tak diambil, tentu sikate akan bawa gembolan itu untuk diadu kan pada sang ayah, dari

siapa tentu ia akan didamprat. Apaboleh buat dia lebih suka dimaki sang ayah daripada mesti

menyentuh badan orang yang dibenCinya itu, maka ia terus balik tidur ketempatnya lagi. Tapi

pada saat itu, tiba-tiba didengarnya Lou Ping tertawa. Seketika itu merah padam lah wajah

Ciu Ki, sehingga tengkuknya dirasakan panas. Karena ia rasa Lou Ping tentu mengetahui

perbuatannya menghampiri tempat Thian Hong tadi. Karena bingung me mikirkan, semalam itu

hampir ia tak dapat pulas tidurnya.
Keesokan harinya, pagidua sekali sebenarnya Ciu Ki sudah bangun, tapi dia diam saja

membungkus diri dalam selimut. Begitu terang tanah, Ciu Tiong Ing dan Lou Ping bangun, dan

sebentar pula Thian Hong-.
Tapi tiba-tiba pemuda itu ber-teriak: “Ai, ai, benda keras apa yang tertindih dibawahku

ini?”
Mendengar itu, Buru-buru Ciu Ki sesapkan kepalanya kedalam selimut lagi.
“Ah, Ciu loya, gembolanmu menggelinding kemari! Wah, Celaka! guCi arakku tersampok peCah!

Benarlah, tentu sikunyuk kecil diatas gunung karena membau arak lalu tu
run kemari. Dan sewaktu melihat gembolan loya, lalu dibuat main-main . Karena kurang

hati-hati, sampai menyatuhi guCi arak. Kunyuk itu betul-betul kurang ajar!” kembali Thian

Hong menggerutu seterigah memaki.
„Hahaha, laote memang suka meluCu. Mana di tempat ini ada monyet,” kata Tiong Ing dengan

ketawa.
„Kalau bukan kera, tentulah perbuatan bidadari dari kahijangan,” Lou Ping menimbrung.
Keduanya sama-sama tertawa. Mendengar mereka tak sing gungdua peristiwa semalam, legahlah

hati Ciu Ki, namun ia benCi pada Thian Hong yang mengatakan ia seekor kunyuk. Ditengah jalan

Thian Hong membagikan pianya pada ka wanduanya, tapi Ciu Ki menolak. Setiba dikota Song

King, mereka singgah kesebuah rumah makan untuk tangsel perut.
Sekeluarnya dari kota tersebut, Thian Hong dan Lou Ping tiba-tiba menghampiri kaki tembok

dari sebuah rumah. Ketika Ciu Ki ikutduaan mengawasinya, ternyata disitu terdapat Co retan

hurufdua dan gambar orang-orang an, persis tulisan kanakdua. Selagi Ciu Ki ke-heranduaan,

berkatalah Lou Ping:
“SeChwan Sianghiap telah dapat menemukan jejak suko. Ini dia tinggalan tulisannya!”
„Bagaimana kau tahu, apa sih artinya Corat-Coret itu?” tanya Ciu Ki.
„Inilah tanda rahasia dari HONG HWA HWE untuk sesuatu pemberi taan, dan itulah tulisan

SeChwan Sianghiap,” kata Lou Ping seraja pakai kakinya untuk menghapus tulisan itu.
Demikianlah dengan semangat ber-nyaladua, keempat orang itu segera meneruskan perjalanannya

lagi. Terutama Lou Ping berCahaja wajahnya. Setelah menempuh kira-kira 50 li mereka berhenti

untuk mengasohkan kuda, lalu kembali meneruskan lagi. Keesokan harinya dimana jembatan

Chit-to-kauw, kembali mereka dapatkan pertandaan dari Ie Hi Tong yang mengatakan sudah dapat

menggabung lagi dengan SeChwan Sianghiap.
Setelah dirawat beberapa hari, luka Lou Ping sudah boleh dikata sembuh. Sekalipun masih

belum seperti biasa jalan nya, tapi sudah tak memerlukan tongkat lagi. Memikir tak lama lagi

akan sudah berjumpa dengan suaminya, rasanya Lou Ping sudah mau meloncat hatinya. Ia larikan

kuda untuk menCongklang kemuka lebih dulu.

Su Kiam in Siu Lok
Puteri Harum dan Kaisar atau Pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung

Jilid 8
MENYELANG petang, mereka sudah sampai ke Liu-Cwan-Cu. Lou Ping maunya akan terus, tapi Thian

Hong yang ingat akan pesan sang ketua, Buru-buru menCegahnya dengan alasan kudanya akan

menjadi kepayahan nanti. Lou Ping menuruti, dan malam itu mereka menginap disebuah hotel.

Semalam itu, Lou Ping bergulak-gulik tak bisa tidur, sedang hujan rintikdua membasahi bumi.
Terkenang ia akan peristiwa malam ketiga dari perkawi nannya dengan Bun Thay Lay, dia

dititahkan Ie lotangkeh pergi kekota Kahin untuk menolong seorang janda yang hendak

diCemarkan oleh seorang tuan tanah. Setelah ber hasil, pada tengah malam itu mereka meneduh

diatas paseban Jan Oe Lauw di telaga Lam-ouw, minum arak sambil menik mati turunnya sang

hujan. Pada saat itu, sembari memimin tangan isterinya yang baru dikawin itu, Bun Thay Lay

me nyanyi dengan gembira. Saatdua itulah yang memenuhi lubuk kenangan sinyonya muda itu.

Tiba.” tergerak pikiran Lou Ping.
“Karena sungkan menemani keluarga Ciu anak dan ayah berdua, maka Chit-ko tak mau Cepat-cepat

meneruskan perjalanan. Kalau begitu, mengapa aku tak mau berangkat dulu sendiri?” demikian

ia membatin.
Keinginan itu menguasai hatinya, terus serentak ia bangun mengemasi senjata dan bekalnya,

lalu menuliskan tanda-tanda tulisan diatas meja untuk Thian Hong, menerangkan meng apa ia

berangkat lebih dulu, sekalian supaya dimintakan maaf pada Ciu Tiong Ing dan puterinya.
Karena kuatir membangunkan mereka, Lou Ping meng ambil jalan loncat dari jendela, terus

melepaskan kudanya, mengenakan baju hujan dan melarikannya dengan pesatnya.
Menyelang fajar, sampailah ia ke Tin-bin dan mengasoh sebentar. Kudanya betul-betul

kelihatan lelah sekali, apa boleh buat ia menunggu sampai setengah jam. Setelah kira-kira

berlari tiga empat puluh li lagi, tiba-tiba kudanya mendeklok ketanah. Dengan wasdua Lou

Ping Buru-buru menarik kendalinya, Syukur kudanya itu tak jatuh, namun sekalipun begitu, ta

hulah ia bahwa kudanya itu sudah tak dapat disuruh berlari lagi, atau tentu akan mati

kelelahan. Apa boleh buat, ter paksa Lou Ping menyalankan binatang itu dengan pelahandua

sekali.
Belum berapa jauh berjalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kuda yang

menghampiri dengan pesatnya. Dan pada lain saat seekor kuda putih menCongklang disisih nya,

pesat memberosot kemuka. Karena larinya seCepat-cepat angin, Lou Ping sampai tak dapat

mengawasi dengan jelas, orang maCam bagaimanakah sipenunggang itu. Belum habis Lou Ping

ter-herandua, kuda putih itu sudah lenyap dari pe mandangan.
Karena kudanya sudah kuat lagi, maka kembali dilarikan nya. Tiba disebuah dusun, dilihatnya

pada muka sebuah rumah tertambat seekor kuda yang bulunya putih meletak seperti salju.

Ditiup angin silir-‘; suri kuda itu membelaia, betuia seekor kuda yang luar biasa bagus dan

garangnya. Se-konyonga kuda itu bebenger keras sekali, hingga kudanya Lou Ping sampai

berjingkrak mundur. Tak salah lagi, itulah kuda yang lari pesat melaluinya tadi.

Disebelahnya tampak seorang lelaki tengah menyikat bulunya.
“Kalau kudapat naiki kuda luar biasa itu, tentu akan dapat kususul suko dengan segera. Kuda

sebagus itu, tentu pemi liknya tak mau menyualnya. Sebaiknya kuCemplak saja, tanpa

bilangdua. Namun orang yang memiliki seekor kuda seperti itu, tentu mempunyai kepandaian

buge yang tinggi.”
Demikian Lou Ping me-nimbanga dalam hatinya. Karena sejak kecil ia ikut ayahnya — Lou Gwan

Thong si Golok Sakti — berkelana dikalangan Sungai Telaga, maka segala Caradua untuk

nielakukan perampasan, ia sampai faham. Begitu mengambil keputusan, segera ia mengambil

sumbu dari dalam tasnya, lalu disulutnya dengan batu api yang dititiknya dengan besi. Habis

itu ia keprak sang kuda memburu kearah kuda putih yang di-inCarnya itu.
Begitu hampir dekat, dia sabitkan sebatang hui-to, golok terbang kearah tiang kaju dimana

tali les kuda putih itu ditambatkan. Berbareng dengan putusnya tali les itu, kuda Lou

Pingpun sudah berada disamping sikuda putih.
Sebat luar biasa, wanita puteri begal tunggal Lou Gwan Thong yang termashur itu, sumpalkan

sumbu ketelinga kudanya sendiri, begitu mcnyabet dengan tali les, dia barengi gunakan

gerakan “Cian-liong-seng-thian” naga menCelat keatas udara, ia buang tubuhnya keatas pelana

sikuda putih. Karena terkejut, kuda putih itu membinal dan bebenger keras sekali. Sekali

kaki menyejak, bagaikan anak panah terlepas dari busur, menCongklanglah kuda luar biasa itu

dengan pesatnya.
Cara puteri Lou Gwan Thong menCuri kuda itu, luar biasa sebatnya dan gapahnya. Sehingga

karena kesima, si pemilik itu hanya terlongong-longong mengawasi saja. Baru setelah tersedar

apa yang telah terjadi, dia sibuk tak ke ruan dan Buru-buru mengejarnya. Tapi sungguh sial.

Kuda Lou Ping yang ditinggalkan itu tadi, karena telinganya terbakar dengan api sumbudua,

segera ber-jingkrakdua tak keruan, me nyepak kesana, menggigit kemari. Sehingga untuk

beberapa saat tertahanlah sipemilik kuda putih itu, tak dapat mengejarnya.
Tapi orang itupun lihai juga, sekali enyot dia apung kan tubuhnya melompati kuda binal itu,

terus lari mengejar lagi. Meiihat dirinya dikejar, Lou Ping yang sudah lari jauh itu segera

tahan kudanya, dirogohnya sebuah uang mas, begitu dilemparkan kearah sipengejar, ia

bertereak dengan keras sekali:
“Kita tukar tambah binatang tunggangan. Kudamu lebih bagus, uang mas ini selaku tambahanku!”
Orang itu menyerit dan memaki dengan kalap, terus mengejar sekuat-kuatnya. Lou Ping tertawa

geli. Begitu ke dua kakinya menyepit keras-keras, kuda putih itu melesat lagi seperti anak

panah. Dan sekali melesat, sudah berpuluh tombak jauhnya. Yang dirasakan Lou Ping, hanyalah

angin yang men-deru-deru disamping telinganya, puhundua sebaris demi sebaris lalu

disisihnya, dusun dan perkampungan silih ber ganti dijelayahinya. Sekalipun sudah lari

beberapa jam, sedikitpun kuda itu tak kelihatan lelah, dan tetap seperti terbang larinya.
Ketika tiba disebuah kota, berhentilah Lou Ping pada sebuah rumah makan. Setelah ditanyakan,

barulah diketa huinya bahwa kota itu disebut Sat King, kira-kira sepuluh0 lie jaraknya

terpisah dari dusun dimana ia berhasil menCuri kuda itu.
Lou Ping sayang sekali dengan kuda sakti itu. Diberinya sendiri kuda itu makan rumput,

sembari mem-belaidua bulu surinya. Tiba-tiba disisih pelana situ tampak sebuah kantong kain.

Tadi karena ter-Buru-buru , ia tak dapat mengetahuinya. Ketika diambil, kantong itu ternyata

amat berat isinya. Dan setelah dibuka, ternyata berisi sebuah senjata pie-peh besi.

Diam-diam Lou Ping terkejut.
„Kiranya kuda itu milik keluarga Han dari kota Lokyang yang bergelar Thiat-pie-peh-Chiu itu.

Mungkin akan ada buntutnya dibelakang hari.”
Begitu berkata Lou Ping pada dirinya sendiri. Selain senjata tersebut., terdapat juga dua

tiga puluh tail perak dan sepuCuk surat. Sampul surat itu dituliskan beberapa huruf dan

berbunyi: „Harap diterima sendiri oleh Han Bun Tiong toaya. — Dari orang she Ong.”
Karena ternyata sampul itu sudah terobek, maka tak kepalang tanggung, Lou Ping lalu

mengambil keluar surat didalamnya. Pertama kali melihat nama sipengirim ternyata adalah „Hwi

Yang,” agak terkesiaplah Lou Ping. Tapi di lain saat, ia merasa girang, karena tahulah ia

sekarang bahwa keluarga pemilik kuda putih itu ternyata punya hubungan dengan Ong Hwi Yang,

itu pemilik dari Tin Wan piauwkok, piauwkok yang justeru akan diCarinya itu. Diam-diam ia me

nyesal, mengapa mesti memberi pengganti sebiji uang mas pada orang yang menjadi kawan

musuhnya itu.
Surat itu berbunyi, minta supaya Han Bun Tiong lekas pulang karena persaudaraan orang she

Giam minta bertemu. Agar supaya lekas Bun Tiong dapat tiba kekota raja, maka dia (Ong Hwi

Yang) istimewa mengantar seekor kuda sakti. Selain untuk tugas melindungi angkutan barangdua

berharga, juga ada urusan dagang yang penting sekali, agar Bun Tiong sendiri yang

mengantarnya ke Kanglam. Tentang benar tidaknya Ciao Bun Ki dibinasakan orang-orang Hong Hwa

Hwe, baik dipertangguhkan untuk diselidiki lagi lain waktu.”
Demikian maksud surat itu, maka berpikirlah Lou Ping: “Ciao Bun Ki adalah murid dari

keluarga Han si Thiat pi-peh dari Lok-yang. Dikalangan kangouw keras tersiar omongan, bahwa

dia terbunuh oleh kaum kita. Tapi hal itu tak benar adanya. Dan untuk menghilangkan salah

faham, CongthorigCu telah mengutus sip-su-te (I Hi Tong) pergi pada keluarga Han di Lokyang

untuk menyelaskannya. Barang penting apakah yang dikawal Tiri Wan piauwkok ke Kanglam itu ?

Baiklah” setelah nanti suko bebas akan ku ajaknya untuk membuat perhitungan pada orang-orang

piauwkok tersebut. yang telah bantu menangkap suko.”
Girang dengan apa yang diketahuinya waktu itu, Lou Ping bisa makan lebih banyak-banyak.

Ketika melanyutkan perjalanan nya lagi, ternyata hujan masih belum reda. Rupanya kuda itu

mengerti apa yang dibisikkan oleh Lou Ping tadi. Karena kini dia makin Cepat-cepat larinya

serta tak sebinal tadi. Dalam sekejap saja entah sudah berapa banyak-banyaknya penunggang

kuda lain dan keretadua yang telah dilampauinya. Sehingga Lou Ping sendiri berbalik merasa

kuatir, salahdua bisa kesasar jalan nanti.
Ketika akan ditahannya sang kuda agar agak pelahan sedikit, sekonyong-konyong ada seseorang

loncat ketengah jalan untuk menghadang, sembari mengangkat tangannya keatas kepala. Karena

kaget, kuda itu sampai berjingkrak mundur. Belum keburu Lou Ping akan menegurnya, orang itu

menghampiri seraja memberi hormat, katanya :
„Bun su-naynay, Siaoya berada disini !”
Kiranya penghadang itu ialah Sim Hi, kaCungnya Tan Keh Lok. Dengan girang sekali, Lou Ping

Buru-buru loncat dari atas kudanya. Dan Cepat-cepat sekali anak itu menyang gapi les kuda

putih tersebut., terus dituntunnya seraja memuji :
“Dimana Bun su-naynay dapat beli kuda yang begini bagus ? Tadi masih jauh kulihat kau

mendatangi, tapi sekejap saja sudah sampai disini dan hampir saja ku tak dapat

menghadangmu.”
Lou Ping hanya tersenyum saja, sebaliknya menyawab pertanyaan orang, ia malah berbalik

bertanya :
„Apa sudah ada berita tentang Bun suya?”
„Siang ngoya dan Siang liokya menerangkan sudah melihat Bun suya. Mereka sama berada

didalam,” kata Sim Hi seraja membawa Lou Ping kesebuah kuil rusak yang berada ditepi jalan

situ.
Lou Ping tak sabaran lagi. Ia serahkan kudanya pada Sim Hi, dan terus berlari masuk. Tampak

diruangan dalam sudah berkumpul Tan Keh Lok, Bu Tim, Thio Pan San, kedua saudara Siang dan

beberapa saudara lagi. Waktu melihat Lou Ping, mereka sama berbangkit. Menghadap pada sang

ketua, Lou Ping menerangkan bahwa karena tak dapat menahan hatinya maka ia berangkat lebih

dulu. Untuk itu, ia minta maaf.
„Karena keliwat memikiri suko, tindakan suso itu dapat dimengerti. Sekalipun begitu, suso

tetap bersalah tak menurut perintah pimpinan. Untuk itu, biarlah setelah nanti selesai

menolong suko, kita putuskan hukumannya. Ciok sipji-ko, harap kau Catat dulu,” kata Keh Lok.
Lou Ping berkata dalam hatinya, asal suko dapat tertolong, hukuman apa saja yang akan di

terimanya, ia rela. Lalu tanyanya pada kedua saudara Siang :
„Ngoko dan liokko, adakah kau melihat suko ? Bagaimana dia?”
„Kemaren di Song King kita berdua telah berhasil menge jar rombongan kuku garuda yang

membawa suko. Karena jumlah mereka banyak-banyak, kita kuatir keprak rumput membikin kaget

ular, jadi tak turun tangan dulu. Malamnya dari jendela kami dapat melihat suko tidur dengan

enaknya. Dia tak melihat kita. Karena penyagaan sangat kerasnya, maka terpaksa kita tak

berani berbuat apa-apa,” menerangkan Siang He Ci.
„Kawanan kuku garuda itu bersatu; dengan piauwsu dari Tin Wan piauwkok. Turut penglihatanku,

yang bugenya tinggi tidak kurang dari sepuluh orang,” Siang Pek Ci menambahkan keterangan

saudaranya.
Setelah kedua saudara Siang atau SeCwan Sianghiap itu habis berkata, tiba-tiba masuklah Ie

Hi Tong kedalam ruangan itu, siapa begitu nampak. Lou Ping segera menegor dengan kaget.
„Rombongan orang Wi itu telah berkemah ditepi sungai sebelah depan sana. Para penyaganya

bersenjata lengkap Sebaiknya nanti malam saja kita lakukan pengintipan lagi,” kata Tan Keh

Lok.
Sekonyong-konyong diluar terdengar gemuruh derap kuda berlari dan berbenger. Ternyata ada

sebuah rombongan penunggang kuda lewat disitu.
Tak lama kemudian masuklah Sim Hi memberi lapor : “Barusan saja lewat iringkan kereta besar

dibawah pimpinan seorang perwira beserta dua puluhan perajurit.”
Habis melapor, kembali, kaCung itu keluar kelenteng untuk pasang mata pula.
“Dari sini ketimur sedikit sekali penduduknya, tepat sekali untuk pekerjaan kita,” demikian

Keh Lok berunding dengan para kawan. “Cuma pasukan tentara ini dan rombongan orang Uigor itu

entah orang-orang maCam apa, diwaktu kita turun tangan menolong Suko, boleh jadi mereka akan

ikut Campur tangan, inilah perlu kita ber-jagadua sebelum nya.”
Semua orang menyatakan benar atas pendapat pemimpin muda itu. Kata Bu Tim Tojin : “Liok Hwi

Ching, Liok-locianpwe selalu bilang adik-gurunya Thio Ciau Cong betapa hebat, betapa lihai,

dikalangan kongouw kita juga sudah lama mendengar nama besarnya ‘Hwe-jiu-boan-koan,’ sekali

ini yang menawan Bun-sute juga dia yang memimpin, kesempatan ini bagus sekali, biarlah aku

Bu Tim Tojin Cobadua menempurnya.”
“Ja, Totiang punya tujuhdua jurus Tui-hun-toat-beng-kiam’ tiada bandingannya dijagat, harini

jangan sekalidua lepaskan biangkeladinya si Thio Ciau Cong ini,” kata Keh Lok.
“Meski Liok Hwi Ching, Liok-toako sudah putuskan hu-bungan dengan adik-gurunya itu,”

demikian Tio Pan San ikut bicara, “tapi ia orang paling setia dan berbudi, baik nya ia masih

belum tiba disini, kalau tidak, dihadapannya terangduaan kita membunuh Sutenya

(adik-gurunya), rasanya agak kurang leluasa juga.”
“Kalau begitu, tidakkah lebih baik lekas-lekas kita berangkat, kira-kira besok pagi kita

sudah dapat menCapai Suko,” sela Siang He Ci.
“Baiklah,” sahut Keh Lok. “Nah, Goko dan Lakko (kaka kelima dan keenam), silahkan kau

menyelaskan bagaimana maCamnya kawanan Cakar-alapdua (maksudnya kaki tangan pemerintah) dan

rombongan Piauthaudua itu, agar besok bila kita turun tangan sudah ada renCana yang baik.”
Memangnya kedua saudara Siang itu sudah menguntit kawanan pembesar negeri dan orang-orang

Piauhang itu, seluk-beluknya sudah Cukup terang diselidikinya, maka mereka pun menuturkan

dengan jelas, bahkan ditambahkannya:
„Kalau malam Suko tidur bersama serumah dengan kawanan Cakar-alapdua itu dan siang harinya

duduk didalam kereta besar, kaki dan tangannya diborgol. Kain tirai keretanya ditutup

rapatdua hingga orang luar pasti tak tahu didalam ke reta itu berduduk tawanan penting.

Diwaktu kereta berjalan selalu ada dua Cakar-alapdua yang mengawal dikanan-kiri de ngan

menunggang kuda, penyagaan keras sekali.”
“Dan maCam apakah Thio Ciau Cong itu ?” tanya Bu Tim.
“Ia berusia sepuluh-an, perawakannya tegap dan berjenggot pendekdua,” kata Siang Pek Ci.
„Tapi, Totiang,” sela Siang He Ci tiba-tiba , „harus kita janyi dulu, kami bersaudara bila

kepergok dengan ‘kuradua’ (istilah olokdua orang SuCwan, karena kedua saudara Siang adalah

orang daerah itu) itu lantas melabraknya dahulu, jangan kau nanti omeli kami berebutan

dengan kau.”
“Haha, rupanya sudah lama tak ketemukan tanding, tangan sudah gatel barangkali ?” sahut Bu

Tim tertawa. “Dan kau Samte (adik ketiga), Thay-kek-jiu kepandaian-mu sibudha bertangan

seribu ini apakah tidak ingin Cari ‘pasaran’ juga?”
„Ah, biar si Thio Ciau Cong ini aku serahkan pada kalian saja, tak mau aku merebutnya,”

sahut Tio Pan San.
Begitulah jago-jago Hong Hwa Hwe itu berunding dengan gosokdua tangan dan mengepal penuh

semangat, setelah mereka isi perut sekedarnya dengan rangsum kering yang ada, segera pula

mereka minta Tan Keh Lok memberi perintah.
Memangnya Keh Lok sudah siapkan renCananya, maka berkatalah ia: „Rombongan orang Uigor itu

belum pasti ada hubungannya dengan rombongan hamba negeri itu,” maka kita mendahului mereka

saja, asal Suko sudah berhasil kita tolong, kitapun tak perlu urus mereka. Maka Ie-Capsite,

kaupun tak perlu menyelidiki lagi, kau dan Cio-Capsahko besok melulu bertugas menCegat

perwira itu bersama dua0-an perajuritnya itu, asal mereka dirintangi tak dapat mengganggu

kita sudah Cukup, jangan banyak-banyak menewaskan d jiwa orang.”
Perintah pertama ini segera diterima baik oleh Cio Su Kin dan Ie Hi Tong.
Lalu Keh Lok melanyutkan: „Dan kau, We-kiuko dan Ciok-Capjiko, kalian berdua segera

berangkat mendahului kawanan Cakar-alapdua itu, besok pagidua menyaga dimulut selat bukit

sana, biar siapapun yang datang dari arah timur atau barat, semuanya harus ditahan. Yang -

paling penting jalah jangan sampai kawanan Cakar-alapdua itu lolos lewat selat, bukit itu.”
Perintah inipun diterima dengan baik oleh We Jun Hwa dan Ciok Siang Ing, segera mereka

keluar dan Cemplak kuda terus berangkat menunaikan tugasnya.
„Bu Tim Totiang, Siang-goko dan liokko, kalian bertiga kusua melajani hambadua negeri,” kata

pula Keh Lok. „Dan Tio-samko dan Nyo-patko kalian berdua melajani orang-orang Piauhang. Suso

dan Sim Hi mengarah kereta yang ditumpangi Suko, aku sendiri berada ditengah melihat

gelagat, dimana kurang lancar, segera aku membantu kesana.”
Pembagian tugas itu telah diterima baik oleh semua orang. Tak terduga mendadak terdengar

Ciang Cin ber-kaokdua.
„Hai, hai, Congthocu, lalu apa yang kulakukan? Kau telah lupakan diriku!” demikian

teriaknya.
„Tidak lupa, tapi justru ada tugas penting perlu minta Sipko yang melakukan, Cuma entah

Sipko sanggup memikul resiko tidak?” sahut Keh Lok tersenyum.
„Asal kau perintah saja, masakan aku Ciang Bongkok orang takut mati?” teriak Ciang Cin

bersemangat.
„Mana bisa aku bilang kau takut,” sahut Keh Lok, „hanya aku kuatir kau mabuk arak dan umbar

napsumu hingga bikin runyum pekerjaan kita.”
„Katakan, lekas katakan, setetes arak saja bila aku me neguknya, biar selanyutnya para

saudara memandang hina padaku,” teriak Ciang Cin lagi tak sabar,
„Itulah bagus,” kata Keh Lok. „Sekarang ada tiga tugas yang perlu Sipko memikulnya seorang

diri. Pertama, kau tinggal menyaga disini, kalau ada hamba negeri atau pasukan tentara yang

menuju ketimur, semuanya harus kau tahan ; kedua, nanti kalau Liok (Hwi Ching) dan Ciu

(Tiong Ing) kedua Cianpwe tiba, hendaklah lekas kau minta mereka menyusul membantu menempur

musuh ; ketiga, begitu kita sudah dapat menolong Suko, kau dan Suso yang akan mengawalnya

kedaerah Hwe ketempat guruku Thian-ti-koay-hiap untuk merawat lukanya, selama masih didaerah

Kamsiok kita melindunginya sepenuh tenaga, tapi bila sudah lewat Sing-sing-kiap (nama sebuah

selat bukit yang berbahaja), kita beramai lantas putar kembali kemarkas besar didaerah

Kanglam, dan kewajiban selanyutnya adalah kau yang harus memikul seluruhnya.”
Begitulah setiap Keh Lok mengucapkan sepatahkata, segera Ciang Cin mengia sekali penuh

girang, terus menerus ia menyatakan baik tugasdua itu.
Setelah selesai membagi tugas, segera semua orang keluar kelenteng dan Cemlak keatas kuda

sambil memberi tanda perpisahan dengan Ciang Cin.
Ketika semua orang melihat kuda putih Lou Ping yang bagus itu, kesemuanya tiada henti-nya

memuji. Karena itu diam-diam Lou Ping berpikir : “Seharusnya kuda ini mesti dihadiahkan pada

Congthocu, tapi engkoku itu (maksudnya suaminya, Bun Thay Lay) sudah terlalu banyak-banyak

menderita, nanti kalau dia sudah dapat tertolong, kuda ini akan kuberikan padanya saja, biar

dia menjadi girang.”
Dalam pada itu Keh Lok telah tanya Ie Hi Tong : “Di-manakah orang-orang Uigor itu berkemah ?

Marilah kita memutar pergi melihatnya.”
Segera Hi Tong menunyukkan jalan menuju ketepi sungai, tapi setiba disana, yang tertampak

hanya tanah lapang yang sunyi senyap, mana lagi ada perkemahan dan bayangan orang ? Yang ada

tinggal kotorandua kuda dan onta yang memenuhi tanah saja.
Hi Tong turun dari. kuda dan memeriksa kering dan ba-sahnya kotorandua binatang itu, lalu

katanya: “Mereka berangkat kira-kira sejam yang lalu.”
Semua orang’ menjadi heran dan merasa tindak-tanduk orang-orang Uigor itu rada aneh dan

penuh rahasia, susah diraba untuk apakah tujuan mereka.
“Marilah kita berangkat !” ajak Keh Lok kemudian.
Maka Cepat-cepat sekali mereka keprak kuda, ditengah malam buta yang sunyi, hanya terdengar

suara derapan kuda yang ber-detaka.
Karena kuda putih Lou Ping terlalu Cepat-cepat larinya, maka setiap kali ia harus menunggu

kawannya agar tidak ketinggalan jauh. Ketika fajar sudah menyingsing, sampailah mereka

ditepi sebuah sungai kecil.
“Para saudara, biarlah binatangdua tunggangan kita minum air dulu untuk memulihkan tenaga,

lewat sejam lagi kukira sudah dapat menCapai kereta tawanan Suko,” demikian kata Keh Lok.
Mendengar selekasnya akan bisa bertemu dengan suami nya, seketika darah ditubuh Lou Ping

seakan-akan mengalir terlebih santer, jantung memukul keras, wajah bersemu merah.
Waktu Hi Tong melirik orang dan nampak parasnya yang Cemasdua Cantik itu, sung’guh susah

dilukiskan perasaan apa yang dirasakannya saat itu, maka per-lahandua ia mendekati Lou Ping

dan memanggilnya lirih : “Suso !”
“Ehm ?” sahut Lou Ping.
“Sekalipun jiwaku harus melayang , pasti aku akan mem-bebaskan Suko kepadamu,” kata Hi Tong

parau.
Lou Ping tersenyum, lalu dengan menghela napas pelahan ia berkata: „Ja beginilah baru

benardua saudaraku yang baik !”
Seketika pilu rasa hati Hi Tong hingga hampirdua saja meneteskan air mata, lekas-lekas ia

melengos kearah lain.
„Suso,” kata Keh Lok tiba-tiba , „pinyamkanlah kudamu itu kepada Sim Hi, biar dia menyusul

kedepan dahulu untuk menyelidiki jejak Cakar-alapdua dan kemudian balik memberi kabar pada

kita.”
Mendengar dapat menunggang kuda putih milik Lou Ping itu, alangkah girangnya Sim Hi, segera

ia mendekati. Lou Ping dan menanya: „Ja,. Bun-naynay (nyonya Bun), bolehkah kau?”
„Kajak anak kecil, kenapa tidak boleh?” sahut Lou Ping tertawa.
Mendengar itu, tanpa bertanya lagi segera Sim Hi Cem plak kuda putih itu terus berlari pergi

seCepat-cepat terbang.
Setelah menunggu kuda mereka Cukup meminum air, ke-mudian merekapun melanyutkan perjalanan

dengan Cepat-cepat . Tak lama, CuaCa sudah terang benderang, dari jauh kelihatan Sim Hi

telah kembali dengan kuda putihnya.
„Lekas, kawanan Cakar-alapdua itu tak jauh didepan, marilah lekas mengejarnya!” demikian

kaCung itu berteriak-‘ dari jauh.
Mendengar laporan itu, sungguh girang sekali semua orang, mereka keprak kuda mengudak lagi

sepenuh tenaga.
Ketika Sim Hi menukar kembali kuda putih itu kepada Lou Ping, nyonya jelita ini tanya

padanya: „Apakah kau telah melihat kereta yang ditumpangi Suya (tuan keempat)?”
„Ja, ja, sudah melihatnya,” sahut Sim Hi sambil mengangguk-angguk. „Ketika aku ingin

melihatnya lebih jelas dan Coba mendekati kereta besar itu, tapi orang-orang Piauhang yang

mengawal disamping kereta itu dengan bengis lantas angkat golok menganCam sambil menCuCi

maki padaku.”
„Biarlah, sebentar pasti mereka akan me-nyembahdua dan menyebut kau tuan muda dan

nenek-moyang kecil padamu,” ujar Lou Ping tertawa.
Lalu seCepat-cepat kilat merekapun menguber terlebih Cepat-cepat lagi.
Setelah mengejar 5-enam li pula, lapatdua kelihatan didepan ada sepasukan orang yang makin

lama makin dekat, dan achirnya tertampak jelas adalah seregu tentara yang mengawal sebuah

kafilah.
„Mengejar lagi enam-tujuh li lantas kawanan Cakar-alapdua dan orang-orang Piauhang itu,”

demikian kata Sim Hi pada majikan nya, Tan Keh Lok.
Ketika semua orang keprak kuda melampaui kafilah itu, begitu Keh Lok memberi tanda, segera

Cio Su Kin dan Ie Hi Tong berdua memutar kuda mereka terus menghadang ditengah jalan, sedang

yang lain-lain meneruskan pengejaran mereka kedepan dengan Cepat-cepat .
Setelah pasukan tentara itu sudah dekat, diatas kudanya Hi Tong lantas memberi hormat,

katanya dengan sopan-santun sebagai seorang SiuCay: „Kalian tentunya sudah Capek lelah,

pemandangan disini indah permai, marilah kita dudukdua dulu sambil meng-obroldua saja?”
Tapi seorang perajurit tentara Cing yang paling depan lantas membentaknya: „Lekas minggir,

kau tahu tidak ini adalah keluarga Li-Ciangkun?”
„O, kiranya keluarga pembesar? Kalau begitu lebihdua harus mengaso dulu,” sahut Hi Tong.

„Didepan sana ada dua setan gantung hitam-putih, jangandua nanti malah bikin kaget para nona

dan nyonya.”
„NgaCo-belo,” damperat seorang perajurit lain sambil ajun peCutnya terus menyabet. „Kau

SiuCay berbau keCut ini jangan main gila disini !”
Namun dengan ketawadua Hi Tong berkelit, lalu katanya pula: „Ah, jangan pukul dulu. Kata

pribahasa: Seorang jantan pakai mulut tidak pakai tangan. Tapi kau telah gunakan peCut kuda

semaunya, inilah bukan perbuatan seorang jantan !”
Sementara itu perwira yang memimpin kafilah itu ketika melihat didepan ada orang menghadang,

Cepat-cepat sekali telah keprak kuda maju membentak.
Tapi dengan tertawa Hi Tong memberi hormat lagi, lalu tanyanya: „Siapakah nama paduka tuan

yang mulia, dimana kah kediamannya?”
Nampak keadaan Ie Hi Tong dan Cio Su Kin agak men Curigakan,maka perwira itu menjadi ragudua

dan tidak lantas menyawab.
Dalam pada itu Hi Tong telah keluarkan seruling emasnya, katanya pula: „Aku yang rendah

sedikit mempelajari seni suara, tapi seringkah gegetun belum ketemukan kawan yang paham

kepandaianku, kini melihat paduka tuan lain dari yang lain, maukah silahkan turun kuda dulu

buat mendengarkan satu lagu sulingku untuk pelipur lara dalam perja-lanan?”
Kiranya perwira itu adalah Can Tho Lam yang mengawal keluarga Li Khik Siu kedaerah Kanglam

itu, Ketika dilihat nya seruling emas orang, sungguh terkejutnya tidak kepalang. Meski ia

tidak menyaksikan sendiri waktu Hi Tong bertempur melawan petugas-petugas negeri di

Tio-keh-po tempo hari, tapi kemudian iapun mendengar Cerita dari perajuritnya serta pelajan

hotel hingga mengetahui „bandit” yang melawan dan bahkan membunuh petugas negeri itu adalah’

seorang muda ganteng dan membawa seruling emas. Kini kepergok di tengah jalan, entah apa

maksud tujuannya, tapi bila melihat lawan hanya berdua orang saja, dalam hati dengan

sendirinya tak begitu gentar.
Karena itu, segera Can Tho Lam membentak: „Kita ‘air sungai tak mengairi sumur (maksudnya

tiada permusuhan dan sangkutpaut), baiknya ambillah jalan sendiridua dan lekaslah minggir

saja !”
„Nanti dulu,” jawab Hi Tong. „Aku ada sepuluh lagu merdu yang sudah lama tak ditiup, harini

bisa bertemu orang agung, tanpa merasa menjadi getol, maka terpaksa biar aku pertun jukkan

sebisanya. Untuk memberi jalan tidaklah susah, asal sepuluh laguku sudah selesai ditiup,

dengan sendirinya aku menghantar selamat jalan paduka tuan.”
Habis berkata, tanpa menunggu jawaban orang, segera Hi Tong angkat serulingnya kebibir terus

ditiupnya keras-keras.
Can Tho Lam mengarti urusan harini tak mungkin disele-saikan begitu saja, maka iapun tak

sabar, begitu tombak nya diangkat, dengan gerakan „oh-liong-jut-tong”“ atau naga hitam

keluar dari liang, mendadak ia menusuk keulu hati Hi Tong.
Ternyata serangan itu sama sekali tak diperduli oleh SiuCay berseruling emas itu, ia masih

terus meniup sulingnya se enaknya saja, ia menunggu setelah ujung tombak itu sudah mendekat

baru mendadak tangan kirinya menyamber gagang tombak musuh, menyusul seruling emas ditangan

kanan menghantam sekeras-kerasnya ketengah gagang tombak hingga seketika senjata itu patah

menjadi dua,
Terkejut sekali Can Tho Lam, Cepat-cepat ia tarik kudanya mundur beberapa langkah, lalu dari

seorang perajuritnya disambernya sebilah golok untuk kemudian merangsang maju lagi.
Tapi setelah tujuh-delapan jurus, kembali Hi Tong dapatkan ke-sempatan menutuk dilengan

kanannya hingga lagi-lagi senjata Can Tho Lam terlepas dari tangan.
“Nah, sepuluh laguku harini sudah pasti kau mendengar nya,” demikian kata Hi Tong sambil

tertawa. Lalu seruling diangkatnya dan ditiupnya lagi.
Gugup dan gusar Can Tho Lam dua kali keCundang, ia masih takmau terima, tiba-tiba ia memberi

tanda sambil berteriak : “Maju semua, tangkap dulu keparat ini !”
Mendengar perintah atasannya itu, mau-tak-mau para pe-rajurit itu menyerbu maju.
Namun Cio Su Kin sudah siap, sekali ia lompat turun dari kudanya dan menghadang kedepan,

ketika gajuh besi nya diajun, dengan gerak tipu “boat-Chau-sun-Coa” atau menyingkap rumput

menCari ular, penggajuhnya menyabet pelahan kaki seorang perajurit paling depan, tanpa ampun

lagi perajurit itu menyerit dan jatuh terjengkang dia tas sajap penggajuh Cio Su Kin itu.

Apabila lain saat Su Kin mendadak ajun senjatanya keatas keras-keras, bagai

layang-layangyang putus benangnya perajurit itu tahu-tahu terbang keangkasa, saking takutnya

hingga perajurit itu ber-teriakdua minta tolong dan kemudian jatuh kedalam rombongan

Kawan-kawan nya.
Waktu Cio Su Kin memburu maju pula, idem dito seperti tadi, seperti sekop saja serdadudua

Cing itu satu persatu kena disekop keudara oleh penggajuh besinya.
Karuan saja serdadudua yang berada dibagian belakang sama ketakutan, sekali menyerit,

seketika mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu alias lari ter-biritdua. Meski Can

Tho Lam Coba menCegah kekaCauan itu dengan ajun peCut kudanya menyabet serabutan, namun

suasana sudah takbisa dikuasai lagi.
Sedang Cio Su Kin merasa kesenangan akan permainan “sekop” itu. tiba-tiba tirai pintu kereta

besar didepannya tersingkap, menyusul sesosok awan merah tahu-tahu menubruk datang,

berbareng sebilah pedang mengkilap telah menusuk kedadanya.
Namun Su Kin sempat gunakan gerakan “to-poat-sui-yang” atau membubut pohon Yang roboh, ujung

gagang penggajuhnya mendadak dibalik untuk memukul batang pedang orang. Tapi lawannya

ternyata juga tidak lemah, belum sampai kebentur, orang itu sudah merubah serangan dan ganti

menusuk kaki Su Kin.
Ketika sedikit Su Kin geser kaki dan gajuhnya terus me nyerampang dari samping, karena tahu

tenaga Su Kin terlalu besar, orang itu tak berani menangkisnya, hanya melompat pergi

beberapa tindak.
Waktu Su Kin menegasi, ternyata orang itu adalah seorang gadis berbaju merah. Dasar Su Kin

bertabiat tidak suka banyak-banyak bicara, maka tanpa bersuara kembali ia putar gajuhnya

menempur sigadis pula. Tapi setelah saling gebrak beberapa jurus lagi dan melihat ilmu

pedang orang sangat bagus, diam-diam Su Kin merasa heran.
Kalau Su Km heran, maka Hi Tong yang menyaksikan di samping juga terkesima. Tatkala itu ia

sudah lupa meniup serulingnya lagi melainkan memperhatikan terus ilmu pedang sigadis itu,

ternyata gadis itu mainkan pedangnya sedemikian rupa hingga sinar putih gulung-gemulung

sambung menyam bung tak pernah putus, segera juga Hi Tong dapat menge nalinya ilmu pedang

sigadis ternyata adalah „Ju-hun-kiam-hoat” dari perguruan sendiri.
Melihat pertarungan itu masih terus berlangsung dengan serunya, ilmu pedang sigadis sangat

bagus, sebaliknya tenaga Cio Su Kin besar, hingga seketika susah dibedakan mana bakal unggul

atau asor. Maka mendadak Hi Tong melompat maju, ketika seruling emasnya ia tangkiskan

ke-tengahdua kedua senjata yang sedang bertanding itu, berbareng iapun berseru: „Berhenti !”
Gadis itu dan Cio Su Kin sama-sama mundur selangkah, dalam pada itu setelah menukar lagi

senjata tombaknya, Can Tho Lam telah keprak kuda maju lagi hendak membantu sigadis, sedang

perajuritdua Cing itu sama berteriakdua dikejauhan memberi semangat pada pemimpinnya. Namun

tiba-tiba gadis itu memberi tanda agar Can Tho Lam mundur saja.
„Numpang tanya siapakah nama nona yang mulia? Dan siapakah gurumu?” demikian Hi Tong lantas

menanya.
Gadis itu tertawa.
„Kau tanya, tapi aku justru takmau bilang,” sahutnya kemudian. „Sebaliknya aku tahu kau

adalah Kim-tiok-siuCay le Hi Tong, Hi artinya ikan, ikannya dari ikan menggeragap ikan diair

keruh, dan Tong artinya sama, samanya dari sama-sama sebagai jantan. Kau menduduki kursi

ke-14 dalam Hong Hwa Hwe, betul tidak?”
Terkejut sekali Hi Tong dan Su Kin demi mendengar kata-kata orang yang luCudua benar itu

hingga seketika mereka saling pandang tak bisa buka suara. Lebihdua Hi Tong tertegun oleh

karena kata-kata sigadis tadi ternyata menirukan Caranya mem-perkenalkan diri tempo menempur

musuh dihotel itu.
Dilain pihak Can Tho Lam juga tidak habis mengerti ketika menyaksikan gadis itu tiba-tiba

berbicara dengan kawanan „bandit” itu dengan senyum-simpul tanpa takut.
Begitulah sedang tiga lakidua dengan heran memandangi seorang gadis yang bermuka

berseri-seri, dan seketika bingung entah apa yang harus dibicarakan, tiba-tiba terdengarlah

suara derapan kuda yang riuh ramai, perajuritdua Cing itu tertampak sama minggir memberi

jalan, lalu enam penunggang kuda telah menyusul datang dari arah belakang dengan Cepat-cepat

. Orang yang berada paling depan itu berwajah kurus, rambut penuh beruban, nyata ialah tokoh

terkemuka Bu-tong-Pai, Liok Hwi Ching adanya.
Tanpa berjanyi Hi Tong dan sigadis tadi ber-sama-sama telah memapak maju, yang satu

terdengar memanggil Hwi Ching dengan ‘Susiok’ (paman guru), sebaliknya yang lain memanggil

‘Suhu’ (guru), lalu sama-sama melompat turun dari kuda untuk memberi hormat.
„Wan Ci, kenapa kau berada bersama Ie-suheng dan Cio-toako disini?” tanya Hwi Ching

kemudian.
Nyata gadis tadi bukan lain adalah Li Wan Ci, itu murid perempuan Hwi Ching yang nakal dan

jail.
“Habis, Ie-suheng memaksa orang harus mendengar tiupan serulingnya, aku tak suka

mendengarnya, lalu ia merintangi tak boleh lewat,” demikian sahut sigadis. “Sekarang, Suhu,

kau saja yang menimbang siapa yang salah dalam hal ini.”
Tentang Liok Hwi Ching menghajar petugas negeri di hotel tempo hari, Can Tho Lam sudah

mengetahuinya juga, kini melihat orang mendadak munCul berombongan, hati perwira itu menjadi

kebat-kebit tak tenteram.
Kelima orang yang ikut dibelakang Hwi Ching itu ialah Ciu Tiong Ing, Ciu Ki, Ji Thian Hong,

Beng Kian Hiong dan An Kian Kong.
Hari itu ketika diam-diam Lou Ping tinggal pergi tengah malam, besok paginya ketika Ciu Ki

sudah bangun, gadis ini menjadi kurang senang. “Hm, kalian orang-orang Hong Hwa Hwe suka

pandang rendah orang lain, kenapa kau tidak ikut pergi bersama kau punya Suso (kaka ipar

perempuan keempat) saja ?” demikian gadis itu mengomel.
Karena itu Thian Hong memberi penyelasan sebisanya dan meminta maaf kepada ayah dan gadis

she Ciu itu.
“Ja, Cinta suami-isteri mereka yang masih muda, sudah tentu ingin sekali bisa lekas-lekas

bersua kembali, kalau ia berangkat lebih dulu, itupun sudah jamak saja,” ujar Tiong Ing.

Habis ini ia berpaling pada gadisnya dan men Celahnya : “Dan kau perlu apa harus muringdua?”
“Seorang diri Suso telah berangkat, ia sudah saling kenal dengan kawanan Cakar-alapdua,

jangandua akan terjadi lagi sesuatu,” kata Thian Hong.
“Ja, tidak salah, maka paling baik kalau kita menyusulnya lekas,” sahut Tiong Ing.

“Tan-tangkeh suruh aku memimpin regu ini, apabila terjadi apa-apa atas dirinya (maksudnya

Lou Ping), sungguh mukaku ini nanti entah harus ditaruh di mana?”
Maka mereka bertiga segera larikan kuda seCepat-cepat terbang, sore hari itu juga mereka

sudah bisa menyusul Liok Hwi Ching. Karena kuatir atas diri Lou Ping, maka berenam mereka

menempuh perjalanan seCepat-cepat mungkin tanpa banyak-banyak buang tempo ditengah jalan,

sebab itu tak lama rombongan Tan Keh Lok berlalu, segera juga mereka sudah bertemu dengan

Ciang Cin yang bertugas menyaga ditempatnya itu, dan ketika mendengar bahwa Bun Thay Lay

berada tidak jauh didepan, seCepat-cepat angin segera merekapun menguber terus.
Begitulah, ketika Hi Tong mendengar Wan Ci mengadu biru malah pada Liok Hwi Ching,

mau-tak-mau wajahnya menjadi panas rasanya, pikirnya : “Aku merintangi orang mendengar

serulingku, itu memang benar, tapi bilakah pernah aku memaksa kau sinona besar ini?”
Dilain pihak ketika Ciu Ki mendengar pengaduan Wan Ci tadi, dengan sengit ia melotot pula

kearah Ji Thian Hong, dalam hati iapun berkata : “Hm, memangnya ada berapa orang baik-baik

didalam Hong Hwa Hwe kalian?
Kemudian Hwi Ching telah berkata pada Wan Ci: “Urusan didepan nanti sangat berbahaja,

baiknya kalian tinggal sementara disini jangan sampai mengagetkan Thay-thay (nyonya besar).

Bila urusanku sudah selesai, dengan sendirinya aku akan datang menCari kau.”
Mendengar didepan nanti bakal ada ramaidua, tapi sang Suhu tak perkenankan dia ikut perdi,

maka mulut Wan Ci yang mungil menyengkit, tanpa menyawab. Namun Hwi Ching pun tak

menghiraukannya, ia ajak semua orang mengudak pula terlebih Cepat-cepat .
Kembali mengenai Keh Lok tadi, ia memimpin rombong annya mengejar terus kedepan, setelah 4 -

5 li lagi, lapatdua kelihatan iringduaan orang didepan terbaris menjadi satu garis lurus

sedang menyelayahi gurun Gobi yang luas.
Segera dengan pedang terhunus Bu Tim Tojin mendahului menguber kedepan sambil berteriak :

“Ayo, kejar Cepat-cepat !”
Setelah lebih satu li lagi, bangun tubuh orang-orang didepan makin lama makin nyata,

tiba-tiba Lou Ping keprak kuda terus menyerobot maju, hanya sekejap saja musuh disusulnya.

Dengan golok kembar ditangan, ia bermaksud melampaui musuh dulu untuk kemudian baru putar

balik menCegat.
Tak terduga mendadak didepan sana riuh ramai orang ber-teriakdua, beberapa puluh ekor onta

dan kuda telah me nerdyang datang dari arah timur kebarat.
Karena tak menduga-duga, lekas-lekas Lou Ping tahan kudanya dengan maksud melihat kawan atau

lawan kafilah yang me nerdyang datang ini.
Sementara itu iringduaan petugas negeri itupun sudah berhenti dan ada orang sedang

mem-bentakdua menegur. Tapi barisan penerdyang itu makin depat makin Cepat-cepat , senjata

gemilapan ditangan penunggangdua kuda itu segera menyerbu kedalam pasukan tentara itu hingga

terjadilah pertempuran gaduh.
Lou Ping menjadi heran sekali, ia tidak mengerti dari mana datangnya bala bantuan itu.
Sementara itu Tan Keh Lok dan lain-lain sudah menyusul datang juga, be-ramaidua mereka maju

lebih dekat untuk menyaksikan pertempuran sengit itu.
Sekonyong-konyong dari depan sana seorang penunggang kuda mendatangi dengan Cepat-cepat ,

setelah melingkari medan per-tempuran kedua pihak itu, orang itu terus menuju kearah

jago-jago Hong Hwa Hwe ini. Setelah dekat, achirnya semua orang dapat mengenalinya bukan

lain ialah Kiu-beng-kim-pa-Cu, We Jun Hwa, simacan tutul bernyawa sembilan itu.
Setelah sampai dihadapan Keh Lok, segera Jun Hwa berseru : “Congthocu, bersama Cap-ji-long

aku menyaga dimulut selat bukit sana, tapi telah diterdyang orang-orang Uigor ini, kami

berdua tak mampu menahannya, terpaksa aku memburu datang memberi lapor, siapa tahu mereka

malah sudah saling gebrak dengan kawanan Cakar-alapdua itu, inilah sungguh aneh sekali!”
“Bu Tim Totiang, Tio-samko dan Siang-si Siang-hiap (kedua pendekar she Siang),” demikian Keh

Lok segera mengatur siasat, “kalian berempat lekas menyerbu kesana merampas dahulu kereta

tawanan Bun-suko itu, yang lain-lain jangan turun tangan dulu, biar kita lihat gelagat

saja.”
Sekali mengia, Bu Tim Tojin berempat terus keprak kuda mengerbu kedepan.
“Kawan dari golongan mana ?” bentak dua opas ketika melihat datangnya empat orang itu.
Namun Tio Pan San menyawabnya segera dengan dua buah pisau seCepat-cepat kilat, yang satu

menembusi tenggorokan dan yang lain menancap diperut, kedua opas itu seketika kena

dibereskan.
Tio Pan San berjuluk “Jian-pi-ji-lay” atau sibudha bertangan seribu, sebab biasanya mukanya

berseri-seri selalu, wajahnya welas-asih dan hatinya lemah, sebaliknya tubuh-nya penuh

membawa senjata-nyata rasia seperti piau, anak panah, batu sambitan dan peluru besi dan

maCamdua lagi, Cepat-cepat dan jitu sambitannya hingga orang susah mengarti Cara bagaimana

sepasang tangannya itu sekaligus bisa menggunakan senjata-nyata rasia yang begitu

banyak-banyak.
Setelah empat orang itu menerdyang sampai mendekati kereta besar, dari depan tiba-tiba

seorang Uigor yang pakai ubeldua kepala telah menusuk dengan tombaknya. Namun se dikit

mengegos, Bu Tim tidak balas menyerang, melainkan terus menerdyang lebih dekat kereta besar

sasaran mereka. Ketika seorang Plauwsu angkat goloknya membaCok, sekali Bu Tim menangkis,

seCepat-cepat kilat pedangnya terus me motong kebawah hingga empat jari Piauwsu itu tertabas

putus, saking sakitnya hingga Piauwsu itu terjungkir jatuh dari kudanya.
Pada saat itu juga Bu Tim mendengar samberan angin dari belakang, ia tahu ada musuh

membokong, tanpa berpaling lagi ia ajun pedangnya dari bawah keatas, tahu-tahu pedangnya

melalui bawah bahu musuh terus menerabas keluar dari pundak kanan, nyata opas yang membokong

itu telah terpapas sebelah lengannya mulai dari bahu sampai dipundak, bahkan sebagian

kepalanya pun terkupas, hingga darah munCrat bagai air leding.
Cara Bu Tim menghajar musuh itu disaksikan dengan jelas oleh kedua saudara Siang dan Tio Pan

San dari belakang, mereka sama memuji atas ketangkasan imam berlengan satu yang lihai itu.
Begitu juga, ketika orang-orang Piauhang melihat ilmu pedang Bu Tim mengejutkan, belum

sampai bergebrak dua kawan dipihaknya sudah melayang jiwanya, keruan nyali mereka peCah

hingga be-ramaidua ber-teriakdua : “Angin ken tyang , lari !”
Tiba-tiba seorang Piauwsu yang bertubuh kurus kecil telah membilukkan kereta besar, sekali

peCutnya bekerja, kereta keledai telah dilarikan Cepat-cepat.
Tatkala itu kedua pendekar Siang dengan senjata Cakar-terbang mereka sudah saling gebrak

melawan tujuh-delapan orng Uigor yang maju merintanginya. Sedang Tio Pan San ketika kereta

besar dibilukkan hendak lari, segera bersama Bu Tim Tojin mereka mengudak.
Setelah rada dekat, Pan San mengeluarkan sebutir batu “Hui-hong-Ciok,” batu belalang

terbang, Cepat-cepat sekali ia sambitkan kebelakang kepala Piauwsu itu hingga tepat
mengenai sasaran dan darah berCipratan, saking sakitnya orang itu ber-kaokdua, tapi

banyak-banyak juga akal liCik Piauwsu itu, tiba-tiba ia keluarkan sebilah hadidua terus

ditanCapkan sekuat-kuatnya kepantat keledai, karena kesakitan, karuan binatang itu berlari

kesetanan.
Pan San menjadi gusar, ia peCut kudanya lebih ken tyang , mendadak ia enyot tubuh terus

menubruk kebebokong kuda tunggang Piauwsu itu, dan baru saja duduk diatas kuda, berbareng

tangan kanannya sudah pegang per gelangan tangan Piauwsu itu terus diangkat keatas, la

ajundua dulu tubuh orang diudara, lalu dilemparkan sekuatnya ke arah kereta keledai yang

masih berlari Cepat-cepat didepan itu.
Dengan tepat Piauwsu itu jatuh diatas kepala keledai penarik kereta itu, begitu jatuh,

secara matiduaan ia merangkul kentyang dua kepala binatang itu. Karena kaget, pula matanya

tertutup oleh rangkulan si Piauwsu, keledai itu berjingkrakdua dan me-rontadua terus

membalik arah malah.
Dengan Cepat-cepat Bu Tim dan Pan San seg’erapun sudah datang hingga keledai itu dapat

diberhentikan. Waktu Pan San ulur tangannya menarik punggung Piauwsu itu, dengan keras ia

banting orang ketepi jalan.
„Sam-te gunakan orang sebagai senjata, sungguh hebat Caramu ini!” demikian Bu Tim memuji.
Waktu Tio Pan San menarik tirai kereta dan melongak kedalam, namun keadaan dalam kereta

ternyata gelap gelita tak terang, hanya lapatdua seperti ada seorang yang merebah didalam

dengan tubuh berselimut.
„Su-te (adik keempat), benar kau bukan? Kami telah da tang menolong kau!” segera Pan San

berseru.
Tapi orang itu hanya bersuara lemah sekali, habis itu tak kedengaran apa-apa lagi.
„Kau hantar kembali Su-te dulu, biar aku yang menCari Thio Ciau Cong untuk bikin

perhitungan,” kata Bu Tim. Habis ini ia keprak kuda menerdyang lagi kemedan pertempuran.
Muladua orang-orang Piauhang melarikan diri kearah timur, tapi ketika melihat Bu Tim

menerdyang datang lagi, dengan ber-teriakdua mereka putar haluan kabur kebarat.
Thio Ciau Cong, wahai Thio Ciau Cong! Dimanakah kau keparat ini, kenapa tidak lekas unyuk

diri!” segera Bu Tim ber-teriakdua menantang.
Tapi meski diulangi lagi, masih belum ada juga orang menyahut. Maka kembali ia menerdyang

kearah gerombolan musuh.
Melihat Bu Tim mengudak datang lagi, para Piauwsu dan hambadua negeri menjadi ketakutan

tidak kepalang hingga semangat seakan-akan terbang ke-awangdua, mereka ber-teriakdua terus

lari sipat-kuping tunggang-langgang.
Dilain pihak para jago menjadi girang ketika melihat Tio Pan San membawa kembali kereta

besar yang mereka arah itu, be-ramaidua mereka memapaknya. Dengan tak sabar Lou Ping telah

mendahului kehadapan kereta itu, ia melom-pat turun dari kudanya terus menyingkap tirai

kereta.
„Toako!” serunya dengan suara ter-putus-putus.
Tapi ternyata tiada sahutan orang didalam kereta. Kaget luar biasa Lou Ping, tanpa pikir

lagi ia menerobos kedalam kereta terus menarik selimut yang menutupi sesosok tubuh orang

itu.
Sementara itu para jago Hong Hwa Hwe yang lainpun sudah datang, mereka sama melompat turun

dari kuda terus merubung maju hendak melihat keadaan Bun Thay Lay yang mereka rindukan itu.
Disebelah sana kedua pendekar Siang melihat kereta tawanan sudah dapat mereka rampas, tentu

saja mereka tak sabar lagi menempur terus orang-orang Uigor yang tak jelas asal-usulnya itu,

sekali kedua saudara Siang itu bersuit, Cakar-terbang mereka diajun memaksa orang-orang Ui

itu mundur, lalu mereka putarkuda terus kabur pergi.
Orang-orang Uigor itu rupanya melulu bertugas merintangi orang yang bermaksud mendekati

saja, maka ketika melihat kedua saudara Siang itu undurkan diri, sama sekali mereka tidak

mengejar, melainkan terus ikut menerdyang ketengah medan pertempuran yang masih berlangsung

dengan serunya itu.
Tatkala itu Bu Tim Tojin masih menerdyang kesana kemari, seorang kusir kereta yang lambat

larikan diri kembali telah kena dibaCoknya hingga terguling. Bu Tim tak berniat membunuhnya,

maka ia tarik tali kendali kuda melompati tubuh orang terus ber-teriakdua menantang pula:

„Ayo, Hwe-jiu-boan-koan, dimana kau, pengeCut, kenapa tidak lekas keluar !”
Hwe-Chiu poan-koan adalah gelaran Thio Ciauw Cong. Tapi yang munCul bukan dia, melainkan

seorang Wi yang tinggi besar, bermuka brewok. „Imam liar darimanakah berani mengaduk

disini!” demikian segera orang itu membentak.
Tanpa menyawab, pedang Bu Tim berkelebat menyabet nya. Untung orang Wi itu sebat menangkis.

Tapi sebelum dia keburu menarik kembali goloknya, Bu Tim susuli sabetan kearah kanan dan

kiri, Cepat-cepat nya bukan terkira. Karena tak sempat menangkis, orang Wi itu jepitkan kaki

keperut kuda, sudah itu tubuhnya ia buang kebawah untuk menyusup kebawah perut kuda. Dengan

Cara berjum palitan melalui perut tunggangannya itu, barulah dia berhasil lolos dari tabasan

Bu Tim. Namun tak urung dia kucurkan keringat dingin, dan dengan andalkan kepandai annya

berkuda, orang Wi itu larikan kudanya dengan dia sendiri masih menggelantung dibawah perut

si kuda.
„Kau dapat menghindari tiga tabasanku, betul-betul seorang hohan. Akupun tak mau mengambil

jiwamu lagi”, kata Bu Tim dengan tertawa. Dan dia kembali menyerbu kearah rombongan lain.
Ketika SeChwan Sianghiap tadi mengantar kereta menuju kesebelah barat, mereka nampak dari

arah muka ada kira-kira delapan penunggang kuda menghampiri. Itulah rombongan Ciu Tiong Ing

dan Liok Hwi Ching. Tapi belum lagi mereka mendekati kereta besar, Lou Ping telah menyeret

keluar orang yang berselimut dalam kereta itu tadi, terus dilemparkan kebawah, lalu

terdengar nyonya itu membentak:
„Pan-lui-Chui Bun toaya dimana?”
Dan belum habis kata-kata diuCapkan, nyonya itu sudah ber CuCuran air mata. Ketika orang

Hong Hwa Hwe sama memeriksanya, ternyata orang itu adalah seorang lagi-lagi setengah tua

yang mukanya kurus. Tangannya kanan dibalut dan digantung pada lehernya.
Lou Ping segera mengenalnya sebagai kepala polisi Pak khia yang terkenal yaitu Go Kok Tong,

itu orang yang telah ditabas putus sebelah lengannya oleh Bun Thay Lay sewaktu pertempuran

di “Thio-ke-poh dulu itu.
Lou Ping segera mendupaknya, maksudnya akan mena-nyakan keterangan, namun karena terlalu

menahan perasaan gusar dan Cemas, ia sampai tak dapat mengucap apa-apa. Sebaliknya begitu

menusukkan gaetannya pada paha Go Kok Tong, Wi Jun Hwa segera membentak dengan bengis nya:

„Dimana Bun-ya? Kalau kau membisu, akan kutabas kakimu ini!”
„Thio Ciauw Cong, sibangsat itu, sudah membawanya jauh sekali,” jawab kepala polisi itu

dengan gemasnya. „Ia suruh aku tinggal dalam kereta ini, kukira kalau dia bermaksud baik

suruh aku beristirahat dulu. Tidak tahu nya manusia liCik itu menggunakan tipu

‘kim-sian-toat-kak’ (tonggeret bertukar kulit). Aku dijadikan korban untuk dia yang akan

menerima pahala dikotaraja. Bangsat, Coba lihat saja, dia bisa selamat atau tidak nanti !”
Demikian kepala polisi itu menyumpahi dan memaki kalang kabut.
Pada saat itu, rombongandua Hong Hwa Hwe sudah tiba semua, maka berserulah Tan Keh Lok :
„Tangkap semua kuku garuda dan orang-orang piauwkok, jangan ada satu yang bisa lolos. Mari

kita kaCip mereka dari dua jurusan.”
Begitulah Tan Keh Lok dengan Thio Pan San, Siang-si Song-hiap, Nyo Seng Hiap, Wi Jun Hwa,

Cio Su Kin dan Sim Hi, menerdyang dari jurusan selatan. Sedang Ciu Tiong Ing bersama Liok

Hwi Ching, Ji Thian Hong, Lou Ping, Ie Hi Tong, Ciu Ki, Beng Kian Hiong dan An Kian Kong,

menyerbu dari jurusan utara. Bagaikan jepitan besi, rombongan Hong Hwa Hwe itu segera

mengepung kawanan kuku garuda, piauwsu dan orang-orang Wi.
Selagi orang-orang Wi itu tengah bertempur seru dengan orang-orang piauwkok, tiba-tiba Thio

Pan San beberapa kali mengibas kibaskan kedua tangannya. Seketika itu dua orang kaki tangan

pemerintah terjungkal dari kudanya. Kini tahulah orang-orang Wi itu, siapa lawan siapa

kawan. Mereka sama ber tereakdua kegirangan. Malah orang Wi brewok yang pernah tempui Bu Tim

itu tadi, majukan kudanya untuk mendekati rombongan Hong Hwa Hwe, lalu serunya :
„Entah rombongan enghiong mana yang datang membantu ini. Disini Cayhe (aku yang rendah)

menghaturkan maaf dan terima kasih.”
Habis mengucap, dia angkat tinggi goloknya selaku memberi hormat. Tan Keh Lok Buru-buru

merangkap tangan untuk balas menghormat, katanya :
„Saudara-saudara, mari kita ber-sama-sama menggempur musuh !” Kini dengan turunnya komando

sang pemimpin, majulah orang-orang Hong Hwa Hwe dengan serentak. Karena beberapa kawan yang

diandali sudah banyak-banyak yang binasa, maka dengan serta merta orang-orang negeri dan

piauwsudua itu sama menyura minta diampuni jiwanya sambil tiada hentinya memanggil: „Yaya,

CouwCong” atau kakek moyang .
Demikian riuh rendah mereka meratap membahasakan dengan pelbagai sebutan yang menyunyung

sekali.
„Bun naynay,” tiba-tiba Sim Hi berseru girang kepada Lou Ping, „mereka benardua telah

memanggil kakek moyang padaku seperti katamu tadi.”
Saat itu hati Lou Ping risah tak keruan, kata-kata si-kaCung itu sedikitpun tak didengarnya.
Di-tengah-tengah suasana yang kaCau itu, sekonyong-konyong Bu Tim lari keluar dari gundukan

orang-orang , terus bertereak keras-keras: „Hai, mari kauorang datang kemari. Lihat betapa

bagus permainan pedang anak perempuan itu !”
Semua anggauta Hong Hwa Hwe telah sama mengetahui bahwa ilmu pedang toh-beng-kiam-hoat imam

itu jarang ada la wannya. Orang-orang dikalangan Rimba persilatan yang dapat menangkis tiga

sabetan pedangnya itu, jarang sekali. Kini dia sendiri sampai keluarkan pujian ilmu pedang

orang lain, dan terutama adalah seorang gadis.
Mereka kaget dan dengan penuh keheranan sama datang untuk melihatnya. Orang Wi brewok itu

mengucap beberapa patah perkataan Wi, maka rombongan orang-orang Wi itu sama menyingkir

ketepi, hingga bersama orang-orang Hong Hwa Hwe kini merupakan sebuah lingkaran.

„Cbng-thocu, Thio Ciauw Cong tak berada disini. Orang yang memainkan roda ngo-heng-lun itu

boleh juga tampak nya,” kata Bu Tim pada Tan Keh Lok.
Ketua Hong Hwa Hwe itu juga datang melihat. Cerita disitu ada seorang nona berbaju kuning

tengah bertempur seru de ngan seorang lakidua kate.
„Nona itu bernama Hwe Ceng Tong, murid dari Thian-san Siang Eng,” demikian Hwi Ching

mendekati Tan Keh Lok seraja memberi keterangan. „Dan si kate yang memegang ngo-heng-lun itu

adalah Giam Se Ciang, salah seorang dari Kwantong Liok Mo.”
Tergerak hati Tan Keh Lok mendengarnya. Thian-san Siang Eng, sepasang burung_ elang dari

Thiansan, adalah sepasang suami isteri Tut-Ciu Tan Ceng Tik dan Swat-tiau Kwan Bing Bwe.

Mereka adalah angkatan tua dari kalangan persilatan didaerah Hwi. Dengan gurunya, Thian Ti

koay-hiap mereka tak berhubungan, sekalipun tidak bermusuhan tapi kedua fihak sedapat

mungkin tak mau berjumpa.
Tan Keh Lok dengar bahwa Thian San Pai punya ilmu pedang sam-hunkiam sangat istimewa sekali.

Maka kali ini dia perhatikan sekali permainan nona itu. Memang ternyata gerak serangan

sinona itu luar biasa serunya, sehingga orang she Giam itu harus melajani matiduaan. Sedang

dalam pada itu orang-orang Wi bersorak sorai untuk membantu semangat sinona. Malah ada

beberapa orang yang nampak ma ju menghampiri dan siap akan turut bertempur.
„Tahan, aku hendak bicara!” tiba-tiba orang she Giam itu bertereak seraja mundur selangkah.
Rombongan orang Wi makin rapat menghampiri. Dengan menghunus senjata, mereka siap akan

menyerbu. Cepat-cepat sekali Giam Se Ciang pindahkan sepasang senjatanya keta ngan kiri, dan

tangannya kanan sebat sekali menarik sebuah buntalan dari belakang punggungnya. Dengan

mengangkat tinggi-tinggi senjatanya dia bertereak :
„Kalau kaurang memaksa andalkan jumlah besar untuk menindas aku, bungkusan ini akan

kurusakkan !”
Mendengar itu terkejutlah orang-orang Wi itu. Serentak mereka mundur beberapa tindak.

Rupanya insaf bahwa dirinya susah lolos dalam kepungan orang-orang Wi dan Hong Hwa Hwe yang

sedemikian kuatnya, maka Se Ciang hendak Cari akalan. Maka katanya lagi :
„Kauorang berjumlah besar, tentu mudahlah untuk membunuh aku. Tetapi aku, orang she Giam,

pun berhati baja. Jangan harap kauorang bisa menCapai maksudmu. KeCua-li kalau mau

bertanding satu lawan satu, kalau aku sampai kalah, baru dengan suka rela kuserahkan pauwhok

ini. Kalau tidak dengan Cara begitu, aku siap untuk hanCur binasa ber-sama-sama dengan

bungkusan ini. Nah, kauorang boleh pikirdua lagi.”
Kiao Li-kui Ciu Ki adalah orang pertama yang merasa panas telinganya, tanpa tunggu lagi, ia

loncat kedalam kalangan seraja berseru : „Baiklah, aku yang menantang dulu !”
Habis itu dengan putar goloknya, nona berangasan itu akan maju menyerang, tapi ayahnya

Buru-buru menariknya kembali dan katanya: „Disini berkumpul banyak-banyak Cianpwedua yang

gagah perkasa, mengapa kau mau perlihatkan ketololanmu ?”
Sementara itu sinona baju kuning melambaikan tangan nya kepada Ciu Ki dan serunya: „Biar aku

dulu yang melajani, kalau gagal, barulah CiCi bantu”.
„Jangan kuatir. Kulihat kau ini orang yang baik, tentu aku suka membantumu”, jawab Ciu Ki

dengan gagahnya.
“Hm, budak tolol. Ia bugenya lebih tinggi dari kau, apa-apaan kau mau bantu dia”, ayahnya

menegur dengan bisik-bisik.
„Apa dia tak mau kubantu?” bantah sinona yang bandel itu.
„Pauwhok yang berada ditangan piauwsu she Giam itu berisi kitab suCi dari orang-orang Wi,

maka nona itu tentu akan merebutnya dengan tangannya sendiri”, menerangkan Liok Hwi Ching.
Baru setelah mendengar itu, Ciu Ki mengerti dan mau diam.
„Siapa yang hendak maju dulu. Nah sudah dirunding belum”, kata Giam Se Ciang dengan Congkak.
„Biarlah aku lagi yang melajanimu!” seru Hwe Ceng Tong.
„Kalau kau kalah apa perjanyiannya”!
„Kalah menang, kau harus tinggalkan kitab itu disini. Kalau menang, kau boleh pergi. Tetapi

kalau kalah, nah tinggallah saja disini dengan kitab itu!” jawab sigadis.
Dengan ucapan itu, Ceng Tong terus mulai menyerang. Giam Se Ciang mengeluarkan ilmu

permainan roda yang disebut ngo-heng pat-kwa, terdiri dari enam4 jurus. Kembali orang

disuguhkan pertandingan senjata yang seru dan menarik.
Tan Keh Lok melambaikan tangan memanggil Hi Tong datang, katanya :
„Sipsu-te, kau lekas-lekas berangkat untuk memburu jejak suko. Kita nanti menyusul.”
Hi Tong Buru-buru keluar dari situ untuk naik kudanya. Tapi ketika berpaling dia menampak

Lou Ping tengah tundukkan kepala seperti orang ngelamun. Sedianya Hi Tong akan meng

hampirinya untuk menghibur, tapi pada lain saat, dia keprak kudanya terus kabur.
Sementara itu dalam pertandingan seru itu betul-betul permainan sam-hun-kiam nona Ceng Tong

itu luar biasa sebat-nya. Belum ujung pedang menusuk datang, sudah ditarik dan diganti

serang’an lagi. Demikian terjadi pada tiapdua gerak serangannya. Beberapa kali Giam Se Ciang

berusaha untuk menyampok pedang sinona, tapi selalu tak berhasil.
Bu Tim, Liok Hwi Ching, Tio Pan San adalah achlidua pedang yang kenamaan. Kini mereka

mengawasi seraja tak putus-putusnya memberi komentar.

Su Kiam in Siu Lok
Puteri Harum dan Kaisar atau Pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung

Jilid 9
“SERANGAN kearah pundak lawan tadi, Cepat-cepat nya sudah Cukup, hanya kurang tepat,” kata

Bu Tim.
„Tentunya dia tak dapat menyamai kesempurnaan permainanmu. Tapi waktu kau masih berumur

seperti dia, apa juga sudah seperti dia lihainya?” tanya Tio Pan San dengan tertawa.
„Nona itu betul-betul mempunyai gaja penarik, sehingga menawan symphati orang-orang ,” Bu

Tim juga ketawa.
Memang kata-kata tojih itu tepat. Karena Tan Keh Lok sendiri, setelah menyaksikan permainan

orang, segera tertarik dan mengaguminya. Tampak olehnya, meskipun nona itu dahinya

berketesan kerirgat, namun semahgatnya masih tetap gagah, gerak kaki dan tangannya masih

tetap teratur seperti biasa.
Tiba-tiba Ceng1 Tong merobah permainannya. Kini ia menye rang dengan gerak „hay-si-Cin-lou”

yaitu salah satu ilmu pedang Thian San Pai yang lihai sekali. Gerak serangannya, sukar

diduga. Hingga kembali orang-orang sama kagum dibuatnya. Selagi mereka terbenam dalam

keasjikannya, tiba-tiba pedang sinona berkelebat laksana kilat Cepat-cepat nya menikam

pundak lawan. Karena terkejut dengan tikaman yang tepat mengenai pundaknya itu, Giam Se

Ciang menyerit keras seraja loncat mumbul, dan menCelat beberapa tindak kebelakang. Serunya:

„Aku mengaku kalah, kitab ini kukembalikan padamu!”
Terus dia ambil pauwhok yang terbungkus kain merah itu. Dengan kegirangan luar biasa, Ceng

Tong tampil kemuka untuk menerima kitab Alqur’an yang dipandang sebagai kitab suCi suku

bangsanya itu dari tangan orang.
Siapa duga mendadak Se Ciang menarik muka terus membentak: „Nih, ambil!” — Berbareng itu

tangannya yang lain tahu-tahu mengajun, tiga buah senjata rasia „hui-Cui” atau bor terbang

seCepat-cepat kilat menyamber kedada Ceng Tong-.
Menghadapi kejadian yang sama sekali tak ter-sangkadua itu, untuk hindarkan diri rasanya

terlalu susah, baiknya Ceng Tong masih sanggup mendojongkan tubuhnya kebelakang dengan gaja

„thi-pan-ki” atau jembatan papan besi, tubuhnya seakan-akan melengkung terbalik kebelakang,

dengan demikian ketiga bor itu menyamber lewat semua diatas mukanya.
Namun Giam Se Ciang tidak berhenti begitu saja, baru tiga buah bor pertama dihamburkan,

menyusul tiga buah bor yang lain sudah ditimpukkan lagi.
Tatkala itu Ceng Tong sedang berdojong kebelakang, tampaknya pasti akan tertimpa bahaja,

menyaksikan itu, para orang Wigor sangat kuatir dan gusar pula atas kekejian musuh, maka

be-ramaidua mereka telah mehjerbu maju.
Dalam pada itu bila Ceng Tong telah menegak kembali, tiba-tiba didengarnya suara

„Creng-Creng-Creng” tiga kali, ketiga buah bor tadi sudah jatuh ketanah seperti kena

dihantam senjata rasia apa-apa dan jatuhnya tepat ditepi kaki Ceng Tong, gadis ini

berkeringat dingin bila tahu bahaja apa yang tadi menganCam dirinya. Cepat-cepat sekali ia

hunus pedangnya, sementara itu Giam Se Ciang sudah merangsang maju bagai kerbau gila dan

senjata rodanya terus menghantam.
Karena tak sempat ganti gerakan lagi, terpaksa Ceng Tong angkat pedang menangkis, maka

saling beradulah kedua senjata itu, sebuah roda tajam menindih kuatdua dari atas dan pedang

menyang gah keras-kerasdari bawah hingga seketika keadaan menjadi saling tahan.
Lama-lama tenaga Se Ciang yang lebih besar, achirnya rodanya „Ngo-heng-lun” sudah menindih

turun mendekati kepala sigadis.
Nampak berbahaja, selagi para ksatria hendak maju menolong, sekonyong-konyong tangan kiri

Ceng Tong menCabut keluar sebilah pedang pendek yang bersinar menyilaukan dari ping gangnya,

seCepat-cepat kilat pula ia tubleskan senjata itu keperut Giam Se Ciang.
Tanpa ampun lagi Se Ciang menyerit keras, kontan pula orangnya roboh kebelakang.
Melihat keCekatan sigadis, kembali semua orang berbareng bersorak memuji.
Dilain saat, Ceng Tong Cepat-cepat melolos pauhok merah yang menggamblok dibelakang punggung

Giam Se Ciang. Dalam pada itu, sibrewok pun juga mendatangi, seraja katanya: „Bagus, nak!”
Ceng Tong segera angsurkan pauwhok kepadanya, dengan menyungging senyuman yang manis, ia

berseru dengan serta merta: „Ayah!”
Memang sibrewok itu adalah ayah Hwe Ceng Tong, jakni Bok To Lun. Dengan chidmat, dia

angsurkan kedua tangan untuk menyambutinya. Sementara itu, Ceng Tong menCabut lagi badidua

yang nanCap di tubuh Giam Se Ciang. Dalam pada itu satu anak lelaki kira-kira berumur 15

tahun loncat turun dari kuda terus lari ketengah lapangan. Dia Cepat-cepat memungut tiga

buah benda berwarna putih yang bundar bentuknya, terus diserahkan pada seorang muda, siapa

lalu memasukkan kedalam kantongnya.
„Kiranya yang melepas senjata rahasia untuk memunahkan huiCui dari orang she Giam tadi,

dialah orangnya!” pikir Ceng Tong.
Tersurung oleh suatu perasaan yang aneh, ia melirik ke-arah penolongnya. Tampak olehnya,

bagaimana wajah orang itu berseridua bagaikan batu giok. Sepasang matanya ber-sinardua

bagaikan bulan purnama. Mengenakan pakaian yang longgar dan tangannya menenteng sebatang

kipas. Begitu Cakap dan agung nampaknya.
Kebetulan anak muda itupun mengawasi kearahnya, maka terbentrok sinar mata keduanya.. Sianak

muda nampak ber senyum padanya dan dengan ke-merahduaan Ceng Tong tundukkan kepalanya, terus

lari mengikut ayahnya. Kepada sang ayah ia membisiki bebrapa patah perkataaan, dan ayah nya

itu nampak menganggukkan kepalanya.
Bok To Lun maju menghampiri kuda pemuda tersebut, lalu menyura dihadapannya. Pemuda itu

Buru-buru loncat turun dari tunggangannya, terus tersipu-sipumembalas hormat.
„Atas budi kongcu yang telah menyelamatkan jiwa anakku, aku haturkan beribu terima kasih.

Mohon tanya, siapakah nama kongcu yang mulia ?” Tanya Bok To Lun.
„Aku yang rendah ini orang she Tan nama Keh Lok. Salah seorang saudara kita telah ditangkap

oleh kawanan kuku garuda dan orang-orang piauwsu itu, maka kita beramai datang menolongnya.

Tetapi sayang nya, kita masih belum berhasil. Kitab pusaka dari rakjat tuan kini telah dapat

terampas kembali. Untuk itu aku turut bergirang dan haturkan selamat.”
Pemuda itu memang bukan lain adalah ketua dari Hong Hwa Hwe Bok To Lun panggil putera

puterinya datang dan disuruhkannya menghaturkan terima kasih pada sang penolong. Begitu

dekat, agak heran Tan Keh Lok memikirkannya. Kalau sang kakak, Hwe A In bertelinga lebar,

muka penuh brewok, adalah adiknya, Hwe Ceng Tong, begitu manis sikapnya. Wajahnya laksana

bunga yang sedang mekar di musim semi, Cantik berseri-seri bagaikan embun pagi. Kalau tadi

dari jarak agak jauh, Tan Keh Lok mengagumi per mainannya pedang, kini setelah saling

berdekatan semangat anak muda itu seperti dibetot melihat keCantikan yang wajar dari nona

itu. Sehingga untuk sesaat itu, dia kesima terlongong-longong.
„Jika tadi bukan siangkong (tuan) yang menolong, tentu jiwaku sudah lenyap. Budi siangkong

itu, akan terukir dalam hatiku se-lama-lamanya,” demikian sigadis.
„Ah” Tan Keh Lok seperti orang yang dibangunkan dari tidurnya. „Telah lama kudengar

‘sam-hun-kiam’ dari Cabang Thian San Pai sangat sempurnanya. Tadi setelah kusaksikan sendiri

betapa ilmu itu nona mainkan, betul-betul hebat tak tertara. Tadi Cayhe telah kelepasan

tangan jail, untuk itu sudah merasa berSyukur kalau nona tak marah, mengapa malah nona

berlaku sungkan menghaturkan terima kasih?”
Ciu Ki, si nona berangasan itu, merasa sebal mendengar keduaa orang muda itu begitu saling

bersungkan.
„Ilmu pedangmu memang lebih hebat dari aku, tapi ada satu hal yang akan kuajarkan padamu,”

Ciu Ki memotong pembicaraan orang.
„Harap CiCi memberi petunyuk,” sahut Ceng Tong.
„Yang bertempur dengan kau tadi orangnya liCin. Kau terlalu percaya padanya hingga hampir

terpedaya. Memang kebanyak-banyakan orang lelaki itu banyak-banyak akal muslihatnya, lain

kali haruslah kau ber-hati-hati terhadap mereka,” demikian kata Ciu Ki.
„CiCi benar. Kalau bukan Tan kongcu yang menolong, tentu jiwaku sudah melayang ,” ujarCeng

Tong.
„Apa sih Tan kongcu itu ? Oh, kau maksudkan dia. Dia adalah Congthocu Hong Hwa Hwe — O, ja,

Tan …. Tan toako, tadi senjata apa yang kau gunakan untuk memukul huiCui orang itu. Mana

kasih lihat padaku,” tanya Ciu Ki kepada Tan Keh Lok.
„Ini sebenarnya hanya bijidua Catur,” kata Keh Lok seraja mengeluarkan dua biji Catur dari

kantongnya. „Timpukanku jelek sekali, harap nona Ciu jangan menertawakannya.”
„Siapa yang menertawai kau ? Permainanmu bagus sekali. Selama dalam perjalanan, ayah tak

sudahduanya memuji padamu. Kiranya ada beberapa bagian ucapannya itu benar,” sahut Ciu Ki.
Ketika mendengar anak muda itu adalah Cong-thocu dari sebuah perkumpulan, heranlah Ceng

Tong. Ia kelihatan ber-bisik-bisik pada ayahnya, siapa beberapa kali meng-ia-kannya.
Pada waktu orang-orang Hong Hwa Hwe sudah membereskan hambadua negeri dan orang-orang

piauwkiok. Yang menyerah dikumpulkan, yang mati dikuburkan dan yang luka-luka diberinya

obat, antara nya piauwsu yang dipapas kutung sebelah tangannya oleh Bu Tim, jakni Chi Ceng

Lun. Lain piauwsu yang dibinasakan dengan panah tangan oleh Thio Pan San, jakni Te Ing Bing.

Dan yang dilempar oleh Pan San jakni Tong Siu Ho entah kemana lenyapnya.
Kali ini Tin Wan piawkok menderita kerugian kehilangan dua orang piauwsu yang binasa dan dua

yang luka-luka. Pembesardua Pembesardua polisi dari Pakkhia dan Thian-Cin ada tujuh atau

delapan yang meninggal dan terluka.
Saat itu Bok To Lun menghampiri Tan Keh Lok seraja berkata:
„Berkat bantuan Congwi eng hiong sekalian, tugas berat kita telah selesai. Menurut

keterangan kongcu, masih ada seorang eng hiong yang belum tertolong. Aku bermaksud suruh

putera dan puteriku serta beberapa orangku untuk membantu kongcu. Terserah apa saja yang

kongcu akan suruh mereka kerjakan. Hanya saja kepandaian mereka itu masih rendah, entah

kongcu suka meluluskan tidak?”
„Sungguh kita merasa berterima kasih sekali,” seru Tan Keh Lok dengan gembira. Lalu dia

perkenalkan mereka pada sekalian saudara-saudaranya.
„Ilmu pedang totiang hebat bukan buatan. Seumur hidup belum pernah kuberjumpah dengan

keduanya. Masih untung,
tadi totiang berlaku murah, kalau tidak ha, “ kata Bok To Lun pada Bu Tim.
„Sungguh tadi aku berlaku kurang ajar, harap dimaafkan,” sahut Bu Tim meminta maaf.
Orang Wi paling mengindahkan sama orang-orang gagah. Sewaktu mengetahui bagaimana kelihaian

Bu Tim, Tio Pan San, Tan Keh Lok, SeChwan Siang Hiap dan lain-lain.-nya, mereka sama kagum

dan berebutan memberi hormat pada orang-orang gagah itu.
Sedang mereka berbicara, tiba-tiba dari arah barat terdengar suara derapan kuda yang riuh,

ketika semua orang menoleh, maka tertampaklah seorang sedang mendatangi dengan Ce pat,

sesudah dekat, Cepat-cepat sekali orang itu melompat turun dari kuda dan ternyata adalah

satu pemuda rupawan.
„Suhu!” tiba-tiba pemuda itu menyapa Liok Hwi Ching. Nyata ia adalah Li Wan Ci yang kini

telah menyamar sebagai lelaki pula.
Wan Ci memandang sekitarnya, Ie Hi Tong tak dilihatnya, tapi Hwe Ceng Tong dapat dilihatnya,

maka Cepat-cepat ia berlari mendekati gadis itu sambil memegang kentyang tangan orang dengan

mesra. „Kemana kau telah pergi malam itu? Sungguh bikin aku menjadi kuatir! Kitab suCi itu

sudah dapat direbut kembali belum?” demikian serentetan perta nyaan Wan Ci.
„Baru saja dapat direbut kembali, lihatlah itu!” sahut” Ceng Tong gembira sambil menunyuk

kepada buntalan merah diatas punggung sang kaka.
Melihat itu, Wan Ci merenung sejenak, tiba-tiba katanya:
„Kau telah membuka dan memeriksanya belum? Apakah kitab itu benardua berada didalamnya?”
„Kami ingin berdoa dulu kepada Allah untuk berterima kasih kepada kebesaranNya, habis itu

baru membuka kitab suCi itu,” sahut Ceng Tong.
„Tapi, menurut aku, paling baik membuka dan memeriksanya dulu,” ujar Wan Ci.
Mendengar kata-kata sigadis ini, Bok Tok Lun menjadi ragudua, lekas-lekas ia buka buntalan

merah itu dan memeriksanya, tapi ia menjadi melongo, karena isinya hanya setumpukan kertas

rosokan saja dan sekalidua bukan kitab suCi Alkur’an yang mereka agungkan itu.
Melihat itu, para orang Uigor itu menjadi gusar hingga mengumpat habis-habisan keliCikan

musuh.
Begitu pula Hwe A In segera tarik seorang kusir Piau-hang yang masih meringkuk diatas tanah,

lebih dulu ia persen orang sekali tempilingan, habis itu baru ia membentak: „Kemana kitab

itu telah dilarikan?” Bilang, lekas bilang!”
Karuan kusir itu kesakitan sambil memegang mukanya hingga seketika susah menyawab.
„Katakan, lekas,” Bok Tok Lun ikut membentak sambil angkat goloknya. „Tak mengaku terus

terang, biar aku penggal dulu kepalamu!”
„Am…… ampun, bu…… bukan aku, tapi perbuatan ka…… kawanan piauthau itu, aku sen…….. sendiri

tidak tahu soalnya,” demikian kusir itu menyawab dengan ketakutan sambil menunyuk kearah Chi

Cing Lun yang masih menggeletak itu.
Segera juga Ho A In menyeret bangun Chi Cing Lun dan membentak gusar: „Kawan, katakan saja,

kau ingin hidup atau mati?”
Namun Chi Cing Lun ternyata Cukup bandel, bukannya menyawab, tapi ia malah pejamkan mata tak

menggubris. Tentu saja Ho A In menjadi murka, ia angkat bogem nya dan segera hendak gebuk

orang pula. Baiknya Ceng Tong telah menarik baju sang kaka pelahan, hingga kepalan A In yang

sudah diangkat itu pelahandua diturunkan kembali.
Ternyata meski tabiat Ho A In ini kasar dan berangasan, tapi terhadap dua adik perempuannya

ia paling menghormat dan menCintai. Adik perempuan yang besar jalah Ceng Tong, sedang adik

perempuan kedua bernama Kasri yang berparas Cantik molek tiada taranya, digurun pasir orang

menyebutnya „Hiang Hiang Kongcu” atau si Puteri Harum. Ia tak bisa silat, maka urusan

perebutan kitab suCi ini ia tidak ikut datang.
Begitulah, maka Ceng Tong lalu tanya Wan Ci: „Dari mana kau bisa mengetahui isi buntalan itu

bukan kitab suCi?”
„Aku pernah mengapusi mereka, maka aku pikir tentunya merekapun bisa meniru,” sahut Wan Ci

dengan tertawa.
Kemudian Bok Tok Lun membentak Ci Cing Lun pula agar mengaku, namun tetap Cing Lun bilang

kitab suCi itu sudah digondol pergi oleh salah seorang Piausu yang lain.
Bok Tok Lun masih sangsidua atas pengakuan orang, segera ia perintahkan bawahannya

menggeledahi semua kereta dan muatannya, namun sedikitpun tak tertampak bayangan kitab yang

diCari itu, ia kualir kitab suCi telah dirusak musuh, maka keningnya terkerut rapat, suatu

tanda sangat masgul.
Disebelah sana Li Wan Ci lagi menanyai keadaan sang Suhu semenyak berpisah. Kata Hwi Ching:

„Urusan itu kelak akan kuCeritakan, kini lekasan kau kembali saja, nanti ibumu akan

berkuatir lagi atas dirimu, dan tentang kejadian disini ini sekalidua jangan kau Ceritakan

pada orang lain.”
„Sudah tentu aku takkan Ceritakan, Suhu, apa kau kira aku masih anak kecil yang tak mengarti

apa-apa?” demikian sahut sigadis secara aleman. „Dan siapakah orang-orang ini, Suhu, kenapa

tak kau perkenalkan padaku?”
„Aku kira tak usah saja, lekasan kau kembali saja,” kata Hwi Ching setelah berpikir. Nyata

ia pikir Wan Ci adalah puteri seorang panglima dan tentunya tidak CoCok tindak tanduknya

dengan para pahlawandua terpendam ini, maka tak perlu mereka berkenalan.
Sebaliknya Wan Ci ternyata lantas ngambek, mulutnya yang mungil menyengkit, lalu katanya

pula dengan aleman:
Suhu tak sukai murid sendiri dan terima lebih suka pada seorang Sutit yang disebut

Kim-tiok-siuCay segala. Baiklah, Suhu, sekarang aku pergilah!” — Habis berkata, ia menyura

sekali, lalu Cemplak kudanya untuk pergi, ketika kudanya melalui samping Hwe Ceng Tong,

tiba-tiba Wan Ci membungkuk merangkul dipundak Ceng Tong dan dengan bisik-bisik omong

beberapa patah-kata padanya. Karena itu terlihat Ceng Tong tertawa ngikik sekali, lalu Wan

Ci me meCut kudanya terus kabur kebarat.
Kesemua itu telah disaksikan sendiri oleh Tan Keh Lok, ketika dilihatnya pemuda rupawan itu

berhubungan begitu rapat dengan Ceng Tong, entah mengapa, dalam hatinya timbul semaCam

perasaan yang susah dilukiskan, karena itu ia hanya terkesima saja.
„Congthocu,” tiba-tiba Thian Hong mendekatinya, „bukankah kita harus merundingkan Cara

bagaimana harus menolong Suko?”
Karena teguran itu, barulah Keh Lok terkejut, lekas-lekas ia tenangkan diri dan menyahut:

„Ja, ja, benar. Sim Hi, lekasan kau gunakan kuda putihnya Bun-sunaynay pergi mengundang

kembali Ciang-sipya.”
Perintah itu diterima Sim Hi yang terus berangkat pergi.
Lalu Keh Lok membagi tugas pula: „We-kiuko, kau pergi kemulut selat bukit itu untuk

bergabung dengan Cap-ji-long, Coba selidiki pula sekitar sana dan laporkanlah kesini malam

nanti.”
Segera We Jun Hwa pun berangkat menunaikan tugas.
„Dan malam ini biarlah kita bermalam terbuka saja disini buat menunggu berita yang mereka

bawa kembali, besok pagidua kita meneruskan pengejaran lagi,” kata Keh Lok achirnya kepada

semua orang.
Karena sehari penuh mereka bikin perjalanan, ditambah pertempuran hampir setengah hari,

mereka menjadi sangat lelah dan lapar. Disebelah sana segera Bok Tok Lun memerintahkan

beberapa orang Uigor memindahkan beberapa tenda dan dipasang ditepi jalan, dari tenda itu

dibagi beberapa buah untuk perkemahan jago-jago Hong Hwa Hwe itu, kemudian mereka

menghantarkan lagi dagingdua sampi dan kambing yang sudah mereka masak.
Sehabis dahar, Tan Keh Lok menghadapkan Go Kok Tong pula untuk ditanyai. Tapi masih tiada

habis-habisnya Go Kok Tong menCaCi maki Thio Ciau Cong, ia bilang kereta itu sela manya

dipakai Bun Thay Lay, belakangan mungkin Thio Ciau Cong mengetahui jejak musuh yang selalu

menguntit dan bermaksud merampas kereta itu, maka disuruhnya menggantikan duduk didalam

kereta sebagai jebakan. Lebih dari itu ia tak tahu.
Waktu Keh Lok mendatangkan Ci Cing Lun dan didesak nya pula agar mengaku, tapi masih tetap

tanpa hasil sedikit pun.
Setelah tawanandua itu digusur pergi lagi ketempat tahanan, kemudian Thian Hong, itu Khong

Beng dari Hong Hwa Hwe, lantas berunding pada Keh Lok. „Congthocu,” katanya, „manusia she Ci

itu bersinar mata menCurigakan, sikapnya pun kelihatan liCik, aku kira biar malam nanti kita

men Cobadua padanya.”
„Baik!” sahut Keh Lok, akur.
Habis itu dengan suara pelahan merekapun berunding renCana yang harus dijalankan.
Sampai hari sudah gelap, ternyata We Jun Hwa dan Ciok Siang Ing berdua tiada satupun yang

kembali melapor, karuan semua orang menjadi kuatir.
„Besar kemungkinan mereka telah mendapatkan jejak-nya Suko, maka telah menguntit terus, ini

malah suatu tanda baik,” demikian pendapat si Khong Beng.
Karena itu, para jago-jago itu sama mengangguk membenarkan. Setelah mengobrol tak lama lagi,

kemudian merekapun tidur diatas tanah dalam perkemahan itu. Orang-orang dari Tin Wan

Piaukiok dan hambadua negeri yang tertawan itu telah diikat semua tangan-kaki mereka dan

ditidurkan diluar kemah, setengah malam pertama dijaga Cio Su Kin, dan setengah malam kedua

Thian Hong yang dinas menyaga.
Setelah sang dewi malam sudah menggeser sampai di-tengah-tengah Cakrawala, telah tiba

waktunya Thian Hong yang berjaga, maka Khong Beng dari Hong Hwa Hwe ini telah keluar

menggantikan Su Kin, ia sendiri setelah mengontrol sekeliling perkemahan mereka, lalu ia

berduduk ditempatnya sambil membelebat tubuhnya dengan sehelai selimut.
Kebetulan sekali Ci Cing Lun merebah disamping Thian Hong, tadi ketika Thian Hong hendak

berduduk, entah seng-aja entah tidak, pahanya telah kena diinyak dan karena sakit, Cing Lun

jadi tersadar.
Selagi Cing Lun lajapdua hendak terpulas pula, tiba-tiba dide-ngarnya Thian Hong sudah mulai

menggeros, tampaknya sudah tertidur nyenyak. Ia menjadi girang, ia Coba geraki kedua

tangannya, ternyata tali pengikatnya tidak begitu ken tyang , maka setelah dipentang dan

meronta beberapa kali, achirnya kedua tangannya sudah terlepas.
Dengan hati-hati ia berdiam sejenak, bahkan bernapas pun sementara ditahan, ketika suara

gerosan Thing Hong ter-nyata makin keras, tidurnya bertambah nyenyak, pe-lahandua Cing Lun

membuka lagi tali pengikat kakinya, setelah da-rah anggotadua badannya itu sudah berjalan

lancar, pelahandua dan hati-hati sekali ia berdiri, lalu selangkah demi selangkah ia

berjalan pergi secara ber-indapdua.
Sampai dibelakang kemah, Cing Lun melepaskan tambatan seekor kuda, lalu dengan ber-jinyitdua

ia jalan kejalan besar, ia pasang kuping, namun keadaan sekiling sunyi senyap, diam-diam ia

bergirang, sebab kaburnya ini tiada orang yang mengetahui, dengan pelahan ia tutun kudanya

mendekati kereta besar yang pernah ditumpangi Go Kok Tong itu. Keadaan kereta itu sudah

jungkir balik ditanah, keledai penariknya sudah dilepas orang.
Pada saat itu juga, dari salah satu kemah tiba-tiba melesat keluar suatu bayangan orang dan

dengan diam-diam menguntit, ia bukan lain adalah si Li Kui wanita, Ciu Ki adanya.
Ciu Ki tidur sekemah bersama Ceng Tong dan Lou Ping, kedua orang yang belakangan ini karena

masing-masing pu nya pikiran, maka gulang-guling masih takbisa pulas. Ciu Ki yang tertidur

lebih dulu telah mimpi seakan-akan dirinya terjeblos masuk suatu lobang jebakan dan dengan

susah payah ada orang menariknya keatas, waktu ia tegasi, ter-nyata penolong itu adalah Ji

Thian Hong, ia menjadi ma rah terus ribut mulut padanya, tapi karena ributdua itu iapun

tersadar dari impiannya.
Dan begitu ia mendusin, segera didengarnya diluar kemah ada suara berjalannya orang dan

kuda, waktu ia mengintip, dilihatnya Ci Cing Lun yang lagi hendak kabur. Lekasan saja ia

samber goloknya terus mengejar keluar kemah.
Setelah beberapa langkah ia mengudak dan pikirnya hendak berteriak, sekonyong-konyong dari

belakang seseorang telah menubruk datang terus menekap kentyang dua mulutnya yang sudah

mulai terpentang itu.
Terkejut sekali Ciu Ki, kontan juga ia baliki goloknya terus membabat kebelakang, tapi orang

itu sangat Cepat-cepat , tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terpegang hingga sen jatanya

dapat ditahan kembali.
“Jangan bersuara, nona Ciu, aku adanya!” demikian seru orang itu dengan suara tertahan.
Mendengar itu adalah suaranya Thian Hong, goloknya tak jadi dipakai, tapi kepalan kiri

sigadis masih dipukulkan juga hingga dengan tepat sekali mengenai dada kanan Thian Hong.
Karena pukulan itu, setengahnya memang sangat sakit, tapi setengahnya pura-pura juga, terus

Thian Hong jatuhkan diri kebelakang. Karuan Ciu Ki berbalik kaget, lekas-lekas ia berjongkok

dan menanya dengan suara pelahan : “He, gi mana keadaanmu ? Habis, siapa suruh kau tekap

mulutku ? Ada orang hendak kabur apa kau tak melihatnya?”
“Ja, ja, jangan bersuara, kita ikuti dia,” sahut Thian Hong lirih.
Segera mereka merangkakdua dan pelahandua menggeser ma ju. Sementara itu terlihat Ci Cing

Lun lagi membongkar bantal dudukan kereta besar itu hingga terdengar suara gemelutak dua

kali seperti suara papan yang dijugil, lalu dari bawah papan dikeluarkannya sebuah kotak

kaju terus dimasukkan kedalam bajunya.
Tapi selagi Cing Lun hendak Cemplak keatas kudanya, Cepat-cepat sekali Thian Hong telah

mendorong Ciu Ki sambil berteriak : “Lekas Cegat dia !”
Gadis itupun sebat luar biasa, sekali enyot tubuh, segera orangnya melesat kedepan.
Mendengar suara orang, Cing Lun menjadi kaget, baru saja sebelah kakinya menginyak pelana

kuda dan tubuhnya belum sempat Cemplak keatas, sebelah kakinya yang lain ia gunakan lebih

dulu untuk mendepak bebokong kuda-nya, karena kesakitan, binatang itu meringkik sekali terus

raembudal beberapa tombak kedepan.
Tentu saja Ciu Ki tak mau lepaskan, ia mengudak se Cepat-cepat angin, tatkala itu Cing Lun

sudah baliki tubuhnya keatas punggung kudanya, melihat sigadis mengejar, tiba-tiba ia ajun

tangannya sambil membentak: „Awas, piau !”
Karena itu Ciu Ki rada terganggu larinya karena harus ber-jagadua bila senjata rasia musuh

menyamber datang; tak terduga bentakan Ci Cing Lun itu hanya gertak sambel saja, hakibatnya

semua senjatanya pada waktu tertawan sudah diluCuti semua. Dan sebab Ciu Ki tertegun

sejenak, maka Cing Lun telah larikan kudanya lebih jauh lagi.
Karuan Ciu Ki menjadi gugup karena terang tak mampu memburu lagi dan musuh segera akan

lolos. Begitu pula saking senang rupanya, Ci Cing Lun telah ketawa ter-bahakdua. Siapa duga,

belum lenyap suara tertawanya, tahu-tahu Ci Cing Lun terjungkir jatuh dari kudanya.
Terkejut terCampur girang Ciu Ki melihat kejadian itu, Cepat-cepat ia memburu maju terus

menginyakkan sebelah kakinya digigir Ci Cing Lun, dengan ujung goloknya ia tatapi

punggungnya.
Sementara itu Thian Hong pun sudah menyusul tiba. „Coba kau periksalah apa isinya kotak

didalam bajunya itu,” demikian katanya pada sigadis.
Segera Ciu Ki merogoh keluar kotak kaju itu dari baju orang, waktu ia buka, ternyata isinya

penuh bertumpuk ber-lapisdua kulit domba seperti dijilid menjadi suatu kitab, ia balikdua

halaman kulit domba itu dibawah sinar bulan yang Cukup terang, ternyata tulisan didalamnya

sangat aneh, se hurufpun tak dikenalnya.
„Lagi-lagi tulisan anehdua dari Hong Hwa Hwe kalian, aku tak mengarti, nih, lihat sendiri,”

demikian kata Ciu Ki kemudian sembari melemparkan kitab itu ke-arah Thian Hong.
Waktu Thian Hong menyang gapi dan sesudah diperiksa, segera ia berkata dengan girang: „Wah,

nona Ciu, sekali ini jasamu sungguh tidak kecil, kitab ini besar mungkin adalah Alqur’an

milik orang-orang Uigor itu, lekas kita pergi menCari Congthocu.”
Tapi baru mereka membalik tubuh, tahu-tahu Tan Keh Lok sudah kelihatan mendatangi.
„He, Tan-toako, kenapa kaupun sudah datang?” tegur sigadis heran. „Lihatlah kau, lekas,

kitab apakah ini?”
Segera juga Thian Hong angsurkan kotak kaju, setelah Keh Lok memeriksanya, katanya kemudian:

„Ini sembilan bagian adalah kitab Alqur’an itu. Beruntung kau berhasil menCegat larinya

musuh, sungguh kami berpuluh orang lakidua tak bisa menempili kau sedikitpun.”
Mendengar Thian Hong dan ketua Hong Hwa Hwe itu sama-sama me muji, besarlah hati Ciu Ki.

Ingin ia menyawab dengan kata-kata merendah, tapi tak tahu bagaimana mesti mengucap kannya.

Tak berselang berapa lama, bertanyalah ia pada Thian Hong: „Sakit tidak tadi itu?” — Ia

maksudkan puku lannya tadi.
„Nona benardua kuat!” sahut Thian Hong dengan tertawa.
„Salahmu sendiri,” kata Ciu Ki. Habis itu dia angkat kakinya dan suruh Ceng Lun bangun, tapi

piauwsu ini ternyata tak berani berkutik. Karena mendongkol, Ciu Ki mendupak nya lagi, namun

dia tetap tak mau berg-erak.
Dengan tersenyum Tan Keh Lok membungkuk dan pijitdua paha orang seraja memerintahkannya

bangun. Baru setelah itu sipiauwsu tersebut bisa merangkak berdiri. Kini baru mengertilah

Ciu Ki, lalu dipungutnya sebuah biji Catur dan dengan merengut diserahkan pada Tan Keh Lok.
„Ini biji Caturmu. Memang siapa yang tak tahu kelihai-anmu menimpuk jalan darah dengan biji

Catur. Hem, mentangdua bisa mengelabui orang saja. Memang orang-orang Hong Hwa Hwe itu bukan

orang baik-baik ,” demikian ia mengomel.
Buru-buru Tan Keh Lok menyelaskan bahwa yang berjasa tetap sinona yang telah dapat

merintangi sipiauwsu.
„Kalau dia tak gugup karena kau kejar, tentu dia bisa menghindari timpukanku,” ujar ketua

Hong Hwa Hwe itu.
Dasar aleman, Ciu Ki puas hatinya. Dalam pada itu ia minta Thian Hong peristiwa pemukulannya

tadi jangan diberitahukan pada ayahnya.
„Apa halangannya kalau dikasih tahu?” kata sipemuda.
„Awas, kalau berani begitu, selamanya aku tak bicara lagi padamu!” anCam sigadis.
Thian Hong hanya meringis. Begitulah Ceng Lun segera digusur untuk diserahkan pada Bok To

Lun. Kepala orang Wi ini menjadi sangat kegirangan, karena kitab suCi mereka telah dapat

diketemukan kembali. Seluruh orang-orang Wi itu sama berlutut untuk menghaturkan terima

kasih pada Tan Keh Lok.
„Yang berjasa mendapatkan kembali kitab itu, adalah nona Ciu Ki. Kita tak berani terima

penghargaan yang begitu besar dari lotiang. Karenanya harap loenghiong suka ajak kembali

putera dan puterimu, maaf, kami tak berani menerima pernyataan bantuan loenghiong itu.”
Ucapan ini telah membikin kaget Bok To Lun dan kedua anaknya. Karena maksudnya yang baik

mengapa telah diterima salah oleh ketua Hong Hwa Hwe itu. Berulangdua Bok To Lun

mendesaknya, tetapi Tan Keh Lok tetap menolaknya. Melihat itu Ceng Tong memberi isjarat pada

ayahnya, tak usah mendesaknya lagi karena orang itu tetap tak mau.
Ketika kembali kedalam rombongannya, Thian Hong memberitahukan pada Ciu Tiong Ing, bahwa

kali ini Ciu Ki sangat berjasa dapat merampas kembali kitab Qur’an. Tiong Ing girang hatinya

dan memandang pada puterinya dengan penuh kebanggaan. Tetapi tiba-tiba Thian Hong men jerit

kesakitan.
„Ada apa laote?” tanya Tiong Ing.
„Anu, tadi aku telah dipukul orang,” sahut sipemuda.
„Siapa yang memukul dan bagaimana, apa terluka?” tanya Tiong Ing pula kuatir.
„Tidak luka, tapi Cukup sakit juga. Siapa lagi kalau bukan perbuatan telur busuk itu. Dia

memang kejam sekali tangannya,” sahut Thian Hong lagi.
Tiong Ing dan lain-lain’ kawannya mengira bahwa si „telur busuk” itu, tentu Ceng Lun. Maka

Seng Hiap segera menghampiri terus menCekek leher baju sipiauwsu, bentaknya :
„Jadi kau masih berani memukul orang?”
„Au…… Oh, bukan akulah!” teriak piauwsu itu.
Buru-buru Thian Hong menCegahnya: „Pat-te, sudahlah, orang yang berbuat tentunya merasa

sendiri.”
Dengan gemas, Ciu Ki melirik pada Thian Hong, katanya dalam hati: ,,Hm, sikate kembali

ber-belitdua untuk memaki aku.”
Begitulah keesokan hari, rombongan orang Wi telah minta diri pada orang-orang Hong Hwa Hwe

untuk pulang ketempatnya. Perpisahan itu dirasakan berat oleh kedua fihak. Malah dengan

memimpin tangan Ceng Tong, Ciu Ki menghampiri Tan Keh Lok seraja berkata :
„Nona itu orangnya Cantik dan bugenya lihai. Ia mau membantu, mengapa kau tampik?”
Tan Keh Lok tak dapat menyawab apa-apa.
„Tan kongcu tak mau kita orang sampai dapat bahaja. Dia memang bermaksud baik. Apalagi kita

memang sudah rindu dengan ibu dan adik dirumah dan ingin selekasnya pulang. CiCi Ciu, sampai

berjumpa lagi!” kata Ceng Tong sembari melambaikan tangan dan terus pergi.
„Tuh, karena kau menampik, maka ia sampai menguCur kan air mata. Kau memang suka pandang

sebelah mata pada lain orang. Kau bikin sakit hatinya.” kata Ciu Ki.
Tan Keh Lok terlongong-longong tak dapat menyahut. Hanya matanya tetap tak terkesiap

memandang bayangan sinona gagah itu.
Setelah agak jauh, tiba-tiba Ceng Tong memutar kudanya kembali. Dan ketika nampak Tan Keh

Lok masih terlongong-longong mengawasinya, sembari menggigit bibir Ceng Tong melambaikan

tangannya.
Melihat itu, seperti terbanglah semangat Tan Keh Lok. Tanpa disadarinya, dia maju

menghampiri. Ceng Tongpun Buru-buru loncat turun dari kudanya. Dan untuk sesaat itu mereka

saling berhadapan muka dengan pandangan yang berarti. KeDua-duanya tak dapat mengucap

apa-apa.
„Kongcu telah menolong jiwaku, pun kitab suCi itu adalah kongcu yang bantu mendapatkannya

kembali. Maka sekalipun bagaimana kongcu memperlakukan diriku, aku tetap tak sakit hati,”

kata Ceng Tong achirduanya. Sembari berkata begitu ia loloskan sebatang pedang pendek dari

pinggangnya dan katanya lagi :
„Pedang ini adalah pemberian suhuku. Menurut kata beliau, dalam pedang ini tersimpan sebuah

rahasia yang besar. Beratus tahun pedang ini pindah dari satu kelain tangan, tetapi tak ada

orang yang dapat memeCahkan rahasia itu. Kita berpisah, entah kapan bertemu lagi. Pedang ini

kuharap kongcu suka menerimanya. Kongcu adalah seorang budiman, mungkin dapat memeCahkan

rahasia itu.”
„Pedang ini adalah sebuah pusaka, sebenarnya aku tak berani menerimanya. Namun untuk

menghormat kehendak nona, terpaksalah kuterima dengan rendah hati,” kata Tan Keh Lok.
Nampak Tan Keh Lok berkata dengan suara sember dan wajah yang saju, setelah merenung

sejenak, berkatalah Ceng Tong pula :
„Aku tahu mengapa kau tak ijinkan aku ikut bantu menolong Bun suya. Bukanlah karena kemaren

kau melihat aku berCakapdua dengan seorang pemuda begitu asjiknya, maka kini kau meremehkan

diriku begitu rupa? Anak muda itu adalah murid dari Liok Hwi Ching locianpwe, kau tanya saja

pada Liok locianpwe siapa dan bagaimana anak muda itu orangnya. Sampai disitu Coba kau

renungkan apakah aku ini betul-betul seorang gadis yang tak tahu harga diri !”
Habis berkata begitu, Ceng Tong keprak kudanya untuk menyusul rombongannya. Baru setelah

bayangan sinona lenyap kedalam rombongan orang-orang Wi, tersedarlah Tan Keh Lok dari

kesimanya. Diapun Buru-buru berlalu, maksudnya akan me nanyakan keterangan sinona itu pada

Liok Hwi Ching. Tapi pada saat itu, tiba-tiba dilihatnya ada, seorang penunggang kuda

mendatangi.
„Siaoya, Ciang-sipya sudah datang. Dia membawa seorang tawanan!” demikian teriak orang itu

yang ternyata Sim Hi adanya.
„Menawan siapa?” tanya Tan Keh Lok.
„Sesampai dikuil itu, kulihat Ciang-sipya sedang CeCok ramai dengan seorang. Begitu melihat

aku berkuda putih, orang itu katakan akulah sipenCuri kudanya. dan terus mem baCok. Kami

berdua lalu mengerojoknya. Orang itu sebenarnya lihai sekali, tapi aku menggunakan sedikit

tipu dan achirnya kami dapat merobohkannya.”
„Tipu apa yang kau lakukan?” tanya Keh Lok.
„Aku tawur matanya dengan pasir, hingga sipya mudah membekuknya!” sahut Sim Hi.
Tan Keh Lok menanyakan nama orang tangkapan itu, tapi Ciang Bongkok keburu sudah datang

sembari menurunkan seseorang dari kudanya. Kaki dan tangannya diikat dengan tambang. Kiranya

orang itu ialah Han Bun Tiong, orang yang kudanya diCuri oleh Lou Ping tempo hari itu.
Tan Keh Lok Buru-buru perintahkan Sim Hi lepaskan ikatannya, dan meminta maaf kepada orang

she Han itu, kemudian dipersilahkan untuk mengasoh kedalam tendanya. Belum berapa lama duduk

disitu, tampaklah Lou Ping masuk. Dan sekonyong-konyong berbangkit orang she Han itu, terus

memaki kalang kabut :
„Kaulah perempuan bangsat yang Curi kudaku, terang bahwa kau orang disini ini memang

komplotan jahat !”
„Kau Han Bun Tiong toaya bukan ? Nah, kita saling tukar kuda dan aku menambahi uang, jadi

berarti kau sudah untung, mengapa marah-marah lagi ?” enak saja Lou Ping menyahutnya.
Atas pertanyaan Tan Keh Lok, Lou Ping lalu Ceritakan tentang halnya tukar menukar kuda putih

itu dulu. Sekalian orang-orang sama geli mendengarnya. Maka berkatalah Keh Lok kemudian:

„Sudahlah, harap suso kembalikan kuda itu pada Han-ya, dan Han-ya tak perlu mengembalikan

uang itu. Bagaimana luka dipaha Han-ya? Ayo, Sim Hi, lekas kau ambilkan obat untuk Han-ya

itu !”
Bun Tiong berkurang amarahnya dan akan menyatakan terima kasihnya, tapi tiba-tiba Lou Ping

menyelak: „Congthocu, aku tak setuju! Dia itu siapa kau tahu? Dia adalah orang dari Tin Wan

piauwkiok !”
„Masa ja ?” tanya Tan Keh Lok dengan terkejut.
Lou Ping segera serahkan surat Ong Hwi Yang, pemilik Tin Wan Piauwkiok, kepada sang

Congthocu. Sebaliknya dari yang diharap, Tan Keh Lok hanya Cukup sekali membuka, lalu

melihatnya lagi dan diserahkan pada Bun Tiong, kata tak ada sangkut pautnya dengan Hong Hwa

Hwe”
Mendengar itu, melengaklah sekalian orang. Dengan ber bangkit dan tegak berdiri, Liok Hwi

Ching menuturkan apa yang telah terjadi ketika itu. Sebagai reaksi, berisiklah suasana dalam

tenda, itu dengan kutuk makian dari orang-orang Hong Hwa Hwe kepada alamat Ciao Bun Ki.

Hanya Han Bun Tiong yang sebentardua berobah wajahnya, serta tak dapat mengucap apa-apa.
Sementara itu Liok Hwi Ching melanyutkan lagi: „Dan kalau Han-ya berkeras akan membalas

sakit hati suhengmu, sekarangpun aku bersedia untuk menemani. Sekali lagi kutandaskan, bahwa

soal ini tidak ada sangkutan apa-apa dengan Hong Hwa Hwe Jika orang-orang Hong Hwa Hwe nanti

sampai ada yang membantu, itu berarti menghina padaku.”
Habis berkata begitu, Hwi Ching berpaling kearah Lou Ping, untuk minta senjata Han Bun

Tiong. Begitu thiat-pi-peh Bun Tiong diterima oleh jago tua itu, maka ber-katalah dia :
„Ketika Han Ngo Nio menCiptakan ilmu Thiat-pi-peh, namanya sangat semerbak dikalangan

Persilatan. Dia dianggap sebagai seorang pendekar wanita. Tetapi kini, haa “
Sembari mengelah napas, Hwi Ching kerahkan lwekang kearah tangannya. Sekali badan pi-peh itu

dipijitnya, seketika itu juga berobah menjadi sebuah papan besi yang gepeng.
„Kita kaum persilatan, kalau tak mengabdi kepada tanah air atau sekurang-kurangnyanya

melakukan perbuatan yang mulia, bukankah sia-siasaja segala ilmu kepandaiannya itu?” kata

Hwi Ching pula ber-apidua. „Kalau kesemuanya tak dapat dilakukan, nah lebih baik sembunyikan

diri menjadi rakjat yang baik. Hm, aku paling benCi pada kawanan kuku garuda, kaki tangan

piauwkiok yang mengantar barang-barang ha-ram pada pembesar-‘ rakus. Bila orang yang

bermodal ilmu silat terima menjadi budak dari kawanan pembesar yang menindas rakjat, kalau

ketemu aku, hem, sekalipun aku, Liok Hwi Ching, usiaku sudah mendekati lubang kubur, tapi

aku akan gunakan haridua sisa hidupku itu, untuk membasmi mereka !”
Hwi Ching tampaknya sangat angker sekali. Darah mu danya kembali mengalir memenuhi

semangatnya. Dan dalam dia ber-kata-kata itu, tangannya tetap „mengerjai” thiat-pi-peh itu.

Maka begitu ucapannya habis, thiat-pi-peh itu sudah menjadi semaCam thiat-hoan, gelangan

besi.
Ucapan jago tua itu, telah merasuk kedalam sanubari Bun Tiong. Selama ini, belum pernah dia

bertemu dengan lawan yang dapat menandingi bugenya. Tapi sekali ini saja, dia telah mendapat

hajaran ber-turutdua. Dari Lou Ping Ciang Bongkok, Sim Hi dan kini dengan mata kepala

sendiri dia saksikan bagaimana Hwi Ching telah memijit mijit gepeng senjatanya yang sangat

diandalkan itu, seperti orang yang memenCet tanah liat (lempung) saja. Sampai saat itu,

barulah dia betul-betul merasa tunduk dan jerih.
Sebaliknya Ciang Su Kin, terkilik hatinya. Dia sambuti thiat-hoan itu, lalu di pijitdua dan

ditariknya hingga menjadi sebatang tongkat. Sebelah ujungnya disodorkan kehadapan Seng Hiap.
„Eh, kau mau adu kekuatan dengan aku?” tanya Seng Hiap.
Begitu Su Kin mengangguk, Seng Hiap terus pegang tongkat itu dan mulailah keduanya saling

tarikduaan. Ternyata keduanya sama unggulnya, dan yang nyata, tongkat itu makin lama makin

panyang . Orang-orang yang menyaksikan sama kagum.
„Ah, sudahlah. Koko berdua sama kuatnya. Mari berikan pi-peh itu padaku !” kata Tan Keh Lok,

melerai kedua orang tersebut.
Ciu Ki dan Lou Ki merasa geli dan tertawa, ketika ketua itu masih menyebut tongkat itu,

dengan „pi-peh.”
„Totiang, Ciu locianpwe, Siang ngo-ko, kauorang bertiga harap berada disebelah sini,” kata

Tan Keh Lok setelah menerima tongkat. „Dan kau Tio samko, Siang liok-ko bersama aku disisih

sana. Mari kitaorang ber-main-main .”
Ciu Tiong Ing dengan tertawa menurut. Jadi kedua ujung tongkat itu kini dipegangi

masing-masing oleh tiga-orang.
„Mereka berdua telah menarik besi sampai panyang , kini kita bikin pendek lagi seperti

semula,” kata Keh Lok pula.
„Nah, satu, dua, tiga !”
Begitu mendorong, maka besi itu menjadi pendek lagi. Orang-orang yang melihatnya ramai

ber-sorakdua.
„Sudahlah, Cukup. Inilah yang dikatakan diatas langit masih ada langit’. Aku, Han Bun Tiong,

kalau hari ini ma-
sih hidup besok aku akan pulang kekandang- untuk bertani saja,” demikian Han Bun Tiong

sambil menghela napas. Setelah diperintahkan sang ketua, berhentilah kelima
orang itu yang sedang „dolanan” itu. „Kita telah merusak senjata sdr. Han, harap sdr. maaf

kan,” kata Tan Keh Lok.
Karena sedang menguCurkan keringat, Bun Tiong tak dapat menyahut apa-apa maka berkatalah

ketua Hong Hwa Hwe itu pula: „Aku yang rendah ini akan omong beberapa patah padamu entah

sdr. suka mendengarkan entah tidak ?
Setelah Bun Tiong mengiakan, berkatalah pula Tan Keh Lok: „Sedari dulu, orang yang penasaran

itu mudah diberi mengerti, tapi sukar diajak damai. Suheng Han-ya itu me-
mang Cari kematiannya sendiri. Jadi Liok Cianpwe itu tak bersalah. Dengan memandang mukaku

harap Han-ya tak mengganyel pada Liok locianpwe dan selanyutnya men jadi sahabat saja.”
„Jadi jiwa suhengku itu dikorbankan begitu saja ?” seru Bun Tiong dengan geramnya.
„Sebenarnya tugas Ciao sam-ya itu adalah untuk men Cari aku. Maka aku akan menulis surat

mengabari saudaraku dirumah. Harap Han-ya katakan saja bahwa Ciao samya telah berhasil

menemui aku. Tetapi sepulangnya, ditengah jalan Ciao samya telah dibunuh orang, Dari agar

samya tetap terima hadiah yang sudah dijanyikan itu. Bun Tiong berdiam diri, agaknya tak

puas dia. „Namun Han-ya berkeras untuk menuntut balas, baiklah aku yang akan mengawani

Han-ya bermain beberapa jurus ilmu ‘thiat.pi-peh,” kata Keh Lok. Dan sekali tangannya di

ajun, tahu-tahu ‘pi-peh’ yang dipegangnya tadi masuk menancap kedalam tanah.
„Orang she Han itu insaf kalau dia sekalidua takkan lolos dari orang-orang Hong Hwa Hwe yang

rata-rata bugenya tinggi-tinggi itu. Maka katanya: „Kalau begitu, silahkan kongcu

mengatakannya.”
„Nah, beginilah baru bisa disebut ksatria sejati,” ujar Keh Lok. Lalu ia suruh Sim Hi

mengambilkan alatdua tulis dan sekejap saja sepuCuk surat telah diselesaikannya terus

diserahkan pada Han Bun Tiong.
„Sebenarnya Ong-Congpiauthay suruh aku membantunya menghantar suatu barang kawalannya ke

Pakkhia, dari Pak khia kemudian akan mengawal pula barangdua mestika berharga hadiah

kerajaan kekediaman kongcu di Kanglam,” de demikian kata Bun Tiong. „Tapi hari ini setelah

saksikan kepandaian sakti kalian, ha, sedikit kepandaianku ini benardua main kaju dirumah

tukang mebel. Untuk mana, harta mestika yang akan dihantar kekediaman kongcu itu, siapa lagi

yang berani menginCarnya sekejap? Maka sekarang juga biarlah aku mohon diri.”
Mendengar ini Keh Lok menjadi ketarik. „O, apakah Han-ya sedianya akan mengawal barang

kerumahku?” tanya-nya segera.
„Menurut keterangan Piauwkiok yang disampaikan padaku,” demikian Bun Tiong menutur, „katanya

Hongsiang telah hadiahi banyak-banyak sekali bendadua mestika kerumah kongcu dan piauwkiok

kami yang disuruh mengawalnya kekanglam. Tapi harini aku terjungkal disini, mana aku ada

muka lagi menCari sesuap nasi dikalangan bu-lim, biarlah sesudah keluarga Ciao-suheng sudah

kubereskan, segera aku pulang kekampung untuk bertani dan tak berkeCimpung didunia kangouw

lagi.”
„Han-ya suka dengar nasehat dari Liok locianpwe itulah baik sekali. Ayo, Siem Hi, kau undang

keluar beberapa kawan itu untuk bertemu dengan Han-ya,” kata Keh Lok.
Segera Sim Hi membawa masuk Ci Ceng Lun dan beberapa orang dari Tin Wan piauwkiok yang

mereka tawan itu. Dan begitu berhadapan dengan Bun Tiong, mereka sama pandang memandang.
„Dengan memandang muka Han-ya, harap Han-ya sekalian ajak mereka pergi. Cuma saja, apabila

kelak mereka masih melakukan haldua yang tidak baik, harap Han-ya maafkan kalau kami tak

berlaku” sungkan lagi,” kata Keh Lok achirnya.
Bun Tiong hanya dapat menghaturkan terima kasih saja, tanpa berkata lain-lainnya. Tan Keh

Lok minta mereka tinggal lagi sehari disitu, sedang dia segera ajak rombongannya berangkat.
D! tengah perjalanan, Hwi Ching pikir mungkin sekali orang-orang piauwkiok itu akan

mengadakan pembalasan terhadap rombongannya muridnya, Li Wan Ci. Untuk menyaga kemungkinan

itu, ia katakan pada Keh Lok bahwa ia akan berjalan dibelakang saja.
Demikianlah Hwi Ching segera putar kudanya untuk kembali kearah barat. Sedang Tan Keh Lok

rupanya tak sempat menanyakan tentang diri dari murid Hwi Ching, seperti yang dikatakan oleh

Ceng Tong itu, maka ia sangat masgul.
Kembali berCerita tentang Ie Hi Tong. Pemuda ini diperintahkan menyelidiki jejak

rombongannya Bun Thay Lay, sepanyang jalan ia menyelidiki secara diam-diam, tapi sedikit pun

tak diperoleh tanda-tanda, sampai achirnya. tibalah ia dikota KengCiu yang terhitung suatu

kota besar yang ramai subur dipropinsi Kamsiok.
Setelah mendapatkan hotel, Hi Tong melanCong kebagian kota lain dan masuk kesuatu kedai arak

untuk minum sendirian, saking sepinya, ia menjadi sesalkan naslbnya sendiri, teringat

olehnya suara dan wajah Lou Ping yang menggiurkan, pikirannya menjadi bergolak. Perasaan

rindunya ini sudahlah terang tiada harapan dan sekalidua tidak patut me mikirkannya lagi,

namun aneh, entah mengapa selalu tak bisa dilupakannya.
Ketika dilihatnya didinding rumah minum itu penuh Corat-Coret orang-orang yang pernah

berkunyung kesini, tiba-tiba kesukaannya bersjair pun timbul, ia suruh pelajan menye diakan

alatdua tulis, ia menuliskan sebuah sajak diatas dinding itu sebagai pelepas masgulnya.
Setelah beberapa Cawan arak mengalir pula kedalam perutnya, rasa keselnya menjadi

ber-tambahdua, ber-ulangdua iapun bersanyak .lagi selaku seorang SiuCay, dan sesudah puas,

selagi ia hendak membajar buat pergi, tiba-tiba didengar nya suara tangga loteng berdetak

dan dua orang telah naik keatas.
Mata Hi Tong Cukup tajam, sekilas saja dapat dikenali orang yang berada didepan itu seperti

pernah dilihat nya entah dimana, maka lekas-lekas ia melengos kejurusan lain, baru saja

berpaling, segera juga teringat olehnya bahwa orang itu adalah petugas negeri yang pernah

saling gebrak di Thiat-tan-Chung tempo hari.
Beruntung orang itu lagi asjik mengobrol dengan kawan nya hingga Hi Tong tak dilihatnya.
Sesudah berada diatas loteng, kedua orang itu memandang sekeliling ruangan dulu, lalu

memilih suatu tempat yang berdekatan dengan jendela, dan tepat berdampingan dengan mejanya

Hi Tong.
SiuCay berseruling emas itu Cukup Cerdik, ia mendekap diatas meja pura-pura mabuk, waktu

pelajan menegurnya iapun pura-pura tak sadar dan tak menyawabnya.
Kedua orang itu muladua pasang omong sedikit haldua yang tak penting, kemudian seorang telah

berkata : “Swi-toako, kali ini kalian berhasil menawan buronan penting, sungguh jasa kalian

tidak kecil, entah nanti hadiah apa yang Hong-siang (baginda) akan berikan padamu.”
“Ah, hadiah apa saja aku tak pikir lagi, yang kuharap asal tawanan itu bisa dihantar sampai

HangCiu dengan selamat,” demikian orang she Swi itu menyawab. “Pikir saja, kami berdelapan

jago pengawal tinggalkan kotaraja, tapi kini hanya ketinggalan aku seorang diri yang

kembali, pertarungan disana tempo hari, sungguh, bukan aku senga ja membesarkan orang dan

menurunkan pamor sendiri, tapi kalau aku ingat apa yang terjadi itu benardua masih ngeri dan

mengkirik !”
“Tapi sekarang kalian berada bersama Thio-taijin, tentu takkan terjadi apa-apa lagi,” ujar

orang yang duluan.
“Ja, benar juga, tapi karena itu pula, jasa ini telah jatuh ditangan orang-orang Gi-lim-kun

(pasukan kotaraja), dan kita jago-jago pengawal yang telah kehilangan muka,” de mikian sahut

orang she Swi. “Eh, Lau Cu, tawanan ini kenapa tak digiring ke Pakkhia, tapi digusur ke

HangCiu untuk apakah?”
„Hal ini kebetulan aku tahu,” sahut orang she Cu itu bisik-bisik. „EnCi-ku ada didalam

istananya menteri Lauw, hal ini kau sudah tahu bukan? Dari kabar yang dia kirim padaku,

katanya Hongsiang segera, akan berangkat ke Kanglam (daerah selatan). Kini tawanan itu

dikirim ke HangCu, mungkin Hongsiang sendirilah yang akan memeriksanya nanti.”
„O, jika begitu, kalian berenam ter-gesadua datang dari ibukota, apakah perlunya untuk

menyampaikan titah?” tanya orang she Swi itu sambil meneguk araknya.
„Ja, dan sekalian membantu kalian,” sahut siorang she Cu. „Pengaruh Hong Hwa Hwe didaerah

Kanglam terlalu besar, tak boleh tidak kita harus berlaku waspada.”
Mendengar sampai disini, diam-diam Hi Tong berSyukur. Sungguh kalau bukan kebetulan dapat

didengarnya, maka bila Bun-suko oleh mereka diam-diam digiring kedaerah Kanglam, bukankah

para kawan akan keCele karena semuanya menuju ke Pakkhia, dan hal itu bukankah menjadi

runyam malah.
Dalam pada itu didengarnya jago pengawal she Cu tadi telah berkata pula: „Swi-toako,

sebenarnya dosa apakah buronan itu hingga Hongsiang sendiri yang akan memeriksanya?”
„Itu. akupun tidak tahu,” sahut siorang she Swi. „Tapi menurut perintah atasan, bila sampai

tak berhasil menawan nya, sekembali kami kekotaraja pasti akan dihukum peCat, bahkan buah

kepala dapat dipertahankan tidak masih susah diduga. Ha, apa kau kira menCari sesuap nasi

sebagai Si-wi (jago pengawal keraton) itu mudah diperoleh?”
„Tapi yang sudah terang Swi-toako telah berdirikan pahala, biarlah aku memberi selamat tiga

Cawan arak dahulu,” ujar siorang she Cu dengan tertawa.
Habis itu kedua orang itu saling suguh-menyuguh dengan riangnya. Obrol punya obrol, sampai

achirnya Cerita mereka pun beralih mengenai soal perempuan, katanya wanita utara lebih

Cantik dan yang lain bilang gadis diselatan lebih manis.
Sesudah kenyang dan setengah mabuk, kemudian orang she Swi itu menyelesaikan rekening untuk

pergi, sebelum melangkah pergi, ketika melihat Ie Hi Tong mendekap diatas meja, maka dengan

tertawa ia telah meng-olokdua: „Ha, orang sekolahan apa gunanya, baru tiga Cawan masuk perut

sudah sekarat seperti babi mampus !”
Hi Tong tak menggubris, ia tetap pura-pura mabuk, ia tunggu sesudah orang pergi, lekas-lekas

iapun letakkan sepotong uang perak diatas meja terus ikut turun dari loteng kedai arak itu,

dari jauh ia kintil kedua orang tadi, ia lihat mereka terus masuk kekeresidenan KengCiu,

untuk selanyutnya tak kelihatan keluar lagi.
Hi Tong menduga tentu mereka berdiam digedung pembesar itu, ia kembali kekamar hotelnya, ia

mengaso untuk kumpulkan tenaga. Setelah tengah malam, ia tukar pakaian peranti jalan malam,

seruling emasnya pun tak ketinggalan, lalu. diam-diam ia melintasi jendela terus menuju

kerumah pembesar itu.
Sesudah sampai dibelakang keresidenan, ia melompati pagar tembok, sekitarnya gelap gelita,

hanya dari jendela diruangan sebelah timur tertampak ada Cahaja pelita. Dengan ber-jinyitdua

ia mendekatinya, waktu ia mendengarkan, ternyata ada suara orang berbicara didalam.

Pelahandua ia basahi kertas yang menutupi jendela (karena hawa dingin, dimusim dingin di

Tiongkok umumnya menempelkan kertas sebangsa kertas lajangan diruji jendela untuk menolak

hawa dingin — Gan KL.) hingga berwujut suatu lobang kecil.
Apabila ia Coba mengintip, maka ia menjadi terkejut. Ternyata didalam ruangan itu penuh

berduduk orang-orang , Thio Ciau Cong duduk di-tengah-tengah dan dikedua sisinya adalah

kawanan Si-wi dan opasdua setempat, satu orang yang berdiri dengan mungkur lagi mendamperat

habis-habisan, menilik suara nya, terang ialah Bun Thay Lay.
Hi Tong Cukup kenal bahaja karena yang berada didalam itu adalah tokohdua Kangouw semua,

maka tak berani ia mengintip lebih lama, ia mendekam kebawah untuk mendengarkan dengan

Cermat. Ia dengar Bun Thay Lay sedang mendamperat : “Hm, kalian sebangsa budakdua yang

terima menjadi anying alapdua bangsa asing ini, meski Bun-toaya harini jatuh ditanganmu,

namun pasti ada orang yang bakal balaskan sakit hatiku, kelak biarlah dilihat

manusia-siaberhati binatang seperti kalian ini bagaimana achirnya !”
Kemudian terdengar seorang buka suara dengan berat dan dingin, katanya: “Bagus CaCi makimu !

Kau adalah Pan-lui-Chiu (tangan geledek), telapak tanganku sudah tentu tak selihai kau, tapi

harini biar kau mengiCipi juga rasa nya tanganku !”
Mendengar lagu perkataan orang, diam-diam Hi Tong berkua tir, pikirnya : “Suko mungkin akan

dihina orang. Ia adalah orang yang paling dihormat dan diCintai Suso, mana boleh ia

dihinakan segala manusia rendah?”
Karena itu, lekas-lekas ia mengintip lagi melalui lobang tadi, ia lihat seorang lakidua yang

bertubuh kurus dyang kung dan mengenakan baju hijau panyang telah angkat telapak tangannya

dan mendekati Bun Thay Lay.
Kedua tangan Thay Lay diringkus, dengan sendirinya tak bisa berkutik, saking murkanya hanya

giginya yang keretak-keretuk tergigit.
Dan selagi orang itu angkat tangannya hendak dihantamkan, tanpa ajal lagi Hi Tong masukkan

seruling emasnya kelobang tadi terus ditiup, segera sebuah anak panah se Cepat-cepat terbang

menyamber kedepan dan dengan tepat me nanCap dimata kiri orang itu.
Kiranya orang itu bukan lain ialah Ciangbunyin (ketua) dari Gian-keh-khn di SinCiu, Gian Pek

Kian adanya.
Karena lobang mata kirinya terkena panah, saking sakit nya hingga Gian Pek Kian

berguling-guling dilantai. Sementara itu seluruh ruangan menjadi kaCau, kembali sebuah panah

Hi Tong menancap pula dipipi kanan seorang Si-wi, menyu sul mana kaki Hi Tong melayang ,

pintu ruangan itu dide paknya terpentang dan orangnya terus menyerbu kedalam.
„Kawanan Cakar-alapdua jangan mentangdua, nih, datanglah jago Hong Hwa Hwe buat menolong

kawan!” demikian Hi Tong membarengi membentak dan kontan serulingnya sudah tutuk roboh

seorang opas yang berdiri disamping Bun Thay Lay. SeCepat-cepat kilat pula SiuCay

berseruling emas itu lorot belatinya yang terselit dipinggangnya, ia tabas putus semua tali

pengikat saudara angkat itu.
Dalam keadaan kaCau balau itu, Thio Ciau Cong sudah banyak-banyak berpengalaman, ia tidak

menjadi gugup, iapun tak urus Bun Thay Lay dan Ie Hi Tong, tapi dengan pedang terhunus ia

berdiri diambang pintu ruangan itu untuk menahan larinya tawanan sekalian menahan musuh dari

luar bila ada.

Su Kiam in Siu Lok
Puteri Harum dan Kaisar atau Pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung

Jilid 10
DALAM pada itu karena sudah terlepas tali pengikatnya, semangat Bun Thay Lay menjadi

terbangkit, saat itu seorang jago pengawal keraton lagi menubruk kearahnya, sedikit Thay Lay

meng’egos, berbareng tangan kirinya membalik menggablok keiga kanan orang, maka terdengarlah

suara „kraak,” dua tulang iga orang itu telah patah dihantam.
Melihat betapa lihainya Bun Thay Lay, para jago-jago pengawal yang lain menjadi jeri tak

berani maju.
„Suko, lekas kita terdyang keluar!” seru Hi Tong.
„Apakah para saudara sudah datang semua?” tanya Thay Lay.
„Belum, hanya Siaote seorang diri,” sahut Hi Tong.
Thay Lay tak berkata lagi, ia hanya mengangguk. Luka dilengan kanan dari pahanya ternyata

masih parah dan gerak-geriknya belum leluasa, terpaksa dengan bersandaran Hi Tong mereka

berjalan menuju kepintu ruangan itu. Ketika 4-5 jago pengawal Coba merangsak maju, namun

kesemuanya dapat ditahan oleh seruling emas Hi Tong.
Setelah dekat pintu keluar, nmun Ciau Cong sudah memapak maju. “Tinggal saja disini!”

bentaknya segera sambil pedangnya terus menusuk keperutnya Bun Thay Lay.
Karena gerak-geriknya masih kaku, Thay Lay tak sempat menghindari, terpaksa iapun membarengi

menyerang, dengan kedua jari tangan kiri seCepat-cepat kilat ia tutuk kedua mata musuh

dengan tipu „ji-liong-jio-Cu” atau dua naga berebut mestika.
Karena itu, terpaksa Ciau Cong menarik kembali sen jatanya untuk menangkis, dan mau-tak-mau

iapun memuji; „Bagus !”
Begitulah, kedua orang itu sama Cepat-cepat dan sama tangkas nya hingga sekejap saja mereka

sudah saling gebrak tujuh-delapan jurus. Tapi Bun Thay Lay hanya menggunakan sebelah tangan

saja, jakni tangan kiri, gerak-gerik kakinya pun tak bebas, dengan sendirinya achirnya ia

menjadi payah, maka setelah beberapa jurus lagi, ia telah kena digeblak sekali pundaknya

oleh Thio Ciau Cong hingga tak bisa berdiri tegak lagi, ia jatuh terduduk,
Dilain pihak, sambil menempur musuh Hi Tong sembari memikir juga: „Hidupku seterusnya hanya

akan menderita saja, harini biar aku, korbankan jiwaku untuk menolong keluar Suko, dengan

meminyam tangan Cakar-alapdua ini untuk menghabiskan sisa hidupku, dengan begitu agar Suso

tahu bahwa aku Ie Hi Tong bukanlah manusia yang tak berbudi. Kalau aku korbankan jiwa untuk

kebahagiaannya, rasanya matipun tidak Cumadua !”
Nyata karena Cinta sepihak, daripada terus menderita batin, dalam keadaan begini Hi Tong

menjadi nekad.
Maka setelah ambil keputusan itu, saat itu dilihatnya Bun Thay Lay jatuh terpukul oleh Ciau

Cong, tanpa pikir lagi Hi Tong baliki serulingnya terus menghantam, serangan ini membikin

Ciau Cong mau-tak-mau harus menangkisnya.
Dengan begitu keadaan Bun Thay Lay jadi sedikit longgar Hingga ia sempat meronta bangun

lagi, mendadak ia baliki tubuh terus menggertak, karena suara geledek itu, para jago

pengawal dan opasdua itu menjadi tertegun hingga tanpa merasa mundur beberapa tindak.
„Suko, lekas kau lari!” teriak Hi Tong sambil seruling emasnya berputar kentyang , sama

sekali ia tak menangkis atau menghiraukan serangan lawan, tapi selalu ia menginCar dan

menyerang tempatdua berbahaja musuh.
Karena kenekadan pemuda ini, seketika Thio Ciau Cong menjadi kewalahan malah hingga terpaksa

ia terdesak mundur beberapa tindak.
Melihat ada lowongan, Cepat-cepat sekali Bun Thay Lay me nyelinap keluar ruangan itu

meninggalkan para Si-wi yang ber-teriakdua terperanyat karena tawanan penting berhasil lari.
Sementara itu Hi Tong yang bertahan matiduaan diambang pintu, pada tubuhnya ber-ulangdua

sudah terkena dua tusukan Ciau Cong, tapi pemuda itu masih tetap tak hiraukan diri sendiri,

melainkan masih melontarkan tipudua serangan yang mematikan.
“He, apa kau sudah bosen hidup ? Siapa yang mengajar kan pertempuran Cara begini? bentak

Ciau Cong tak sabar.
“Hm, memang aku tak ingin hidup lagi, paling baik kalau kau bisa membunuh aku!” sahut Hi

Tong tertawa pedih.
Dan setelah beberapa jurus pula, kembali lengan kanan Hi Tong terluka, namun ia gantikan

tangan kiri yang memainkan seruling dan sedengkalpun masih tak mau mundur.
Tatkala itu para Si-wi ber-ramaidua sudah merubung maju juga, tiba-tiba Hi Tong menubruk

pada seorang yang berada paling depan, ketika jago pengawal itu memapak dengan sekali

baCokan, ternyata Hi Tong sama sekali tak menghiraukan, sebaliknya serulingnya ditutukan

keras-keraskedada orang itu, tanpa ampun lagi jago pengawal itu roboh terguling, tapi

berbareng itu pundak kiri Hi Tong juga kena dibaCok.
Bagai banteng ketataon dan seluruh tubuh berlepotan darah, Hi Tong terus ajun serulingnya

melabrak musuh dengan sengit, dibawah sinar pedang dan bayangan golok yang sam

ber-menyamber, kembali terdengar lagi suara seperti periuk peCah, ternyata batok kepala

seorang jago pengawal lain telah remuk dihantam serulingnya.
Tapi makin lama lingkaran kepungan para Si-wi itu makin Ciut, dibawah hujan senjata yang

gaduh itu, lagi-lagi paha Hi Tong telah kena dihantam toja musuh, karena ini, tak sanggup

lagi ia bertahan, ia teruling. Namun begitu, ia tak menjadi gentar, tiba-tiba seruling

emasnya dibuangnya sambil tertawa panyang , lalu ia pejamkan mata untuk menantikan ajalnya.

Tapi karena berhentinya ini, seketika pula orangnya lantas jatuh pingsan.
Pada saat itulah, mendadak diluar pintu ruangan itu terdengar bentakan orang yang keras :

“Tahan !”
Waktu semua orang menoleh, ternyata orang itu adalah Bun Thay Lay yang lagi berjalan masuk

kembali pelahandua, sikapnya gagah berwibawa, sinar matanya tajam, tapi tiada seorang lain

yang dipandangnya sekejap, melainkan terus mendekati Ie Hi Tong yang menggeletak dilantai

dengan berlumuran darah itu.
Apabila diperiksanya luka Hi Tong yang parah, tak tahan lagi jago Hong Hwa Hwe yang perkasa

itu menCuCurkan air mata terharu. Ia Coba memeriksa pernapasan Hi Tong yang ternyata masih

baik-baik , barulah ia rada lega, ia ulur tangan kirinya untuk membangunkan Hi Tong,

tiba-tiba ia berpaling terus membentak pula : “Lekas ambilkan obat luka untuknya ?”
Dibawah pengaruh Bun Thay Lay yang berwibawa, betul juga ada orang yang telah pergi

mengambilkan obat luka.
Dengan mata kepada sendiri Thay Lay saksikan mereka membalut luka Hi Tong serta digotong

masuk ruangan dalam, kemudian barulah ia mungkur sambil ulurkan kedua tangannya dan berkata

: “Nah, sekarang kalian ikatlah !”
Para Si-wi itu masih ragudua, tapi sesudah diberi tanda oleh Thio Ciau Cong, kemudian

seorang diantaranya mendekati Bun Thay Lay.
„Takut apa ? Kalau aku maukan jiwamu, sejak tadidua sudah beres, masa perlu aku harus

membohongi dulu? seru Bun Thay Lay melihat sikap orang yang sangsidua itu.
Baru setelah melihat tangan Bun Thay Lay betul-betul tak mau bergerak, siwi tersebut. terus

memborgolnya dan membawa nya kedalam kamar tutupan lagi.
Malam itu Ciauw Cong keluarkan perintah, bahwa ke jadian tadi tidak boleh diuwarkan

ke-manadua. Siapa yang melanggar, akan dihukum berat.
Esok harinya, Ciauw Cong sendiri pergi melihat Ie Hi Tong, ia lihat pemuda itu masih tidur

dengan nyenyaknya, sesudah menanya kaCung yang melajani, barulah diketahui obat dari sinshe

telah diseduh dan diminumkan Hi Tong.
Sore harinya Hi Tong tampak agar segar, Ciauw Cong lantas tanya padanya: „Gurumu she Liok

atau she Ma?”
„Guruku yang berbudi itu ialah ‘Cian-li-tok-hing-kiap’ she Ma dan bernama Cin,” sahut Hi

Tong.
„Betullah kalau begitu, aku adalah susiokmu Thio Ciauw
Cong,” kata Ciauw Cong.
Hi Tong sedikit mengangguk tanda mengarti.
„Apakah kau anggota Hong Hwa Hwe?” tanya Ciauw Cong pula.
Kembali Hi Tong angguk-angguk.
„Ai, seorang baik-baik begini, kenapa bisa tersesat begitu jauh,” ujar Ciauw Cong sambil

menghela napas. „Pernah apakah Bun Thay Lay dengan kau? Kenapa kau ingin me nolongnya tanpa

pikirkan jiwanya?”
Hi Tong pejamkan mata tak menyawab. Lewat sejenak, barulah ia berkata: „Dan achirnya ia

dapat kutolong juga, kini matipun aku rela.”
„Hm,” jengek Ciauw Cong mendadak, „dibawah tanganku kau pikir bisa menolong orang sesukamu?”
Terkejut Hi Tong oleh jawaban itu. „Jadi ia tidak berhasil larikan diri?” ia menegas.
„Ia bisa larikan diri? Ha, jangan kau mimpi!” sahut Ciauw Cong. Lalu ia berusaha menanya

terus, tapi Hi Tong telah pejamkan matanya lagi tak menggubrisnya pula, bahkan tidak antara

lama pemuda itu terdengar mendengkur.
Ciauw Cong tersenyum kewalahan. „Sungguh satu pemuda yang keras kepala,” katanya. Lalu iapun

pergi.”
Setiba dikamar sebelah, Ciauw Cong ajak Swi Tay Lim, Gian Pek Kian, Seng Hing dan beberapa

siwi dari Pakkhia a.l. Cu Co Im, sama-sama berunding. Setelah memberi perintah seperlunya,

masing-masing disuruh mengasoh.
Sehabis makan malam, kembali mereka pura-pura memeriksa Bun Thay Lay, yang dibawanya kesuatu

ruangan. Ruangan itu diterangi dengan lilin-lilin yang besar dan terang Cahajanya. Kemaren

malam, sebenarnya Ciauw Cong akan melakukan peperiksaan sungguh-sungguh pada Bun Thay Lay,

tapi telah di-adukdua oleh Hi Tong.
Malam ini, dia akan melakukan peperiksaan pura-pura, dan sebelum itu, dia telah siapkan

bayhok (barisan pendam) lengkap dengan anak panahnya. Begitu orang-orang Hong Hwa Hwe datang

menolong, mereka tentu disambut dengan hangat. Tapi se malamduaan itu, tak ada suatu

bayanganpun yang kelihatan datang.
Pada hari kedua pagidua sekali, seorang serdadu melaporkan bahwa Hoangho (Sungai’ Kuning)

telah banyir. Air meluapdua sampai tinggi. Ciauw Cong segera titahkan anak buahnya supaya

lekas berangkat. Bun Thay Lay dan Hi Tong dimasukkan kedalam dua buah kereta besar.
Tapi baru saja rombongan akan berangkat, datanglah Go Kok Tong, Ci Ceng Lun, Han Bun Tiong

dan rombongannya. Atas pertanyaan Ciauw Cong, Go Kok Tong dengan geramnya menuturkan apa

yang telah dialami dari orang-orang Hong Hwa Hwe
„Giam liokya bugenya lihai, bagaimana bisa terbinasa dalam tangan seorang gadis. Sungguh

mengherankan,” kata Ciauw Cong.
Mendapat laporan dari Go Kok Tong bahwa buge dari setiap orang Hong Hwa Hwe itu lihai-lihai,

tambahkan pula mendapat bantuan dari rombongan orang Wi, maka ber-pikirdualah Ciauw Cong.

Achirnya dia minta bantuan pada Congpeng (pembesar militer) dari KengCiu sebanyak-banyak 400

orang tentara pilihan guna memperkuat pengawalan orang tangkapan yang penting itu. Congpeng

Buru-buru siapkan jumlah tersebut. Dia perintahkan hu-Ciang Co Ling dan somCiang Peng Bong

Sian untuk memimpin barisan pilihan itu.
Sampai dikota Song-keng, mereka mengasoh. Keesokan harinya setelah meninggalkan kota sekira

dua atau tiga puluh li, mereka melihat ada dua orang lelaki yang buka baju sedang duduk

mengasoh dibawah pohon. Didekat mereka tertambat pada dahan puhun, ada dua ekor kuda yang

bagus. Dua orang serdadu Ceng rupanya menjadi ketarik, maka mereka lantas Caridua perkara

dan menghampiri seraja membentak: „He, kudadua ini asal Curian dari mana?”
„Kami adalah rahajat yang taat pada undangdua, mana kami mau menCuri,” jawab salah seorang

dari mereka yang bermuka, tampan seraja tertawa.
„Kita sangat Cape, pinyamilah kudamu itu,” kata salah seorang tentara, Ceng tersebut.
„Tentu takkan membikin Celaka kudamu, jangan kuatir,” temannya menambahi.
„Baik, kalau Cong-ya suka menunggangnya, tentu saja boleh,” sahut orang tadi.
Lalu mereka melepaskan tambatan kuda dan berkata pula: „Cong-ya, hati-hatilah, jangan sampai

dilempar jatuh !”
„Masa naik kuda saja bisa jatuh, jangan bicara sem barangan,” kata serdadu yang satunya.
Dengan langkah lebar kedua serdadu itu menghampiri untuk pegang tali les. Tapi sekonyongdua

pantat salah seorang serdadu itu ditendang orang, sedang muka kawannya pun ditampar orang.

Dan pada lain saat kedua serdadu itu dilontarkan kejalanan. Maka gaduhlah kalangan tentara

Ceng itu.
Kedua orang aneh itu menCemplak kudanya terus menghampiri kearah kereta besar. Malah salah

seorang diantara nya yang bermuka Codet pakai sebelah tangan untuk me nyingkap tenda kereta,

terus dipotongnya dengan goloknya sambil berseru: „Apakah Suko ada didalam?”
„Ah, Cap-ji-long !” demikian sahutan dari dalam kereta
„Suko, kami pergi dulu, kau jangan kuatir, Kawan-kawan kita sudah sampai disini,” demikian

seru orang itu pula.
Suara sahutan dari dalam kereta itu sudah diputus dengan suara beradunya senjata diluar

kereta. Orang yang barusan berkata itu diserang oleh dua musuh yaitu Seng Hing dan Co Leng

dan pasukan Ceng pun menyerbu datang. Tapi setelah dapat menangkis mundur, kedua orang itu

terus keprak kudanya melarikan diri.
Malam itu rombongan Ciauw Cong bermalam di Kengsui. Keesokan harinya, pagidua sekali

tiba-tiba terjadi kegaduhan dalam rombongan tentara itu. Pemimpinnya, Co Ling dan Peng Bong

Sian Buru-buru keluar memeriksa. Dan betapakah terkejutnya demi melihat ada sepuluhan lebih

serdadu yang berlumuran darah menjadi majat ditempat tidurnya. Entah siapa yang membunuhnya.
Begitulah dengan berlaku hati-hati sekali, mereka meneruskan lagi perjalanannya,, dan

malamnya bermalam di HengCiok, sebuah kota besar. Tiga buah hotel disewanya, masih belum

Cukup dan meminyam lagi beberapa rumah penduduk. Tengah malam tiba-tiba timbul kebakaran.

Ciauw Cong perintahkan semua si-wi supaya tetap menyaga kedua orang tawanannya, jangan

sampai tertipu musuh. Api itu makin besar dan tiba-tiba datanglah Co Leng melapor.
„Ada kawanan perampok, anak buah kita sudah bertempur dengan mereka !”
Tapi dengan tenang Ciauwj Cong minta supaya ia (Co Ling) saja yang keluar memimpin

perlawanan, karena semua si-wi tetap menyaga orang tawanan. Hanya disuruhnya Swi Tay Lim dan

Cu Co Im berdua supaya menyaga diatas rumah itu. Setelah berselang beberapa lama, hiruk

pikuk itu, menjadi sirap lagi.
Co Ling melapor bahwa kawanan rampok itu memakai tutup muka. Mereka tidak merampas uang,

tapi hanya mau membunuh anak buah saja, dan memang kesudahannya ada enam atau tujuh puluh

serdadu luka-luka dan meninggal. Dengan adanya gangguan itu, Ciauw Cong tunda keberang

katannya sampai besok.
Dalam penyalanan pada besok paginya, pemandangan alam sepanyang yang dilaluinya, sangat

indah. Ternyata jalanan itu berada di-tengah-tengah dua buah bukit dan jalanan dimuka

me-lingkardua seperti ular yang panyang .
Tiba-tiba dari atas bukit disebelah muka, kelihatan ada seorang penunggang kuda membalap

turun dan ketika hampir dekat dia bertereakdua.
„He dengarlah ! Jangan lanyutkan perjalananmu, disi ni ada siluman jahat. Ayo, balik saja,

biar selamat !”
Orang itu berpakaian baju kain kasar, pinggangnya dilihat dengan tali rumput, mukanya

kuning, alisnya berdiri. Sungguh wajah yang menyeramkan pandangan mata. Sehabis bertereak

begitu, dia turun bukit, terus menyelinap disisih rombongan tentara negeri.
Ketika orang itu sudah pergi, tiba-tiba dibarisan belakang, ada seorang serdadu Ceng yang

menyerit dengan keras, roboh ditanah terus mati. Rombongan pasukan itu, terke jut dan sama

mengerumuninya, tapi ternyata sikorban tersebut. tak mendapat luka suatu apa. Karuan saja,

mereka ketakutan setengah mati.
Setelah berjalan kembali, lagi-lagi sipenunggang kuda tadi munCul, dan bertereak pula dengan

keras :
„He, dengarkan Kawan-kawan , kau orang bakal berhadapan dengan siluman jahat, mengapa tak

mau kembali saja ? Percayalah nyawamu semua pasti diCabut.”
Seruan ini betul-betul membawa pengaruh. Terutama bagi serdadudua yang sama terkejut,

mengapa orang itu kembali munCul dari arah muka, sedang tadi sudah pergi kebela kang. Bukit

disitu, tak ada lain jalanannya, tambahan pula mengapa begitu Cepat-cepat dia sudah berada

disebelah muka lagi.
Ketika orang itu turun bukit lagi, serdadudua sama me nyingkir jauh-jauh. Tidak demikian

dengan Cu Co Im, sang pemimpin. Begitu orang itu berada dekat, dia segera hadangkan goloknya

untuk menCegat :
„Sahabat, berhentilah !”
Orang itu seperti tak menghiraukan. Dengan enak saja dia ajunkan tangannya kanan untuk

menggaplok pundak Co Im. Cepat-cepat Co Im tangkiskan goloknya, tapi seperti terbentur

dengan benda keras, goloknya itu terpental jatuh. Dan orang itu seperti tak terjadi apa-apa,

terus larikan kudanya. Ketika orang itu sudah melalui rombongan tentara negeri, maka kembali

ada seorang serdadu yang menyerit hebat dan roboh binasa.
Sekarang betul-betul keadaan rombongan serdadu itu menjadi panik. Ciauw Cong perintah

sekalian si-wi untuk menyaga kereta tawanan, dan dia sendiri lalu pergi me meriksanya.
„Thio taijin, orang itu manusia atau setan?” tanya Co Im sembari me-mijatdua luka

dipundaknya.
Melihat wajah Co Im menjadi puCat, Ciauw Cong lantas menyuruhnya buka baju, ternyata pada

pundaknya terdapat luka sebesar telur itik. Ciauw Cong kerutkan ji datnya, diambilnya

sebungkus obat lalu disuruhnya minum. Dia perintah seorang serdadu untuk memeriksa tubuh ka

wannya yang binasa itu, betul juga pada badannya terdapat luka sebesar telur itik. Nyatalah

itu bekas sidik dari kelima jari.
Ciauw Cong suruh mengubur majatdua sikorban itu, tetapi tak seorangpun yang berani. Apa

boleh buat dia perintahkan semua pasukan untuk bantu ramaidua menguburnya.
„Thio taijin, manusia itu betul-betul mengherankan. Dia menuju kemuka, tapi begitu

Cepat-cepat dia sudah berada dibe lakang lagi” sampaidua Swi Tay Lim utarakan kekuatirannya.
Ciauw Cong juga tak bisa menyawab apa-apa. Setelah berpikir sejenak, barulah dia dapat

berkata :
„Sdr. Cu, kedua orang serdadu itu terang terbinasa oleh pukulan ‘hek-soa-Ciang’ (pukulan

pasir hitam). Orang-orang kan-gouw yang achli dalam ilmu pukulan itu, sedikit sekali jum

lahnya, masa aku tak kenal?”
„Berbicara tentang ‘hek-soa-Ciang’ kiranya hanyalah Hui Lo tojin yang paling menyagoi. Tapi

dia kini sudah menutup mata. Apakah tadi itu roch tojin tersebut ?” tanya Swi Tay Lim.
„Ah, betullah !” seru Ciauw Cong dengan tepukdua paha-nya. „Dialah murid Hui Lo tojin itu.

Orang biasa gelarkan mereka Hek Bu Siang dan Pek Bu Siang. Jadi kedua sau dara kembar itulah

yang menyaru sebagai setan pengganggu.”
Semua si-wi yang mendengar disebutnya kedua persaudaraan tersebut., atau yang kita kenal

sebagai SeeChwan Sianghiap, menjadi keder hatinya. Tapi untuk jangan mengunyuk kan

kelemahan, mereka pura-pura berlaku tenang.
Ketika malam itu mereka bermalam di Hek-siong-poh, Co Ling litahkan supaya diadakan

penyagaan ronda yang kuat. Tapi keesokan harinya, para peronda itu, tidak kelihatan munCul.

Ketika disuruh periksa, ternyata perondadua itu sudah sama menggeletak tak bernyawa lagi.

Pada setiap tubuh si korban, ditempeli selembar uang- kertas sembayangan.
Kini peCahlah semangat pasukan negeri itu Malah ada sepuluh orang lebih serdadu yang

diam-diam melarikan diri.
Hari itu rombongan Ciauw Cong sampai kepunCak Oh-kiaonia. Inilah punCak bukit yang kesohor

paling berbahaja didaerah Kam Keng. Waktu itu justeru bulan sembilan, maka udarapun mulai

turun salju. Ketika melintasi bukit tersebut, terpaksa serdadudua itu harus berjalan dengan

saling tarik tangan, karena kuatir tergelinCir jatuh kedalam ju rang yang sangat Curam.
Justeru selagi orang tengah memusatkan perhatiannya untuk berjalan dengan hati-hati,

tiba-tiba dari arah muka terdengar suara Cuwat-Cuwit, dan dilain saat lalu berobah menjadi

suitan yang nyaring dan panyang , berkumandang jauh di-lembahdua dan bikin bulu roma orang

berdiri. Men-dengar itu sekalian serdadu sama merandek.
„Ayo, kemarilah kalau mau bertemu dengan malaekat elmaut. Kalau mau hidup kembalilah!”

demikian ber-ulangdua terdengar suara teriakan orang.
Peng Bong Sian segera pimpin beberapa orang, untuk maju menerdyang dengan berjalan kaki.

Baru saja mem biluk disebuah tikungan, sebuah anak panah telah menancap didada seorang

serdadu, siapa segera menyerit dan terjungkal kedalam jurang. Peng Bong Sian gemas, untuk

membikin besar hati anak buahnya, dia maju kedepan. Tapi bukan dia, hanya tiga orang anak

buahnya yang kembali „termakan” oleh anak panah.
Ketika pasukan itu merandek, munCullah satu orang dari lamping bukit, dengan suaranya yang

menyeramkan orang itu berteriak :
„Yang maju akan bertemu dengan elmaut, yang mundur akan selamat !”
Tidak tunggu lagi, berlarilah sekalian serdadu itu berebut duluan. Peng Bong Sian murka,

terus menyabet roboh seorang anak buahnya sendiri. Dengan begitu, suasana dapat diatasi

lagi. Tapi yang sudah ketlanyur melarikan diri, kira-kira enam tujuh puluh orang itu, sudah

tak nampak bayangantija lagi.
„Kau orang jagalah kereta tawanan itu, biar kutemui kedua persaudaraan Siang itu,” kata

Ciauw Cong pada Swi Tay Lim.
„Apakah disitu Siang-si Sianghiap? Disini aku Thio Ciaw Cong memberi hormat,” kata Ciauw

Cong setelah maju kemuka.
„Wah, harini rupanya Siang-kui (setan kembar) akan bertemu dengan Poan-koan (gelaran Ciauw

Cong)!” sahut orang itu dengan tertawa dingin.
Dan dengan ucapan itu, tangan kanan orang telab me nyambar. Karena keadaan tempat itu sempit

sekali, tak ada jalan untuk Ciauw Cong berkelit. Terpaksa dia kerahkan lwekang untuk

menyambut dengan tangan kiri. Dan berbareng itu, tangannya kanan menyulur kemuka untuk

menampar.
Orang itupun tak tinggal diam, tangannya kiri diulurkan untuk menangkis. Jadi kini dua

pasang tangan saling ber bentur. Tapi Ciauw Cong dapat berlaku sebat. Dia robah gerakannya

dengan Cepat-cepat untuk menyapu paha kiri lawannya.
Karena tak keburu menghindar, orang itu berlaku nekad. Dia rangkapkan kedua tangannya untuk

ditotokkan kedua belah jalan darah „thay-yang-hiat.” Dengan miringkan tubuh Ciauw Cong maju

dua tindak. Dan orang itupun juga miringkan tubuhnya maju menyerang. Demikian keduanya

saling menerdyang . Malah saking dahsyatnya, begitu kepelan berbentur, keduanya sama

terpental beberapa kaki kebela kang. Hanya kini kedudukannya berobah. Ciauw Cong beralih

kesebelah timur, sedang orang itu berada disebelah barat.
Selagi begitu, tiba-tiba Peng Bong Sian pentang busurnya ke-arah orang itu. Tapi dia

ternyata lihai sekali. Tangan kirinya menangkis serangan Ciauw Cong, tangannya kanan men

jumput ujung panah gelap itu. Dan menggunakan kesempatan kosong itu dia Cepat-cepat -‘

berpaling kebelakang untuk menimpuk kembali panah itu. Peng Bong Sian dapat menghindari

dengan tundukkan kepalanya, tapi seorang serdadu dibelakangnya telah menyerit roboh.
„Siang-si Siang-hiap, betul-betul tak bernama kosong,” memu ji Ciauw Cong.
Belum lama ucapan itu dikeluarkan, Ciauw Cong rasakan ada angin menyambar dari arah

belakang. Dan ketika dikelit, ternyata munCul pula seorang kurus berparas kuning, yang mirip

dengan orang satunya tadi. Serangannya pun tak kalah serunya. Kini Ciauw Cong dikerojok dua,

dari muka dan belakang.
Ngeri orang melihat ketiga orang itu bertempur. Karena pada jalanan yang sesempit itu,

sekali salah gerakannya, pasti akan terpelanting jatuh kcdalam jurang yang sangat tebing

itu. Sekalipun Seng Hing dan Co Im membawa dua ratusan serdadu, tapi mereka tak dapat

memberi bantuan apa-apa pada Ciauw Cong. Paling banyak-banyak serdadudua itu hanya

dikerahkan untuk ber-sorakdua membantu keangkeran.
Setelah berpuluh jurus liwat, sekonyong-konyong salah seorang lawan miringkan bahunya untuk

bentur Ciauw Cong, siapa Cepat-cepat mundur selangkah. Melihat itu orang yang satunya

Cepat-cepat menghantamnya. Dan berbareng itu, yang lainnya pun mengirim tendangan. Jadi yang

satu mendorong yang lain menendang, maka Ciauw Cong teranCam terpental kedalam jurang.
Untuk menghindari tendangan, Ciauw Cong mundur selangkah, dengan begitu kakinya yang sebelah

sudah tak menginyak batu karang lagi dan tergantung diatas jurang. Sekalian serdadu sudah

sama menyerit ketakutan.
Dalam pada itu, lawan yang seorang tadi, pukulannya sudah menyamber datang. Bagi Ciauw Cong

kini tak ada jalan lolos lagi. Dalam keadaan terdesak, sering orang timbul dayanya. Demikian

pula Ciauw Cong. Dengan gunakan „kin-na-hoat,” ilmu menangkap senjata musuh dengan tangan

kosong, dia Cepat-cepat menyawut pergelangan tangan mu suhnya, terus diangkatnya.
Orang itu berusaha untuk pegang pergelangan tangan Ciauw Cong, tapi karena tubuhnya

mengapung diudara, maka kekuatannya berkurang, dan dapatlah dia dilemparkan oleh Ciauw Cong

kedalam jurang. Melihat itu, gemuruhlah sorak sorai sekalian serdadu.
Orang itu, yang ternyata adalah Siang He Ci, tidak menjadi gugup. Ditengah udara dia

tendangkan kakinya keatas untuk berjumpalitan. Dan dalam pada itu, dia segera keluarkan

alatnya „hui-Cao” dikibaskan keatas. Hui-Cao, atau Cakar terbang, adalah semaCam Cengkeram

panyang bertali dan gunanya untuk mengait.
Begitu saudaranya mengeluarkan hui-Cao, Siang Pek Ci-pun segera mengeluarkan juga, lalu

dibandringkan kebawah. Dan begitu kedua hui-Cao berkaitan, maka dengan Cepat-cepat Siang Pek

Ci menariknya keatas. Dengan demikian tak sampailah Siang He Ci jatuh kedalam jurang yang

Curam itu.
,,Hwe-jiu-poan-koan memang benardua lihai, sungguh aku merasa kagumi!” kata Siang Pek Ci

seraja merangkap kedua tangannya. memberi hormat. Dan tanpa menunggu penyahutan orang, dia

segera mengajak kandanya untuk berlalu.
Semua serdadu sama berisik membicarakan pertempuran yang seru itu. Ada yang memuji kelihaian

Ciauw Cong, ada yang menyayang kan mengapa tak lemparkan saja orang sho Siang itu kejurang.
„Buge Thio taijin sungguh hebat sekali,” seru Swi Tay Lim seraja menghampiri. „Apakah taijin

tak terluka?”
Ciauw Cong tak menyahut dan Coba mengatur napasnya dulu. Dan baru berselang beberapa saat,

dia berkata: „Tidak apa-apa.”
Tapi ketika memeriksa pergelangan tangannya dia menjadi terkejut. Disitu terdapat bekas Cap

lima jari yang ke-merahduaan seperti terbakar kelihatannya.
Begitulah setelah melalui pegunungan Oh-kiao-nia, mereka a,kan masuk wilayah Bun-lan. Kuatir

dengan rintangandua musuh, Ciauw Cong tak mau ambil jalan besar, tapi berputar melalui jalan

kecil. Sebenarnya Co Ling sudah mempunyai renCana bagaimana untuk menghadapi kawanan

penggang gunya, tapi karena Ciauw Cong sudah memutuskan renCana begitu, apaboleh buat dia

menurut saja.
Ketika mendeka,ti tepi sungai Hong-ho, dari jauh sudah terdengar suara ombak yang gemuruh,

setelah agak lama pula, barulah tiba sampai di Angsia, suatu tempat penyebe rangan. Tatkala

itu hari sudah petang, hari sudah remang-remang, hanya air sungai yang mengalir santar

ketimur itu bergemuruh men-dampardua tepi, air sungai yang butek itu bagai air mendidih yang

bergulung-gulung gemulung.
“Malam ini juga kita harus menyeberang, melihat keadaan sungai yang berbahaja, sedikit

tertahan mungkin bisa runyam,” demikian kata Thio Ciau Cong pada pengiringnya.
Lalu ia perintahkan perajuritnya pergi menCari kapal tambangan, tapi sudah diCari setengah

harian tiada suatu pun yang didapatkan, sementara itu hari sudah gelap.
Selagi Ciau Cong merasa gopoh, tiba-tiba dari hulu sungai sana bagai panah Cepat-cepat nya

sedang melunCur datang dua perahu. Tentu saja Ciau Cong- menjadi girang, segera

perajurit-‘nya ber-teriakdua dan kedua perahu itupun pelahandua mentepi.
“Hai, tukang perahu, lekas kau menyeberangkan kami, nanti dihadiahi banyak-banyakdua,”

segera Peng Bong Sian berteriak dulu.
Maka terlihatlah dari bagian belakang salah satu perahu itu berdiri seorang lakidua kekar

sambil memberi tanda dengan tangannya.
“Eh, apa kau bisu?” tanya Peng Bong Sian mendongkol.
“Tiunama, mau naik lekas naik, tak mau naik bilang tak naik, peduli apa kau banyak-banyak

bicara,” demikian terdengar orang itu menyahut.
Ternyata orang itu telah memaki dengan “Tiunama” dan kata-kata Kongfu lain yang susah

dimengarti, agaknya tukang perahu itu adalah orang Kongfu.
Karena itu, Bong Sian tak mengurusnya lagi, ia minta Ciau Cong dan para Si-wi mengiringi dua

kereta besar itu naik keatas kapal dulu.
Tapi ketika Ciau Cong mengamat-amati situkang perahu itu, ia lihat kepala orang gundul botak

tiada seberapa rambutnya, urat daging lengannya kentyang kuat dengan spir-nya yang menonyol,

suatu tanda tenaganya pasti besar luar biasa, malahan penggajuh yang dipegangnya itu

tertampak hitam antap seperti bukan terbuat dari kaju. Seketika pikirannya tergerak, ia

sendiri tak bisa berenang, hal ini ia harus hati-hati jangan sampai terpedaya.
Sebab itu, maka katanya kemudian pada Bong Sian : “Peng-taijin, silahkan kau saja naik dulu

dengan dua0 pe-rajuritmu.”
Bong Sian mengia, terus naik keatas perahu yang sudah menunggu. Begitu pula perahu yang lain

juga ditumpangi beberapa puluh perajurit, tukang perahu sebelah sana menutupi separoh

wajahnya dengan sebuah Caping, maka tak jelas air mukanya.
Ketika kedua perahu itu sudah bergerak, saking santarnya air sungai, perahudua itu didajung

dulu kehulu sungai, setelah belasan tombak baru kemudian ganti haluan ketengah sungai.
Ternyata kedua tukang perahu itu sangat mahir, dengan selamat beberapa puluh perajurit itu

sudah mereka seberangkan dan kembali datang buat menyeberangkan yang lain.
Sekali ini adalah gilirannya Cho Ling yang pimpin pera juritnya naik keatas perahu. Tapi

baru saja perahudua itu berpisah dari gilidua, tiba-tiba dari belakang sana terdengar suara

suitan panyang , lalu sahut-menyahut disana sini.
Lekas-lekas Thio Ciau Cong memerintahkan perajuritnya tersebar dan mengitari kereta besar

di-tengah-tengah, busur panah mereka siapkan untuk menyaga segala kemungkinan.
Tatkala itu bulan baru mulai menongol, maka terlihatlah dari arahdua timur, barat dan utara

munCul belasan penunggang kuda secara terpenCar.
“Ada apa? segera Ciau Cong kaprak kudanya memapak sambil membentak.
Pendatangdua itu lantas berjajar lurus dan pelahandua mendekat, seorang diantaranya lalu

tampil kemuka, pada tangannya tidak terdapat senjata, hanya sebuah kipas lempit putih

kelihatan dikibasnya pelahandua. “Apakah yang berhadapan inilah Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciau

Cong?” ta nyanya segera.
“Ja, betul Cayhe (aku yang rendah) adanya,” sahut Ciau Cong. “Dan tuan siapa ?”
“Haha, Suko kami berkat penghantaran kalian sampai di sini, kini tak berani bikin sibuk

lebih lama lagi, maka se ngaja datang buat menyambutnya,” demikian kata orang itu tanpa

menyawab.
“O, kalian adalah orang Hong Hwa Hwe?” tanya Ciau Cong pula.
“Dikalangan kangouw orang bilang ilmu silat Hwe-Chiu-poan-koan tiada taranya, siapa tahu

pandai juga menduga sesuatu seperti dewa,” sahut orang itu tertawa. “Ja, memang kami orang

Hong Hwa Hwe !”
Habis berkata, tiba-tiba orang itu bersuit panyang dengan keras sekali, karena tak

menduga-duga hingga Ciau Cong pun dibikin kaget. Dan karena suitan itu, segera terdengar

tukangdua perahu tadipun membalasnya dengan sekali suitan.
Cho Ling yang berduduk didalam perahu itu, ketika melihat ditepi sana kedatangan musuh,

memangnya hatinya lagi kebat-kebit tak . tenteram, tiba-tiba didengarnya pula situ kang

perahu bersuit panyang , karuan wajahnya semakin puCat bagai majat.
Mendadak tukang perahu itu palangkan penggajuhnya hingga lajunya perahu tertahan, lalu

katanya dalam bahasa Kongfu : “Nah, saudara-saudara yang baik, aku kira paling selamat

lekasan masuk air saja.”
Sudah tentu Cho Ling tak paham akan bahasa Kwitang orang, hanya matanya terpentang lebardua

sambil ter-nganga.
Sementara itu didengarnya pula suara nyanyian nyaring merdu dari situkang perahu yang sana,

begini lagunya :
Sejak kecil Thayouw tempat beta dibesarkan, bunuh orang berapa banyak-banyak selamamja tak

sungkan; Golok membaCok pembesar korup pasti terbasmi, perahu terguling perajurit Cing masuk

sungai!
Mendengar nyanyian itu, karuan hati Cho Ling semakin ketakutan.
Apabila kemudian suara nyanyian itu berhenti, segera terdengar situkang perahu itu berseru :

“Capsahte, Ayolah turun tangan !”
Lalu situkang perahu yang ditumpanginya ini memberi sahutan sekali dalam basa Kongfu.
Meski dalam ketakutan, namun Cho Ling masih Coba angkat tombaknya terus menyerang situkang

perahu lebih dulu. Namun Cepat-cepat sekali tukang perahu itu sudah melompat kedalam sungai,

begitu pula tukang perahu sebelah sa napun melompat kedalam air, hingga karena kehilangan

sipengemudi, kedua perahu itu terus ber-putardua ditengah sungai. Karuan Cho Ling dan

perajuritdua Cing itu ber-teriakdua ketakutan.
Disebelah sana hambadua negeri yang berada didaratan itu ada yang lagi ber-jagadua atas

serbuan musuh, ada pula yang tak tahan menyaksikan suara teriakan didalam perahu yang

ter-dampardua ditengah sungai yang keras arusnya itu, kedua perahu itu kelihatan bergontyang

beberapa kali lagi, lalu mendadak terbalik, dalam keadaan panik dengan suara je ritan

penumpangduanya itu, tiada ampun lagi pembesar dan perajuritdua itu sudah terCemplung semua

dan terhanyut arus sungai.
Sebaliknya kedua tukang perahu tadi ternyata sangat mahir berenang, tiada seberapa lama

mereka sudah berada ditepi sungai lagi. Tapi karena santarnya arus air, ketika mendarat

kedua tukang perahu itu sudah berada dijarak ratusan tombak dibawah hulu sungai sana, segera

perajuritdua Cing didaratan itu menghamburkan panah, tapi karena jaraknya sudah jauh, pula

dimalam gelap gelita, sasaran tak terang, tentu saja tiada yang kena.
Namun aneh juga, kedua tukang perahu itu bukannya larikan diri, tapi malah memapak menuju

kepasukan tentara Cing itu.
Dalam pada itu diam-diam Thio Cian Cong lagi berSyukur, tadi kalau bukan dirinya berlaku

waspada, pasti sekarang sudah menjadi setan didalam sungai. Lekas-lekas ia tenangkan diri,

lalu dengan suara keras ia membentak orang tadi : “Ha, kalian sepundyang jalan terus

membunuh perajuritdua dan pembesar negeri, dosamu itu sekalidua tak bisa diampuni, kini

kedatanganmu malah kebetulan. Nah, katakan dulu, siapakah kau dalam Hong Hwa Hwe ?”
“Tak perlu kau tanya padaku,” sahut orang itu tertawa, “bila kau kenal senjataku, dengan

sendirinya kau tahu siapa aku.” — Habis berkata, enteng sekali ia telah melompat turun dari

kudanya, lalu serunya : “Sim Hi, mana, ambilkan kesini !”
Segera Sim Hi membuka buntalannya dan menyodorkan dua maCam senjata ketangan ketua umum Hong

Hwa Hwe, yaitu Tan Keh Lok.
Thio Ciau Cong segerapun melompat turun dari kudanya sambil lolos pedangnya, ia mendekati

orang beberapa tindak dan selagi ingin menegasi wajah lawan itu, tiba-tiba dari be-lakangnya

menyerobot maju satu orang.
“Thio-taijin, biar aku saja yang membereskan dia,” de mikian kata orang itu.
Ternyata orang itu adalah jago pengawal Cu Co Im. Kebetulan, pikir Ciau Cong, biar orang

dipakai perCobaan dulu baru kemudian ia maju sendiri. Maka ia lantas mun dur lagi sambil

berkata : “Baiklah, Cuma harus ber-hati-hati.”
Segera pula Cu Co Im itu maju lebih dekat terus membentak : “Hai, kawanan berandal, besar

amat nyalimu berani merampas tawann kerajaan, terimalah golokku ini !” — Berbareng itu

goloknya lantas membaCok keatas kepala Keh Lok.
Dengan sendirinya Keh Lok angkat senjata ditangan ki-rinya untuk menangkas.
Dibawah sinar bulan, Cu Co Im dapat melihat bentuk senjata yang dipakai lawannya sangat

aneh, jakni sebuah tameng, tapi diatas tameng itu tumbuh sembilan buah paku berkait tajam,

asal goloknya kebentur tameng itu, pasti akan terkait tak terlepas. Karena itu, ia menjadi

kaget, lekas-lekas ia tarik kembali goloknya.
Namun tameng yang digunakan Tan Keh Lok itu dapat digunakan untuk menangkis serta untuk

menyerang, ketika orang tarik kembali senjatanya, sekalian ia membarengi menekan kebawah.
Cepat-cepat Cu Co Im ajun goloknya kesamping buat memotong bahu kiri lawan. Namun Keh Lok

telah baliki tameng nya lagi buat mengkait terus menyojoh kedepan. Karena itu terpaksa Cu Co

Im mundur dua tindak.
Tak terduga, mendadak tangan kanan Keh Lok mengajun, tahu-tahu lima utas tali telah

menyamber kedepan, disetiap ujung tali itu terikat sebuah bola baja yang kusus digunakan

peranti menutuk tiga enam jalan darah utama ditubuh orang.
Terkejut luar biasa Cu Co Im melihat senjata hebat itu, ia, kenal bahaja apa yang menganCam,

lekasan saja ia meloncat pergi, siapa duga ujung tali orang seperti bermata saja, tahu-tahu

pungg’ungnya terasa pegal, jalan darah „Ci-tong-hiat” dipunggungnya ternyata sudah kena

tertutuk, diam-diam Cu Im mengeluh, namun sudah terlambat, kedua kakinya sudah tergubet oleh

tali orang.
Apabila Keh Lok menarik talinya terus diangkat dan dilepaskan pula, maka. tak ampun lagi

tubuh Cu Co Im seperti didorong saja terus membentur kesebuah batu Cadas dan tampaknya

segera bakal kepala peCah dan otak berantakan.
Melihat gerakan musuh diwaktu melompat turun dari kuda tadi, Thio Ciau Cong sudah tahu

sebelumnya bahwa Cu Co Im jauh bukan tandingan lawannya, ia saksikan pertarungan yang hanya

makan waktu dua-tiga jurus itu lantas Co Im terlempar akan membentur batu, maka tanpa pikir

lagi ia melesat maju terus menghadang didepan batu Cadas itu, sekali ia ulur tangan,

Cepat-cepat kunCir Cu Co Im kena ditariknya terus diangkat, lalu ia tepuk „tan-tian-hiat”

dadanya buat melepaskan tutukan musuh tadi.
„Saudara Cu, baiknya kau mengaso saja dulu,” demikian kata Ciau Cong kemudian.
Namun saking ketakutan dan sudah peCah nyalinya, maka’ Cu Co Im hanya terCengang tak sanggup

menyawab.
Sementara itu sambil menghunus pedang pusakanya ‘ih pek-kiam’ lantas Thio Ciau Cong melompat

kehadapan Tan Keh Lok. „Usiamu semudah ini, tapi sudah memiliki kepandaian bagus. Hai, anak

muda, siapakah gurumu?” segera ia menegur.
„Huh, mentangdua lebih tua, tanya orang semaunya!” tiba-tiba Sim Hi menyela sebelum Keh Lok

menyawab. „Dan kau sendiri, siapa gurumu?”
Tentu saja Ciau Cong menjadi gusar. „Anak benal kurangajar, berani kau ngaCo-belo,”

damperatnya kontan.
„Ah, tentunya kau marah karena kau tak kenal senjata KonCu kami bukan?” ejek Sim Hi

tiba-tiba . „Baiklah, asal kau menyura tiga kali padaku, segera juga aku beritahu-kan

padamu.”
Namun Ciau Cong tak menggubrisnya lagi, sekali pe dangnya bergerak, Cepat-cepat sekali ia

menusuk kebahu kanan Tan Keh Lok.
Tetapi tali ditangan kanan Keh Lok tiba-tiba diajun keatas terus melilit dibatang pedang

musuh, berbareng tameng ditangan kiri didorong kedepan buat menghantam muka Thio Ciau Cong.
Dan begitulah segera Ciau Cong keluarkan „Ju-hun-kiam-hoat” yang hebat dari penguruannya

untuk menempur senjata-nyata aneh Tan Keh Lok dengan sengit.
Sementara itu kedua tukang perahu tadi sudah berlari sampai didepari perajuritdua Cing,

segera hambadua negeri itupun menghamburkan anak panah lagi, namun dapat disam pok jatuh

oleh kedua orang itu. Kiranya mereka bukan lain jalah ‘Tang-thau-gok-hi’ Cio Su Kin, sibuaja

berkepala tembaga, dan dibelakangnya itu yang telah menCopot Caping serta mantelnya hingga

kelihatan pakaian renangnya yang hitam mulus, kedua tangannya mengunus sepasang golok, nyata

ialah ‘Wan-yang-to’ Lou Ping, sigolok kembar
Tatkala itu Cio Su Kin telah putar penggajuh besinya menyerbu kedalam pasukan musuh, dua

perajurit paling depan telah kena dikeperuk olehnya hingga batok kepalanya peCah berantakan,

karuan yang lain-lain sama ketakutan hingga lari menyingkir.
Dengan Cepat-cepat pula Lou Ping mengikut dibelakang ka wannya terus menerdyang sampai

disamping kereta besar.
Seng Hing yang berjaga tidak jauh disitu, dengan senjata tojanya „Ce-bi-kun” segera

menghadang maju dan menempur Cio Su Kin. Sebaliknya Lou Ping telah berlari kesebuah kereta

besar itu terus menarik tirai penutupnya sambil berteriak menanya : “Toako, apakah kau

berada didalam ?”
Tak terduga yang berada didalam kereta itu adalah Ie Hi Tong yang luka parah itu, ketika

dalam keadaan sadar-tak-sadar pemuda itu mendengar suaranya Lou Ping, ia me nyang ka dirinya

sedang berada dalam mimpi, tapi mengira pula dirinya sudah mati dan berjumpa dengan Lou Ping

diacherat, maka dengan girang ia menyawab : “Ah, kau pun sudah datang?”
Sebaliknya dalam keadaan Buru-buru Lou Ping mendengar bukan suara sang suami, meski suara

orang itu Cukup dikenalnya, namun tak sempat dipikir pula, Cepat-cepat ia berlari mendekati

kereta yang kedua.
Dan selagi ia hendak menyingkap tirai kereta buat meli hatnya, sekonyong-konyong sebuah

senjata “Ku-gi-to,” sejenis golok yang bergigi seperti gergaji, telah membabatnya. Namun Lou

Ping sempat menangkis dengan golok kanan, berbareng golok ditangan kiri kontan balas

menyerang dua kali susul-menyusul kepundak kanan dan paha kiri musuh.
To-hoat atau ilmu golok Lou Ping ini menurut Cerita di turun dari Han Se Tiong, itu panglima

terkenal dijamannya Gak Hui diahala Song, diwaktu Han Se Tiong menggempur tentara Kim, ia

gunakan senjata golok panyang ditangan kanan yang bernama “Toa-Che” atau sihijau tua, dan

golok pendek ditangan kiri yang bernama “Sio-Che” atau sihijau muda, dengan sepasang golok

itu entah berapa, ba nyak tentara Kim yang tewas ditangannya.
Dan Lou Ping ternyata kidal, jakni tangan kiri lebih bebas dari tangan kanan, maka ayahnya

Sin-to, sigolok sakti, Lou Goan-thong telah tyang kok ilmu golok itu dan diajarkan pada

puterinya yang tunggal ini, maka golok ditangan kanan Lou Ping hanya memainkan jurus-jurus

ilmu golok yang biasa saja, tapi golok pendek ditangan kiri dapat berubah tiada

habis-habisnya hingga merupakan suatu keahlian tersendiri didunia persilatan.
Dalam pada itu dibawah sinar bulan bila Lou Ping mengenali musuhnya itu adalah satu diantara

delapan jago pengawal yang pernah mengembut dan menangkap suami nya di LanCiu tempo hari,

tak tertahan lagi ia menjadi murka hingga serangan-‘nya bertambah gencar.
Kiranya penyerang dengan “Ku-gi-to” itu ialah Swi Tay Lim, ia sudah kenal betapa lihainya

‘hui-to’ atau pisau terbang sinyonya jelita ini, maka ia putar senjatanya sedemikian

Cepat-cepat nya agar Lou Ping tak sempat melepaskan senjata rasianya itu.
Tak lama pula, ada dua jago pengawal lain telah memburu datang membantu, begitu pula pasukan

tentara itupun lantas merubung maju hingga Cio Su Kin dan Lou Ping terkepung rapat.
Sekonyongdua terdengar suitan, dan dari arah timur serta utara menyerbulah sekawanan

penunggang kuda kearah itu. Yang dimuka sendiri adalah Wi Jun Hwa, lalu dibelakang nya Ciang

Bongkok, Nyo Seng Hiap dan Ciu Ki. Dibawah hujan panah dari tentara Ceng, Jun Hwa tampak

memutar sepasang siangkao (gaetan) untuk melindungi Kawan-kawan nya. Tapi sebatang anak

panah telah menyusup tepat dileher kudanya hingga seketika binatang itu binal dan menendang

se orang serdadu. Dengan sebat, Jun Hwa loncat turun terus menerdyang .
„Aduh, aduh “ demikian suara jeritan ber-ulangdua.
Dua orang serdadu menyerit dan roboh. Habis itu, Jun Hwa langsung meny erang Swi Taij Lim,

siapa terpaksa tarik serangannya pada Lou Ping dan terus menangkis lawannya yang baru itu.

Dalam pada itu si Bongkok, ,Seng Hiap dan Ciu Ki telah amuk habis-habisan rombongan tentara

itu hingga lari pontang panting.
Pertempuran dalam gegap gempita itu, tiba-tiba tampak sebuah tongkat ‘Ce-bi-kun’ melayang ke

udara. Itulah senjata nya Seng Hing, salah seorang si-wi yang ditugaskan membantu Ciauw

Cong. Karena ingin menyudahi pertempurannya de-ngan si-wi tersebut, Cio Su Kin telah

menangkis sekuat-kuatnya, dan kesudahannya senjata pahlawan istana itu terlempar keudara,

sedang orangnya pun terus angkat langkah panyang !
Si-wi yang menjadi lawan Lou Ping pun telah mendapat dua luka, darah membasahi seluruh

tubuhnya, namun dia tetap berkelahi. Tiba-‘ dia rasakan ada angin menyambar dari belakang.

Ketika dia berputar kebelakang, tahu-tahu sebatang kong-pian sudah meng-anCam mukanya.

Buru-buru dia menangkis dengan goloknya, tapi gempuran kong-pian begitu dahsyatnya hingga

goloknya terlempar lepas dari tangannya. Dengan sebat, dia lemparkan tubuh untuk

bergelundungan ditanah, tapi tak urung punggungnya kena didupak kaki lawannya.
Begitu bebas, Lou Ping kembali menyerbu kearah kereta yang nomor dua, terus disingkap

tendanya dan melongok kedalam.
„Siapa?” tanya suara dari dalam kereta itu.
Sungguh suara itu terasa begitu merdu merasuk kedalam kalbu Lou Ping.
Dengan serta merta ia loncat masuk dan mendekap orang didalam itu yang memang nyata adalah

Bun Thay Lay. Nyonya muda yang gagah itu, menangis tersedu-sedu karena girang dan terharu.

Bun Thay Lay pun terharu kegirangan, hanya karena tangan dan kakinya diborgol dia tak dapat

berbuat apa-apa.
Di-tengah-tengah pertempuran berdarah itu, sepasang suami isteri itu tak menghiraukan

apa-apa keCuali hanya menumpahkan perasaan masing-masing.
„Suko, kita antar kau pulang!” tiba-tiba berbareng dengan gontyang nya kereta, Ciang Bongkok

melompat kedalam dan terus duduk ditempat kusir. Dan kereta segera akan dilarikan kejurusan

utara.
Beberapa si-wi dengan nekad Coba akan menyerbunya, tapi dihadang oleh Seng Hiap, Jun Hwa, Su

Kin dan, Ciu Ki berempat. Apa boleh buat, kawanan si-wi itu mundur, lalu perintahkan barisan

serdadu untuk melepas panah.
Karena malam gelap, sebatang anak panah berhasil me nanCap dipundak Seng Hiap yang segera

menyerit kesakitan.
„Pat-ko, kau bagaimana?” tanya Jun Hwa.
Dengan digigit pakai gigi, panah itu telah diCabutnya sendiri. Lalu Su Kin menggerung

keras-keras:
„Akan kubasmi kawanan budak itu !”
Tanpa hiraukan lukanya, dia terdyang kawanan serdadu itu. Jun Hwa pun ikutduaan mengamuk,

hingga dalam beberapa saat ada tujuh delapna serdadu yang roboh. Lain-lainnya terus

melarikan diri, dikejar oleh kedua orang Hong Hwa Hwe tersebut. Sedang dari arah sana, Beng

Kian Hiong dan An Kian Kong sudah siap menyambutnya. Sekali lepas pelurunya, Kian Hiong

telah berhasil merobohkan beberapa orang, ada yang matanya luka, hidungnya bengkok dan

lain-lain. Keadaan makin gaduh tak karuan.
Su Kin dan Ciu Ki melindungi kereta, sedang Ciang Bongkok menghentikan kereta itu pada

sebuah tanyakan untuk melihat pertempuran antara ketuanya dengan pemimpin kawanan kuku

garuda.
„Bagaimana pertempuran itu?” tanya Thay Lay.
„Congthocu sedang tempur Ciauw Cong,” sahut Lou Ping.
„Apa, Congthocu?” menegasi suaminya.
„Kau tak tahu, bahwa siaothocu sekarang sudah menjadi Congthocu kita,” sahut sang isteri.
„Bagus kalau begitu. Manusia Thio Ciauw Cong itu sangat lihai, jangan sampai Congthocu kena

apa-apa dengan dia,” kata pula Thay Lay dengan, kuatir.
Lou Ping melongok keluar dari tenda untuk melihat ja lannya pertempuran.
„Apa thocu sanggup melajaninya?” kembali Bun Thay Lay utarakan kekuatirannya.
„Senjata dari Cong-thocu1 lihai sekali. Tangan kiri memegang tun-Pai (perisai atau tameng),

dan yang kanan lima utas tali yang berujung bola baja. Coba dengarlah bagaimana bola itu

Menderu-deru suara samberannya.”
„Apa, ujungnya diikat dengan bola baja? Jadi dia bisa pakai tali untuk menotok jala.n

darah?” menegasi Bun Thay Lay.
„Ha, Ciauw Cong kini dikepung oleh kelima tali Congthocu!” seru Lou Ping.
„Apakah tenaga thocu Cukup kuat?” tanya suaminya. „Rupanya samberan talinya sudah mulai

pelahan.”
Lou Ping tak menyahut, tiba-tiba ia berjingkrak dan berseru keras: „Bagus, pedang Ciauw Cong

terkait oleh tun-Pai, bagus, bagus, sabetan tali kali ini tentu berhasil. Aja, Celaka !”
„Bagaimana?” sela Thay Lay.
„Pedang orang itu ternyata sebuah pokiam. Dua buah gaetan dari tun-Pai itu telah terpapas

kutung. Ah, Celaka talipun tersabet kutung bagus, hai, serangan itu luput. Celaka, gaetan

kembali putus, kini Cong-thocu pakai tangan kosong untuk melajaninya, wah, manusia itu kejam

sekali. Bagus, kini Bu Tim totiang maju. Cong-thocu mundur.”
Mendengar itu legahlah hati Bun Thay Lay. Dia tahu bahwa tojin itu ilmu pedangnya lihai

sekali. Selama mendengari keterangan jalannya pertempuran itu tadi, Bun Thay Lay sampai

mengeluarkan keringat dingin karena menguatirkan keselamatan pemimpinnya.
Pada lain saat terdengarlah suara tereakan yang mengagetkan dari orang banyak-banyak, maka

bertanyalah Bun Thay Lay pada isterinya.
„Totiang mengeluarkan ilmu permainannya Tui-hun to-beng-kiam, santernya bukan main, Ciauw

Cong selalu main mundur-mundur saja,” kata Lou Ping.
„Coba lihatlah,, apakah kakinya itu masih menginyak pada langkah pat-kwa?”
„Ah, dia melangkah ke kian-wi, kini ke kian-kiong lalu menginyak Cin-wi, benarlah, bagaimana

kau bisa menge tahuinya?” tanya Lou Ping dengan heran.
„Manusia itu bugenya tangguh sekali, kujakin dia tentu bukan mundur sewajarnya. Dalam salah

satu jurus ilmu pedang kaum Bu Tong Pai ada yang di gunakan untuk melelahkan tenaga musuh

dengan main mundur-mundur setelah itu baru balas menyerang. Sekarang dia tentu akan

menginyak kelangkah pat-kwa, sayang , sayang !”
„Sayang apa?” tanya sang isteri.
„Sayang aku tak dapat menyaksikan. Orang yang bisa men jalankan ilmu pedang itu, tentu

sempurna sekali kepandaian nya. Dmu itu baru dikeluarkan bila betul-betul bertanding dengan

musuh yang tangguh. Pertempuran seperti itu, jarang sekali kita bisa menyaksikannya.”
„Totiang kini gunakan ilmu tendangan lian-hoan-bi-jong-thui yang lihai tak tertara, koko!”

tiba-tiba Lou Ping berseru.
„Ja, karena dia kekurangan sebelah tangan, maka dia jakinkan kakinya dengan sempurna untuk

menutup kekurangan itu. Kuingat, ketika bertempur dengan kaum Ceng Ki Pang, diapun gunakan

ilmu tendangan itu untuk menga lahkannya,” kata Bun Thay Lay.
Kiranya semasa mudanya Bu Tim Tojin telah penuh berkeCimpung dalam pertempuran.

Banyak-banyaklah sudah dia melakukan gerakan besar. Bugenya lihai, ambeknya tinggi. Kawanan

pembesar betul-betul tobat terhadapnya. Tetapi ketika pada suatu hari dia berjumpa dengan

seorang gadis dari keluarga seorang pembesar, entah apa sebabnya, dia telah jatuh hati.

Gadis itu sebenarnya tak mau membalas Cinta nya, tapi karena mendapat anyuran ayahnya, ia

pura-pura mau menerima kunyungan Bu Tim pada suatu malam.
„Kau sebenarnya tak sungguh-sungguh menyintai aku,” demikian gadis itu mainkan aksinya.
DiCengkeram oleh asmara yang ber-kobardua, Bu Tim bersumpah kerak-keruk. Gadis itu tetap

tertawa :
„Kaum lelaki itu, memang mudah saja mengucapkan sumpah. Kalau kau betul-betul Cinta padaku,

kau kutungilah sebelah tanganmu.”
Tanpa berpikir panyang , pemuda yang dimabuk asmara itu, segera menCabut pedang dan menabas

kutung lengan kirinya. Berbareng pada saat itu, keluarlah barisan bayhok kawanan polisi,

untuk merejengnya. Karena sakitnya, Boe Tim pingsan tak sadarkan diri, dan dengan mudah

dapatlah dia ditawan.’ Boe Tim di jatuhi hukuman panggal kepala.
Ketika saudara seperguruannya mengetahui, mereka ber sarekat dengan orang-orang gagah untuk

merampok penyara dan menolongnya. Juga sigadis sekeluarga ditawan untuk menunggu putusan Bu

Tim. Orang menduga Bu Tim tentu akan bunuh mati mereka atau tetap akan memperisterikan gadis

tersebut. Tapi ternyata tidak demikian. Melihat wajah gadis yang diCintainya itu, hati Boe

Tim luluh. Disuruhnya melepaskan gadis dan keluarganya semua, dan dia dengan diam-diam pergi

dari kota kediamannya itu, ia mengasingkan diri dan tirakat menjadi imam.
Sekalipun sudah menyuCikan diri, namun adatnya masih belum berobah. Karena itu dia diminta

menjadi pembantu dari Ie Ban Thing yang waktu itu mulai mendirikan Hong Hwa Hwe
Pada suatu ketika Hong Hwa Hwe telah bentrok dengan Ceng Ki Pang. Dan kedua fihak sama-sama

setuju menCari penye lesaian dengan adu silat. Kaum Ceng Ki Pang mengejek Bu Tim hanya

bertangan satu. Karena marahnya, Bu Tim sumbar minta dikerojok. Dan benar, malah dengan

mengikat tangannya yang tinggal satu itu dengan tali dia gunakan ilmu tendangan

‘lian-hoan-bi-jong-tui’ yang lihai itu untuk merobohkan beberapa jago fihak musuhnya.

Melihat itu fihak Ceng Ki Pang merasa kagum dan menyatakan menggabung dalam Hong Hwa Hwe

Thiat-tha Nyoo Seng Hiap sebenarnya dulu adalah orang Ceng Ki Pang. Di Hong Hwa Hwe kini dia

menduduki kursi no. delapan.
Baiklah hal itu kita tinggalkan dulu dan menenengok keadaan Lou Ping yang menjadi juru

bicara untuk suami nya mengenai jalannya pertempuran itu. Katanya :
„Tindakan kaki Ciauw Cong kini agak kalut melajani tendangan totiang. Sekarang dia sudah

menginyak jalan pat-kwa”.
„Bagus, dia belum pernah bertemu dengan tandingannya.
Kali ini tentu Ciauw Cong mengetahui sampai dimana-mana kelihaian orang-orang Hong Hwa Hwe

kita.” kata Thay Lay.
Tapi pujian itu telah dijawab dengan tefeakan : „Celaka” dari Lou Ping, sudah tentu Bun Thay

Lay kaget dan Buru-buru menanyakannya.
„Totiang telah sibuk berkelit kesana sini, orang itu entah sedang melepas senjata rahasia

apa, rupanya sangat kecil sekali!” sahut sang isteri.
Bun Thay Lay pusatkan perhatiannya untuk mendengarkah dan ternyata suara yang bersiutan itu

lemah sekali kedengarannya.
„Ah, itulah jarum hu-yong-Ciam dari Bu Tong Pai yang paling lihai !” tiba-tiba serunya.
Dalam pada itu, karena berhenti ditanyakan, maka kereta itu mundur beberapa tombak

kebelakang. Kemudian lagi-lagi Lou Ping berkata :
„Totiang telah memutar pedangnya bagaikan kitiran Ce-patnya. Jarumdua itu satupun tak ada

yang mengenai. Kini keduanya bertempur lagi, dan kembali totiang menang angin. Tapi Ciauw

Cong sangat kuat dalam pemaelaan.”
Bun Thay Lay segera minta isterinya membuka tali ikatan kaki dan tangannya. Karena itu

barulah Lou Ping ingat, lekas-lekas ia melakukan apa yang diminta. Tiba-tiba diluar

terdengar suara gemerentyang yang keras sekali, maka Buru-buru Lou Ping melongok keluar.
„Wah, Celaka, pedang totiang telah dipatahkan. Orang she Thio itu betul-betul lihai. Eh,

koko, aku telah memperoleh seekor kuda bagus untukmu,” dalam suasana yang mendesak itu

tiba-tiba ia teringat akan kuda putihnya.
„Ah, salah, mengapa harus ter-Buru-buru . Coba kau lihat lagi totiang”, kata Bun Thay Lay

dengan tersenyum.
„Kali ini totiang berhasil menendang paha lawan, dan orang itu mundur beberapa tindak dan

kini Tio samko yang melajani”.
„Totiang sekalipun sudah menjadi orang beribadat, tapi adatnya masih suka umbar kemarahan

dengan memaki-maki. Kau tuntun aku keluar, kuduga Tio samko tentu akan adu senjata rahasia

dengan Ciauw Cong”.
Lou Ping sedianya akan menuntunnya tapi terjata luka dipaha dan lengan suaminya itu begitu

hebat, hingga dia sampai menyerit ketika akan berbangkit. Lou Ping minta suaminya supaya

mengasoh didalam kereta itu saja, biar ia yang menyampaikan tentang jalannya pertempuran

itu.
Bun Thay Lay pernah mejakinkan „am ki thing hong sut”, mendengarkan samberan angin dari

senjata rahasia. Maka begitu ada semaCam bunyi menderu lantas dia mengatakan bahwa itulah

„siu-Cian” (panah kecil) dan lain saat ia berseru : „Ah, itulah hui-hong-Ciok (batu belalang

terbang).”
„Bukan, tadi dia menyambuti semua senjata rahasia yang dilepaskan oleh Tio samko, dan kini

dia mengemba likannya. Ah, samko betul-betul mempunyai seribu tangan, bagaimana dalam

sekejap saja dia bisa sambitkan sekean banyak-banyak senjata rahasia. Ha, betul-betul

seperti hujan, kasihan, lebih baik orang she Thio lari sembunyi saja,” demikian Lou Ping.
Selama memberi komentar itu, Bun Thay Lay menampak bagaimana aju dan menarik wajah isterinya

itu, dan tanpa terasa hatinya bergontyang keras. Sampaidua dia terlunCur untuk memanggilnya.

Dengan bersenyum manis, Lou Ping berpaling kearah suaminya.
Sedang pada saat itu, Tio Pan San telah mengeluarkan senjata simpanannya, jakni yang satu

disebut „hui-liong-pik” dan yang lain „hui-yan-gin.” Dia arah lawannya dengan mengeluarkan

seluruh kepandaiannya.
Tio Pan San adalah orang UnCiu dari wilayah Ciatkang. Semasa kecilnya dia pernah ikut

ayahnya untuk berdagang ke Lam Yang, Didaerah Lam Yang itu dia merasa ketarik dengan semaCam

senjata karet dari penduduk peribumi yang kalau dilemparkan bisa kembali sendiri. Pan San

adalah murid dari Thay Kek Bun, keistimewaannya terletak dalam soal senjata rahasia.
Kesan dari senjata penduduk Lam Yang itu, telah mendorongnya untuk menCiptakan semaCam

senjata yang disebutnya „hui-liong-pik” atau naga melilit. Dan „hui-yan-gin” atau burung

walet perak itu, adalah juga dari hasil pejakinannya yang mendalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s