Kembalinya Sang Pendekar Rajawali -10b

Sejak tadi Nyo Ko memang merasa menyesal dan malu diri karena terlanjur berbuat
hal2 yang merusak nama baik Kwe Hu, tapi dituduh hehdak menggunakan anak bayi
itu untuk menukar obat baginya, hal ini betapapun dia tak dapat menerima, dengan
suara lantang ia berkata: “Dengan tekad bulat aku hendak merebut kembali adik
perempuanmu untuk dikembalikan kepada ayah-bundamu, kalau dikatakan hendak
kugunakan adikmu untuk menukar obat, hal ini sekali2 tidak pernah timbul dalam
pikiranku.
“Habis kemana perginya adik ku?” tanya Kwe Hu.
“Dia telah dibawa lari Li Bok-chiu, aku merasa malu karena tak berhasil merampas
nya kembali,” tutur Nyo Ko. “Tapi bila tenagaku sudah pulih dan tidak mati,
segera aku akan pergi mencarinya.”
“Hm Li Bok-chiu itu adalah paman gurumu, betul tidak?” jengek Kwe Hu. “Tadinya
kalian sembunyi di satu gua, betul tidak?”
“Benar, meski dia adalah paman guruku, tapi selamanya dia tidak akur dengan
guruku,” jawab Nyo Ko.
“Hm, tidak akur apa?” jengek Kwe Hu. “Tapi mengapa dia mau menuruti permintaanmu
dengan membawa adikku pergi menukar obat bagimu?”
Nyo Ko melonjak bangun dengan gusar, katanya “Kau jangan sembarangan omong nona
Kwe, meski aku Nyo Ko bukan manusia yang terpuji, tapi sama sekali tiada maksud
berbuat begitu.”
“Tiada bermaksud berbuat begitu? Hm, enak saja kau bicara,” jawab Kwe Hu.
“Gurumu sendiri yang mengatakan hal itu, memangnya aku yang fitnah dan
sembarangan omong?”
“Guruku bilang apa lagi?” tanya Nyo Ko.
Serentak Kwe Hu berdiri dan menuding hidung Nyo Ko, katanya: “Gurumu berkata
sendiri kepada paman Cu bahwa kau dan Li Bok-chiu sama2 berada di lembah sunyi
sana, dia minta paman Cu suka mengantarkan kuda merah milik ayah untuk
dipinjamkan padamu agar kau sempat membawa adikku ke Coat-ceng-kok untuk…. “
Kaget dan sangsi hati Nyo Ko, cepat memotong: “Benar, memang guruku mempunyai
maksud begitu agar aku mengantar adikmu ke sana untuk mendapatkan separoh obat
yang masih dipegang Kiu Jian-jio itu, tapi cara ini hanya untuk sementara saja
dan takkan membikin susah adikmu…”
“Adikku baru lahir sehari dan telah kau serah-kan kepada seorang iblis yang
kejam, masakah kau berani mengatakan takkan membikin susah adikku,” kata Kwe Hu
dengan gusar, “Kau ini bangsat keparat, manusia berhati binatang! Waktu kecilmu
kau terluntang-lantung sebatangkara dan cara bagaimana ayah-ibuku telah
memperlakukan kau? Kalau ayah ibu tidak memelihara kau hingga besar di
Tho-hoa-to masakah kau dapat menjadi seperti sekarang ini? Siapa tahu air susu
kau balas dengan air tuba, kau sekongkol dengan musuh dan ketika ayah – ibuku
kurang sehat, kau telah menculik adikku.”
Semakin mendamperat semakin beringas nona itu sehingga Nyo Ko sama sekali tidak
diberi kesempatan untuk membantah. Keruan tidak kepalang gusar dan dongkoInya
Nyo Ko, “bliik”, saking tak tahan ia terus jatuh pingsan di atas tempat tidur.
Selang agak lama, lambat-laun Nyo Ko siuman kembali, diiihatnya Kwe Hu masih
menatapnya dengan muka merengut dan segera mengomeli pula: “Hm, tak tersangka
kau masih mempunyai rasa malu, rupanya kaupun tahu kesalahan perbuatanmu yang
terkutuk itu.”
Nyo Ko menghela napas panjang, katanya: “Jika aku mempunyai pikiran begitu,
mengapa aku tidak membawa adikmu langsung ke Coat-ceng-kok saja.”
Racun dalam tubuhmu kumat dan tak dapat berjalan, makanya kau minta tolong paman
gurumu.” kata Kwe Hu. “Hehe, tapi maksud tujuanmu akhirnya toh gagal, biar
kukatakan terus terang, begitu kudengar permintaan gurumu kepada paman Cu,
segera kusembunyikan kuda merah itu sehingga muslihat jahat kalian guru dan
murid menjadi gagal total.”
“Baik, baik, apa yang kau suka katakan boleh silakan katakan saja, akupun tidak
ingin membantah.” kata Nyo Ko dengan mendongkol “Dan di mana guruku ? Ke mana
dia?”
Muka Kwe Hu tiba2 rada merah, katanya:” Huh, ini namanya gurunya begitu dengan
sendirinya muridnya juga begitu, gurumu juga bukan manusia baik2.”
Dengan gusar Nyo Ko melonjak bangun pula dan berkata: “Kau memaki dan menghina
aku, mengingat ayah-bundamu, takkan kupersoalkan pada-mu. Tapi mengapa mencerca
guruku?”
“Cis, memangnya kalau gurumu kenapa?” semprot Kwe Hu pula. “Soalnya dia sendiri
yang bicara secara tidak senonoh.”
Sudah tentu Nyo Ko tidak percaya Siao-liong-li yang dianggapnya suci bersih dan
polos itu dapat mengeluarkan kata2 yang tidak pantas segera ia balas mendengus
“Hm, besar kemungkinan pikiranmu sendiri tidak benar, maka ucapan guruku juga
kau terima dengan menyimpang.”
Sebenarnya Kwe Hu tidak ingin mengulangi perkataan Siao-liong-li, tapi ia tidak
tahan oleh olok2 Nyo Ko itu, tanpa pikir ia terus berkata:
“Gurumu bilang padaku: “Nona Kwe, hati Ko-ji sangat baik, hidupnya sebatangkara
dan menderita, kau harus meladeni dia dengan baik,” Lalu katanya pula: “Kalian
memang pasangan yang setimpal suruhlah dia melupakan diriku, sama sekali aku
tidak menyalahkan dia.”
Kemudian dia memberikan pula pedangnya padaku, katanya pedang ini bernama
Siok-Ii-kiam dan merupakan pasangan dengan Kun-cu-kiam milikmu. Apalagi namanya
kalau perkataannya ini bukan tidak senonoh.”
Setiap mendengarkan suatu kalimat itu, setiap kali perasaan Nyo Ko seperti
disayat, pikirannya menjadi bingung, ia tidak tahu mengapa Siao-liong-li
mengemukakan ucapan begitu. Habis Kwe Hu ber-kata, pelahan ia angkat kepalanya,
mendadak matanya memancarkan cahaya aneh, bentaknya gusar.
“Kau berdusta, kau penipu. Mana mungkin guruku berkata begitu? Mana itu
Siok-li-kiam? Mana? jika tak dapat kau perlihatkan, maka jelas kau berdusta?”
Kwe Hu mendengus, mendadak sebelah tangan mengeluarkan sebatang pedang dari
belakang punggungnya, pedang itu hitam mulus, jelas itulah Siok li kiam yang
diperoleh di Coat-ceng-kok itu”
Tidak kepalang rasa kecewa Nyo Ko, bicaranya sudah tanpa pikir lagi, segera ia
berteriak: “Siapa ingin menjadi pasangan setimpal dengan kau? Kun-cu-kiamku
sudah patah, Pedang ini memang betul milik guruku, pasti kau mencurinya, ya, kau
mencurinya ya, kau mencurinya!”
Sudah sejak kecil Kwe Hu sangat dimanjakan, sekalipun ayah-bundanya juga mau
mengalah padanya, apalagi kedua saudara Bu, mereka munduk2 belaka terhadap si
nona, sekarang Nyo Ko bicara sekasar ini padanya, tentu saja ia tidak tahan.
Apalagi nada ucapan Nyo Ko itu se-akan2 menuduh-nya sengaja mengarang ucapan
Siao-liong-li itu agar si Nyo Ko mau menjadi pasangannya dan si Nyo Ko justeru
tidak sudi.
BegituIah segera Kwe Hu pegang pedangnya, dia bermaksud meloiosnya terus
menabas, tapi segera timbul keinginannyaakan membikin panas hati Nyo Ko, ia tahu
anak muda itu sangat menghormat dan mencintai gurunya, kalau kejadian ini
diceritakannya pasti anak muda itu akan marah setengah mati. . .
Dalam keadaan murka sama sekali Kwe Hu tidak menimbang lagi bagaimana akibatnya
jika dia menguraikan apa yang hendak dikatakannya itu. Segera ia masukkan
kembali pedang yang sudah hampir ditotoknya tadi, lalu berduduk dan berkata
dengan tertawa dingin:
“Ya, gurumu memang cantik dan tinggi pula ilmu silatnya, sungguh wanita yang
jarang ada bandingannya di dunia ini, Cuma saja, ada sesuatu yang tidak beres.”
“Sesuatu apa yang tidak beres?” tanya Nyo Ko, “cuma kelakuannya tidak beres,
suka bergaul secara sembunyi2 dengan kaum Tosu Coan-cin-kau,” tutur Kwe Hu.
Dengan gusar Nyo Ko menyanggah: “Guruku bermusuhan dengan Coan-cin-kau, mana
mungkin berhubungan secara gelap dengan mereka?”
Kalimat bergaul secara sembunyi yang kukatakan ini sesungguhnya masih terlalu
sopan, malahan ada lainnya lagi yang tidak pantas diucapkan anak perempuan
seperti diriku ini” kata Kwe Hu pula dengan tertawa dingin.
Nyo Ko tambah gusar, teriaknya: “Guruku suci bersih, jika kau sembarangan omong
lagi, awal kalau mulutmu tidak kuremas.”
Akan tetapi Kwe Hu tetap dingin2 saja dan berkata: “Ya, dia berani berbuat, aku
yang berani mengatakan Huh, bagus amat nona yang suci bersih, tapi bergaul
dengan seorang Tosu busuk.” .
“Apa katamu?” hardik Nyo Ko dengan muka merah padam.
“Aku mendengar dengan telingaku sendiri, masakah bisa keliru?” kata Kwe Hu pu!a,
“Enam orang Tosu Coan-cin-kau berkunjung kepada ayahku, tatkala mana dalam kota
sedang kacau menghadapi serangan musuh, ayah ibu kurang sehat dan tidak dapat
menemui mereka, maka akulah yang menyambut tetamunya….”
“Lantas bagaimana?” bentak Nyo Ko pula dengan gusar.
Melihat mata anak muda itu melotot merah, otot hijau sama menonjol di dahinya,
Kwe Hu bergirang karena tujuannya tercapai, dengan ber-seri2 ia berkata pula:
“Kedua Tosu itu masing2 bernama Tio Ci-keng dan In Cipeng, ada tidak Tosu Coan
-cinkau yang bernama begitu?”
“Kalau ada lantas bagaimana?” bentak Nyo-Ko pula.
Dengan tersenyum Kwe Hu menyambangi “Setelah kuatur pondokan untuk mereka, lalu
aku tidak mengurus mereka lagi, Siapa duga tengah malam seorang murid Kay pang
melapor padaku, katanya kedua Tosu itu sedang bertengkar sendiri di dalam
kamar.”
Nyo Ko mendengus sekali, ia pikir Ci-keng dan Gi-peng memangnya tidak akur satu
sama lain, bahwa mereka bertengkar kenapa mesti diherankan?
Dalam pada itu Kwe Hu sedang menutur pula: “Karena ingin tahu, diam2 aku
mendekati jendela kamar mereka, kulihat mereka tidak berkelahi lagi, tapi masih
ribut mulut. Orang she Tio bilang orang she In, berbuat begini dan begitu dengan
gurumu, sedangkan Tosu she In itu tidak menyangkal hanya menyesalkan temannya
itu tidak seharusnya bergembar-gembor…”
Mendadak Nyo Ko berbangkit dan duduk di tepi tempat tidur sambil membentak:
“Berbuat begini dan begitu apa maksudmu?”
Muka Kwe Hu tampak merah, sikapnya rada kikuk untuk menjawab, katanya kemudian:
“Mana aku tahu? Yang pasti masakah, perbuatan yang baik? Apa yang dilakukan guru
kesayanganmu itu hanya dia sendiri yang tahu.”
Nadanya penuh mengandung perasaan jijik dan menghina.
Saking gusar dan gugupnya, pikiran Nyo Ko menjadi kacau, tanpa pikir sebelah
tangannya terus menampar, “plok”, dengan tepat pipi Kwe Hu kena ditempeleng.
Dalam keadaan gusar, pukulan Nyo Ko itu cukup keras, keruan mata Kwe Hu
ber-kunang2 dan sebelah pipinya lantas bengkak, kalau saja Nyo Ko tidak habis
sakit, mungkin giginya rontok digampar oleh anak muda itu.
Selama hidup Kwe Hu mana pernah terhina secara begitu? sesungguhnya dia tidak
tahu bahwa Siao-liong-li adalah satu2nya orang yang paliug dihormati dan
dicintai Nyo Ko, mencemar nama baik Siao-liong-li adalah melebihi dia ditusuk
pedang tiga kali. Tapi Kwe Hu juga seorang nona yang tidak pikir apalagi jika
sudah murka, segera dia melolos Siok-li-kiam terus menusuk ke leher Nyo Ko.
Habis menampar Kwe Hu, Nyo Ko pikir persoalan ini pasti sukar diselesaikan, nona
ini adalah puteri kesayangan paman dan bibi Kwe, seumpama mereka tidak
menyalahkan dia, rasanya juga tidak betah tinggal lebih lama di kota ini.
Karena ia lantas turun hendak memakai sepatu dan ketika itulah dilihatnya pedang
Kwe Hu menusuk tiba, Sambil mendengus sebelah tangan Nyo Ko meraih dan tangan
yang lain terus menutuk dan memegang, dengan mudah saja Siok-Ii-kiam itu dapat
direbutnya.
Ber-turut2 kecundang, Kwe Hu tambah murka? dilihatnya di atas ranjang ada pula
sebatang pedang, ia terus menubruk maju dan merampasnya, segera pedang itu
dilolosnya terus ditabaskan ke kepala Nyo Ko.
Seketika pandangan Nyo Ko menjadi silau tidak kepalang kagetnya melihat nona itu
menabas-nya dengan Ci-wi-kiam, ia tidak berani merebutnya dengan tangan,
sebisanya ia angkat Siok- li-kiam untuk menangkis.
Tak terduga karena dia habis sakit selama tujuh hari, tenaga belum pulih, baru
saja Siok li kiam terangkat sedikit segera lengannya tidak sanggup terangkat
lebih tinggi lagi.
Sementara itu tabasan pedang Kwe Hu sudah tiba, “Trang”, kedua pedang beradu,
Sioklikiam kutung menjadi dua. Kwe Hu sendiri terkejut, sama sekali tak
disangkanya Ci-wi-kiam itu begitu lihay. Dalam keadaan unggul dan dendam atas
tamparan Nyo Ko tadi.
Kwe Hu pikir biarpun kubunuh kau juga rasanya ayah-ibu takkan menyalahkan aku
mengingat jiwa adikku juga dicelakai olehmu, Ketika itu kaki Nyo Ko juga terasa
lemas dan jatuh terduduk di lantai tanpa bisa melawan lagi, hanya tangan kanan
saja yang terangkat di depan dada untuk menjaga diri, tapi sorot matanya sama
sekali tiada menampilkan keinginan mohon dikasihani Kwe Hu menjadi gemas, segera
pedangnya ditabaskan lebih ke bawah lagi….
Bagaimana akibat dari tabasan pedang Kwe Hu itu merupakan kunci utama cerita ini
maka untuk sementara ini kita tinggalkan dahulu, Marilah kita kembali dulu pada
Siao-liong-li ketika dia menunggang kuda merah menyusul Nyo Ko dan Kim-lun
Hoat-ong, tapi dia telah kesasar ke jurusan yang lain.
Kuda merah itu teramat cepat jarinya, sekejap sudah belasan li jauhnya, ketika
dia putar balik, sementara itu Nyo Ko sudah menghilang di lembah pegunungan itu.
Tanpa kenal lelah Siao-liong-li terus mencari di sekitar Siangyang, Sampai
tengah malam barulah ia mendengar suara raung tangis Bu Sam-thong di kejauhan.
Cepat Siaoliong-li mencari ke arah datangnya suara, tidak lama dapatlah
didengarnya suara pertempuran kedua saudara Bu, menyusul terdengar pula suara
bicara Nyo Ko.
Tentu saja ia girang, ia kuatir Nyo Ko ketemukan musuh tangguh, maka ia ingin
membantunya secara diam2 saja, segera ia turun dari kudanya, ia tambat kuda
merah itu pada sebatang pohon, lalu merunduk ke sana dan sembunyi di balik
sepotong batu padas untuk mengintip cara bagaimana Nyo Ko menghadapi musuh.
Celakanya yang terdengar adalah ucapan Nyo Ko yang ber-ulang2 menyatakan sudah
dijodohkan dengan Kwe Hu, nona itu disebutnya sebagai bakal isterinya, Kwe Cing
dan Ui Yong dipanggilnya ayah dan ibu mertua. Didengarnya pula Nyo Ko mengaku
menerima ajaran ilmu silat secara diam2 dari Ui Yong, dilihatnya pula Nyo Ko
sangat marah kepada kedua saudara Bu, serta melarang kedua anak muda itu
kemudian menyebut nama Kwe Hu.
Begitulah setiap Nyo Ko mengucapkan hal itu, setiap kali pula Siao liong-Ii
seperti disambar petir, pikirannya menjadi kacau, dunia mendadak dirasakan
seperti sudah kiamat.
Kalau orang lain, tentu akan timbul rasa sangsinya melihat kata dan perbuatan
Nyo Ko itu sama berbeda, namun Siao-liong li memang orang yang lugu, hatinya
bersih, pikirannya sederhana, sedikitpun tidak paham seluk beluk kepalsuan
kehidupan manusia.
Biasanya Nyo Ko juga tidak pernah membual sedikitpun padanya sekalipun terhadap
orang lain anak muda itu memang suka juga, sebab itulah Siao-liong-li menaruh
kepercayaan penuh terhadap apa yang diucapkan Nyo Ko.
Begitulah ketika melihat kedua Bu cilik bukan tandingan NyoKo, Siao-liong-Ii
yang sedang berduka dan menyesali nasibnya itu tanpa terasa mengeluarkan suara
tarikan napas panjang sebagaimana yang didengar oleh Nyo Ko itu sehingga dia
hampir saja berseru memanggilnya. Pada saat itu juga Siao-liong-li lantas pergi
dengan berlinangan air mata.
Sambil menuntun kuda merah itu Siao-liong-li berkeliaran semalaman di ladang
sunyi itu, pikirannya kacau dan bingung. Usianya sudah lebih 20 tahun, tapi
selama hidupnya berdiam di dalam kuburan kuno itu, seluk-beluk kehidupan manusia
sedikitpun tidak dipahaminya, hakekatnya jalan pikirannya masih polos dan bersih
seperti anak kecil. ia pikir: “Nyo Ko sudah terikat jodoh dengan nona Kwe,
dengan sendirinya tak dapat menikahi diriku lagi. Pantas Kwe-tayhiap
suami-isteri ber-ulang2 merintangi hasrat Ko-ji yang ingin menikahi aku, Bahwa
selama ini Ko-ji tidak memberitahukan padaku tentang ikatannya dengan nona Kwe,
tentunya karena dia kuatir aku akan berduka, Ai dia memang sangat baik padaku.”
Begitulah lantaran dia juga mencintai Nyo Ko, walaupun dengan mata telinga
sendiri mendengar anak muda itu mengatakan hendak menikah dengan Kwe Hu, namun
ia tidak dendam sedikitpun kepada anak muda itu, ia hanya berduka dan menyesali
nasibnya sendiri Malahan lantas terpikir lagi olehnya: “Sebabnya Ko-ji tidak
cepat2 membunuh Kwetayhiap untuk membalas sakit hati kematian ayahnya, kiranya
persoalan nona Kwe inilah yang membuatnya bimbang, jika begitu tampaknya dia
juga sangat baik kepada nona Kwe. Kalau sekarang kuberikan kuda merah ini
padanya, bisa jadi dia akan teringat lagi kepada kebaikanku dan perjodohannya
dengan nona Kwe mungkin akan terganggu lagi. Rasanya lebih baik kupulang
sendirian saja ke kuburan kuno itu, dunia yang fana ini cuma membikin kacau dan
membingungkan pikiranku saja.”
Setelah berpikir pula, akhirnya ia membulatkan tekad, meski hatinya terasa
di-sayat2, cintanya kepada Nyo Ko terasa berat sekali untuk diputuskan, tapi
terpikir pula olehnya menyelamatkan jiwa anak muda itu terlebih penting.
Karena itulah malam itu juga dia pulang ke Siangyang dan minta pertolongan Cu
Cu-liu agar suka mengantarkan kuda merah kepada Nyo Ko yang masih berada di
lembah sunyi itu.
Waktu itu Siangyang belum tenang kembali, Kwe Cing serta Ui Yong belum sehat
pula, maka tugas pertahanan kota diurus oleh Loh Yu-kah dibantu oleh Cu Cu-liu.
Di tengah kemelut itulah Siao-liong-li membawa kuda merah datang pada Cu Cu-liu
dan minta bantuannya mengantar kuda itu kepada Nyo Ko agar anak muda itu lekas
pergi ke Coatcengkok dan menukar obat penawar dengan bayi yang baru dilahirkan
Ui Yong. Sudah tentu Cu Cu-liu merasa bingung oleh penuturan yang tak diketahui
awal mulanya itu, la, coba bertanya lebih jelas, tapi Siao liong li sendiri
sedang kesal dan tidak ingin banyak bicara, dia hanya mendesak Cu Cu-liu lekas
berangkat, katanya kalau terlambat bisa jadi jiwa Nyo Ko akan melayang.
Sama sekali Siao-liong-li tidak pedulikan bahwa waktu itu Kwe Hu juga berada di
sebelah Cu Cu-liu, ia pikir adikmu itu dibawa sementara ke Coat-ceng-kok, tentu
tidak beralangan, apalagi demi menyelamatkan jiwa bakal suamimu.
Biasanya Siao-Iiong-li dapat menguasai perasaanya, suka atau duka jarang
dipikirkan olehnya, tapi sejak jatuh cinta kepada Nyo Ko, segala ilmu menguasai
perasaan sendiri yang dilatihnya sejak kecil hampir tak dapat digunakan lagi,
guncangan perasaannya bahkan jauh lebih hebat daripada orang biasa.
Maka sesudah memberi pesan kepada Cu Cu liu lantaran beberapa kali menyebut nama
Nyo Ko, tanpa terasa air matanya lantas bercucuran, cepat ia lari kembali
kekamar sendiri dan menangis sedih di tempat tidur.
Biarpun Cu Cu-liu adalah seorang cerdik pandai, tapi lantaran tidak tahu
seluk-beluknya persoalan, uraian Siao-Iiong-li yang tak keruan juntrungannya itu
membuatnya bingung. Tapi ingat bahwa kalau terlambat bisa jadi jiwa Nyo Ko akan
melayang”, ia pikir terpaksa harus cepat ke lembah itu dan bertindak menurut
keadaan di sana.
Tetapi ketika dia mau berangkat ternyata kuda merah yang dibawakan Siao-liong-Ii
itu sudah hilang, waktu ditanyakan penjaga, katanya nona Kwe yang membawanya
pergi. Ketika Kwe Hu dicari bayangan nona itupun tak dapat diketemukan.
Karena menguatirkan keselamatan Nyo Ko, terpaksa Cu Cu-liu menunggang kuda lain
dan membawa belasan anggota Kay-pang menuju ke lembah yang ditunjuk
Siao-liong-li itu. Di situ dilihatnya Nyo Ko dan ayah beranak keluarga Bu itu
sama menggeletak tak bisa berkutik.
Cepat mereka dibawa pulang ke Siangyang dan kebetulan paman gurunya, yaitu si
paderi Hindu datang dari negeri Tayli, paderi inilah yang menyadarkan Nyo Ko dan
lain2.
Begitulah Siao-liong-li terus menangis di kamarnya, makin dipikir makin sedih,
air matapun sukar dibendung lagi sehingga membasahi baju dan tempat tidurnya, ia
bermaksud mengambil saputangan untuk mengusap air mata, tiba2 tangannya
menyentuh Siok-li-kiam yang terselip di tali pinggangnya.
Tiba2 timbul pikirannya akan memberikan pedang itu kepada Kwe Hu agar nona itu
dan Nyo Ko benar2 menjadi suatu pasangan yang setimpal. Maklumlah, Siao-liong-li
teramat cinta kepada Nyo Ko, segala apa yang bermanfaat bagi anak muda itu rela
dilakukannya Karena itulah ia lantas menuju ke kamar Kwe Hu.
Tatkala itu sudah lewat tengah malam, Kwe Hu sudah tidur, Tanpa mcngetok pintu
segala segera Siao-liong-ii membuka daun jendela dan melompat masuk ke kamar
serta membangunkan Kwe Hu serta mengatakan “kalian memang pasangan setimpal
sebagaimana diuraikan kembali oleh Kwe Hu kepada Nyo Ko itu. setelah menyerahkan
Siok-li-kiam kepada Kwe Hu segeru Siao-liong-li tinggal pergi.
Sudah tentu Kwe Hu ter-heran2 dan bertanya apa yang dimaksud, Namun Siao-Iiong
li tidak menjawab terus melompat keluar jendela pula.
“Kembalilah, Liong-kokoh!” cepat Kwe Hu teriaknya sambil melongok keluar, tapi
terlihat Siao-liong-li sudah melangkah pergi tanpa berpaling pula.
Dengan menunduk kepala menahan rasa sedih Siao-liong-li masuk ke taman bunga,
bau bunga mawar yang sedang mekar mewangi mengingatkan dia ketika bersama Nyo Ko
berlatih Giok-li-sim-keng diseling oleh semak2 bunga dahulu. Untuk berkumpul
lagi seperti dahulu itu rasanya sukar terjadi lagi.
Selagi melayang pikirannya, tiba2 dari pojok rumah di sebelah kiri sana ada
seorang sedang ber-kata: “Kau sebentar2 mengucap Siao-liong-li, apakah kau tidak
dapat berhenti menyebutnya?”
Keruan Siao-liong-li terkejut, ia heran siapakah yang selalu menyebut namaku?
Segera ia berhenti di situ untuk mendengarkan lebih cermat.
Segera terdengar pula suara seorang lain tertawa mengejek dan berkata: “Kau
sendiri boleh berbuat, masakah aku tidak boleh menyebutnya?”
Terdengar orang- pertama tadi -menjawab: “lni adalah rumah orang lain, mata
telinga teramat banyak kalau didengar orang lain, ke mana lagi nama baik
Coan-cin-kau kita akan ditaruh?”
“Hehe, ternyata kau masih ingat kepada nama baik Coan-cin-kau kita?” jengek pula
orang kedui tadi, “Hehe, malam itu di tepi semak bunga mawar di Cong-lam-san,
rasa nikmat naik surga itu …. Wah, hahahaha!” Sampai disini ia hanya terkekeh2
saja dan tidak melanjutkan.
Siao-liong-Ii tambah kaget dan sangat curiga, ia pikir apakah mungkin malam itu
waktu Ko-ji melaksanakan cintanya padaku telah dapat diintip oleh kedua Tosu
ini?
Dari suara kedua orang itu Siao-liong-li sudah tahu mereka adalah In Ci-peng dan
Tio Ci-keng. Maka diam2 ia mendekati jendela rumah itu dan berjongkok di situ
untuk mendengarkan lebih Ianjut.
Sementara itu suara bicara kedua orang itu berubah menjadi lirih, tapi jarak
Siao-liong-li sekarang sangat dekat, pendengarannya tajam pula, biarpun kedua
orang bisik2 cara bicaranya juga dapat didengarnya dengan jelas.
Terdengar Ci-peng lagi berkata: “Tio-suheng, setiap hari siang dan malam kau
selalu menyiksa aku, sebenarnya apa tujuanmu?”
“Kau sendiri paham, masakah perlu kuterangkan?” jawab Ci-keng.
“Apa yang kau kehendaki dariku telah kusanggupi aku cuma memohon urusan ini
jangan kau sebut lagi, tapi makin lama makin sering kau mengungkatnya, apakah
sengaja hendak menyiksa aku sampai mati seketika di depanmu sini?”
“Hm, akupun tidak tahu, yang jelas aku tidak tahan dan harus kuucapkan,” jengek
Ci-keng pula.
Mendadak In Ci-peng perkeras suaranya dan berkata: “Hm, memangnya kau kira aku
tidak tahu? Yang benar kau cemburu, kau cemburu padaku pada saat menikmati surga
dunia itu.”
Ucapan Ci-peng ini sangat aneh, Ci-keng ternyata tidak menjawab seperti hendak
mengejek, tapi tak terucapkan.
Selang sebentar kembali Ci-peng bicara lagi:
“Ya, memang benar, malam itu di balik semak2 bunga mawar itu dia tak bisa
berkutik karena Hiat-to tertutuk oleh Auyang Hong sehingga cita2ku dapat
terpenuhi. Ya, tidak perlu aku menyangkal didepanmu, andaikan tak kukatakan
padamu juga kau takkan tahu, betul tidak? Karena sudah terlanjur kuberitahukan
padamu, lalu kau terus menerus menggoda aku dan menyiksa pikiranku. Akan tetapi,
akan tetapi aku tidak menyesal, tidak, sedikitpun tidak menyesal….” sampai
akhirnya suaranya berubah menjadi halus dan lembut se-akan2 orang sedang
mengingat.
Sambil mendengarkan hati Siao-liong-li serasa mendelung ke bawah, otaknya serasa
mengingat “Masakah dia dan bukan Ko-ji yang kucintai itu? Tidak, tidak mungkin
pasti Ko-ji adanya, dia berdusta, dusta!”
Terdengar Ci-keng berkata pula dengan suara kaku dingin: “Ya, dengan sendirinya
kau tidak menyesal sedikitpun, sebenarnya kau tidak perlu katakan padaku, akan
tetapi saking senangnya karena kau telah melakukan hal itu dan merasa perlu
diutarakan pada seseorang. Nah, karena itu akupun membicarakan hal itu padamu
setiap hari, setiap saat aku mengingatkanmu, tapi mengapa kau menjadi takut
mendengarnya?”
Mendadak terdengar suara “blang-blung” beberapa kali, kiranya Ci-peng
mem-bentur2kan kepala sendiri pada tembok, lalu berkata: “Baiklah, bicaralah,
bicara lagi agar setiap orang di dunia ini tahu semua, akupun tidak takut. ..
.tidak… tidak…”
“O, Tio-suheng, aoa yang kau inginkan dariku sudah kusanggupi, yang kumohon
sukalah kau jangan mengungkapnya lagi.”
Dalam waktu yang singkat saja ber-turut2 Siao-liong-li mendengar dua pertanyaan
yang membuat hancur hatinya, seketika dia berdiri ter-mangu2 di luar jendela,
meski dapat mendengar jelas pembicaraan Ci-peng dan Ci-keng itu, tapi arti
percakapan mereka itu seketika sukar dipahami.
Sementara terdengar Ci-keng lagi berkata dengan tertawa: “Orang beragama seperti
kita ini sekali kejeblos harus dapat mengendalikan diri agar bisa kembali kearah
yang terang, bahwa senantiasa aku mengingatkanmu akan nama Siao-liong-li supayai
kau menjadi biasa mendengarnya dan kemudian menjadi jemu, dari jemu menjadi
benci, ini kan maksud baikku untuk menyelamatkanmu dari jalan tersesat.”
“Dia adalah jelmaan bidadari manabisa kujemu dan benci padanya?” ujar Cipeng,
Habis ini mendadak suaranya berubah keras: “Hm, tidak perlu kau bicara muluk2,
pikiranmu yang keji dan berbisa masakah aku tidak tahu? Yang benar adalah kau
iri kepadaku, kedua karena kau dendam pada Nyo Ko, kau ingin mengungkapkan
peristiwa ini untuk menghancurkan kehidupan mereka guru dan murid, menyesal
selama hidup.”
Hati Siao-liong-li berdetak keras demi mendengar nama Nyo Ko disebut, tanpa
terasa iapun menggumam pelahan nama anak muda itu dan timbul semacam perasaan
bahagia yang tak terhingga, dia berharap kedua Tosu akan terus membicarakan si
INyo Ko, asal ada orang menyebut nama anak muda itu maka gembiralan hatinya.
Terdengar Ci-keng juga perkeras suaranya dan berkata dengan gemas: “Hm, kalau
aku tak dapat membikin anak jadah itu sekarat, hm, rasanya tak terlampias
dendamku ini. Cuma.. cuma…”
“Cuma ilmu silatnya teramat tinggi dan kita bukan tandingannya begitu bukan?”
jengek Ci peng.
“ltuIah belum pasti,” kata Ci – keng. “Sedikit ilmu silat golongannya yang liar
itu kenapa mesti di-herankan? In-sute, boleh kau lihat saja. suatu ketika kalau
dia kepergok olehku, hm, tentu dia akan tahu rasa, tidak nanti kubiarkan dia
mati dengan enak saja, kalau bukan kedua biji matanya tentu akan kukutungi kedua
tangannya agar mati tidak hidup tidak, tatkala mana nonamu si Siao-liong-li itu
boleh menyaksikannya supaya senang hatinya.”
Siao-liong-li bergidik mendengar itu, kalau waktu biasa tentu dia sudah
menerjang ke situ dan menghabisi jiwa kedua orang itu, tapi sekarang pikirannya
lagi bingung, kaki tangan terasa lemas tak bertenaga. .
Sementara itu In Ci-peng sedang mendengus “Hm, kau cuma mimpi kosong belaka,
ilmu silat golongan kita rasanya sukar menandingi ilmu silat golongan liar macam
mereka itu.”
“Keparat, kau ada main dengan Siao-liong-li, lantas ilmu silatnya juga kan puji
setinggi langit,” damperat Cikeng.
Rupanya Ci-peng sudah kenyang dihina selama ini, sekarang iapun tidak tahan
lagi, segera ia balas membentak: “Apa katamu? Kau punya perasaan tidak, jadi
manusia harus tahu batas2 tertentu.”
Ci-keng merasa titik kelemahan orang sudah tergenggam dalam tangannya, asalkan
hal itu di-umumkan di Tiong-yang-kiong, akibatnya In Ci-peng pasti akan dijatuhi
hukuman mati, sebab itulah dia menghina In Ci-peng dengan segala macam cara dan
selama ini Ci-peng tak berani melawan Sedikitpun.
Tapi sekarang Ci-peng ternyata berani melawannya dengan kata2 kasar, ia menjadi
gusar, mendadak ia melangkah maju terus menggampar.
Ci-peng tidak menduga sang Suheng akan meng-hantamnya, cepat ia menunduk,
“plok”, dengan tepat kuduknya yang kena tampar.
Betapapun Ci-keng adalah jago kelas satu dari Coan-cin-kau angkatan ketiga,
tentu saja pukulanya itu cukup berat, tubuh Ci-peng sempoyongan dan hampir jatuh
terjerungkup. Saking gemasnya ia cabut pedang dan balas menusuk.
Tapi Ci-keng sempat mengegos ke samping dan mengejek: “Bagus, ternyata kau
berani bergebrak dengan aku.” Segera iapun mencabut pedangnya dan balas
menyerang.
“Setiap hari kau menyiksa aku, paling2 juga cuma mati, biarlah sekarang kau
bunuh aku saja dan bereslah segalanya,” ucap Ci peng dengan geram.
Habis itu ia terus melancarkan serangan, Dia adalah murid tertua Khu Ju-ki,
kepandaiannya dengan Tio Ci-keng tidak berbeda banyak, apa yang mereka pelajari
juga sama, maka sebenarnya sukar dibedakan unggul dan asot. Tapi lantaran
dendamnya sudah menumpuk, yang diharapkan sekarang biarlah mati bersama saja.
Akan tetapi Ci-keng mempunyai perhitungan lain, dia tidak mau mencelakai jiwa
Ci-peng, sebab itulah setelah dua-tiga puluh gebrakan, akhirnya Ci-keng sendiri
malah terdesak ke pojok kamar.
Dengan sendirinya suara pertengkaran kedua Tosu itu segera diketahui anggota
Kay-pang yang dinas jaga dan cepat pula dilaporkan kepada Kwe Hu. Lekas2 nona
itu mendatangi tempat itu, dilihatnya Siao-liong-li berdiri di luar jendela, ia
lantas menyapanya: “Liong-Kokoh!”
Siao liong-Ii berdiri ter-mangu2 saja di situ seperti tidak mendengar teguran
Kwe Hu itu.
Tentu saja Kwe Hu heran, iapun tidak lantas masuk ke rumah itu melainkan ikut
berdiri di situ, maka terdengarlah suara olok2 dan sindiran kasar Ci keng sambil
menangkis serangan Ci-peng, setiap ucapannya semuanya menyangkut diri
Siao-liong-li.
Sebagai nona muda yang sopan, Kwe Hu merasa tidak pantas berdiri di situ
mendengarkan kata2 kotor kedua orang yang bertempur di dalam rumah itu, segera
ia bermaksud tinggal pergi saja.
Tapi dilihatnya Siao-liong-li tetap berdiri terkesima, kata2 kotor kedua orang
itu se-akan2 tak dihiraukan-nya sama sekali, Kwe Hu menjadi heran, ia coba tanya
dengan suara pelahan: “Apakah betul apa yang mereka katakan itu?”
“Aku… akupun tidak tahu.” jawab Siao-liong-li dengan bingung, “Tampaknya
memang begitu.” .
Seketika timbul perasaan menghina dalam hati Kwe Hu, ia mendengus sekali terus
tinggal pergi tanpa bicara lagi.
Ci-peng dan Ci-keng tergolong jago silat pilihan, meski dalam pertempuran sengit
selera mereka mendengar ada suara orang bicara diluar, “Trang” begitu kedua
pedang beradu terus ditariknya kembali bersama dan serentak bertanya: “Siapa
itu?”
“Aku,” jawab Siao-liong-li.
Seketika seluruh badan Ci-peng merinding, ia menegas dengan suara gemetar “Kau?
Kau siapa?”
“Siao-liong-li!”
Begitu nama ini diucapkan, bukan saja In Ci-peng terkesima seperti patung,
bahkan Ci-keng juga kaget setengah mati dan menggigil ketakutan.
Dengan mata kepala sendiri Ci-keng menyaksikan betapa Siao-liong-li telah
mengobrak-abrik Tiong-yang-kiong, sampai paman gurunya yang lihay seperti Hek
Tay-thong juga kalah dan hampir saja mati bunuh diri.
Sama sekali ia tak menduga bahwa Siao-liong-li juga berada di Siangyang, ia
pikir ucapannya sendiri tadi besar kemungkinan telah didengar semua oleh si
nona. Seketika ia menjadi ketakutan setengah mati dan entah cara bagaimana harus
melarikan diri.
Perasaan In Ci-peng aneh luar biasa sehingga tak terpikir olehnya akan
menyelamatkan diri, sebaliknya ia terus membuka daun jendela, Dilihatnya di situ
berdiri seorang perempuan jelita berbaju putih, siapa lagi kalau bukan
Siao-liong-li yang dirindukannya siang dan malam itu.
“Kau….kau” Ci-peng menegas dengan melongok
“Benar, aku.” jawab Siao-liong-li. “Apa yang kalian katakan tadi apakah betul
seluruhnya?”
“Be…. betul” Ci-peng mengangguk, “Boleh kau bunuh saja diriku!”
Habis berkata ia terus menyodorkan pedangnya keluar jendela. Sorot mata
Siao-liong li memancarkan sinar yang aneh, hatinya pedih dan pilu tak
terperikan, begitu sedih dan begitu gemas, rasanya biarpun membunuh seratus
orang atau seribu orang juga dirinya bukan lagi seorang nona yang suci bersih
dan tak dapat lagi mencintai Nyo Ko secara mendalam seperti dahulu.
Ketika Ci-peng menyodorkan pedangnya, Siao-liong-li tidak menerimanya, ia hanya
pandang kedua Tosu itu dengan bingung.
Ci-keng melihat kesempatan baik, ia pikir perempuan ini dalam keadaan kurang
waras, mungkin sudak gila, kalau sekarang tidak lekas kabur hendak tunggu kapan
lagi? Maka cepat ia tarik Ci-peng dan berkata dengan menyeringai: “Lekas pergi
saja, tampaknya dia merasa berat untuk membunuh kau-“
Habis berkata ia menarik Ci-peng sekuatnya dan berlari keluar pintu sana.
Ci-peng menjadi linglung melihat wajah Siao-liong-Ii, seluruh badan terasa lemas
tak bertenaga, karena tarikan Ci-keng itu ia menjadi ter-huyung2 dan ikut
berlari keluar.
Cepat Ci-keng mengeluarkan Ginkangnya untuk berlari cepat, semula Ci-peng
ditarik oteh Ci-keng tapi segera iapun dapat mengeluarkan Ginkang sendiri. Kedua
adalah jagoan Coan-cin-pay angkatan ke tiga, maka lari mereka ini sungguh cepat
melebihi lari kuda, mereka menyusur kian kemari di jalan2 dalam kota, sebentar
saja mereka sudah sampai di pintu gerbang sebelah timur.
Di pintu gerbang itu ada penjaga belasan anggota Kay-pang dan dua regu
perajurit, anggota Kay-pang yang menjadi pemimpin kenal pada Ci-keng dan Ci-peng
sebagai Tosu dari Coan – cin – pay, bicara tentang kedudukan kedua Tosu itu
terhitung Suheng Kwe Cing, maka demi mendengar Ci-keng bilang ada urusan penting
harus keluar benteng, kebetulan waktu ku tiada serangan dari pasukan musuh, maka
cepat diperintahkan membuka pintu benteng.
Begitu pintu gerbang baru terbuka sedikit, cepat sekali Ci-keng lantas melompat
keluar disusul oleh Ci-peng, Selagi orang Kay-pang itu memuji kehebatan Ginkang
kedua Tosu itu, mendadak sesosok bayangan putih berkelebat keluar benteng pula,
dengan terkejut ia membentak: “Siapa itu?”
Namun bayangan orang itu sudah lenyap, waktu ia melongok keluar benteng, karena
fajar baru menyingsing, belasan meter di depan masih remang2 tertutup oleh
kabut, maka tiada sesuatupun yang kelihatan. Diam2 anggota Kay-pang itu
mengomel.
Ia pikir barangkali matanya sendiri yang mulai lamur sehingga pandangannya
kabur.
Ci-keng berdua masih terus berlari hingga belasan li jauhnya baru berani
melambatkan lari mereka.
Dengan kuatir dan bersyukur pula Ci-keng mengusap keringat dingin yang membasahi
dahinya sambil menggumam: “Wah, bahaya, sungguh bahaya!”
Tapi waktu ia berpaling ke belakang, tanpa terasa kakinya menjadi lemas, hampir
saja jatuh ter-jungkal. Kiranya tidak jauh di belakangnya itu sudah berdiri
seorang perempuan muda berbaju putih dan sedang memandangnya dengan melenggong,
siapa lagi dia kalau bukan Siau-liong-li.
Sungguh kaget Ci-keng tak terperikan, ia menjerit satu kali dan segera menarik
tangan Ci-peng untuk diajak lari pula, Sungguh tak tersangka olehnya bahwa
Siao-liong-li yang dikiranya sudah jauh ditinggalkan di kota Siangyang sana
tahu2 masih mengintil dibelakangnya, cuma cara berjalan nona itu tidak bersuara,
meski mengintil dalam jarak dekat juga tidak diketahuinya.
Sekaligus ia berlari agak jauh barulah dia coba menoleh ke belakang, dilihatnya
Siao-liong li menguntit di belakang dalam jarak tetap, seperti tadi.
Dengan pikiran bingung dan takut Ci-keng segera “tancap gas” lebih kencang
sambil menyeret Ci-peng. Dia tidak berani lagi sering2 menoleh, sebab setiap
kali memandang kebelakang, setiap kali pula hatinya bertambah takut, lambat-laun
kakinya mulai lemas, rasanya tangan yang memegangi lengan Ci-peng mulai tak
bertenaga lagi.
“ln-sute,” katanya kemudian, “kalau sekarang dia mau membunuh kita boleh
dikatakan sangat mudah, tapi dia tidak melakukan hal ini, kukira dia pasti
mempunyai maksud tertentu.”
“Maksud tertentu apa?” tanya Ci-peng. . ,
“Kukira dia ingin menawan kita, lalu membongkar perbuatanmu yang kotor itu di
depan para ksatria agar nama baik Coan-cin-pay akan runtuh habis2an.”
Hati Ci-peng terkesiap, terhadap mati-hidupnya sendiri sebenarnya tak terpikir
lagi olehnya, kalau saja Siao-liong-li akan membunuhnya pasti dia takkan
melawan, tapi jika mengenai nama baik Coan-cin-pay, betapapun ia harus
membelanya mati2an, apalagi jika runtuhnya kehormatan Coan-cin pay itu
disebabkan oleh perbuatannya.
Teringat alasan ini dia menjadi kuatir juga, segera larinya bertambah cepat
mendampingi Ci-keng.
Kedua orang berlari ke daerah yang sunyi dan sukar dicapai orang lain, terkadang
mereka menoleh, tapi Siao-liong-Ii selalu berada dalam jarak puluhan meter di
belakang, Dengan Ginkang Ko-bong-pay yang tiada tandingannya itu, kalau mau
sebenarnya dengan mudah Siao-liong-li dapat melampaui kedua buruannya.
Cuma dia memang masih polos, jalan pikirannya sederhana, menghadapi persoalan
maha besar ini dia menjadi bingung dan tidak tahu cara bagaimana harus
bertindak. Karena itu terpaksa ia hanya mengintil saja di belakang mereka,
selalu dalam jarak itu2 saja tapi juga tidak membiarkan lolosnya kedua orang
itu.
Pikiran Ci-peng dan Ci-keng memangnya sangat bingung, apalagi Siao-liong-li
terus menguntit dan tidak diketahui apa maksud tujuannya, makin dipikir makin
takut mereka.
Mereka berlari dari pagi hingga siang, dari siang hingga sore hari sudah 6-7 jam
mereka ber-lari2 kesetanan, betapapun kuatnya tenaga dalam mereka akhirnya juga
terempas-empis, langkahpun mulai sempoyongan dan tidak sanggup berlari cepat
lagi.
Dalam pada itu panas matahari yang menyengat itu telah membuat mereka mandi
keringat, malahan juga lapar dan haus, ketika tiba2 nampak di depan ada sebuah
sungai kecil, mereka menjadi nekat.
Mereka pikir andaikan akan tertangkap di situ masa-bodohlah, Begitulah mereka
terus menjatuhkan diri di tepi sungai kecil itu dan minum air sekenyangnya.
Dengan pelahan Siao-liong-li juga mendekati sungai bagian hulu, iapun meraup air
untuk diminum, permukaan air sungai mencerminkan seorang nona jelita berbaju
putih dengan ikal rambut hitam dan wajah cantik molek laksana dewi kahyangan.
Tapi, perasaan Siao-liong-li serasa hampa, dukanya tidak kepalang sehingga
cermin dirinya itu tidak menariknya melainkan termangu2 saja memandangi bayangan
sendiri di dalam air itu.
Sambil minum air, Ci-keng berdua senantiasa, melirik Siao- liong li, melihat
nona itu ter-mangu2 se-akan2 lupa daratan pada dunia fana ini, cepat mereka
saling memberi i syarat, dengan pelahan mereka berbangkit dan berjalan
ber-jengket2 menjauh ke sana. Beberapa kali mereka menoleh dan melihat si nona
masih termenung memandang air sungai, segera mereka percepat langkah terus
berlari ke depan.
Mereka mengira sekali ini pasti dapat lolos dari kuntitan Siao-liong-li, siapa
duga, ketika kebetulan Ci-peng berpaling, ternyata si nona sudah mengintil lagi
di belakang mereka.
Seketika muka Ci-peng pucat pasi seperti mayat, serunya: “Sudahlah, sudahlah Tio
suheng, kita toh tak dapat lolos, terserah saja apakah dia akan membunuh atau
mencincang kita.” Habis berkata ia terus berhenti dan berdiri di situ.
Ci-keng menjadi gusar dan membentak: “Kau mati juga pantas, tapi mengapa aku
harus mati bersamamu?” Segera ia tarik tangan sang Sute untuk diajak lari pula.
Akan tetapi Ci-peng sudah putus asa dan tidak ingin lari lagi, Dasar Ci-keng
memang pemberang, tanpa bicara lagi sebelah tangannya terus menggampar.
“Mengapa kau pukul aku?” teriak Ci – peng dengan gusar.
Melihat kedua orang itu saling hantam lagi, Siao-liong-li menjadi heran.
Pada saat itulah dari depan sana tampak mendatangi dua penunggadg kuda, rupanya
dua kurir Mongol yang bertugas mengirim surat atau berita. pikiran Ci-keng
bergerak, dengaa suara tertahan ia berkata pada Ci-peng: “Mari kita rebut kuda
mereka. Kita pura2 berkelahi supaya tidak menimbulkan curiga Siao-liong-li.”
Ci-peng-menurut, mereka pura2 berhantam lagi sambil menggeser ke jalan raya,
Karena jalan terhalang, kedua perajurit MongoI itu menahan kuda mereka sambil
mem-bentak2.
Tapi Ci-keng mendadak melompat ke atas, seorang satu seketika kedua perajurit
Mongol itu disodok terjungkal ke bawah kuda rampasan itulah mereka terus kabur
cepat ke utara.
Kedua ekor kuda itu adalah kuda perang piIihan, perawakannya gagah dan larinya
cepat. Waktu mereka menoleh, ternyata Siao-liong-li tidak mengejar lagi, maka
legalah hati mereka. Mereka terus melarikan kuda ke utara, belasan li kemudian
sampailah mereka pada jalan persimpangan tiga.
“Dia melihat kita kabur ke utara, sekarang justeru membelok ke timur,” kata
Ci-keng sambil membelokkan kuda ke kanan dan diikuti Ci-peng.
Menjelang magrib, sampailah mereka di suatu kota kecil. Sehari suntuk mereka
berlari tanpa mengisi perut barang sedikitpun, sudah tentu mereka sudah lelah
dan lapar. Segera mereka mencari suatu warung makan dan pesan satu piring daging
dan beberapa bakpau.
Sambil duduk menunggu daharan, hati Ci-keng masih berdebar-debar mengenang
bahaya yang dihadapi nya tadi, ia tidak tahu mengapa Siao liong-li melulu
menguntit saja dan tidak segera turun tangan.
Dilihatnya Ci-peng juga duduk menunduk dengan muka pucat dan seperti orang
linglung.
Tidak lama makanan yang dipesan telah disuguhkan, segera mereka makan minum.
Belum seberapa lama, tiba2 terdengar suara ribut di luar, seorang sedang
mem-bentak2 dan bertanya “Siapa pemilik kedua ekor kuda ini? Mengapa berada di
sini?” Dari logat suaranya agaknya orang Mongol.
Ci-keng berdiri dan mendekati pintu, dilihatnya seorang perwira Mongol dengan
beberapa anak buah sedang bertanya mengenai kedua ekor kuda rampasan Ci-keng
berdua itu, pelayan rumah makan tampak ketakutan dan menyembah.
Lantaran seharian diuber Siao-liong-li dan rasa dongkol Ci-keng belum
terlampiaskan kini ada orang mencari gara2, segera ia tampil ke muka dan
berteriak: “Kudaku, ada apa?”
“Dapat darimana?” tanya perwira itu. “milikku sendiri, peduIi apa dengan mu?”
jawab Ci-keng.
Tatkala mana di utara Siangyang sudah berada dalam pendudukan pasukan Mongol,
rakyat Song hidup di bawah penindasan secara kejam, mana ada orang berani
bersikap kasar terhadap perwira Mongol?
Tapi lantaran melihat perawakan Ci-keng gagah dan kuat, membawa pedang pula,
diam2 perwira itu rada jeri, ia lantas tanya pula: “Kau dapat beli atau
mencuri?”
“Beli atau mencuri apa?” jawab Ci-keng dengan gusar. “Kuda ini adalah piaraanku
sendiri.”
“Tangkap” mendadak perwira itu memberi aba2. serentak beberapa perajurit itu
mengerubut maju dengan senjata terhunus.
“Hm, berdasarkan apa kalian menangkap orang.” bentak Ci keng sambit meraba
pedangnya.
“Berani kau melawan, maling kuda?” jengek perwira Mongol itu. “Haha, barangkali
kau sudah makan hati macan, maka berani melawan perwira markas besar? Hayo kau
mengaku mencuri tidak?” – Berbareng ia menyingkap bulu paha belakang kuda
hingga kelihatan cap bakar dua huruf Mongol.
Rupanya setiap kuda perang Mongol pasti di tandai dengan cap bakar untuk
menjelaskan kuda itu termasuk pasukan dan kelompok mana, Ci-keng merampas kuda
itu di tengah jalan, sudah tentu ia tidak tahu seluk-beluk tanda cap bakar
sega!a.
Karena itu ia menjadi tak bisa menjawab. Tapi dia sengaja berdebat secara
ngotot: “Siapa bilang kuda perang Mongol? Di tempat kami banyak juga kuda yatg
kami beri cap bakar seperti ini? Memangnya tidak boleh dan melanggar aturan?”
“Perwira itu menjadi gusar, belum pernah ada orang yang berani membantah
padanya, masakah sekarang ada maling kuda yang malah menantang-nya. Segera ia
melangkah maju terus hendak mencengkeram baju dada Ci-keng.
Akan tetapi tangan kiri Ci-keng menagkis dan membalik, tangan perwira itu
berbalik kena dipegangnya. Menyusul tangan kanan Ci-keng terus mencengkram
punggung perwira itu dan diangkat ke atas, setelah diputar beberapa kali terus
dilemparkan
Tanpa ampun -perwira itu terbanting ke dalam sebuah toko barang pecah belah,
seketika terdengarlah suara gemerantang nyaring ber-turut2, rak mangkok piring
dan barang2 porselin lain sama roboh dan hancur berantakan…
Muka perwira itupun babak belur terluka oleh pecahan beling serta tertindih oleh
rak yang ambruk.
Cepat para perajurit Mongol memberi pertolongan sehingga lupa menangkap orang.
Ci-keng ter-bahak2 gembira dan masuk kembali ke warung makan untuk meneruskan
daharannya tadi.
Karena ribut2 itu, toko2 yang tadinya buka dasar seketika sama tutup pintu.
Tetamu yang sedang makan diwarung itupun segera buyar. Maka jumlah tentara
Mongol terkenal ganas dan kejam, tapi sekarang ada orang Han memukuli perwira
Mongol, maka akibatnya dapatlah dibayangkan, bukan mustahil seluruh kota akan
dibumi-hanguskan.
Belum banyak Ci-keng mengisi perutnya, tiba2 kuasa rumah makan itu mendekatinya
dan berlutut di depannya. Ci-keng tahu maksud orang, pasti kuatir perusahaannya
ikut terkena getahnya, maka minta penyelesaian se-baik2nya.
Dengah tertawa ia lantas berkata: “jangan kuatir kau, setelah makan kenyang
segera kami angkat kaki dari sini.”
Tapi kuasa rumah makan itu tetap menyembah dengan muka pucat.
Ci-peng lantas berkata kepada Ci-keng: “Rupanya dia takut bila kita pergi,
sebentar lagi pasukan Mongol akan datang minta pertanggungan jawabnya.”
Ia memang lebih cerdik daripada Ci-keng, setelah berpikir sejenak,” segera ia
berkata pula kepada kuasa rumah makan itu. “Lekas ambilkan lagi dataran yang
lezat, apa yang telah kami perbuat, adalah tanggung jawab kami sendiri, kenapa
mesti takut?”
Kuasa rumah makan itu mengiakan dengan girang, cepat ia merangkak bangun dan
memerintahkan daharan ditambah dan membawakan arak pula.
Sementara itu perwira Mongol yang babak belur itu telah dibangunkan anak buahnya
dan dibawa pergi. Dengan tertawa Ci-keng berkata kepada Ci-peng: “ln-sute, sudah
seharian kita kenyang tersiksa, sebentar biarlah kita labrak mereka sepuasnya.”
Ci-peng hanya mendengus saja tanpa menanggapi sementara itu pelayan sibuk
membawakan daharan, Sesudah makan lagi sekadarnya, mendadak Ci-peng berbangkit,
pelayan yang ladeni disebelah-nya dihantamnya hingga terjungkal.
Keruan si kuasa rumah makan kaget, cepat ia mendekati dan minta maaf bila ada
kesalahan pelayanan Tapi kaki Ci-peng lantas melayang pula, dengan tepat dengkul
kuasa rumah makan itu didepak sehingga jatuh terguling.
Ci-keng tidak tahu maksud tujuan sang Sute, disangkanya rasa dongkol Ci-peng itu
sengaja dilampiaskan atas diri si pelayan. Ja berusaha mencegahnya tapi mendadak
Ci-peng mendomplangkan meja yang penuh mangkok piring makanan itu, menyusul dua
orang pelayan dipukul roboh lagi.
Cara memukul Ci-peng itu disertai dengan tutukan Hiat-to, maka setelah jatuh,
orang2 itu sama tergeletak tak bisa berkutik. Habis “ngamuk”, Ci-peng kebut2
baju sendiri, lalu berkata: “sebentar kalau pasukan Mongol datang dan melihat
kalian ku labrak sedemikian rupa, tentu kalian takkan di-marahi, Nah, paham
tidak? Kalau perlu kalian boleh saling hantam lagi agar kelihatan lebih babak
belur.”
Baru sekarang orang2 itu mengerti apa maksud tujuan Ci-peng memukuli mereka,
setelah menyatakan akal bagus. segera mereka saling hantam pula hingga baju
robek dan hidung bengkak.
Pada saat itulah terdengar suara derapan kaki kuda, ada beberapa orang mendatang
pula, serentak orang2 rumah makan itu sama merebabkan diri sambil berteriak
mengaduh kesakitan serta minta ampun segala.
Setiba di depan rumah makan itu, benar juga penunggang2 kuda itu lantas berhenti
dan masuklah empat perwira Mongol, dibelakangnya ikut pula seorang paderi Tibet
yang bertubuh tinggi kurus dan seorang asing yang pendek dan hitam, orang asing
itu sudah buntung kedua kakinya, kedua tangan memegang tongkat penyanggah
ketiak.
Melihat keadaan rumah makan yang porak poranda itu, para perwira Mongol itu
sambil me-ngerut kering, segera pula mereka membentak: “Lekas bawakan santapan
enak, kami buru2 mau berangkat lagi!”
Kuasa rumah makan tadi melengak, baru sekarang ia tahu rombongan ini bukanlah
kawan rombongan pertama tadi, ia menjadi bingung, kalau perwira Mongol yang
dilabrak In Ci-peng tadi datang kembali, lalu cara bagaimana akan menghadapinya?
Tengah sangsi, perwira2 Mongol itu menjadi tidak sabar dan menyabetkan cambuk
kudanya, Kuasa rumah makan itu terpaksa mengiakan dengan menahan rasa sakit,
celakanya dia tak dapat bangun, syukur ada pegawai lain telah melayani kawanan
Mongol itu dan mengaturkan meja kursi.
Paderi Tibet itu bukan lain daripada Kim-lun Hoat-ong dan orang asing hitam
pendek dan kaki buntung itu adalah Nimo Singh. Mereka merawai diri beberapa hari
di lembah sunyi itu. sesudah Hoat-ong mengeluarkan sisa racun dalam tubuh dan
luka kaki Nimo Singh mulai sembuh barulah mereka meninggalkan lembah itu serta
bertemu dengan perwira2 Mongol itu di tengah jalan, lalu bersama2 pulang ke
markas besar Kubilai.
Tentu saja Ci-peng dan Ci-keng terkejut melihat datangnya Kim-lun Hoat-ong,
mereka sudah pernah menyaksikan kelihayan paderi Tibet itu, malahan kedua
muridnya saja, yaitu Darba dan Hotu yang dulu pernah menyatroni
Tiong-yang-kiong, sukar ditandingi tokoh2 Coan-cin-pay, apalagi sekarang
kepergok Kim-lun Hoat-ong sendiri, diam2 mereka kebat-kebit. Mereka saling
memberi tanda dan segera mencari jalan buat meloloskan diri.
Meski Ci-keng berdua kenal Kim-lun Hoat-ong, sebaliknya Hoat-ong tidak kenal
kedua Tosu itu, Walaupun keadaan rumah makan itu berantakan, namun suasana
perang tatkala itu tidak membuatnya heran jika menyaksikan keadaan rusak itu.
Karena kepergiannya ke Siangyang sekali ini mengalami kekalahan, ia merasa malu
bila nanti bertemu dengan Kubilai, maka yang dia pikirkan sekarang adalah cara
bagaimana harus bicara kepada tuannya itu, sehingga kehadiran dua orang Tosu di
rumah makan ini tidak digubris olehnya.
Pada saat itu tiba2 terjadi kegaduhan di luar rumah makan. sekawanan perajurit
Mongol menerjang masuk, begitu melihat Ci-keng berdua, sambil mem-bentak2 terus
hendak menangkapnya.
“Lari melalui pintu belakang”. demikian kata Ci-peng dengan suara tertahan
kepada Ci-keng sembari mendomplangkan sebuah meja sehingga mangkuk piring
berserakan di lantai, berbareng mereka terus melompat menuju ke pintu belakang.
Sebab Kim-lun Hoat-ong duduk dekat pintu depan, kalau lari lewat di sebelahnya
bisa jadi dia akan mengalangi mereka.
Ketika hampir menuju ke ruangan belakang, sekilas Ci-peng menoleh dan melihat
Hoat-ong masih asyik minum tanpa gubris kekacauan di rumah makan itu, diam2 ia
tergirang, asalkan paderi itu tidak ikut campur tentu tidak sukar untuk kabur.
Tak terduga mendadak sesosok bayangan melayang tiba, orang cebol buntung tahu2
melompat ke sana, sebelah tongkatnya lantas menghantam sekaligus Ci-peng dan
Ci-keng.
Sudah tentu Ci-pehg berdua belum kenal siapa Nimo Singh, cepat mereka mengelak.
Heran juga Nimo Singh karena serangannya tidak mengenai sasarannya, ia merasa
kedua Tosu ini ternyata bukan jago Iemah.
Segera kedua tongkatnya bergantian yang satu dibuat menyanggah tubuh dan yang
lain digunakan menyerang, dari bagian luar ia terus desak mundur Ci-peng berdua
dan dengan sendirinya: Ci-peng berdua balas menyerang dan berusaha meloloskan
diri.
Meski kepandaian Nimo Singh lebih tinggi dari pada Ci-peng berdua, tapi lantaran
kedua kakinya buntung belum lama, tenaganya belum pulih seluruhnya, apalagi
belum biasa memakai tongkat begitu, lama2 ia sendiri menjadi kewalahan
dikerubuti Ci-peng dan Ci-keng.
Melihat kawannya rada kerepotan, pelahan Hoat-ong mendekati mereka, ketika
pedang Ci-keng menusuk dada Nimo Singh dan orang Keling ini menangkisnya dengan
tongkat, namun pedang Ci-peng sekaligus juga mengancam iga kanan Singh yang tak
terjaga, kalau tidak ingin tertembus perutnya terpaksa Nimo Singh harus melompat
ke samping.
Ketika Hoat-ong melangkah tiba, kebetulan Nimo Singh melompat ke atas, maka
tangan kiri Hoat-ong lantas digunakan mendukung bokong Nimo Singh dan
memondongnya, sedang tangan kanan memegangi lengannya. Saat itu tongkatnya masih
menempel pedang Ci-keng, ketika Hoat-ong menyalurkan tenaga dalamnya melalui
tongkat Nimo Singh, seketika Ci-keng merasa tangan kanan tergetar dan dada
terasa sesak. “trang”, pedang terpaksa dilepaskan dan jatun ke lantai.
Meski tenaganya belum cukup kuat, namun perubahan serangan Nimo Singh sangat
cepat begitu pedang Ci-keng jatuh, segera ia memutar tongkatnya dan menempel
pula pedang Ci-peng. Ketika Hoat-ong menyalurkan lagi tenaga dalamnya, sekuatnya
Ci-peng juga melawan tenaga dalam, akan tetapi cara menguasai tenaga dalam
Kim-lun Hoat-ong memang luar biasa bisa keras bisa lunak, “krek”, tahu2 pedang
Ci-peng juga patah, yang terpegang-olehnya hanya setengah potong pedang saja.
Dengan pelahan Hoat-ong menurunkan Nimo Singh, begitu kedua tangannya meraih,
tahu2 pundak kedua Tosu sudah terpegang olehnya, katanya dengan tertawa: “Kita
belum pernah kenal, kenapa saling labrak? Kepadaian kalian boleh dikatakan
Jagopedang kelas satu di sini, Bagaimana kalau duduk dulu dan marilah omong2.”
Cara memegang Hoat-ong itu biasa saja, tapi ternyata sukar dielakkan Ci-peng
berdua, mereka merasa ditindih oleh tenaga maha kuat cepat mereka mengerahkan
tenaga dalam untuk melawan dan tidak berani menjawab.
Sementara itu pasukan Mongol yang menerjang masuk itu telah mengepung semua
orang, perwira yang memimpin adalah seorang Cian-hu-tiang komandan seribu orang,
dia kenal Kim-Iun Hoat-ong sebagai Koksu atau Imam Negara yang sangat dihormati
pangeran Kubilai, cepat ia mendekati dan memberi hormat sambil menyapa:
“Koksuya, kedua Tosu ini mencuri kuda perang dan memukul anggota tentara kita,
harap Koksuya suka…” sampai di sinj, tiba2 ia mengamat-amati In Ci-peng, lalu
berkata mendadak: “Hei, bukankah engkau ini In Ci-peng, In-totiang?”
Ci-peng mengangguk dan tidak menjawab, ia merasa tidak kenal perwira Mongol yang
menegurnya ini.
Pegangan Hoat-ong lantas dikendurkan, diam2 iapun mengakui Lwekang kedua Tosu
itu ternyata cukup hebat meski usia mereka rata2 baru 40-an.
Perwira Mongol itu lantas berkata pula dengan tertawa: “Apakah In-totiang sudah
pangling padaku? 19 tahun yang lalu kita pernah berkumpul di gurun pasir sana
dan makan panggang kambing, masakah sudah lupa, Namaku Sato!”
Setelah mengamati dan mengingat sejenak, Ci-peng menjadi girang dan berseru:
“Aha, betul, betul! sekarang kau berewok lebat sehingga aku pangling padamu.”
“Selama ini kami terus berjuang kian kemari sehingga rambut dan jenggot juga
putih semua, tapi wajah Totiang ternyata tidak banyak berubah,” ujar Sato dengan
tertawa, “Pantas Jengis Khan Agung kami mengatakan kaum beragama seperti kalian
ini hidup laksana malaikat dewata,”
Lalu ia berpaling kepada Hoat-ong dan menutur: “Koksuya, In-totiang ini dahulu
pernah berkunjung ke negeri kami atas undangan Jengis Khan Agung kita, kalau
dibicarakan kita adalah orang sendiri”
Hoat-ong manggut2, lalu melepaskan pundak Ci-peng berdua.
Supaya diketahui, dahulu waktu Jengis Khan mulai jaya, dia pernah mengundang
kaum Tosu dari Coan-cinkau ke Mongol agar mengajarkan ilmu panjang umur
kepadanya. Untuk itu Khu Ju-ki telah berangkat ke sana dengan membawa 18 anak
muridnya, In Ci-peng adalah murid tertua dengan sendirinya ia ikut serta.
Untuk mereka, Jengis Khan telah mengutus 200 perajurit sebagai pengawal
rombongan Khu Ju-ki itu, tatkala mana Sato cuma seorang perajurit biasa saja dan
termasuk dalam pasukan pengawal itu, sebab itulah dia kenal In Ci-peng.
Selama 20 tahun Sato terus naik pangkat hingga menjadi Cian-hu-tiang dan secara
kebetulan bertemu kembali dengan Ci-peng, tentu saja ia sangat gembira, segera
ia suruh menyediakan makanan untuk menghormati Ci-peng, urusan kuda dan memukuli
perajurit Mongol dengan sendirinya tak diusut pula.
Kim-Iun Hoat-ong juga pernah mendengar nama Khu Ju-ki dan mengetahui dia adalah
tokoh nomor satu Coan-cin-pay, sekarang dilihatnya kepandaian Ci-peng berdua
juga tidak lemah, diam2 ia mengakui ilmu pedang dan Lwekang Coan-cin-pay memang
lihay.
Dalam pada itu Sato sibuk menanyai Ci-peng tentang kesehatan ke-18 murid
Coan-cin-kau yang lain, bicara kejadian dimasa lalu, Sato menjadi bersemangat
dan sangat gembira,
Pada saat itulah tiba2 masuk seorang perempuan muda berbaju putih. serentak
Hoat-ong, Nimo Singh, Ci-peng dan Ci-keng sama terkesiap, Ternyata pendatang ini
adalah Siao-liong-Ii.
Diantara orang2 itu hanya Nimo Singh yang tidak punya rasa dendam, segera ia
menegur. “Hai, pengantin perempuan Cui-sian-kok, baik2 ya kau?”
Siao-liong-li hanya mengangguk saja tanpa menjawab, ia pilih meja dipojok sana
dan berduduk tanpa gubris orang lain, ia memberi pesan seperlunya kepada pelayan
agar membuatkan santapan.
Air muka Ci-peng berdua menjadi pucat dan hati berdebar, Hoat-ong juga kuatir
kalau segera Nyo Ko menyusul tiba, selamanya dia tidak gentar apapun kecuali
permainan ganda ilmu pedang Nyo Ko dan Siao-liong-li.
Begitulah ketiga orang sama memikirkan urusan sendiri dan tidak bicara lagi
melainkan makan saja, Ci-peng berdua sebenarnya sudah kenyang makan, tapi kalau
mendadak terdiam bisa jadi akan menimbulkan curiga orang lain, terpaksa mereka
makan lagi tanpa berhenti agar mulut tidak mengangur.
Hanya Sato saja yang tetap gembira ria, ia tanya Ci-peng : “ln-totiang, apakah
engkau pernah bertemu dengan Pangeran kami?”
Ci-peng hanya menggeleng saja tanpa bicara. Sato lantas menyambung: “Wah,
pangeran kita ini sungguh pintar dan bijaksana, beliau adalah putera keempat
pangeran Tulai, setiap perajurit sayang padanya, sekarang aku hendak menghadap
beliau memberi laporan keadaan, kalau kedua Totiang tiada urusan lain, bagaimana
kalau ikut serta menghadap beliau?”
Ci-peng sedang bingung, maka tanpa pikir ia menggeleng pula, Tapi pikiran
Cikeng lantas tergerak ia tanya Hoat-ong: “Apakah Taysu juga hendak menghadap
Ongya?”
“Ya,” jawab Hoat-ong “Pangcran Kubilai adalah pahlawan yang tiada bandingannya
di jaman ini, kalian harus berkunjung dan berkenalan dengan beliau.”
“Baiklah,” cepat Ci-keng menanggapi “Kami akan ikut Taysu dan Sato-ciangkun ke
sana.”¬† Habis ini kakinya menyenggol pelahan kaki Ci-peng serta mengedipinya.
Sebenarnya Ci-peng terlebih cerdik daripada Ci-keng, cuma saja begitu melihat
Siao-liong-li seketika ia menjadi linglung, Selang sejenak barulah dia ingat apa
maksud tujuan Ci-keng itu, rupanya ingin meloloskan diri dari kejaran Siao
liong-li dengan bernaung di bawah lindungan Kim-lun Hoat-ong.
Begitulah setelah makan, ber-turut2 semua orang lantas berangkat. Diam2 Hoat-ong
merasa lega karena selama ini Nyo Ko tidak kelihatan muncul, pikirnya:
“Coan-cin-kau adalah suatu sekte agama berpengaruh di Tionggoan, kalau saja
dapat dirangkul tentu akan banyak bermanfaat bagi pihak Mongol. Apalagi
tujuannya ke Siangyang telah mengalami kegagalan total, kalau dapat mengajak
pulang kedua Tosu Coau-cin-kau ini kan juga suatu jasa besar.”
Sementara itu hari sudah mulai gelap, mereka terus melarikan kuda dengan cepat,
ketika di belakang terdengar pula derapan kaki binatang, Ci-keng menoleh dan
samar2 kelihatan Siao-liong-li masih mengikuti dari jauh dengan menunggang
seekor keledai.
Kim-luo Hoat-ong juga merinding setelah mengetahui Siao-liong-li membuntuti
mereka, Diam2 iapun heran mengapa Siao-liong-li berani mengikutinya sendirian,
padahal satu-lawan-satu jelas nona itu pasti bukan tandinganku, jangan2 dia
membawa bala bantuan secara tersembunyi?
Demikianlah Kim-lun Hoat-ong menjadi sangsi, padahal kalau sekarang dia berani
menyongsong kedatangan Siao-liong-li dan melabraknya, tentu nona itu akan
celaka, kalau tidak terbunuh juga tertawan, Tapi Hoat-ong baru saja berkenalan
dengan Ci-peng berdua dari Coan cin-pay, ia menjadi kuatir kalau kebetulan
kecundang, hal ini tentu akan menurunkan pamornya, sebab itulah dia lebih suka
cari selamat dan pura2 tidak tahu penguntitan Siao-liong-li.
Setelah menempuh perjalanan setengah malaman, sampai di suatu hutan, Sato
memerintahkan pasukan berhenti mengaso, Masing2 duduk istirahat di bawah pohon,
kelihatan Siao-liong-li juga turun dari keledainya dan duduk di sana dalam jarak
beberapa puluh meter jauhnya.
Semakin misterius gerak-gerik si nona, semakin menimbulkan curiga Kim-lun
Hoat-ong dan tidak berani sembarangan bertindak
Yang paling ketakutan tentu saja, In Ci-peng, memandang saja dia tidak berani:
sesudah cukup mengaso, kemudian pasukan berangkat lagi, setelah jauh
meninggalkan hutan itu, terdengar suara “keteplak-keteplak” yang samar2,
ternyata Siao-liongli tetap menguntit di belakang dengan keledainya.
Sampai pagi mendatang, Siao-liong-li tetap mengintil di belakang dalam jarak
itu2 juga.
Sementara itu rombongan mereka sampai di suatu tanah datar yang luas, sepanjang
mata memandang tiada menampak suatu bayangan apapun. Diam2 timbul pikiran jahat
Kim-lun Hoat-ong, ia membatin: “Sejak kudatang ke Tionggoan belum pernah ketemu
tandingan, tapi akhir2 ini ber-turut2 dikalahkan oleh ilmu pedang gabungan
Nyo-Ko dan nona ini. sekarang dia terus membuntuti aku, tentu dia mempunyai
maksud buruk, sebelum dia bertindak, kenapa tidak kubinasakan dia dahulu secara
tak terduga olehnya, seumpama nanti bala bantuannya tiba tentu juga tidak keburu
menoIongnya. Dan jika nona ini sudah mati, di dunia ini tiada orang lain lagi
yang mampu melebihi aku.”
Setelah ambil keputusan itu, baru saja dia mau menahan kudanya untuk menantikan
datangnya Siao-liong-li, tiba2 dari depaa ada suara gemuruh datangnya
serombongan orang disertai debu mengepul dan suara keleningan kuda atau unta.
“Wah, terlambat jika tahu bala bantuannya akan datang sekarang, tentu sejak tadi
kubinasakan dia,” demikian Hoat-ong membatin karena tidak sempat lagi menindak
Siao-liong-li.
Pada saat lain tiba2 terdengar Sato berseru menyatakan herannya, Waktu Hoat-ong
melongok jauh ke sana, terlihat rombongan yang datang itu sangat aneh,
seluruhnya empat ekor unta tanpa penunggang, pada punggung unta pertama di sisi
kanan terpancang sebuah bendera besar, ujung tiang bendera itu ikut berkibaran
pula tujuh ikat bulu putih, itulah panji pengenal Kubilai.
“Barangkali Ongya yang datang?” guman Sato sambil keprak kudanya menyongsong ke
depan, Kira2 beberapa puluh meter dari rombongan unta itu. Sato lantas turun
dari kudanya dan berdiri di tepi jalan dengan hormat.
Kim-lun Hoat-ong merasa tidak leluasa lagi untuk membunuh Siao-liong-li jika
betul Kubilai yang datang, ia ingin menjaga harga diri, sebab kalau sampai
dilihat Kubilai bahwa dia membunuh seorang perempuan muda, tentu dia akan
dipandang hina.
Sementara itu keempat unta tadi masih terus berlari cepat mendatangi tapi
Hoat-ong tidak turun dari kudanya melainkan pelahan2 memapak kedepan. Terlihat
di antara tempat luang keempat ekor unta itUi ada berduduk seorang secara
terapung, orang itu berjenggot dan beralis putih dengan wajah selalu tersenyum,
kiranya adalah Ciu Pek-thong yang baru mengacaukan Cui-sian-kok itu.
Terdengar Ciu Pek-thong berteriak dari jauh: “Bagus, bagus! Hwesio gede dan si
cebol hitam, kita berjumpa kembali di sini, ada lagi nona cilik yang cantik
molek itu!”
Hoat-ong sangat heran, ia tidak mengerti mengapa Cui Pek-thong bisa duduk
terapung di tengah2 keempat unta itu. Tapi sesudah dekat barulah dia tahu
duduknya perkara, kiranya di antara unta2 itu terbentang beberapa utas tali yang
ujungnya terikat pada punuk tiap2 unta dan di tengah – tengah persilangan tali
itulah Ciu Pek-thong berduduk.
Ciu Pek-thong adalah Sute cikal-bakal Coan-cin-kau, yaitu Ong Tiong-yang yang
pernah menjalin cinta dengan nenek guru Siao-liong-li, bicara tentang kedudukan
di Coan-cin-kau sekarang dialah paling top, tapi selangkahpun dia tidak pernah
menginjak Tiong-yang-kiong dan jarang pula berhubungan dengan Ma Giok, Khu Ju-ki
dan lain2, sebab itulah Ci-peng dan Ci-keng tidak mengenalnya.
Meski, mereka pernah mendengar cerita dari guru masing2 bahwa mereka mempunyai
seorang Susiokco (kakek guru muda), tapi sudah lama tidak ada kabar beritanya,
besar kemungkinan sudah meninggal dunia, maka sekarang merekapun tidak menduga
bahwa tokoh aneh ini adalah sang Susiokco yang maha sakti itu.
BegituIah Hoat-ong mengernyitkan dahinya melihat kelakuan Ciu Pek-thong itu, ia
pikir ilmu silat orang ini teramat tinggi dan sukar dilawan, ia coba
menanyainya: “Apakah Ongya berada di belakang sana?”
“Kira2 40 li dibelakang sana adalah perkemahannya,” jawab Ciu Pek-thong dengan
tertawa sambil menuding ke belakang “Eh, Toa-hwesio, kunasehati kau sebaiknya
kau jangan pergi ke sana,”
“Sebab apa?” tanya Hoat-ong heran, “Sebab dia sedang marah2. jika kau ke sana,
mungkin kepalamu yang gundul itu akan dipenggal olehnya,” ujar Pek thong.
“Ngaco-balo!” omel Hoat-ong dengan mendongkoI. “Sebab apa Ongya marah?”
Sambil menuding panji tanda pengenal Kubilai itu, Pek-thong berkata dengan
tertawa: “Lihat ini, panji kebesaran Ongyamu ini kena kucuri, mustahil dia tidak
marah2 ya”
Hoat-ong meIengak, diam2 iapun percaya apa yang dikatakan itu, ia yakin Ciu
Pek-thong pasti tidak berdusta, Segera ia tanya pula: “Untuk apa kau mencuri
panji kebesaran Ongya?”
“Kau kenal Kwe Cing bukan?” tanya Pek-thong
“Ya, ada apa?” Hoat-ong mengangguk.
“Dia adalah saudara mudaku.” tutur Pek thong dengannya sudah belasan tahun kami
tidak bertemu, aku sangat kangen padanya, maka aku buru2 hendak menjenguk
kesana. Kudengar dia sedang berperang dengan orang Mongol di Siang-yang, maka
aku sengaja mencuri panji kebesaran pangeran Mongol ini sebagai kado untuk
saudara-angkatku itu.”
Hoat-ong kaget. ia pikir urusan bisa celaka, sedang Siangyang belum dapat
dibobol, sekarang panji kebesaran panglimanya direbut musuh, hal ini teramat
memalukan. “Hm ia harus mencari akal untuk merampas kembali panji ini.”
Mendadak terdengar Ciu Pek-thong membentak, empat ekor unta itu terus bergerak
dan berbondong2 berlari ke sana, setelah mengitar satu lingkaran, lalu berlari
kembali, panji besar itu berkibar tertiup angin Ciu Pek-thong berdiri menegak di
tengah persilangan tali, dengan tangan memegang tali kendali keempat unta,
lagaknya seperti panglima besar saja, dengan ber-seri2 ia melarikan kawanan unta
itu, sesudah dekat, “tarrr”, cambuknya berbunyi dan serentak unta2 itu lantas
berhenti, entah dengan cara bagaimana Ciu Pek-thong ternyata dapat mengendalikan
unta2 itu dengan sangat penurut
“Toa-hwesio, bagus tidak barisan unta pimpinanku ini?” tanya Pek-thong dengan
tertawa.
“Bagus sekali!” jawab Hoat-ong sambil mengacungkan ibu jarinya, tapi diam2 ia
sedang memikirkan cara bagaimana merebut kembali panji itu.
Tiba2 Ciu Pek-thong mengangkat tangannya dan berseru: “Toahwesio, nona cilik, Lo
wan-tong mau berangkat!”
Mendengar sebutan “Lo-wan-tong” itu, serentak Ci-peng dan Ci-keng berseru:
“Susiokco!” – Berbareng merekapun melompat turun dari kudanya.
“Apakah ini Ciu-locianpwe dari Coan-cin-pay?” tanya Ci-peng.
Biji mata Ciu Pek-thong4 tampak ber-putar2, lalu menjawab: “Hm, ada apa? Kalian
ini anak murid “hidung kerbau” yang mana?”
Dengan hormat Ci-peng menjawab: “Tio Ci-keng adalah murid Giok-yang-cu
Ong-totiang dan Tecu sendiri In Ci-peng murid Tiang-jun-cu Khu-totiang.”
“Huh, Tosu kecil Coan-cin-kau makin lama makin tidak keruan, tampaknya kalian
juga tidak becus,” dengus Pek-thong, mendadak kedua kakinya memancal ke depan,
sepasang sepatunya terus me-nyamber ke muka Ci-peng berdua.
Ci-keng terkejut, cepat ia hendak menangkapnya. Tapi Ci-peng sudah yakin orang
tua ini pasti Ciu Pek-thong adanya, ia pikir kalau Susiokco mau memberi hukuman,
betapapun tidak boleh menghindar apalagi tenaga samberan sepatu itu tampaknya
juga tidak keras, kalau kena rasanya tidak terlalu sakit, karena itulah ia tidak
ambil pusing samberan sepatu dan tetap memberi hormat.
Di luar dugaan, ketika sepatu itu menyamber sampai di degan muka Ci peng berdua,
se-konyong2 dapat memutar balik. Tangan Ci-keng menangkap tempat kosong,
sementara itu kedua buah sepatu telah masuk kembali ke kaki Ciu Pek-thong.
Meski perbuatan Ciu Pek-thong itu lebih menyerupai permainan jahil, tapi kalau
tidak memiliki tenaga dalam yang maha sakti pasti tidak dapat melakukannya.
Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh sudah pernah menyaksikan Anak Tua Nakal itu
mempermainkan orang di kemah Kubilai dengan pura2 menimpukkan ujung tumbak, maka
mereka tidak merasa heran, sebab dasarnya sama saja seperti permainan sepatu
terbang ini.
Akan tetapi Ci-keng menjadi amat kaget tak terhingga, dengan kepandaiannya
sekarang, betapapun lawan menyerangnya dengan senjata rahasia juga pasti dapat
ditangkapnya tanpa meleset, siapa tahu sebuah sepatu butut yang tampaknya
menyamber tiba dengan pelahan itu ternyata takdapat ditangkapnya, Keruan ia
tidak berani ragu lagi, segera ia ikut menyembah dan memperkenalkan namanya.
“Hahaha,” Ciu Pek-thong tertawa, “Penilaian Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sungguh
rendah, mengapa menerima murid2 tak becus begini? Sudahlah, siapa minta disembah
kalian?” – Habis ini mendadak ia membentak: “Serbu!” – serentak keempat ekor
unta terus membedal cepat ke depan.
Namun secepat burung terbang Hoat-ong lantas melayang ke sana dan mengadang di
depan kawanan unta sambil berseru: “Nanti dulu!” Kedua tangannya menahan di
batok kepala dua ekor unta yang di depan, seketika pula unta2 yang sedang
berlari itu dapat dihentikan dan bahkan didorong mundur beberapa langkah.
Ciu Pek-thong menjadi gusar, teriaknya: “Toa-hwesio, apakah kau mengajak
berkelahi? Sudah belasan tahun Lo-wan-tong tidak menemukan tandingan kepalanku
memang sedang gatal, marilah kita coba2 beberapa jurus!”
Sifat Ciu Pek-thong memang keranjingan ilmu silat, semakin tua bukannya semakin
loyo, tapi kepandaiannya semakin tinggi sehingga tiada seorangpun yang berani
bergebrak dengan dia. Tapi iapun tahu ilmu silat Kim-lun Hoat-ong cukup lihay
dan dapat diajak berkelahi maka segera ia gosok kepalan dan ingin bergebrak
Namun Hoat-ong meng-goyang2 tangannya dan berkata: “Tidak, selamanya aku tidak
sudi bergebrak dengan manusia tidak tahu malu, kalau kau memaksa, silakankau
pukul saja dan pasti takkan kubalas.”
Tentu saja Pek-thong menjadi gusar, damperat-nya: “Mengapa kau berani menganggap
aku adalah manusia tidak tahu malu?”
“Habis, sudah jelas kau tahu aku tidak berada di tempat, kau mencuri panji
kebesaran ini, apa namanya perbuatanmu ini kalau bukan tak tahu malu?”, jawab
Hoat-ong.
“Huh, kau merasa bukan tandinganku maka ketika aku pergi, kesempatan baik lantas
kau gunakan. Hehe, Ciu Pek-thong, kau benar2 tidak punya muka.”
“Baik, aku dapat menandingi kau atau tidak marilah kita berkelahi saja dan
segera dapat di ketahui,” tantang Pek-thong.
Hoat-ong sengaja menggeleng dan menjawab. “Sudah kukatakan aku tidak sudi
bertempur dengan manusia tidak tahu malu, kau tak dapat memaksa aku. Kepalanku
cukup terhormat kalau menghantam badan manusia tidak tahu malu, kepalaku bisa
berbau busuk dan takkan hilang bau busuknya selama 3 tahun 3 bulan.”
Ciu Pek-thong tambah murka, teriaknya: “Habis bagaimana menurut kau?”
“Kau harus menyerahkan kembali panji itu padaku dan malam nanti boleh kau coba
mencuri nya lagi.” ujar Hoat-ong, “Aku akan berjaga di markas sana, kau boleh
merebutnya secara terang2an atau mencurinya secara gelap2an, asalkan kau dapat
memegangnya lagi, segera aku menyerah dan mengakui kau memang pahlawan besar dan
ksatria terhormat!”
Watak Ciu Pek-thong paling kaku, mudah dibakar, sesuatu urusan, semakin sulit
semakin ingin diiakukannya. Segera ia cabut panji besar itu terus dilemparkan
pada Hoat-ong sambil berseru: “Baik, terimalah, malam nanti akan kucuri
kembali,”
Begitu tangan Hoat-ong menangkap panji itu, segera diketahui tenaga lemparan Ciu
Pek-thong sangat kuat, cepat ia bertahan, tapi tidak urung tergetar mundur
dua-tiga tindak, Karena pegangan Hoat-ong pada unta tadi dilepaskan, serentak
ke-empat unta itu lantas berjingkrak terus membedal lagi ke depan.
Semua orang mengikuti bayangan Ciu Pek-thong dengan barisan unta yang aneh itu
hingga jauh dan menghilang.
Sejenak Hoat-ong tertegun, kemudian ia serahkan panji kebesaran itu kepada Soto
dan mengajaknya berangkai Iagi, Diam2 iapun merenungkan cara bagaimana harus
menghadapi Lo-wan-tong yang tindak tanduknya aneh dan sukar diraba itu.
Tapi seketika ia takdapat menemukan akal yang bagus. Ketika tanpa sengaja ia
menoleh, dilihatnya Ci-peng dan Ci-keng sedang bicara bisik2 sambil beberapa
kali, berpaling dan melirik Siao-liong-li, tampaknya kedua Tosu itu sangat
takut.
Tergerak hati Hoat-ong, ia pikir jangan2 penguntilan nona itu ditujukan kepada
kedua Tosu ini. Segera ia coba memancing dengan kata2: “In-toheng, apakah kau
memang kenal nona Liong itu?”
Air muka Ci-peng tampak berubah dan mengiakan pelahan, Hoat-ong tambah yakin
akan dugaan tadi, Segera ia tanya pula: “Kalian telah berbuat salah padanya dan
dia hendak mencari perkara kepada kalian, begitu bukan? Nona itu memang sangat
lihay, kalian memusuhi dia, lebih banyak celaka daripada selamatnya.”
Sudah tentu Hoat-ong tidak tahu menahu pertengkaran antara kedua Tosu itu, cuma
dilihatnya kedua orang itu merasa gelisah dan bisik2, maka dia sengaja
memancingnya dan dugaannya memang tidak meleset”
Namun Ci-keng juga lantas menanggapi: “Tapi nona itupun pernah berselisih dengan
Taysu, malahan Taysu pernah kecundang di tangannya, masakah kekalahan itu tidak
Taysu balas?”
“Darimana kau tahu?” dengus Hoat-ong.
“Kejadian itu tersiar di seluruh jagat, siapa yang tidak tahu?” ujar Ci-keng.
Diam2 Hoat-ong mengakui kelihayan kedua Tosu itu, maksudnya hendak menakutinya,
ternyata Cikeng berbalik hendak memperalatnya. Rasanya urusan ini lebih baik
dibicarakan secara terus terang saja. Maka ia lantas berkata: “Nona Liong itu
hendak membunuh kalian dan kalian merasa bukan tandingannya, maka kalian ingin
perlindunganku, bukan?”
Dengan gusar Ci-peng menjawab: “Biarpun mati juga aku tidak perlu minta
perlindungan orang, apalagi Taysu juga belum tentu bisa mengalahkan dia.”
Melihat sikap Ci-peng yang tegas dan berani itu, Hoat-ong menjadi sangsi,
jangan2 perkiraannya tidak betul. Tapi dengan tertawa ia lantas berkata: “Jika
dia main berganda dengan Nyo Ko, tentu saja ilmu pedang mereka cukup lihay. Tapi
sekarang dia sendirian, kaIau mau dapat kubinasakan dia dengan mudah.”
“Belum tentu bisa,” ujar Ci-keng sambil menggeleng. “Setiap orang Kangouw sama
tahu bahwa Kim-lun Hoat-ong sudah pernah dikalahkan oleh Siao-liong-Ii!”
“Haha, sudah lama aku bertapa, tiada gunanya kau membakar aku dengan perkataanmu
itu?” jawab Hoat-ong. Dari ucapan Ci-keng itu kini ia yakin benar bahwa Tosu itu
memang berharap dirinya bergebrak dengan Siao-;iong-li.
Scbelnm Ciu Pek-thong muncul tadi sebenarnya ada maksud Kim-lun Hoat-ong untuk
membinasakan Siao-liong-li, tapi sekarang dia telah berjanji dengan Ciu
Pek-thong agar mencuri lagi panji kebesaran Kubilai, untuk itu tenaga kedua Tosu
rasanya ada gunanya, jka Siao-liong-li dibunuh lebih dulu berarti hilanglah alat
pemerasnya terhadap kedua Tosu ini.
Maka dengan sikap tak acuh ia lantas berkata pula: “Jika begitu, baiklah
kuberangkat lebih dulu, nanti kalau kalian sudah selesaikan urusan nona itu,
silakan berkunjung ke kemah Ongya sana.”
Habis berkata ia terus melarikan kudanya ke depan, jelas tujuannya agar kedua
Tosu itu tidak mengikuti dia.
Tentu saja Cikeng menjadi gelisah, kalau paderi Tibet itu pergi dan
Siao-liong-li memburu tiba, entah cara bagaimana dirinya akan disiksa oleh nona
itu, apalagi kalau ingat betapa sakitnya sengatan tawon di Cong lam-san dahulu,
tanpa terasa nyalinya menjadi pecah.
Tanpa memikirkan harga diri lagi segera ia melarikan kudanya menyusul ke depan
sambil berseru: “Nanti dulu, Taysu! Jalanan di sini kurang kupahami, kalau sudi
memberi petunjuk tentu takkan kulupakan budi pertolonganmu?”
Diam2 Hoat-ong tertawa geli mendengar seruan Ci-keng itu, ia pikir tentu Tosu
ini bersalah pada nona Liong itu sehingga ketakutan sedemikian rupa.
Sedangkan Tosu she In itu tampaknya adem ayem saja rupanya tidak tersangkut
dalam persoalan mereka, dengan tertawa ia lantas menjawab: “Baiklah, bisa jadi
nanti akupun perlu bantuanmu.”
“Jika Taysu memerlukan tenagaku, pasti akan kulakukan,” cepat Cikeng menanggapi.
Hoat ong lantas meneruskan perjalanan dengaft berjajar dengan Ci-keng sambil
menanyai keadaan Coan-cin-kau Sekaratig dan dijawab seperlunya saja oleh
Ci-keng.
Dengan pikiran linglung Ci-peng mengikut dari belakang tanpa memperhatikan apa
yang dibicarakan kedua orang itu.
Sementara itu Hoat-ong sedang berkata: “Konoti Ma-totiang sudah mengundurkan
diri dari tugasnya dan menyerahkan jabatan ketua kepada Khu-totiang yang
kabarnya juga sudah tua, kukira jabatan ketua berikut tentu akan jatuh pada
gurumu, Ong-totiang.”
Agaknya perkataan Hoat-ong itu rada menyentuh isi hati Ci-keng, tiba2 air
mukanya rada berubah, jawabnya: “Usia guruku juga sudah lanjut sehingga beliau
akhir2 ini jarang mengurusi pekerjaan umum, besar kemungkinan jabatan ketua
nanti akan dilanjutkan oleh In-sute ini.”
Melihat air muka Ci-keng menampilkan rasa penasaran, dengan suara lirih Hoat-ong
coba membakarnya: “tampaknya ilmu silat Ih-foheng ini juga tak melebihi
Tio-toheng sendiri, mengenai kecerdikan dan kecekatan kerja tentu juga selisih
jauh dengan dirimu, kan jabatan ketua yang penting itu seharusnya diserahkan
kepadamu.”
Hal ini sebenarnya sudah terpendam selama beberapa tahun dalam hati Ci-keng,
sekarang Hoat-ong yang membeberkan isi hatinya, tentu saja rasa dendam
dongkolnya semakin kentara, padahal secara Iisan In Ci-peng sudah ditetapkan
sebagai pejabat ketua yang akan datang, semula Ci-keng hanya penasaran dan iri
saja, tapi sejak dia mengenai kesalahan Ci-peng, segera ia berdaya upaya hendak
merebut kedudukannya.
Ci-keng yakin kalau dia membeberkan rahasia In Ci-peng yang diam2 jatuh cinta
dan bahkan telah menodai Siao-liong-li, akibatnya Ci-peng pasti akan dihukum
mati. Tapi iapun menyadari dirinya kurang disukai para paman gurunya, antar
sesama saudara seperguruan juga banyak yang tidak cocok padanya, ia pikir
akhirnya jabatan ketua itu toh juga takkan jatuh padanya, sebab itulah sampai
sekarang ia belum membongkar dosa Ci-peng itu.
Dari gerak dan sikap kedua Tosu ini Hoat-ong dapat menerka jalan pikiran
Ci-keng, ia pikir: “Kalau kubantu dia merebut jabatan ketuanya, tentu kelak
dapat kuperalat dengan baik, pengaruh Coan- Cinkau cukup besar dan tentu akan
bermanfaat bagi penyerbuan Ongya ke selatan, bagiku berarti pula suatu jasa
besar dan mungkin lebih besar daripada jasa membunuh Kwe Cing.”
Begitulah diam2 Hoat-ong merancangkan tindakan selanjutnya, menjelang lohor,
sampailah rombongan mereka di markas besar Kubilai, sebelum masuk ke kemah, Hoat
ong coba berpaling, dilihatnya Siao-liong-li dengan keledainya berdiri jauh di
sana dan tidak mendekat lagi, ia pikir dengan beradanya nona itu, mustahil kedua
Tosu ini takkan masuk perangkapku.
Setelah berhadapan dengan Kubilai, ternyata pangeran Mongol itu sedang uring2an
berhubung panji kebesarannya dicuri orang, padahal panji itu adalah simbol
kebesaran dan kepemimpinan, maju mundurnya pasukan selalu mengikuti arah kibaran
panji itu, tapi sekarang dicuri orang tanpa berdaya, hal ini sama saja mengalami
kalah perang besar2an.
Kubilai sangat girang melihat Kim-lun Hoat ong sudah kembali, cepat ia berdiri
menyambut Kubilai memang seorang pemimpin berbakat dan bijaksana melebihi sang
kakek, yaitu Jengis Khan, untuk sementara dikesampingkan urusan kehilangan panji
itu, tapi lantas menerima Ci-peng berdua yang diperkenalkan oleh Hoat-ong itu
sebagai tanda simpatiknya terhadap kaum ksatria, Segera pula ia menyuruh
menyediakan perjamuan.
In Ci-peng tetap lesu Iinglung, segenap pikiran-nya hanya melayang kepada diri
Siao-liong-li, sebaliknya Ci-keng adalah manusia yang kemaruk kedudukan, melihat
raja Mongol sedemikian menghormatinya, ia menjadi kegirangan.
Sama sekali Kubilai tidak menyinggung tentang kegagalan usaha Hoat-ong membunuh
Kwe Cing, “ia hanya terus memuji kesetiaan Nimo Singh pada tugasnya sehingga
kedua kakinya menjadi korban, Maka dalam perjamuan ini Nimo Singh diberi tempat
utama dan ber-ulang2 mengajak minum padanya.
Dengan demikian bukan saja Nimo Singh menjadi lebih bulat kesetiaannya, orang
lain juga merasakan budi kebaikan pangeran Mongol itu sungguh sangat luhur.
Selesai perjamuan Hoat-ong mengiringi Ci-peng dan Ci-keng mengaso ke perkemahan
di samping sana. Ci-peng sudah lelah lahir batin, maka begitu membaringkan diri
ia terus pulas tertidur
“Tio-toheng, daripada iseng, marilah kita jalan keluar,” ajak Hoat-ong.
Mereka lantas berjalan keluar kemah, Dari jauh kelihatan Siao-liong-li berduduk
di bawah pohon dan keledainya juga tertambat di sana, Tanpa terasa air tbuka
Ci-keng berubah lagi, Tapi Hoat-ong pura2 tidak tahu, malahan ia sengaja
mengajak omong yang dan menanyai berbagai keadaan Coan-cin-kau.
Lantaran sudah anggap Hoat-ong sebagai teman karibnya, Ci-keng lantas menjawab
dengan terus terang.
Sambil bicara sambil berjalan terus ke depan, lambat-laun mereka sampai di
tempat yang sepi, tiba2 Hoat-ong menghela napas dan berkata: “Tio-toheng,
sungguh tidak mudah Coan-cin-kau kalian dapat berkembang sebaik ini, tapi terus
terang ingin kukatakan bahwa para paman gurumu itu mengapa begitu gegabah untuk
menyerahkan jabatan ketua yang penting itu kepada In-toheng?”
Sebenarnya sudah lama Ci-keng menginginkan kedudukan itu, akan tetapi ia sendiri
menyadari harapannya terlalu tipis, maka iapun menghela napas demi mendengar
Hoat-ong menyebut hal itu, lalu iapun memandang sekejap ke arah Siao-Iiong-li.
“Urusan nona Liong itu adalah soal kecil, asalkan aku mau turun tangan, dengan
mudah saja dapat kubereskan dia dan kau tak perlu lagi kuatir.” kata Hoat-ong,
“Justeru yang penting adalah jabatan ketua agama kalian itu tidak boleh jatuh di
tangan orang yang kurang tepat.”
“Kalau Taysu dapat memberi petunjuk jalan yang baik, selama hidupku rela
menuruti perintahmu” jawab Ci keng.
Tentu saja janji inilah yang di-harap2kan Kim lun Hoat-ong, segera ia menegas:
“Kata2 seorang lelaki sejati harus ditepati dan tidak boleh menyesal di belakang
hari.”
“Sudah tentu,” jawab Cikeng.
“Baik, dalam waktu tiga bulan akan ku usahakan kau diangkat menjadi ketua
Coan-cin-kau” kata Hoat-ong.
Girang sekali Ci-keng, tapi mengingat urusan ini sesungguhnya amat suIit,
mau-tak-mau ia menjadi ragu2.
“Apakah kau percaya?” tanya Hoat-ong.
“Percaya, pasti percaya,” jawab Ci-keng. “Kepandaian Taysu maha sakti, tentu
engkau mempunyai daya upaya yang bagus.”
“Sebenarnya aku tiada sangkut paut apapun dengan agama kalian, siapapun yang
menjadi ketuanya juga sama saja bagiku, tapi entah mengapa, baru berkenalan
rasanya aku sudah cocok dengan kau dan ingin membantu kau,” kata Hoat-ong dengan
tertawa,
“Maka langkah pertama kita harus diusahakan ada seorang kuat di dalam agamamu
yang akan menjadi pendukungmu. Saat ini siapakah yang paling tinggi menurut
angkataanya di agamamu!”
“lalah Ciu susiokco yang kita jumpai di tengah jalan tadi,” jawab Ci-keng.
“Benar, kalau dia membantu kau dengan sepenuh tenaga, maka tiada seorangpun yang
dapat menandingi kau lagi,” ujar Hoat-ong.
“Betul, apa yang dikatakan Susiokco sudah tentu mempunyai bobot dan harus
diturut oleh Ma-supek, Khusupek dan lain!” kata Ci-keng dengan girang, “Tapi
dengan cara bagaimana Taysu akan membuat Ciususiokco memihak diriku?”
“Tadi dia telah berjanji padaku akan datang ke sini untuk mencuri panji
kebesaran Ongya,” tutur Hoat-ong, “Nah menurut pendapatmu, dia datang atau
tidak?”
“Tentu saja datang,” jawab Ci-keng.
“Tapi panji ini justeru tidak kita kerek pada tiangnya melainkan kita
sembunyikan di suatu tempat yang dirahasiakan Di tengah perkemahan yang beratus
buah ini, biarpun Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian setinggi langit juga takkan
menemukan panji itu hanya dalam semalam saja.”
“Ya, memang,” ujar Ci-keng, Tapi dalam hati ia anggap cara bertaruh begitu
kurang jujur, andaikan menang juga kurang terhormat.
“Tentunya kau anggap pertaruhan cara demikian kalau menang juga kurang terhormat
begitu bukan?” tanya Hoat-ong tiba2. “Tapi semua ini adalah demi kepentinganmu.”
Ci-keng jadi melenggong memandang Hoat-ong, lebih tidak paham seluk beluknya.
Hoat-ong menepuk pelahan pundak Ci-keng, dan berkata pula: “Begini, akan
kukatakan padamu tempat penyimpanan panji itu, kemudian secara diam2 kau
memberitahukannya kepada Ciu Pek-thong agar dia menemukan panji itu, jadi kau
akan berjasa besar baginya.”
“Benar, benar, dengan demikian Ciu-susiokco pasti akan senang,” seru Ci – keng
dengan girang. tapi segera berpikir olehnya, katanya lagi: “Namun pertaruhan
Taysu itu kan menjadi kalah?”
“Yang penting adalah persahabatan kita, soal kalah menang urusan pribadi bukan
apa2 bagiku” kata Hoat-ong.
Tentu saja Ci-keng sangat berterima kasih, katanya: “Budi kebaikan Taysu entah
cara bagaimana harus kubalas.”
Hoat-ong tersenyum, katanya: “Asalkan kau sudah mendapatkan bantuan Ciu
Pek-thong, lalu kubantu lagi dengan perencanaan yang lebih sempurna, dengan
begitu jabatan ketua pasti akan jatuh ditanganmu.” – Habis ini dia menuding
bukit di sebelah sana dan berkata: “Marilah kita lihat2 ke bukit sana.”
Kira2 beberapa li dari perkemahan Kubilai itu memang ada beberapa buah bukit,
dengan cara jalan cepat mereka, hanya sekejap saja sudah sampai di tempat
tujuan.
“Marilah kita mencari suatu gua sebagai tempat menyimpan panji,” kata Hoat-ong.
Bukit pertama tandus dan tiada sesuatu gua, ber-turut2 mereka melintasi dua-tiga
bukit, sampai bukit ketiga yang banyak pepohonan itu, malahan banyak pula
guanya.
“Bagus sekali bukit ini,” ujar Hoat-ong. Dilihatnya diantara celah2 dua batang
pohon besar ada sebuah gua, mulut gua ter-aling2 oleh pohon sehingga tidak mudah
terlihat. Segera ia berkata pula: “Nah ingatlah tempat ini, sebentar
kusembunyikan panji itu, di dalam gua ini, malam nanti kalau Ciu Pek thong
datang boleh kau membawanya ke sini.”
Dengan gembira Ci-keng mengiakan saja, ia mengamat-amati pula kedua pohon besar
dan ingat baik2 tempat itu, ia pikir pasti takkan salah.
Setiba kembali di perkemahan, setelah makan malam, Ci-keng berusaha mengajak
bicara dengan Ci-peng, tapi Ci-peng masih lesu saja dan sungkan bicara.
Sementara itu malam sudah tiba, mendekat tengah malam, Ci-keng terus ngeluyur
keluar dan duduk di samping sebuah gundukan pasir, Dilihatnya penjaga berkuda
meronda kian kemari dengan ketat, dalam hati ia sangat kagum atas kepandaian Ciu
Pek-thong yang maha sakti itu, di tengah penjagaan sekeras itu orang tua itu
ternyata mampu pergi datang sesukanya dan berhasil mencuri panji kebesaran
Kubilai.
Suasana sunyi senyap, langit membiru kelam hanya kelap-kelip bintang yang
jarang2. Tiba2 terpikir oleh Ci-keng: “Kalau apa yang dikatakan Hoat-ong
terlaksana, tiga bulan kemudian aku akan menjadi ketua Coan-cin-kau, tatkala
mana namaku akan termashur di segenap penjuru, beribu Tokoan (kuil agama To)
dengan penganut yang tak terhitung jumlahnya akan tunduk semua pada perintahku
Hm, tatkala itu kalau mau mencabut nyawa bocah she Nyo itu boleh dikatakan mudah
seperti merogoh barang di saku sendiri.”
Begitulah makin dipikir makin senang hatinya sehingga dia berdiri dan memandang
jauh ke sana, samar2 tertampak Siao-liong-li masih duduk di bawah pohon itu,
segera terpikir pula olehnya: “Nona Liong itu memang cantik luar biasa dan
setiap orang pasti suka padanya, pantas Ci-peng edan kasmaran padanya, Tapi
seorang ksatria sejati yang mengutamakan tugas besar mana boleh hilang akal dan
tergoda oleh kecantikan wanita?”
Pada saat itulah tiba2 terlihat sesosok bayangan orang berlari datang dengan
cepat dan menyusuri kian kemari di antara perkemahan itu, hanya sekejap saja
bayangan itu sudah sampai di bawah tiang bendera, orang itu berjubah longgar,
jenggotnya yang putih bergoatsi tertiup angin, siapa lagi kalau bukan Ciu
Pek-thong.
Melihat tiang itu kosong tiada benderanya, Pek-thong terkesiap, tadinya ia
menyangka Kim-hin Hoat-ong pasti menyembunyikan jago2 di sekitar situ untuk
mencegatnya dan inilah yang dia harap, sebab dengan demikian dia dapat berkelahi
sepuasnya, siapa tahu tiang bendera itu ternyata kosong, ia coba memandang
sekeliling, tertampak be-ribu2 kemah ber-deret2 dan kemana harus mencari panji
kebesaran Kubilai.
Segera Ci-keng menyongsong ke depan, bara saja ia hendak menyapa, tapi lantas
terpikir jika begitu saja dia memberitahu tempat bendera itu, pasti akan
menimbulkan rasa sangsi orang malah, sebaiknya dibiarkan orang tua itu mencari
dengan kelabakan, nanti kalau sudah tak dapat menemukannya barulah kumuncul dan
memberitahukan tempat penyimpanan bendera, dengan begitu dia batu merasakan
betapa berharganya bantuanku dan pasti ikan sangat berterima kasih padaku.
Segera ia sembunyi di balik sebuah kemah untuk mengawasi gerak-gerik Ciu
Pek-thong, dilihatnya sekali lompat saja orang tua itu telah memanjat ke atas
tiang bendera, hanya beberapa kali kedua tangannya bekerja, segesit kera pucuk
tiang bendera itu telah dicapainya, Diam2 Ci-keng melongo kaget, padahal usia
Ciu Pek-thong itu sedikitnya sudah lebih 90 jika belum genap seabad, tapi
gerak-gerik-nya ternyata masih gesit dan tangkas seperti orang muda, sungguh
luar biasa.
Setiba di atas pucuk tiang bendera, Ciu Pek-thong memandang sekelilingnya, yang
terlihat cuma ribuan panji kecil yang berkibaran, hanya panji helai milik
Kubilai itulah yang tidak nampak, ia menjadi gusar dan berteriak: “Hai, Kim-lun
Hoat-ong, ke mana kau menyembunyikan Ongki (panji raja) itu?”
Bcgitu keras dan nyaring suaranya sehingga berkumandang jauh dan didengar oleh
segenap perajurit Mongol, bahkan suara kumandang juga sayup2 terdengar membalik
dari kejauhan sana.
Sebelumnya Hoat-ong sudah lapor pada Kubilai tentang urusan ini, maka perkemahan
pasukan Mongol itu tetap sunyi senyap saja meski mendengai suara teriakan Ciu
Pek-thong itu.
Terdengar Ciu Pek-thong menggembor lagi. “Wahai, Kim-lun Hoat-ong, kalau kau
tidak menjawab, segera akan kumaki kau!”
Selang sebentar pula dan tetap tiada orang menggubris, terus saja Ciu Pek-thong
mencaci-maki “Kim-lun busuk, Hoat-ong anjing, kau ini ksatria macam apa? Kau
lebih tepat disebut kura2 yang mengerutkan kepala?”
Se-konyong2 di sebelah timur sana ada orang berseru: “Lo-wan-tong, Ongki yang
kau cari beradij di sini, kalau mampu bolehlah kau mencurinya,”!
Secepat terbang Ciu Pek-thong terus melayang turun dan berlari ke sana sambil
membentak: “Kemana?,”
Tapi sesudah berseru tadi, lalu orang itu tidak bersuara lagi, sambil memandangi
kemah yang tak terhitung banyaknya itu, Ciu Pek-thong merasa bingung dan tidak
tahu cara bagaimana harus bertindak.
Pada saat itulah mendadak di sebelah barat sana ada suara melengking teriakan
orang macam menguiknya babi disembelih: “Ongki berada di sini!”
Seperti kesetanan Ciu Pek-tbong terus memburu ke sana, Suara orang itu masih
terdengar tanpa berhenti, tapi makin lama makin lirih dan akhirnya lenyap tak
terdengar lagi.
Dengan ter-bahak2 Ciu Pek – thong berteriak pula: “Hahaha, Hoat-ong busuk,
memangnya kau sengaja main kucing2an dengan aku ya? Haha, sebentar kalau kubakar
perkemahan kalian ini barulah kau nyaho!”
Diam2 Ci-keng berkuatir, kalau betul orang tua ini main bakar, urusan memang
bisa berubah runyam Cepat ia melompat keluar dari tempat sembunyinya dan
mendesis: “Ssst! Ciu-susiokco, tidak boleh main bakar.
“Eh, kau, Tosu kecil!” tegur Pek-thong. “Kenapa kau bilang tidak boleh main
bakar.”
“Mereka justeru sengaja memancing kau menyalakan api,” demikian Cikeng sengaja
membual “Di tengah perkemahan ini penuh tersimpan bahan peledak, sekali engkau
menyalakan api. seketika semuanya-akan meledak dan badanmu akan hancur lebur.”
Ciu Pek-thong menjadi kaget dan memaki. “Keji juga muslihat busuk mereka ini.”
Ci-keng bergirang karena orang tua itu percaya kepada ocehannya, Segera ia
berkata pula: “Cucu murid mengetahui muslihat mereka dan kuatir Susiokco
terjebak, maka sejak tadi hati cucu murid sangat cemas dan gelisah, sebab itulah
kutunggu di sini”
Wo, baik hati juga kau,” ujar Ciu Pek-thong–“Untung kau memberitahu padaku,
kalau tidak kan Lo-wan-tong sudah mampus.”
“Malahan cucu murid dengan menyerempet bahaya mendapat keterangan tempat
penyimpanan Ongki itu, marilah Susiokco ikut padaku,” bisik Ci-keng.
Akan tetapi Ciu Pek-thong lantas menggeleng dan berkata: “Jangan, jangan kau
katakan padaku, kalau aku tak dapat menemukannya, anggaplah aku kalah.”
Rupanya pertaruhan mencuri panji ini bagi Ciu Pek-thong adalah suatu permainan
yang sangat menarik,” kalau saja Ci-keng memberi petunjuk, andaikan berhasil
juga terasa kurang nikmat baginya, apalagi setiap perbuatannya selamanya
dilakukan secara terang2an dan tidak suka main sembunyi2an.
Karena bujukannya tidak berhasil, Ci-keng menjadi kelabakan, mendadak teringat
bahwa kelakuan sang Susiokco ini lain daripada yang lain, untuk bisa berhasil
harus dengan cara memancingnya. Segera ia berkata pula: “Susiokco, jika begitu
akan kucari sendiri Ongki itu, lihat saja nanti kau lebih dulu berhasil atau
aku.” Habis berkata ia ierus mendahului berlari kearah bukit2.
Tidak jauh berlari, Ci-keng coba melirik kebe-lakang dan dilihatnya Ciu
Pek-thong juga mengintilnya, langsung saja ia berlari ke bukit ketiga yang ada
pepohonan itu, di situ ia menggumam sendiri: “mereka mengatakan Ongki itu
disembunyikan dalam gua yang teraling oleh dua pohon besar, mana ada dua pohon
besar yang dikatakan itu?”
Ia sengaja pura2 celingukan kian kemari, tapi tidak mendekati gua yang dikatakan
Kim-lun Hoat-ong.
Tiba2 terdengar Ciu Pek-thong berseru gembira. “Aha, kutemukan lebih dulu di
sini!” Berbareng ia terus menerobos ke sela2 kedua pohon.
Diam2 Ci-keng tersenyum karena maksud tujuannya sudah tercapai, ia pikir setelah
sang Susiokco berhasil menemukan Ongki, pasti dia akan berterima kasih padaku,
apalagi dia pasti merasa utang budi padaku karena aku telah menghindarkan dia
dari kematian apabila dia jadi menyalakan api.
Dengan hati senang ia lantas mendekati gua itu tapi mendadak terdengar jeritan
Ciu Pek-thong, suaranya ngeri menyeramkan, menyusul terdengal teriakannya:
“Ular! Ular berbisa!”
Keruan Ci-keng kaget, sebelah kaki yang sudah melangkah ke dalam gua itu cepat
di tariknya kembali, lalu berseru: “Susiokco, masakah di situ ada ular berbisa?”
“Buk… bukan ular…. bukan ular…”
Terdengar teriakan Ciu Pek-thong, suaranya sudah jauh lebih lemah.
Kejadian ini sama sekali di luar dugaan Tio Ci Keng, cepat ia menjemput sepotang
kayu kering dan dinyalakan sebagai obor, lalu digunakan menerangi kedalam gua,
Dilihatnya Ciu Pek-thong tergeletak di tanah, tangan kiri memegangi sehelai-bun
panji dan ber-ulang2 dikebutkan seperti sedang menghalau sesuatu makhluk aneh.
“Susiokco, ada apakah ?” tanya Ci-keng kuatir.
“Aku digigit… digigit makhluk ber… makhluk berbisa….” kata Pek thong
dengan suara lemah dan ter-putus2 sampai di sini tangannya juga lantas melambai
ke bawah dan tidak kuat mengebutkan kain bendera lagi…
Ci-keng heran, makhluk berbisa apakah yang sedemikian lihaynya sehingga dapat
membuat Ciu Pek-thong yang maha sakti itu tak dapat berkutik dalam waktu
sesingkat itu? Segera dilihatnya kain panji yang dipegang Ciu Pek-thong itu
ternyata sebuah panji tentara biasa dan bukan panji kebesaran Kubilai yang di
cari itu.
Diam2 ia tambah ngeri. Kiranya paderi Tibet itu sengaja menipu aku memancing
Susiokco ke sini, tapi di dalam gua ini telah disebarkan makhluk berbisa.”
Dalam keadaan demikian, bagi Ci-keng yang penting adalah menyelamatkan jiwanya
sendiri, mana sempat dia sempat memikirkan mati-hidupnya Ciu Pek-thong, iapun
tidak berani memeriksa keadaan sang Susiokco dan makhluk berbisa apa yang
menggigitnya itu, tanpa bicara lagi ia membuang obofnvl dan melarikan diri.
Tapi sebelum obor itu jatuh ke tanah, mendadak berhenti di tengah jalan, rupanya
kena ditangkap oleh tangan seseorang, terdengar orang itu berkata: “Kenapa,
masakah orang tua ditinggalkan begitu saja?” suaranya halus nyaring, tertampak
baju putih berkelebat jelas itulah Siao-liong-li, di bawah cahaya obor wajahnya
yang moIek itu tampak tidak mengunjuk perasaan girang atau gusar.
Sungguh kejut Ci-keng tak terkatakan. Sama sekali tak terduga bahwa
Siaoliongli berada begitu dekat di belakangnya, ingin sekali ia melarikan
diri, tapi kakinya terasa berat dan sukar melangkah.
Padahal dari jauh Siao-liong-li mengawasi dia, setiap gerak gerik Tio Ci-keng
tak pernah terlepas dari pengamatannya, Ketika Ci-keng memancing Ciu Pek-thong
ke bukit ini, diam2 Siao-liong-li juga menguntit di belakangnya. Sudah tentu Ciu
Pek-thong mengetahuinya, tapi ia tidak ambil pusingi hanya Ci-keng saja yang
tidak tahu.
Dengan obor yang dipegangnya itu Siaoliong-li lantas menerangi tubuh Ciu
Pek-thong, terlihat muka orang tua itu samar2 bersemu hijau, segera ia Iepaskan
sarung tangan benang emas, lalu memegang tangan Ciu Pek-thong dan diperiksa.
Seketika Siao-liong-li terperanjat ternyata ada tiga ekor labah2 sebesar ibu
jari sedang menggigit tiga jari tangan kiri Ciu Pek-thong.
Bentuk ketiga ekor labah2 itu sangat aneh, seluruh badan berloreng merah dan
hijau menyolok, sekali pandang saja orang akan merasa ngeri.
Siao-liong-li tahu makhluk berbisa apapun semakin bagus warnanya semakin jahat
racunnya, apa lagi labah2 ini belum pernah dilihatnya, biarpun memakai sarung
tangan juga tak berani ditangkapnya, cepat ia ambil sepotong ranting kayu dan
bermaksud pencukit ketiga ekor labah2 itu.
Tak terduga labah2 itu ternyata menggigit kencang sekali di jari Ciu Pek-thong,
beberapa kali Siao liong-li mencukitnya tetap tak terlepas: Tanpa pikir lantas
menyambitkan tiga buah Giokhong-ciam (jarum tawon putih), kontan ketiga ekor
labah2 tertembus perutnya dan mati seketika.
Cara Siao-liong-Ii menyambitkan jarumnya itu sangat bagus sekali, tenaga yang
digunakan begitu tepat, labah2 itu mati tertusuk jarum, tapi tidak sampai
melukai Ciu Pek-thong.
Kiranya labah2 itu disebut “Cay swat-tu” (labah2 salju panca warna) dan hidup di
pegunungan bersalju daerah Tibet, tergolong satu di antara tiga jenis makhluk
berbisa paling jahat di dunia ini. Kim-lun Hoat-ong membawa labah2 berbisa ini
ke Tionggoan maksudnya hendak mengadu kepandaian menggunakan racun dengan ahli
racun di Tionggoan.
Tempo hari waktu dia berusaha membunuh Kwe Cing, karena tiada rencana
menggunakan racun, maka dia tidak membawa labah2 berbisa ini. Tak terduga ia
sendiri malah kena jarum berbisa Li Bok chiu.
Saking gemasnya setiba kembali di markas Kubilai ia lantas keluarkan kotak
penyimpan labah2 itu dan disiapkan untuk menghadapi Li Bok-chiu apabila kepergok
lagi setiap saat.
Kini dia bertaruh mencuri bendera dengan Ciu Pek thong dan juga bertemu dengan
orang yang kemaruk menjadi ketua agama seperti Tio Ci-keng ini, maka diam2 ia
telah mengatur tipu muslihat kejii lebih dulu dia menaruh sebuah bendera di
daiarrt gua itu, di dalam bendera terbungkus tiga ekor labah2 berbisa.
Labah2 panca warna itu sangat ganas, sekali menggigit dan merasakan darah, maka
takkan dilepaskan sebelum kenyang mengisap darah korban-nya. Kadar racunnya juga
sangat jahat dan tak dapat disembuhkan dengan obat, sekalipun Hoat-ong sendiri
juga tidak mempunyai obat penawarnya.
Sebabnya dia tak berani selalu membawa labah2 itu adalah untuk menjaga segala
kemungkinan kelengahan diri sendiri, sebab akibatnya sukar di bayangkan.
Tak tersangka sambitan tiga buah jarum Siao-liong-li itu dengan tepat telah
mengenai sasarannya dan sekaligus juga telah menyelamatkan nyawa Ciu Pek thong.
Soalnya begini: Giok-hong-ciam itu mengandung racun tawon putih, meski kadar
racunnya tidak sejahat labah2 panca warna itu, tapi begitu tertusuk oleh jarum
itu, sebelum ajalnya labah itu telah mengeluarkan serum penangkis racun.
Perlu diketahui bahwa berkat memiliki serum penangkis racun itu dalam tubuhnya,
maka labah2 tidak sampai mati sendiri oleh racun yang terkandung dalam badannya
itu.
Ketika serum anti racun itu menyemprot keluar dari mulut labah2 dan masuk dalam
darah Ciu Pek-thong, hanya sebentar saja labah2 itu jatuh dan mati. Bayangkan
saja, kalau racun labah2 itu juga cuma dapat ditawarkan olehnya sendiri dan lain
cara pengobatan lain, tatkala itu belum ada cara pembuatan serum anti racun
seperti jaman sekarang, dengan sendirinya juga tidak dapat mengambil serum anti
racun itu dari tubuh labah2.
Untunglah Siao Iiong- li buru2 ingin menolong Ciu Pek-thong, fmla seram melihat
bentuk labah2 yang mengerikan itu, maka dia telah menggunakan senjata rahasianya
yang halus itu, tapi justeru kebetulan telah menyelamatkan nyawa orang tua itu.
Setelah ketiga ekor labah2 itu jatuh ke tanah dan mati, melihat warnanya yang
loreng2 itu, Siao-liong-li tetap merasa ngeri.
Ciu Pek-thong yang tadinya menggeletak kaku itu sekarang mendadak dapat
menggerakkan tangan kirinya dan bertanya dengan suara pelahan: “Barang apakah
yang menggigit aku, sungguh lihay amat.”
Tampaknya dia hendak bangun, tapi baru sedikit mengangkat badannya kembali ia
jatuh terbaring lagi.
Siao-liong-li sangat girang melihat Ciu Pek-thong tidak mati, ia coba memeriksa
sekitar gua dengan obor, ia merasa lega setelah tidak lagi menemukan labah2
berbisa seperti tadi, ia coba tanya: “Ciu-loyacu, engkau tidak mati kan?”
“Rasanya belum mati sama sekali, baru mati separoh dan hidup setengah, haha
haha…”
Ciu Pek-thong ingin tertawa keras, tapi segera terasa kaki dan tangannya kaku
kejang sehingga suara tertawanya kedengaran aneh.
Pada saat itulah tiba2 seorang bergelak tertawa di luar gua, suaranya keras
menggetar telinga, lalu terdengar ucapannya: “He, Lo-wan-tong! Ongki itu sudah
dapat kau curi belum? pertaruhan kita ini dimenangkan kau atau aku?” – jelas
itulah suaranya Kim-lun Hoat-ong.
Cepat Siao-liong-li memadamkan api obor dengan tangannya yang memakai sarung
benang mas yang tidak takut senjata tajam maupun api. sedangkan Ciu Pek-thong
lantas berkata dengan suara lemah: “Permainan ini sudah jelas Lo-wan-thong yang
kalah, bisa jadi jiwaku juga akan kuserahkan padamu. He, Hoat-ong busuk barang
apakah labah2 yang kau sebarkan ini, sungguh jahat amat.”
Meski suaranya kedengaran lemah, tapi suara tertawa Hoat-ong yang keras ternyata
tak dapat melenyapkan suara perkataannya itu. Keruan Hoat-ong terkejut, sudah
jelas dia tergigit oleh labah2, tapi ternyata belum mati.
Dalam pada itu Ciu Pek-thong berkata pula. “Kau Tio Ci-keng si Tosu brengsek,
kau makan dalam bela luar, terlalu, Boleh katakan kepada Khu supekmu, suruh dia
bunuh saja kau!”
Tentu saja Ci-keng sangat ketakutan dan bersembunyi di belakang Kim-lun
Hoat-ong.
“Eh, Tosu she Tio ini sangat baik, malahan Ongya kami akan memohon pada Sri
Baginda agar mengangkat dia menjadi ketua Coan-cin-kau,” kata Hoat-ong
dengan-tertawa.
Ciu Pek-thong menjadi gusar, segera ia hendak mcndamperat pula, tapi racun
labah2 itu sungguh luar biasa jahatnya, meski sebagian kadar racunnya sudah
hilang, namun sedikit sisa saja sudah cukup membinasakan orang, untung tenaga
dalam Ciu Pek-thong sangat kuat, tapi sedikit kendur saja tenaganya segera ia
jatuh pingsan Iagi.
“Kim-lun Hoat-ong.” tiba2 Siao-liong-li ikut bicara, “Kau adalah mahaguru satu
aliran tersendiri namun kau menggunakan makhluk berbisa begini apakah kau tidak
malu? Lekas keluarkan obat penawar untuk menyembuhkannya.”
Melihat Ciu Pek-thong jatuh pingsan, Hoat-ong mengira racun dalam tubuh orang
tua itu telah bekerja dan orangnya mati, diam2 ia sangat girang dan merasa tidak
perlu lagi gentar terhadap Siao-liongli. Apalagi bila teringat ucapan Tio
Ci-keng siang tadi yang mengatakan semua orang mengetahui dia pernah dikalahkan
Siao-liong-li, maka sekarang dia bertekad akan menawan si nona untuk
memperlihakan kemampuannya.
Mendadak tangan kiri Hoat-ong disodorkan sedangkan tangan kanan terus
mencengkeram Siao liong li sambil berseru: “Ini obat penawarnya, terimalah kau.”
Siao-liong-li terkejut, cepat iapun bergerak, terdengar suara “tring” nyaring,
selendang berkeleningan segera mengetok Hiat-to pergelangan tangan musuh.
“Hm, kalau aku sampai bergebrak ber-jurus2 dengan kau kan akan ditertawakan oleh
Tosu she Tio itu,” demikian Hoat-ong membatin sambil menghindari serangan
Siao-liong-li, menyusul iapun mengeluarkan sepasang rodanya, sekali digesekkan,
terdengarlah suara nyaring mengilukan.
Cepat Siao-liong-li menarik balik tali sutera-nya setelah serangannya luput,
segera ia menghantam pula Tay-cui-hiat di punggung lawan, serangan kedua ini
sangat cepat dan ganas pula, tampaknya sukar untuk dielakkan.
Akan tetapi Hoat-ong terus meloncat ke atas sambil memuji: “Kepandaianmu ini
sungguh jarang ada bandingannya di kalangan wanita.”
BegituIah kedua orang bertempur di lorong gua yang sempit itu, dalam sekejap
saja belasan jurus sudah lalu, kalau Hoat-ong menyerang sekuatnya sebenarnya
sukar bagi Siao-liong-li untuk menahan nya, tapi beberapa hari yang lalu
Hoat-ong baru saja terluka oleh jarum berbisa, bahkan jiwanya hampir melayang,
sekarang dilihatnya gaya ilmu silat Siao-liong-li serupa dengan Li Bok-chiu,
malahan jurus serangannya terlebih bagus dan lihay daripada Li Bok-chiu, sudah
tentu ia menjadi waswas dan tidak ingin kejeblos untuk kedua kalinya.
Sebab itulah hatinya sangat gelisah karena tak dapat mengalahkan lawan dengan
cepat, tapi iapun tidak berani menyerang secara sembrono. Dalam kegelapan
terdengarlah suara mendering benturan roda emas dan perak terseling oleh suara
“tring-ting” genta kecil pada ujung senjata Siao-liong-li, bagi orang yang tidak
tahu mungkin malah menyangka kedua orang sedang menabuh alat musik.
Ci-keng berdiri menonton dari tempat rada jauh, setiap kali mendengar suara
nyaring benturan senjata, setiap kali pula jantungnya berdebar.
Teringat kematian sang Susiokco itu biarpun bukan direncanakan oleh dirinya,
tapi apapun juga tak terlepas dari ikut tersangkut dosa membunuh orang tua
demikian ini tiada ampun dalam dunia persilatan, kalau saja Hoat-ong dapat
membunuh Siao liong-li tentu saja urusan menjadi beres seluruhnya, tapi kalau
Siao-Iiong-li yang menang, akibatnya tentu bisa runyam.
Karena Hoat-ong tidak dapat menyerbu ke dalam gua, dengan sendirinya sukar pula
baginya untuk mengalahkan Siao-liong-li, sebentar saja mereka sudah bergebrak
beberapa puluh jurus dan tetap belum bisa dibedakan unggul dan asor.
Siao-liong-li menjadi gelisah dan kuatir, dilihatnya Ciu Pek-thong menggeletak
tak bergerak sedikitpun, besar kemungkinan jiwanya akan melayang, pikirnya
hendak menolongnya, tapi serangan Hoat-ong teramat gencar dan sukar menarik
diri.
Pertarungan di tempat gelap itu sudah tentu lebih menguntungkan Siao-Iiong-li
karena dia sudah lama hidup di kuburan kuno yang gelap itu.
Ketika dilihatnya Hoat-ong menyerang dari sisi kanan dan sebelah kirinya tak
terjaga, cepat ia memutar tali sutera bergenta emas itu untuk mengetok iga
kirinya, berbareng belasan jarum Giok-hong-ciam lantas dihamburkan.
Karena jaraknya teramat dekat, pula samberan jarum itu tak mengeluarkan suara,
ketika Hoat-ong merasakan gelagat jelek, sementara itu jarak jarum sudah tinggal
beberapa senti saja di depan tubuhnya.
Syukur ilmu silatnya memang maha tinggi, dalam detik berbahaya itu roda peraknya
terus berputar dan tepat menggulung tali sutera bergenta Iawan, berbareng itu
kedua kakinya terus memancar sekuat nya dia mengapung ke atas sehingga belasan
jarum berbisa itu menyamber lewat dr bawah kakinya.
Dalam keadaan kepepet, saking kerasnya dia menggunakan tenaga, ketika tubuhnya
mengapung ke atas, kedua tangannya juga ikut terangkat, maka sepasang roda
berikut tali sutera bergenta milik Siao-liong-li itu juga ikut terbetot lepas
dari cekalannya dan mencelat ke udara dengan menerbitkan suara nyaring
gemerincing..
Sebelum tubuh lawan turun kembali, segera Siao-liong-li menghamburkan pula
segenggam Giok-hong-ciam. Dalam keadaan masih terapung di udara, betapapun
tinggi ilmu silatnya juga sukar menghindari apalagi jaraknya sekarang juga
sangat dekat, keadaannya menjadi terlebih bahaya daripada tadi.
Namun Hoat-ong benar2 maha sakti, ketika meloncat ke atas tadi sudah terpikir
olehnya kemungkinan pihak lawan akan menyusulkan serangan lagi, maka kedua
tangannya sudah siap menarik baju sendiri, begitu dipentang, seketika jubahnya
terobek menjadi dua bagian, pada saat itu juga jarum Siao-liong-li sudah
menyamber tiba pula, namun kain baju yang dipegangnya lantas di-kebut2kan
sehingga jarum2 berbisa itu tergulung seluruhnya ke dalam baju.
Sambil terbahak2 Hoat-ong tancap kakinya ke bawah dan melemparkan baju robek,
tangan di ulurkan untuk menangkap sepasang roda yang baru jatuh dari atas. Dua
kali dia lolos dari ancaman maut, semuanya berkat kehebatan ilmu silatnya dan
juga kecerdikannya sehingga pada detik terakhir dia masih dapat menyelamatkan
diri, malahan dengan begitu senjata Siao-liong-li dapat direbutnya.
Setelah unggul, segera Hoat-ong mengadang di mulut gua, katanya dengan tertawa:
“Nah, nona Liong, masakah kau tidak lekas menyerah?”
Tapi dia masih kuatir kalau Siaoliongli memasang perangkap apa2 di dalam gua,
maka dia tidak berani menyerbu ke dalam, Dia tidak tahu bahwa saat itu
Siao-liong-li justeru lagi kelabakan, senjatanya hilang, jarum juga sudah
terpakai sebagian besar, kini tangannya cuma bersisa satu genggam jarum berbisa
itu dan sembunyi di samping mulut gua.
Hoat-ong menunggu sebentar dan tidak nampak Sesuatu apa, tiba2 timbul akalnya,
dia jemput kedua potong robekau bajunya tadi, lalu kedua rodanya dilemparkan ke
dalam gua, selagi roda2 itu menggelinding, ia terus melompat dan berdiri di atas
roda.
Tindakannya ini adalah untuk menjaga kemungkinan jarum berbisa di atas tanah,
menyusul ia terus putar kain bajunya untuk melindungi tubuhnya, kira2 dua-tiga
meter di dalam gua, sebelah tangannya lantas meraih untuk menangkap lawan.
Robekan bajunya tercocok berpuluh jarum berbisa yang disambitkan Siao-liong-li
tadi sehingga berubah menjadi semacam senjata yang lihay, dengan tertawa ia
berkata: “Nah, nona Liong, boleh kau coba senjataku yang menyerupai kulit landak
ini”
Belum lenyap suaranya, se-konyong2 tangannya terasa kencang, ujung kain baju
yang diputarnya itu mendadak terpegang oleh Siao liong-li. Maklumlah ia memakai
sarung tangan benang emas yang tidak mempan ditabas senjata tajam, jangankan
cuma kain baju yang penuh jarum, sekalipun pedang juga berani direbutnya.
Karena tak terduga2, dengan kaget cepat Hoat ong membetot sekuatnya, tapi
sedikit merandek itu ia telah memberi kesempatan kepada Siao-liongli untuk
menghamburkan genggaman jarumnya. Ti-dak kepalang kaget Hoat-ong, dalam keadaan
kepepet timbul juga akalnya, sebisanya dia tarik tubuh Ciu Pek-thong yang
menggeletak di atas tanah itu untuk digunakan sebagai tameng, menyusul ia terus
melompat keluar gua dengan mandi keringat dingin dan napas ter-engah2, diam2 ia
bersyukur jiwanya dapat lolos dari lubang jarum.
Sementara itu berpuluh jarum berbisa Siao-Iiong-li telah menancap semua pada
tubuh Ciu Pek-thong. Mau-tak-mau nona itu merasa menyesal karena orang yang
sudah mati masih harus tersiksa oleh jarumnya itu.
Di luar dugaannya, tiba2 Ciu Pek-thong terus berteriak: “Aduh, sakitnya! Barang
apalagi yang menggigit aku ini?”
Keruan Siao-liong-li kaget dan bergirang pula, cepat ia tanya: “He, Ciu
Pek-thong, jadi kau belum mati?” Dasar nona yang masih polos dan tidak tahu tata
kehidupan, sama sekali ia tidak paham cara bagaimana seharusnya memanggil
seorang tua seperti Ciu Pek-thong, maka langsung saja ia sebut namanya.
Ciu Pek-thong lantas menjawab: “Tadi rasanya sudah mati dan sekarang telah hidup
kembali. Entah matinya kurang beres atau hidupnya belum cukup?”
“Syukurlah kalau kau tidak mati,” ujar Siao-liong-li “Hoat-ong itu sangat ganas,
aku tidak dapat menandingi dia.” Segera ia keluarkan batu sembrani untuk
mencabuti jarum2 yang menancap di tubuh Ciu Pek-thong itu.
Ciu Pek-thong terus mencaci-maki: “Bangsat Hoat-ong itu sungguh pengecut, selagi
aku mati belum siuman kembali, dia malah mencocoki aku dengan jarum sehalus
ini.”
Dengan tersenyum Siaoliongli menjelaskan: “Ciu Pek-thong, akulah yang
mencocoki kau dengan jarum ini.” Lalu secara ringkas ia ceriterakan pertarungan
tadi, kemudian ditambahkan pula: “Jarumku ini berbisa, apakah kau kesakitan?”
“O, tidak, malahan rasanya sangat enak, coba kau cocoki aku lagi” jawab Ciu
Pek-thong.
Sudah tentu Siao-liong-Ii mengira orang tua itu cuma bergurau saja, ia lantas
mengeluarkan satu botol porselen kecil dan berkata pula: “lni adalah madu tawon
yang khusus dapat menyembuhkan racun jarumku ini, coba kau minum sedikit.”
“Tidak, tidak!” Ciu Pek – thong menggeleng. “Enak rasanya jika dicekoki oleh
jarummu ini, rasanya jarum ini adalah lawan labah2 berbisa ini”
Siao-liong-li tidak sependapat, tapi orang tidak mau menerima, maka iapun tidak
memaksa. ia pikir lwekang orang tua ini sukar diukur, racun labah2 itu saja
tidak dapat membunuhnya, tentu juga takkan beralangan hanya terkena racun jarum
tawon putih.
Padahal racun tawon meski cukup libay, tapi juga dapat digunakan menyembuhkan
macam2 penyakit seperti encok dan lain2, sebab itulah tiada peternak tawon yang
mengidap penyakit encok, Namun Siao-Iiong-li dan Ciu Pek-thong tidak paham ilmu
pengobatan, mereka tidak tahu racun dapat menawarkan racun, ternyata racun
labah2 dalam tubuh Ciu Pek-thong telah banyak dipunahkan oleh racun jarum tawon
Siao-liong-li itu.
Dari luar gua Kim-lun Hoat-ong dapat mendengar suara pembicaraan Ciu Pek-thong,
terdengar suaranya penuh tenaga seperti orang sehat, tentu saja Hoat-ong kaget,
ia pikir apakah orang ini memiliki tubuh malaikat sehingga tidak mempan segala
macam racun?
Mumpung tenaga dalam orang ini belum pulih seluruhnya harus segera kubinasakan,
kalau tidak kelak pasti akan mendatangkan bahaya besar. Akan tetapi sepasang
rodanya sudah terlempar ke dalam gua, terpaksa ia putar tali sutera berkelening
milik Siao-liong-li dan berseru: “Nona liong, ku pinjam saja senjatamu ini.” -
Sekuatnya ia ayun tali sutera itu ke dalam gua.
Karena ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang tiada tara-nya, segala jenis
senjata dapat dimainkannya dengan sesuka hati, maka tali sutera itupun dapat
digunakannya sebagai cambuk, bahkan sangat baik untuk menyerang dari jauh dan
tidak perlu lagi kuatir disambit oleh jarum berbisa Siao-liong-li
Seketika timbul hati kanak2 Siao-liong-li, iapun jemput roda emas dan perak
milik Kim-lun Hoat-ong itu, “creng”, ia benturkan kedua roda dan menerbitkan
suara nyaring, lalu berseru: “Baik, kita boleh bertukar senjata dan bertempur
lagi.”
Tapi baru saja dia angkat kedua roda itu, ternyata bobotnya luar biasa, terlalu
berat baginya untuk digunakan Rupanya roda emas itu terbuat dari emas murni,
beratnya lebih 30 kati, terpaksa Siao-liong-li menarik kedua roda itu untnk
menjaga di depan dada.
Hoat-ong melihat kesempatan baik, segera ia menubruk maju, tangannya terus
meraih hendak merebut kedua roda itu. Tapi Siao Iiong-li lantas menyurut mundur
satu langkah, berbareng roda perak yang lebih enteng itu terus disambitkan
Sebenarnya sambitan roda perak ini cuma gertakan saja, pada saat lain segera
iapun menghamburkan lagi berpuluh Giok-hong-ciam, jarum2 ini berasal dari tubuh
Ciu Pek-thong yang dicabutnya sudah hilang kadar racunnya, andaikan tercocok
juga tidak beralangan.
Tapi Hoat-ong sudah kapok, dia tidak berani menangkap roda perak melainkan terus
melompat mundur ke atas sehingga terluput dari tancapan jarum2 itu.
Ciu Pek-thong bergelak tertawa dan berseru. “Bagus, kalau bangsat gundul itu
berani mendekap boleh kau serang dia dengan jarum. sebentar kalau tenagaku sudah
pulih, segera kukeluar, menangkapnya dan nanti kita gebuki pantatnya.”
“Tapi, ah, jarumku sudah habis sama sekali,” kata Siao-Iiong-li.
“Wah, kalau begitu bisa konyol,” ujar Ciu Pek-thong sambil garuk2 kepala.
Kedua orang, yang satu tua bangka dan yang lain muda jelita, mereka sama2 lugu
dan polos, sama sekali tidak punya pikiran buruk terhadap orang lain, apa yang
mereka pikirkan, itu pula yang mereka ucapkan.
Sebaliknya Kim-lun Hoat-ong adalah manusia yang cerdik dan banyak tipu akal,
hanya dia tidak kenal watak Ciu Pek-thong dan Siao liong-Ii, ia tidak percaya
bahwa di dunia ini ada orang yang mau berterus terang akan kelemahannya sendiri.
Menurut jalan pikirannya, kalau kedua orang itu mengatakan habis jarumnya, tentu
adalah sebaliknya dan sengaja memancing dia mendekat untuk kemudian menyerangnya
dengan cara yang tak terduga, Apalagi kalau ingat pada kedua kaki Nimo Singh
yang sudah buntung itu akibat terkena jarum berbisa Li Bok-chiu, betapapun dia
masih ngeri dan setiap tindakannya menjadi terlebih hati2….
Setelah berkutak-kutek sekian lama, lambat laun fajarpun menyingsing, Ciu
Pek-thong duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendesak keluar
sisa racun yang masih mengeram dalam tubuhnya.
Tapi racun labah2 itu sungguh ganas luar biasa, setiap kali ia mengerahkan
tenaga tentu dada terasa sesak dan muak, sekujur badan juga terasa gatal pegal,
kalau diam saja tanpa mengerahkan tenaga malah terasa aman, ia mencoba beberapa
kali namun tetap begitu, akhirnya ia putus asa dan berkata: “racun labah2 ini
rasanya sukar disembuhkan.”
Sudah tentu Hoat-ong yang mengintai di luar gua tidak tahu, kesukaran Ciu
Pek-thong ini, sebaliknya ia menjadi kuatir melihat orang tua itu sedang
menghimpun tenaga, Tiba2 timbul akalnya yang keji, segera ia mengeluarkan kotak
yang berisi labah2 panca warna itu. Begitu tutup kotak dibuka, terlihatlah
belasan ekor labah2 itu ber-gerak2 dengan warna warni yang menarik.
Hoat-ong mengambil satu jepitan terbuat dari tungu badak, dengan jepitan itu
dijepitnya seutas benang labah2 dan dikibaskan pelahan, benang lipas itu membawa
serta seekor labah2 loreng itu dan menempel pada dinding muIut gua sebelah kiri.
Beberapa kali Hoat-ong berbuat dengan cara yang sama, ia lepaskan seluruh labah2
itu, setiap ekor labah2 membawa seutas benang lipas dan penuh menempel sekitar
mulut gua..
Mungkin sudah lama labah2 itu tidak diberi makan dan tentu saja kelaparan dan
perlu segera mencari mangsa, maka dalam waktu singkat saja kawanan labah2 ini
lantas membuat sarang di mulut gua, hanya sebentar saja mulut gua itu sudah
tertutup oleh bentangan belasan sarang labah2, kalau labah2 loreng itu sangat
berbisa, tentu sarangnya itu juga berbisa, dengan demikian Siao-liong-li dan Ciu
Pek-thong menjadi terkurung di dalam gua.
Waktu kawanan labah2 itu membuat sarang, Siao-liong-li dan Ciu Pek-thong sangat
tertarik dan hanya menonton belaka tanpa peduli sampai akhirnya lubang gua yang
cukup lebar itu penuh sarang labah2, sedangkan labah2 berbisa berwarna loreng
pun merayap kian kemari.
“Sayang jarumku sudah habis, kalau tidak tentu akan kubersihkan semua,” ujar
Siao-liong-li dengan suara tertahan.
Segera Ciu Pek-thong menjemput sepotong kayu dan bermaksud membobolkan sarang
labah2 itu, tapi mendadak terlihat seekor kupu2 besar terbang mendekat dan tahu2
telah terperangkap oleh sarang labah2.
Seharusnya serangga yang terjebak sarang labah2 itu akan meronta-ronta dan
sebisanya berusaha lari dengan membobol sarang labah2, tapi kupu2 yang besar ini
seketika tak bisa bergerak lagi begitu lengket dengan benang sarang tabah2 itu.
Karena itulah cepat Siao-liong-li berseru kepada Ciu Pek-thong: “Awas, jangan
mendekatinya, sarang labah2 itupun berbisa!”
Ciu Pek-thong terkejut, cepat ia mundur kembali, ia pikir tenaga sendiri sukar
dipulihkan dalam waktu singkat, boleh juga berduduk lagi lebih lama di dalam gua
ini. Tapi Siao-liong-li menjadi gelisah, ia tidak tahu keadaan yang serba tak
bisa ini entah akan berlangsung hingga kapan, apalagi tidak diketahui sisa racun
dalam tubuh orang tua ini apakah sudah terkuras bersih atau belum.
Karena itu ia lanH tas bertanya: “Ciu Pek-thong, caramu mengerahkan tenaga untuk
menguras racun apakah cukup sehari semalam Iagi?”
Ciu Pek-thong menggeleng, jawabnya: “Wah, jangankan cuma sehari semalam, biarpun
seratus hari seratus malam juga tak berguna.”
“Ah, lalu bagaimana baiknya?” kata Siao-Iiong-li kuatir.
“Kalau saja bangsat gundul itu mau mengantar rangsum kepada kita, apa jeleknya
kalau kita tinggal beberapa tahun lagi di sini,” ujar Ciu Pek thong dengan
tertawa.
Siao-liong-li menghela napas, katanya: “apabila Nyo Ko berada di sini, sekalipun
tinggal selamanya di sini juga aku mau.”
Ciu Pek-thong menjadi gusar, katanya: “Persetan dengan Nyo Ko segala, memangnya
orang seperti aku ini kurang menarik dibandingkan si Nyo Ko itu? Apakah ilmu
silatnya lebih tinggi daripadaku. Kurang apalagi jika aku yang menemani kau di
sini?”
Pada dasarnya kedua orang ini lugu dan polos, sebab itulah meski ucapan Ciu
Pek-thong itu rada2 tak genah, tapi Siao-liong-li juga tidak ambil pusing,
deengan tersenyum ia menjelaskan: “Soalnya Nyo Ko mahir memainkan ilmu pedang
Coan-cin-pay yang lihay itu, kalau dia main berpasangan dengan aku akan dapat
mengalahkan Hwesio Tibet ini.”
“Hahaha, bicara tentang ilmu pedang Coan-cin-pay, memangnya si Nyo Ko bisa
melebihiku” ujar Ciu Pek-thong dengan tertawa.
Tapi permainan ganda kami ini disebut Giok-li kiam-hoat, untuk ini harus cinta
mencintai antara dia dan aku, dengan adanya paduan perasaan baiklah dapat
mengalahkan musuh,” tutur Siao-liong-li.
Bicara tentang cinta, seketika hati Ciu Pek-phong kebat-kebit, cepat ia
menggeleng dan berkata: “Stop… stop! jangan kau ucapkan lagi, Hanya ingin
kukatakan padamu bahwa tinggal selama beberapa di dalam gua ini, sebenarnya
bukan soal, Dulu aku pernah berdiam di dalam sebuah gua di Tho hoa-to selama
belasan tahun, aku sendirian tanpa seorang teman, terpaksa aku berkelahi dengan
diriku sendiri, tapi sekarang kita tinggal berdua, berbicara dan dapat tertawa,
keadaan jelas sangat berbeda.”
“Aneh, berkelahi dengan dirinya sendiri, bagai mana caranya itu?” tanya
Siao-Iiong-li ter-heran2.
Chiu Pek-thong sangat senang ada orang tertarik pada kepandaiannya yang khas
itu, segera ia menjelaskan secara ringkas ilmu ciptaannya itu, yakni cara
berkelahi dengan tangan kanan melawan tangan kiri satu orang melakonkan peranan
dua orang.
Hati Siao-Iiong-Ji tergerak, ia pikir kalau ilmu aneh ini dapat kupelajari
dengan tangan kiri ku mainkan Coan-cin-kiam hoat dan tangan kanan memainkan
Giok-li-kiam-hoat, sehingga jadilah gabungan ilmu pedang dari dua orang.
Hanya saja kepandaian khas ini mungkin sukar dipelajari dalam waktu singkat.
Segera ia bertanya: “Apakah ilmu ini sukar dipelajari?”
Dibilang sukar memang sangat sukar, dikatakan mudah juga sangat mudah,” ujar Ciu
Pek-thong. “Ada orang ingin belajar, tapi selama hidup tak berhasil, sebaliknya
ada orang yang dapat mempelajarinya dengan baik hanya dalam waktu beberapa hari
saja, Nah, kau kenal suami isteri yang bernama Kwe Ceng dan Ui Yong bukan?”
Siau-liong-li mengangguk.
“Nah, coba katakan, siapa yang lebih pintar diantara mereka suami dan isteri
itu?”
“Kwe-hujin sangat pintar dan cerdas, diberitahu satu segera paham seratus,
menurut Ko-ji, katanya di jaman ini mungkin tiada manusia lain yang lebih cerdas
daripadanya. Sedangkan Kwe tayhiap memang tinggi ilmu silatnya, tapi soal
kecerdasan hanya biasa saja.”
“Hanya biasa apa?” ujar Ciu Pek thong dengan tertawan “Lebih tepat dikatakan
goblok. Nah, coba katakan, aku ini pintar atau goblok?”
“Kau sudah, tua, tapi masih ketololan dan dari cara bicaramu juga angin2an,”
jawab Siao-liong li dengan tertawa.
“Benar ucapanmu memang, tidak salah” kata Pek-thong, “llmu kanan kiri saling
berkelahi itu adalah, hasil pemikiranku kemudian kuajarkan adik Kwe dan cuma
beberapa hari saja sudah dikuasainya. Lalu dia mengajarkan lagi kepada istrinya,
tapi apa yang terjadi? Haha, jangan kau kira si Ui Yong itu pintarnya seperti
setan, tapi ilmu ciptaanku itu justeru tidak berhasil dipelajari olehnya.
Tadinya kukira Kwe Cing keliru mengajarnya, maka aku sendiri juga memberi
petunjuk, namun pada pelajaran pertama saja dia gagal, coba, kan aneh dan lucu
toh?”
“Bagaimanakah pelajaran pertama ilmu kepandaianmu itu?” tanya si nona.
Pertama kali adalah “tangan kiri melukis per-pegi dan tangan kanan menggambar
bundaran”, tapi meski ber-ulang2 ia menggambar tetap tidak jadi, Sebab ituIah
kukatakan ada orang segera berhasil sekali belajar, tapi juga ada yang belajar
selama hidup tetap tidak menguasai. Mungkin semakin pintar orang nya semakin
tidak jadi.”
“Masakah dunia ini ada orang bodoh lebih unggul belajar kepandaian daripada
orang pintar? Heh, aku tidak percaya,” kata Siao-liong-li.
Dengan tertawa Ciu Pek-thong berkata pula: “Kulihat kecerdasanmu dan
kecantikanmu seimbang dengan si Ui Yong, ilmu silatmu juga selisih tidak jauh
daripada dia. Kalau kau tidak percaya, sekarang kau boleh coba melukis sebuah
persegi dengan tangan kirimu dan berbareng menggambar pula sebuah bundaran
dengan tangan kananmu.”
Sudah tentu Siao-liong-li ingin mencobanya, segera ia mengulurkan kedua jari
telunjuk dari kedua tangannya dan berbareng menggambar di tanah, tapi hasilnya
memang sangat mengecewakan gambar persegi lebih tepat dikatakan jorong dan
gambar bundaran malahan mirip persegi.
Ciu Pek-thong ter-bahak2, katanya: “Nah, apa kataku? Kau anggap dirimu sangat
pintar, nyatanya pekerjaan sepele begitu juga tidak bisa.”
Siao-liong-li tersenyum, ia coba menghimpun semangat dan memusatkan pikiran, ia
mengulurkan kedua jari pula dan sekenanya menggambar lagi sebuah persegi dan
sebuah bundaran, sekali ini perseginya benar2 persegi dan yang bundar benar2
bundar-dar.
“He, kau…. kau…” tidak kepalang kejut Ciu Pek-thong. Sejenak baru
disambungnya lagi: “Apakah sebelum ini kau sudah pernah mempelajarinya?”
“Belum pernah,” jawab Siao liong-li. “Memangnya apa sulitnya?”
“Habis cara bagaimana kau bisa melukisnya sebaik ini?” ujar Ciu Pek-thong sambil
garuk2 kepala.
“Aku sendiripun tidak tahu caranya,” jawab Siao liong-li. “Yang pasti aku tidak
memikirkan apa2 dan sekali jariku menggores lantas jadi.”
Segera ia memberi demonstrasi lagi, kembali kedua tangannya mencorat-coret di
tanah, -“tangan kiri menuliskan “Lo-wan-thong” dan tangan kanan menulis
“Siao-Iiobg-li” kedua tangan menulis berbareng, tulisannya rajin dan indah
laksana tertulis dari satu tangan saja.
Ciu Pek-thong menjadi girang, katanya: “Wah, tampaknya kepandaian ini sudah kau
pelajari sejak kau bjerada di dalam kandungan ibumu.”
BegituIah Ciu Pek thong lantas mengajari Siao liong-li ilmu berkelahi “Satu
orang melakukan dua peranan”, kalau tangan kiri menyerang tangan kanan lantas
bertahan dan begitu pula sebaliknya, ia ajarkan seluruhnya kepada si nona
segenap teori kanghu (Kungfu) hasil pemikirannya ketika terkurung di gua
Tho-hoa-to dahulu itu..
Sebenarnya Kanghu ciptaan Ciu Pek thong ini kuncinya terletak pada
“Hun-sim-ji-yong” (membagi perhatian untuk dua peranan). Justeru orang yang
cerdik pandai, orang yang banyak berpikir dan suka berpikir, malahan sulit
disuruh belajar ilmu berkelahi ini. .
Adapun Siao-liong-li sejak kecil sudah digembleng menghilangkan perasaan dan
napsu, ilmu dasar itu sudah terpupuk dengan kuat, meski kemudian dia jatuh cinta
kepada Nyo Ko sehingga banyak mengganggu ilmunya itu, tapi sekarang hatinya lagi
terluka dan membuatnya patah hati dan putus asa, maka sebagian besar ilmunya
yang telah dikuasainya dahulu itu telah pulih kembali dalam keadaan lapang
pikiran dan benak kosong, sedikit diberi petunjuk oleh Ciu Pek-thong segera
dapat dipahaminya.
Clu Pek-thong sendiri belum sembuh, tapi ia dapat memberi petunjuk dengan ucapan
dan gerakan tangan secara mengasyikkan, Siao-liong li juga tertarik dan
ber-ulang2 mengangguk sambil merentangkan tangan kanan menggunakan
Giok-li-kiam-hoat dari- Ko-bong-pay dan tangan kiri menggunakan
Coan-cin-kiam-hoat dari Coan-cin-pay, hanya dalam waktu beberapa jam saja sudah
dapat dipahami seluruhnya.
“Cukuplah, aku sudah paham semua,” kata Siao-liong-li, kedua tangannya lantas
coba2 main beberapa jurus dan ternyata sangat tepat tanpa sesuatu kesalahan.
Keruan Ciu Pek-thong melongo bingung, berulang2 ia menyatakan herannya.
Dalam pada itu Kim-lun Hoat-ong dan Tio Ci-keng masih terus berjaga di luar gua,
mereka cuma mendengar suara Ciu Pek-thong dan Siao liong-li yang berbicara tak
ber-henti2 sampai sekian lama, ada omong ada tawa, sedikitpun tidak kesal
sebagaimana orang tahanan umumnya.
Tentu saja merekapun heran, mereka coba pasang kuping ikut mendengarkan tapi
secara terputus mereka hanya dapat menangkap beberapa kalimat pembicaraan Ciu
Pek-thong berdua, malahan sama sekali tidak paham arti ucapannya.
Suatu ketika Siao-liong-li berpaling dan kebetulan melihat Hoat-ong dan Ci-keng
sedang melongak-longok ke dalam gua seperti maling mengincar jemuran, segera ia
berbangkit dan mengajak Ciu Pek-thong: “Marilah kita pergi.”
“Kemana?” tanya Pek-thong melengak.
“Keluar sana dan membekuk bangsat gundul itu untuk memberikan obat penawar
padamu,”
“Apakah kau yakin dapat mengalahkan dia?” Pek-thong bertanya sambil tarik2
janggutnya sendiri.
Belum lagi Siao-liong-li menjawab, tiba2 terdengar suara mengaungnya tawon,
seekor tawon madu tampak terjebak ke dalam sarang labah2 di mulut gua dan
meronta2 berusaha melepaskan diri, Kalau tadi kupu2 yang besar itu seketika mati
begitu menyentuh benang sarang labah2, ternyata tawon madu ig kecil ini tidak
takut pada racun labah2 loreng setelah me-ronta2, akhirnya sarang labah2 itu
malah kebobolan satu lubang, Seekor labah2 lorong mengawasi dengan garangnya
didekat tawon kecil tu, tapi tidak berani maju untuk menyerangnya.
Ketika tinggal di kuburan kuno itu dahulu, Siao-liong li pernah memiara
gerombolan tawon madu dan dapat menguasainya dengan baik, malahan dia anggap
kawanan tawon itu sebagai sahabat baik, sekarang melihat tawon kecil
terperangkap, ia menjadi tidak tega dan ingin menolongnya.
Tiba2 terpikir olehnya: “Meski bentuk labah2 ini sangat menakutkan, tapi tawonku
mungkin tidak takut pada-nya.” – Segera ia mengeluarkan botol porselen dan
membuka tutupnya, ia kerahkan tenaga dalam maka hawa panas tersalur dari telapak
tangannya. botol itu.
Hanya sebentar saja Siao-liong-li menggenggam botol kecil itu, lalu teruar bau
harum madu tawon keluar gua menembus sarang labah2.
Ciu Pek-thong menjadi heran dan bertanya “Apa yang kau lakukan?”
“Ini permainan suiapan yang menarik, kau ingin tahu tidak?” jawab Siao-liong li.
“Wah, bagus, bagus sekali” seru Pek-thong kegirangan. Tapi sulapan apakah itu.
Siao-liong li cuma tersenyum saja tanpa menjawab, diam2 ia mengerahkan tenaga
dalamnya lebih kuat untuk menambah panasnya botol porselen agar bau harum madu
teruar lebih cepat dan lebih keras.
Tatkala itu adalah musim panas, bunga hutan di lembah pegunungan sedang mekar
semerbak, di mana2 terdapat gerombolan tawon liar yang mencari sari bunga.
Ketika mencium bau harum madu serentak kawanan tawon membanjir dari segenap
penjuru.
Setiap tawon sama menerjang isi dalam gua, tapi begitu menempel benang jaring
labah2 lantas melengket dan berontak sekuatnya untuk membebaskan diri, ada
sebagian tergigit mati oleh labah2 berbisa itu, tapi ada juga tawon yang sempat
menyengat tubuh labah2. Meski labah2 adalah makhluk maha berbisa, tapi makhluk
yang satu dimatikan oleh makhluk yang lain, agaknya tawon adalah musuh besar
labah2 itu, begitu tersengat dan kena racun tawon, pelahan labah2 itupun kaku
dan mati akhirnya.
Begitulah terjadi perang tanding antara kawanan tawon dengan labah2 berbisa itu,
yang paling senang adalah Ciu Pek-thong, ia berjingkrak kegirangan menonton
pertempuran aneh itu, sebaliknya Kimlun Hoat-ong dan Ci-keng yang berada di
luar gua menjadi melongo kesima dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Waktu itu kawanan labah2 masih di atas angin, hanya dua ekor saja yang mati,
sebaliknya kawanan tawon sudah binasa beberapa puluh ekor, Namun tawon liar itu
makin membanjir tiba, semula cuma beberapa ekor saja, lalu beberapa puluh,
bertambah lagi beberapa ratus dan akhirnya be-ribu2, hanya sekejap saja jaring
labah2 yang memenuhi mulut gua itu menjadi bobol sama sekali, belasan ekor
labah2 berbisa itu mampus semua tersengat tawon.
Ci-keng sudah kapok karena dahulu pernah merasakan siksaan sengatan tawon, maka
begitu melihat gelagat jelek, diam2 ia mengeluyur ke semak2 pohon sana, Hoat-ong
sendiri cuma menyayangkan matinya labah2 itu, kehancuran barisan labah2 yang
sukar dimengerti itu disangkanya karena dikerubut oleh kawanan tawon liar, ia
pikir mungkin tawon suka bergerombol dan bersatu menghadapi musuh bersama
sehingga kawanan Iabah2 itu dibinasakan seluruhnya ia tidak tahu bahwa datangnya
gerombolan tawon itu sebenarnya sengaja dipancing oleh bau madu yang disiarkan
oleh Siao-liong-li.
Malahan Hoat-ong memikirkan pula cara bagaimana agar dapat memaksa Ciu Pek-thong
dan Siao-Iiong-li keluar gua untuk kemudian dibinasakan semua.
Namun Siao-Iiong-li sudah bertindak lebih dulu dengan kuku jarinya ia mencukil
sedikit madu tawoni lalu disentilkan ke arah Hoat-ong, lalu jari telunjuk
menuding ke kanan sekali dan ke kiri sekali, berbareng mulutnya juga mem-bentak2
dua kali, Mendadak kawanan tawon yang be-ribu2 jumlahnya itu terus menyamber
keluar gua, ke arah Hoat-ong.
Keruan kaget Hoat-ong tidak kepalang, cepat ia membalik tubuh dan sekuatnya
melompat ke sana hingga beberapa meter jauhnya, Ginkangnya memang sudah mencapai
tingkatan maha tinggi, betapapun cepat terbang kawanan tawon itu ternyata masih
kalah cepat daripada lompatan Hoat-ong. Sekejap saja ia sudah jauh meninggalkan
kejaran kawanan tawon itu. Karena tidak dapat menyusul sasarannya pawanan tawon
itupun lantas buyar sendiri2.
Ber-uIang2 Siao-liong-Ii membanting kaki dan menyatakan sayang.
“Sayang apa?” tanya Ciu Pek-thong.
“Dia berhasil kabur, kita tak dapat lagi merebut obat penawarnya,” kata
Siao-liong li
Kiranya tadi Siao-liong-li mengerahkan kawanan tawon hendak mengurung Kim-lun
Hoat-ong dari kanan dan kiri, tak terpikir olehnya bahwa kawanan tawon itu
bergabung secara liar dan bukan terdiri dari satu sarang, dengan sendirinya
tidak penurut sebagaimana tawon putih yang di kuburan kuno itu.
Kalau sekadarnya disuruh mengejar dan menyengat musuh sih bisa, lebih dari itu
jelas tidak mungkin.
Namun begitu CiuPek-thong juga sudah kagum luar biasa terhadap kesaktian Siao
liongli yang lahir mengendalikan kawanan tawon itu, ia merasa permainan ini
jauh lebih menarik daripada semua permainan yang pernah dilihatnya, seketika ia
menjadi lupa pada badan sendiri apakah sisa racunnya dapat dipunahkan seluruhnya
atau tidak.
Karena sarang labah2 di mulut gua sudah hapus, segera Siao-Iiong-li melompat
keluar, lalu ia memanggil Ciu Pek-thong agar ikut keluar.
Menyusul Ciu Pek-thong juga melompat keluar, tapi segera ia terbanting jatuh,
“Wah, cialat! Tenaga sukar dikeluarkan!” katanya dengan gegetun, Mendadak
sekujur badan gemetar dan gigi berkertukan.
Kiranya jatuhnya itu telah memancing bekerjanya sisa racun labah2 yang masih
mengeram dalam tubuhnya, seketika ia menggigil kedinginan seperti kejeblos ke
dalam peti es, bibir dan mukanya menjadi pucat pasi.
“He, Ciu Pek-thong, kenapa kau?” tanya Siao-liong-li kaget.
Ciu Pek-thong masih menggigil jawabnya dengan suara gemetar: “Lekas…. lekas
kau cocok aku dengan…. dengan jarum itu.”
“Tapi jarumku ini berbisa,” kata Siao-liong-li.
“Ya, justeru…. justeru karena berbisa itulah, lekas!” pinta Pek thong pula.
Tergerak pikiran Siao-liong-li, teringat pertempuran antara kawanan tawon dengan
labah2 berbisa tadi, ia pikit jangan2 racun tawon merupakan lawan racun labah2
itu? Segera ia jemput sebuah jarum dan mencoba mencocoki lengan Ciu Pek-thong.
Mendadak Pek-thong berteriak: “Bagus! Lekas tusuk beberapa kali lagi!”
Ber-turut2 Siao-liong-ii mencocoki beberapa kali lagi dan ber-ulang Ciu
Pek-thong berteriak bagus. tampaknya kadar racun di jarum itu sudah lenyap, lalu
Siao-Iiong-li berganti jarum yang lain, seluruhnya belasan jarum digunakan
mencocoki tubuh Ciu Pek-thong, Akhirnya orang tua itu tidak menggigil lagi, ia
menghela napas lega dan berkata: “Ehm, menyerang racun dengan racun, memang
resep paling mujarab.”
Habis itu ia coba mengerahkan tenaga dalam, tapi masih ada sisa racun yang belum
hilang, mendadak ia menepuk paha dan bersemi “Aha, tahukah aku. Nona Liong,
racun tawon pada jarummu itu agaknya kurang segar, sudah basi.”
“Jika begitu, apakah kau mau kalau kusuruh |awanan tawon liar itu untuk
menyengat kau?” ujar Siao-liong-li dengan tertawa.
“Aha, terima kasih sebelumnya, lekas kau mengundangnya, lekas!” seru Giu
Pek-thong.
Siao-liong-li lantas membuka pula botol madunya untuk memancing kedatangan
kawanan tawon liar, setiap tawon itu sama mengantupi badan Ciu Pek-thong,
bukannya mengeluh sakit, sebaliknya, Anak Tua Nakal itu malah tertawa gembira,
ia membuka bajunya sekalian, punggung yang telanjang itu sengaja dibiarkan
disengat oleh kawanan tawon, berbareng iapun mengerahkan tenaga dalam untuk
melancarkan jalan darah dan menghalau sisa racun labah2.
Agak lama juga ia diantupi tawon sehingga punggungnya penuh bintik merah bekas
sengatan, akhirnya sisa racun dapat dihilangkan semua, kalau disengat lagi
lantas terasa sakit, Maka berteriaklah Ciu Pek-thong: “Cukup, sudah cukup! Kalau
diantupi lagi jiwaku bisa melayang!”
Siao-liong-li tersenyum dan menghalau pergi kawanan tawon itu. Lalu ia menjemput
tali sutera berkeleningan yang terjatuh di samping sana, kemudian ia tanya Ciu
Pek-thong: “Aku akan pergi ke Cong-Iam-san, kau ikut tidak?”
Ciu Pek-thong menggeleng dan menjawab: “Tidak, aku masih ada urusan lain,
silakan engkau pergi sendiri saja.”
“Oya, kau perlu ke Siangyang untuk membantu Kwe-tayhiap,” kata Siao-Iiong-li.
Menyebut nama “Kwe-tayhiap” ia lantas ingat pula kepada Kwe Hu, dari Kwe Hu
lantas terkenang kepada Nyo Ko.
“Ciu Pek-thong,” katanya kemudian dengan muram, “jika kau bertemu dengan Nyo Ko,
janganlah kau bilang pernah bertemu dengan diriku.”
Akan tetapi Ciu Pek-thong tidak menjawabnya, waktu Siao-liong-li mengawasi,
tertampak orang tua itu sedang berkomat-kamit, entah apa yang sedang di
gumamkan, malahan mimik wajahnya sangat aneh, entah lagi main gila apa?
Selang sejenak barulah mendadak Ciu Pek-thong mendongak dan bertanya: “Apa
katamu tadi?”
“O, tidak apa2,” jawab Siao-liong-li. “Sampai bertemu pula.”
Tampaknya Ciu Pek-thong tidak menaruh perhatian kepada ucapan Siao-liong-li itu,
ia cuma mengiakan, lalu berkomat-kamit lagi.
Tanpa-bicara lagi Siao-liong-li lantas berangkat sendiri, setelah melintasi
suatu tanah tanjakan sana, tiba2 terdengar suara bentakan Ciu Pek-thong,
suaranya seperti lagi menirukan Siao-liong-Ii ketika mengendalikan kawanan
tawon.
Siao-liong-li sangat heran, diam2 ia memutar balik ke tempat, tadi dan mengintai
dari balik pohon. dilihatnya Ciu Pek-thong memegangi sebuah botol porselen kecil
dan sedang ber-jingkrak2 sambil ber-kaok2 aneh, Waktu Siao-liong-li meraba sakti
sendiri, ternyata botol madunya itu sudah lenyap entah sejak kapan telah dicuri
si Anak Tua Nakal itu.
Rupanya suara Ciu Pek-thong itu rada2 mirip cara Siao-liong-li memberi perintah
kepada kawanan tawon, tapi lebih banyak salahnya, meski ada juga beberapa ekor
tawon yang muncul karena mencium bau harum madu, tapi tiada satupun yang tunduk
kepada perintah Ciu-Pek-thong, tawon2 itu cuma terbang kian kemari mengitari
botol porselen.
Siao-liong-li tertawa geli melihat tingkah Anak Tua Nakal itu, segera ia
menampakkan diri dan berseru “Sini, kuajarkan kau!”
Melihat rahasianya terbongkar dan ketangkap basah dengan bukti barang curiannya,
Ciu Pek thong menjadi malu, tanpa bicara lagi ia terus berlari pergi dan dalam
sekejap saja sudah menghilang.
Siao-liong-li bergelak tertawa melihat tingkah laku si tua yang lucu itu, Suara
tertawanya berkumandang membalik, mendadak ia merasa hampa dan kesepian, tanpa
terasa ia meneteskan air mata.
Bilamana ia mengadu kecerdasan dan tenaga dengan Kim-lun Hoat-ong, kemudian ia
ditemani Lo-wab-tong dan bercanda sekian lama, kini musuh sudah kabur, kawan pun
sudah pergi, di dunia ini bisanya tertinggal ia seorang diri saja.
Sepanjang jalan ia menguntit Ci-keng dan Ci-peng, ia merasa kedua Tosu itu
sangat busuk, biarpun dicincang hingga hancur lebur juga sukar terlampias rasa
dendamnya. padahal sekali dia turun jangan saja kedua orang itu pasti akan
binasa, namun hati selalu enggan, rasanya sekalipun mereka dibinasakan, habis
mau apa lagi?
Sendirian ia duduk ter-mangu2 di bawah pohon, akhirnya ia menggumam sendiri:
“Agaknya harus mencari mereka lagi!”
Ia lantas turun dari bukit itu dan mencemplak atas keledai yang dilepas untuk
makan rumput bawah bukit itu, baru saja ia mau berangkat ke arah pasukan Mongol,
tiba2 di depan debu mengepul tinggi disertai suara terompet bergema riuh,
pasukan tampak sedang bergerak ke selatan secara besar2an, jelas pihak Mongol
mulai menggempur Siangyang lagi.
Siao-liong-li menjadi ragu2, di tengah pasukan besar itu, cara bagaimana mencari
kedua Tosu itu. Tapi pada saat itu juga, se-konyong2 tiga penunggang kuda
berlari lewat di bawah bukit, para penunggang kuda itu jelas berjubah kuning dan
berkopiah kaum Tosu.
Siao-liong-li menjadi heran mengapa bisa bertambah seorang Tosu lagi, ia coba
mengamati dari jauh, jelas yang paling belakang adalah Ci-peng sedangkan Ci-keng
mengaburkan kudanya bersama Tosu ketiga yang berusia jauh lebih muda.
Tanpa pikir Siao-liong-li lantas keprak keledainya menyusul ke sana.
Ketika mendengar suara ketoprakan kaki kuda In Cipeng menoleh ke belakang dan
ternyata Siao liong-li sudah mengintil lagi, keruan air mukanya berubah pucat.
segera Ci-keng dan Tosu yang muda juga mengetahui penguntilan Siao-liong-li.
“Siapakah perempuan muda ini, Tiosupek?” tanya Tosu muda itu.
“Dia adalah musuh besar Coan-cin-kau kita, sutit jangan banyak bertanya,” jawab
Ci-keng.
Toso muda itu terkejut, tanya pula dengan suara rada gemetar: “Apakah dia ini
Jik-lian siancu Li Bok-chiu?”
“Bukan, tapi Sumoaynya,” kata Ci-keng.
Kiranya Tosu muda itu bernama Ki Ci-seng, meski namanya juga pakai “Ci”, tapi
dia termasuk anak murid Coan-cin-kau angkatan ke empat, lebih rendah satu
angkatan daripada In Ci-peng dan Tio ci-keng.
Yang diketahuinya hanya Li Bok-chiu telah beberapa kali bertengkar dengan para
kakek-gurunya malahan pihak Coan-cin mereka beberapa kali kecundang.
Begitulah Ci-keng lantas cambuk kudanya agar berlari lebih cepat dan diikuti
oleh Ci-peng berdua. Kanya sekejap saja Siao-liong-li sudah tertinggal jauh.
Namun keledai belang yang ditunggangi Siao-jong-li itu sangat kuat larinya,
meski tidak cepat namun dapat berlari secara teratur tanpa lelah, Sedangkan
kuda2 itu setelah berlari cepat, kemudian megap2 napasnya dan mulai lamban
larinya sehingga keledai belang dapat menyusulnya lagi.
Waktu Ci-keng menoleh dan melihat Siao-liong li sudah mendekat, cepat ia cambuk
kudanya lagi, tapi kudanya cuma lari kencang sebentar, lalu lari lambat pula.
“Tio-supek, tampaknya kita tak dapat lari, marilah kita membalik kesana untuk
mencegatnya dan biar In-supek lolos sendiri,” kata Ki Ci-seng.
Dengan wajah geram Ci-keng menjawab: “Hm mudah saja kau bicara, memangnya kau
tidak ingin hidup lagi?”
“Tapi… tapi In-supek mengemban tugas berat sebagai pejabat ketua, kita harus
berusaha menyelamatkan dia,” ujar Ci-seng.
Ci-keng sangat mendongkol ia hanya mendengus saja tanpa menjawab.
Melihat air muka sang paman guru yang marah itu, Ci-seng tidak berani bicara
lagi, ia tunggu setelah Cipeng mendekat, lalu berbisik padanya “In-supek,
paling penting engkau harus jalan lebih dulu.”
“Ah, biarkan saja dia menyusul ke sini,” jawab Ci-peng tak acuh.
Diam2 Ci-seng sangat kagum melihat sikap sang paman guru yang sangat tenang itu,
ia pikir sikap ksatria demikian sungguh sukar dicari bandingannya di antara
tokoh angkatan ketiga, pantas para kakek guru memilih In-supek sebagai pejabat
ketua, betapapun ia tidak tahu bahwa perasaan Ci-peng saat ini sungguh aneh luar
biasa, andaikan Siao-liong-li ingin membunuhnya, maka iapun sudah siap
memasangkan lehernya di depan si nona, sedikitpun tiada pikirannya buat melawan
lagi.
Melihat kedua kawannya tidak cemas akan datangnya musuh, Ci-keng menjadi serba
susah, hendak lari lebih dulu terasa malu, untunglah sementara ini tiada tanda2
Siao-liong-li akan bertindak kepada mereka. Namun hatinya tetap kebat-kebit,
sebentar ia lantas menoleh ke belakang.
Begitulah tiga orang di depan dikuntit seorang dari belakang, mereka meneruskan
perjalanan ke utara tanpa bicara lagi, sementara itu suara gemuruh gerakan
pasukan Mongol ke selatan sudah Ienyap, hanya terkadang samar2 terdengar suara
riuh umatnya pertempuran di kejauhan yang terbawa angin, tapi setelah arah angin
berganti, suara itupun tak terdengar.
Sepanjang jalan, karena menghindari gangguan pasukan tentara yang besar itu,
semua rumah penduduk boleh dikatakan kosong melompong, bahkan ayam dan anjingpun
tak tertampak seekorpun, Kalau tempo hari Ci-peng dan Ci-keng berlari ke jurusan
yang sepi, malahan terkadang dapat ditemukan rumah makan kecil yang sederhana
dipedusunan, kini mereka melalui jalan besar, jangankan rumah makan, sebuah
rumah penduduk yang utuh pun sukar ditemukan.
Malamnya Cipeng bertiga lantas mondok di sebuah rumah bobrok yang tiada daun
pintu dan jendela, Sekali2 Cikeng coba mengintip keluar, di lihatnya
Siao-liong-li telah memasang seutas tali antara dua batang pohon besar, di atas
tali yang terbentang itulah si nona berbaring..
Ci-seng juga ikut mengintai, melihat betapa hebat kepandaian Siao-liong-li,
hatinya menjadi takut. Hanya Ci-peng tidur dengan nyenyaknya, tanpa perdulikan
urusan lain, semalaman Ci-keng tidak bisa pulas, sebentar bangun sebentar
berbaring, ia sudah ber-siap2 apabila ada suara yang mencurigakan segera ia akan
kabur lebih dulu.
Esok paginya mereka melanjutkan perjalanan lagi, karena semalam suntuk tidak
tidur, ditambahi rasa takutnya yang menumpuk, ia menjadi rada pusing kepala di
atas kudanya. Ci-seng mendampingi
Ci-peng ketinggalan di belakang, dengan lesu Ci-peng menanyai Ci-seng tentang
keadaan di Cong-lam-san akhir2 ini serta kesehatan para paman guru dan gurunya.
Menurut Ci-seng, Coan-cin-ngo-cu kelima murid utama Coan cin-kau, tadinya tujuh
orang, Tam Ju-hoat dan Ma Giok sudah meninggal sehingga tinggal lima orang)
sekarang mulai bertapa atau menyepi untuk waktu yang cukup lama, bisa setahun
atau paling sedikit tiga bulan, sebab itulah ln Ci-peng diharapkan pulang ke
Tiong-yang-kiong untuk menerima tugas sebagai pejabat ketua.
Ci-peng ter-mangu2 mendengar cerita itu, ia menggumam sendiri: “Kepandaian
beliau2 itu tiada taranya, entah apalagi yang hendak mereka latih?”
Dengan suara tertahan Ci-seng membisiki: “Konon kelima kakek guru bertekad
menyelami dan menciptakan semacam ilmu yang dapat mengalahkan jlimu silat
Ko-bong-pay.”
“Oh,” Ci-peng bersuara singkat dan tanpa terasa menoleh memandang sekejap kepada
Siao-liong-li.
Kiranya sesudah Siao-liong-li bergabung dengan Nyo Ko mengalahkan Kim-Iun
Hoat-ong di pertempuran besar ksatria dahulu, ilmu silat kedua muda-mudi telah
menggemparkan dunia persilatan, Tapi lantaran Nyo Ko berdua sedang mabok
kepayang mereka tidak lagi memikirkan kejadian itu.
Namun dunia persilatan sudah kadung geger, katanya ilmu silat di dunia ini tiada
yang dapat menandingi pewaris dari Ko-bong-pay. Sudah tentu desas-desus begitu,
banyak di-bumbui pula.
Apalagi kejadian itu juga disaksikan oleh Hek Tay-thong, Sun Put-ji, Ci peng dan
Ci-keng, ditambah pula berita kemudian mengatakan Kim-lun Hoat-ong sekali lagi
dikalahkan Nyo Ko dan Siao-liong-li sehingga paderi itu lari ter-birit2, tentu
saja semua itu sangat mencemaskan pimpinan Coan-cin-kau, terutama kalau teringat
pada suatu ketika Li Bok-chiu, Siao-liong-li atau Nyo Ko pasti akan menuntut
balas kepada mereka.
Menghadapi Li Bok-chiu seorang saja sukar, apalagi ditambah Nyo Ko dan
Siao-liong-li berdua, Bahwa diantara Li Bok-chiu dan Siao-liong-li juga terjadi
sengketa ternyata tidak diketahui oleh pihak Coan cin-kau.
Kini pucuk pimpinan Coan-cin-kau hanya tinggal lima orang saja, semuanya sudah
sama tua dan loyo, sedangkan anak murid angkatan muda juga tiada tokoh yang
menonjol, kalau nanti pihak Ko-bong-pay datang, pasti Coan-cin-pay mereka akan
kalah habis2an.
Sebab itulah kelima tokoh Coan-cin-kau itu memutuskan menyepi untuk memikirkan
satu macam ilmu silat maha hebat sebagai persiapan untuk menghadapi pihak
Ko-bong-pay. Lantaran itu pula In Ci-peng dipanggil pulang ke Cong-lam-san untuk
menerima tugas sebagai pejabat ketua.
Begitulah mereka terus melanjutkan perjalanan ke barat laut, Siao-liong-li masih
tetap menguntit di belakang dalam jarak tertentu.
Suatu hari sampailah mereka di wilayah Siam-say, sudah dekat dengan
Cong-lam-san. Ci-peng tidak mengerti apa kehendak Siao-liong-li itu yang
menguntitnya terus menerus, pikirnya: “Apakah dia hendak melapor kepada Suhuku
tentang perbuatanku yang rendah itu atau dia akan mengobrak-abrik Coan-cin-kau
lagi untuk menuntut balas sakit hatinya? Atau bisa jadi dia akan pulang ke
Ko-bong pay yang satu jurusan dengan kami ini atau… atau….” sampai di sini
ia tidak berani melanjutkan pikirannya lagi, yang jelas ia sudah tidak
memikirkan mati- hidup selanjutnya, maka rasa takutnya menjadi banyak berkurang
pula.
Selang beberapa hari, akhirnya mereka sampai di kaki gunung Cong lam, segera
Ci-seng melepaskan sebuah anak panah berwarna. Tak lama kemudian empat Tosu
tampak berlari turun dari atas gunung dan memberi hormat kepada Ci-peng serta
menyambut kembalinya dengan hangat.
Tosu yang tertua lantas berkata: “Menurut keputusan kelima paman guru, begitu
Jing-ho Cin-Jti (gelar agama In Ci-peng) tiba diharuskan segera bertugas sebagai
pejabat ketua, tentang upacara serah terima boleh menunggu nanti sehabis
Khu-susiok selesai menyepi.”
“Apakah kelima paman guru sudah mulai menyepi,” tanya Ci-peng.
“Sudah mulai 20 hari lebih,” jawab Tosu itu”.Tengah bicara, ber-turut2 datang
pula belasan Tosu yang lain dan menyambut pulangnya ln Ci peng dengan tetabuhan,
berbondong2 Ci-peng lantas di arak ke atas gunung sehingga Ci-keng tertinggal di
belakang tanpa diperhatikan.
Tentu saja Ci-keng mendongkol dan gemas serta iri pula, namun dalam hati iapun
bergirang “Nanti kalau kedudukan pejabat ketua sudah kupegang barulah “kalian
tahu rasa.”
Menjelang petang sampailah rombongan mereka di depan Tiong-yang-kiong, penghuni
istana agama yang berjumlah lebih 500 orang itu sama berbaris memanjang di luar
pintu disertai suara genta dan tambur yang ditabuh ber-taIu2.
Melihat keadaan yang khidmat itu, Ci-peng yang tadinya lesu itu seketika
bersemangat kembali. Di bawah iringan 16 murid tertua ia masuk ke ruangan
pendopo untuk memberi sembah kepada lukisan Ong Tiong-yang, yaitu cakal-bakal
Coan-cin-kau, lalu masuk lagi ke ruangan berikutnya untuk memberi hormat kepada
tujuh kursi yang biasanya menjadi tempat duduk Coan-cin-jit-cu jika berkumpul.
Habis itu ia balik lagi ke ruangan pendopo di depan.
Murid Khu Ju-ki yang kedua, yakni Li Ci-iang, lantas mengeluarkan surat
keputusan sang ketua dan dibacakan di depan orang banyak, menurut surat
keputusan itu, In Ci-peng diperintahkan nenerima jabatan ketua.
Dengan sendirinya Ci-peng berlutut dan menerima perintah itu dengan perasaan
terima kasih dan malu. Sekilas ia melihat Ci-keng berdiri di sebelah, air
mukanya tersenyum mengejek, seketika hati Ci-peng tergetar.
Sehabis menerima surat perintah itu, Ci-peng berdiri dan hendak memberikan kata
sambutan sekadarnya, pada saat itulah tiba2 masuk seorang Tosu penjaga dan
melapor: “Lapor ketua, ada tamu di luar.”
Ci-peng melengak, sama sekali tak diduganya bahwa Siao-liong-ii akan berkunjung
padanya secara terang2an begitu, ia menjadi bingung cara bagaimana harus
menghadapinya? Namun urusan sudah telanjur begini, hendak laripun tidak bisa
lagi, terpaksa ia berkata: “Silakan tamunya masuk ke sini.”
Tosu itu berlari keluar, tidak lama ia masuk lagi dengan membawa dua orang. Tapi
semua orang menjadi heran melihat kedua tamu ini, lebih2 Ci-peng, ia tidak tahu
untuk maksud apakah kedatangan kedua orang ini.
Kiranya kedua tamu ini yang seorang berdandan sebagai perwira Mongol dan seorang
lagi adalah Siau-siang-cu yang pernah dilihatnya di markas Kubilai tempo hari.
“Ada titah Sri Bagtnda Raja memberi anugrah kepada pejabat ketua Coan-cin-kau!”
segera perwira Mongol itu berseru lantang, ia terus maju ke tengah dan
mengeluarkan segulungan sutera kuning dan di bentang, lalu membaca: “Pejabat
ketua Coan-cin-kau dengan ini dianugrahi sebagai pemimpin besar golongan agama
To dengan gelar …..” sampai di sini dilihatnya tiada seorangpun berlutut untuk
menerima anugrah itu, maka ia lantas berteriak: “Silakan pejabat ketua menerima
titah Sri Baginda ini!”
Ci-peng melangkah maju dan memberi hormat kepada perwira itu, lalu berkata:
“Ketua kami Khu-cinjin saat ini sedang menyepi, maka untuk sementara Siauto
ditugaskan sebagai pejabat ketua, Anugrah raja Mongol ini bukan ditujukan
kepadaku maka Siauto tidak berani menerimanya.”
“Sri Baginda memberi pesan bahwa Khu-cinjin adalah tokoh yang dihormatinya dan
diketahui usianya sudah lanjut serta tidak tahu apakah beliau masih sehat atau
sudah wafat, sebab itulah anugrah ini bukan ditujukan kepada Khu-cinjin pribadi
melainkan ditujukan kepada pejabat ketua Coan-cin-pay sekarang,” demikian kata
perwira Mongol itu dengan tertawa.
“Tapi… tapi Siauto tidak berjasa apa2. sesungguhnya tidak berani terima
anugerah,” ujar Ci-peng dengan ragu2. Tapi perwira itu mendesak akhirnya Ci-peng
menambahkan: “Karena persoalan ini cukup penting dan datangnya mendadak, silakan
Tayjin duduk minum sebentar di ruangan dalam, biarlah Siauto mengadakan
perundingan dahulu dengan para saudara seperguruan.”
Perwira itu tampak kurang senang, apa boleh buat, terpaksa ia menurut bersama
Siau-siang-cu mereka lantas dibawa ke ruangan belakang.
Ci-peng sendiri lantas mengundang ke-16 murid tertua Coan-cin-kau untuk
berunding di ruangan samping, ia berkata setelah semua orang berduduk: “Urusan
ini sangat penting dan Siauto tidak berani memutuskannya sendiri, untuk itu
kuingin mendengar bagaimana pendapat saudara2.”
Segera Ci-keng mendahului bicara: “Maksud baik raja MongoI ini harus diterima,
hal inipun menandakan Coan-cin-kau semakin jaya, sampai raja Mongol juga tidak
berani memandang enteng kepada kita.” Habis berkata, dengan sikap yang gembira
ia lantas bergelak tertawa.
“Kukira tidak demikian,” Ci-siang ikut bicara. “Bangsa Mongol menyerbu negeri
kita, rakyat jelata kita banyak menjadi korban, mana boleh kita menerima
anugrahnya?”
“DahuIu Khu – supek sendiri juga menerima undangan cakal-bakal kerajaan Mongol
yang bernama Jengis Khan itu dan jauh2 menuju ke daerah barat sana, tatkala itu
In-ciangkau dan Li-suheng juga ikut serta, berdasarkan kejadian itu, apa
salahnya kalau sekarang kita menerima anugerah raja Mongol?” ujar Ci-keng.
“Waktu itu dan keadaan sekarang sangat berbeda.” jawab Ci-siang. “Ketika itu
pihak Mongol hanya memusuhi kerajaan Kim dan belum menyerbu negara kita, kedua
hal ini mana boleh di sama-ratakan?”
“Cong-Iam-san kita ini termasuk wilayah kekuasaan Mongol, kuil kita juga banyak
yang tersebar dalam daerah kekuasaan pemerintah Mongol, kalau kita menolak
anugerah ini, jelas Coan-cin-kau kita akan segera menghadapi bahaya,” kata
Ci-ikeng pula.
“Salah ucapan Tio-suheng ini,” kata Ci-siang.
“Di mana letak salahnya, coba jelaskan.” seru Ci keng aseran.
“Harap Tio-suheng menjawab dulu, siapakah Tiong-yang Cin-jin, cakal bakal agama
kita ini?” Dan siapa pula guru kita yang termasuk dalam Coan cin jit-cu ini?”
tanya Li Ci-siang dengan tenang.
“Kakek guru dan Suhu kita adalah para pendeta agama yang setia, mereka adalah
tokoh termashur di dunia Kangouw, siapa yang tidak menghormat dan mengagumi
mereka.” jawab Ci-keng.
“Bagus! Malahan dapat kutambahkan mereka adalah lelaki sejati, pahlawan besar
yang cinta negeri dan pembela bangsa, semuanya pernah berjuang mati2an dan
bertempur melawan penyerbu dari negeri Kim” seru Ci-siang. “Nah, kalau angkatan
tua Coan-cin-kau kita tiada seorangpun gentar menghadapi musuh, sekarang biarpun
Coan-cin-kau akan tertimpa bahaya, kenapa kita harus takut. Harus diketahui
bahwa kepala kita boleh dipenggal, tapi cita2 kita tidak boleh luntur”
Ucapan Ci-siang ini tegas dan gagah berani sehingga In Ci-peng dan belasan orang
lainnya sama terbangkit semangatnya.
“Hm, memangnya cuma Li-suheng saja yang tidak takut mati dan kami ini adalah
manusia pengecut semua.” jengek Ci-keng. “Yang perlu kukemukakan adalah jerih
payah Cousuya (cakal-bakal) kita, bahwa Coan-cin-kau bisa berkembang seperti
sekarang ini, betapa banyak Co-suya dan ketujuh guru dan paman guru kita telah
menegcurkan darah dan keringatnya? Kalau tindakan kita kurang benar sehingga
menghancurkan Coau-cin-kau yang ini dalam sekejap mata saja, lalu cara bagaimana
kita akan bertanggung-jawab terhadap Cosuya kita di alam baka?. Dan, cara
bagaimana pula kita akan memberi alasan bila kelima guru kita nanti habis
menyepi?”
Karena ucapannya cukup beralasan, segera ada dua-tiga tosu lain mendukungnya,
Segera Cikeng berkata puIa: “Bangsa Kim adalah musuh bebuyutan Coan-cin-kau
kita. bahwa orang Mongol telah menghancurkan kerajaan Kim, hal ini sangat cocok
dengan tujuan kita. Kalau saja Cosuya mengetahui hal ini, entah betapa beliau
akan bergembira.”
Tiba2 salah seorang murid Khu Ju-ki yang lain yakni Ong Ci-heng, ikut bicara:
“Jika sehabis menghancurkan kerajaan Kim, lalu orang Mongol bersahabat dengan
negeri Song kita, dengan sendirinya kita akan menerima mereka sebagai negeri
tetangga yang terhormat. Tapi sekarang pasukan Mongol menyerbu ke selatan dan
sedang menggempur Siangyang, tanah air kita terancam bahaya, adalah rakyat
jelata Song Raya, mana boleh menerima anugerah raja pihak musuh?”
Sampai di sini ia terus berpaling kepada In Ci-peng dan menegaskan:
“Ciangkau-suheng (kakak guru pejabat ketua), kalau saja engkau menerima anugrah
raja MongoI, itu berarti engkau adalah penghianat bangsa, orang berdosa dalam
agama kita. Untuk itu sekalipun aku orang she Ong harus mengalirkan darah juga
takkan mengampuni kau.”
Mendadak Tio Ci-keng berdiri sambil menggebrak meja, bentaknya: “Ong-sute,
apakah kau ingin main kasar? Kau berani bersikap kurangajar, begini terhadap
pejabat ketua?”
“Yang kita utamakan adalah kebenaran, kalau perlu main kasar, memangnya kutakut
padamu?” jawab Ong Ci-heng dengan suara keras.
Karena sama2 ngotot, tampaknya kedua pihak segera akan main kepalan dan adu
senjata.
Tiba2 seorang Tosu bertubuh pendek kecil membuka suara: “Sungguh sayang bahwa di
antara kita sendiri. harus berbeda pendapat. Padahal keadaan sekarang berbeda
dengan masa dahuIu, Waktu itu Siaute juga ikut ke barat bersama Suhu untuk
menemui Jengis Khan, dan menyaksikan sendiri keganasan perajurit Mongol. Kalau
sekarang kita menerima anugerah dan menyerah pada Mongol, ini berarti kita
membantu pihak yang lalim dan ikut berbuat jahat.”
Tosu pendek kecil ini bernada Song Tek-hai, dia termasuk salah seorang dari
ke-18 anak murid yang ikut Khu Ju-ki melawat ke Mongol dahuIu.
Ci-keng lantas menjengek: “Hm, kau pernah bertemu dengan Jengis Khan, lantas kau
anggap hebat begitu? Sekali ini akupun bertemu sendiri dengan jklik raja Mongol,
yaitu Kubilai, Pangeran ini sangat baik hati dan bijaksana, tiada sedikitpun
tanda2 ganas dan kejam.”
“Aha, bagus! jadi kau mengemban tugas bagi Kubilai untuk menjadi mata2 di sini?”
teriak Ong Ci-heng.
Ci-keng menjadi gusar “Apa katamu?” bentaknya.
“Siapa yang bicara bagi orang Mongol, dia adalah pengkhianat!” teriak Ong
Ci-heng pula.
Dengan murka Ci-keng terus melompat maju, sebelah tangannya terus menghantam
kepala Ong Ci-heng. Namun dari samping dua orang murid Khu Ju-ki yang lain telah
menangkis pukulannya ini.
“Bagus!” Ci-keng ber-kaok2 terlebih murka. “Anak murid Khu-supek memang banyak,
jadi kalau hendak menang2an?”
Dalam keadaan tegang itu, Ci-peng menepuk tangan dan berseru: “Harap para Suheng
dan Sute berduduk dengan tenang, dengarkanlah ucapanku.”
Pejabat ketua Coan-cin-kau biasanya memegang kekuasaan tertinggi dan berwibawa,
maka para Tosu itu lantas berduduk kembali dan tidak berani bersuara pula.
“Ya, memang seharusnya kita mendengarkan petua pejabat ketua, kalau dia menerima
anugerahnya ya terimalah, kalau tidak ya tolak saja, Yang dianugerahi raja
Mongol adalah dia dan bukan kau! atau aku, untuk apa kita ribut?” demikian
Ci-keng berkata, ia yakin bahwa In Ci-peng pasti akan mengikuti kehendaknya
karena rahasia orang sudah terpegang olehnya…
Maka dengan pelahan Ci-peng mulai bicara: “Siaute memang tidak mampu, baru saja
diberi tugas pejabat ketua, hari pertama saja ternyata sudah menghadapi
persoalan maha penting dan sulit ini. ia merandek sejenak dan ter-mangu2. Sorot
mata semua orang sama tertuju padanya, suasana di ruangan itu menjadi hening.
Kemudian Ci-peng melanjutkan “Coan-cin-kau kita didirikan oleh Tiong-yang Cinjin
dan dikembangkan oleh Ma-cinjin dan Khu-cinjin, sekarang Siaute menjabat ketua,
mana kuberani menentangkan ajaran ketiga Cinjin itu? Coba para Suheng jawab
sendiri, selagi negeri kita berada di bawah penindasan pihak Mongol, andaikan
ketiga cianpwe kita itu berada disini, mereka akan menerima anugerah raja MongoI
ini atau tidak?”
Semua orang terdiam dan sama memikirkan tindak tanduk kaum tua yang disebut itu.
Ong Tiong-Sudah lama wafat dan banyak di antara murid angkatan ketiga ini tidak
pernah melihatnya, sedangkan Ma Giok juga sudah meninggal dan pribadinya
terkenal ramah-tamah, setiap keputusan yang diambil mengutamakan ketenangan.
Tapi Khu Ju-ki berwatak keras, namun berbudi luhur dan berjiwa setia, Teringat
kepada Khu Ju-ki, serentak semua orang berteriak: “Khu-cinjin pasti takkan
menerima anugerah raja Mongol ini.”
Dengan suara keras Ci-keng lantas berteriak pula: “Tapi pejabat ketua sekarang
adalah kau dan bukan Khu-supek.”
“Namun Siauto harus taat kepada ajaran guru, apalagi dosaku teramat besar,
matipun belum cukup penebus dosaku,” jawab Ci peng, lalu ia menunduk.
Sudah tentu Tosu Iain tidak tahu arti yang terkandung dalam ucapan Ci-peng itu,
hanya Ci-keng yang dapat menangkap maksudnya, ia lantas berbangkit dan
menjengek: “Jika begitu, jadi sudah pasti kau tak mau terima?”
“Jiwaku sesungguhnya tidak berarti, yang utama adalah nama baik Coan cin-kau
kita,” jawab Ci peng dengan suara pedih, tapi kemudian suaranya berubah
bersemangat ia menyambung pula. “Apalagi saat ini setiap ksatria perlu bersatu
untuk melawan musuh dari Iuar. Coan-cin-pay kita terkenal sebagai tulang
punggungnya dunia persilatan, kalau kita takluk kepada Mongol, ke mana lagi muka
kita ini harus ditaruh?”
Serentak para Tosu itu bersorak gemuruh memuji ketegasan Ci – peng. Yang marah
adalah Ci keng, segera ia melangkah pergi. Setiba di ambang pintu ia menoleh dan
mendengus: “Goankau-suheng cara bicaramu terdengar bagus sekali, tapi hehe,
bagai mana akibatnya persoalan ini tentu kau sendiri sudah memikirkannya.”
Habis berkata ia terus melangkah pergi tanpa berpaling lagi. Beberapa Tosu yang
mendukung Tio Ci-keng tadi juga cepat mengeluyur pergi di tengah sanjung puji
Tosu yang larut kepada sikap In Ci-peng itu.
Ci-peng tidak bicara lagi, dengan muram ia kembali ke kamarnya sendiri, ia tahu
setelah mengalami kegagalan tadi, Ci-keng pasti takkan menyerah begitu saja,
tentu akan membongkar rahasia perbuatannya yang kotor terhadap Siao-liong-li
itu.
Sebenarnya Ci-peng sudah bertekad mati ketika dia menolak anugerah Mongol tadi,
selama beberapa bulan ini dia sudah kenyang menahan rasa takut ia tersiksa
batinnya, teringat olehnya jika sudah mati maka segala apapun tidak perlu
dikuatirkan lagi, maka hatinya menjadi lega malah.
Segera ia menutup pintu kamar dan dipalang, dengan iklas ia melolos pedang terus
di gorokkan ke lehernya sendiri.
Mendadak dari belakang rak buku muncul seorang dan cepat merampas pedang In
Ci-peng, karena tidak ber-jaga2, tahu2 pedang Ci-peng ini terampas begitu saja.
Keruan Ci-peng terkejut dan cepat menoleh, kiranya yang merampas pedangnya bukan
lain daripada Tio Ci-keng.
“Setelah kau merusak nama baik Coan-cin-kau kita, sekarang kau ingin bunuh diri
dan habis perkara, begitu?” jengek Ci-keng, “Nona Liong masih menunggu di luar
sana, sebentar kalau dia datang akan meminta keadilan, lalu cara bagaimana kita
akan menjawabnya?”
“Baik, akan kutemui dia dan bunuh diri dihadapannya untuk menebus dosaku,” kata
Ci-peng.
“Biarpun kau sudah bunuh diri juga urusan tak dapat diselesaikan,” ujar Ci-keng.
“Nanti sesudah keluar dari menyepi tentu kelima guru kita akan mengusut
persoalanmu. Sekali nama baik Coan-cin kau kita runtuh, maka selamanya kau akan
menjadi orang berdosa.”
Ci-peng merasa terdesak dan bingung, ia metutupi mukanya dan mendadak duduk di
lantai, menggumam sendiri: “Habis apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang
harus kulakukan?”
Kalau tadi di depan orang banyak ia dapat bicara dengan lancar, sekarang setelah
berhadapan sendirian dengan Tio Ci-keng ternyata sedikitpun tidak dapat
menguasai diri.
“Baik, asalkan kau tunduk kepada syaratkan persoalan mengenai nona Liong akan
kututup rapat, nama baikmu dan Coan-Cin-kau kita juga dapat di pertahankan,”
kata Cikeng.
“Kau ingin kuterima anugerah raja Mongol itu?” tanya Ci-peng.
“Tidak, tidak! Aku tidak ingin kau menerima anugerahnya,” jawab Ci-keng.
Hati Ci-peng terasa lega, tanyanya pula: “Habis apa keinginanmu? Lekas katakan
pasti akan kuturuti.”
* * * *
Tidak lama kemudian, terdengar riuh ramai suara genta dan tambur di pendopo
Tiong-yang kiong sebagai tanda segenap anggauta harus berkumpul.
Li Ci siang memerintahkan anak buahnya membawa senjata di dalam jubah untuk
menjaga segala kemungkinan.
Ruangan besar itu penuh ber-jubel Tosu tua dan muda, semuanya tegang ingin tahu
apa yang bakal terjadi. Kemudian tampak Ci-peng melangkah keluar dari belakang,
wajahnya pucat dan tak bersemangat, begitu berdiri di tengah ruangan segera ia
berseru: “Para Toheng, atas perintah Khuciangkau tadi Siauto telah ditunjuk
sebagai pejabat ketua, siapa tahu Siauto mendadak menderita penyakit maut dan
takdapat disembuhkan…” karena keterangan yang tak ter-duga2 ini, seketika
gemparlah para Tosu.
Kemudian Ci-peng menyambung: “Oleh karena itu, tugas sebagai pejabat ketua yang
maha penting ini sukar dipikul, sekarang juga aku menunjuk murid tertua dari
Ong-susiok, yakni Tio Ci-keng, sebagai pejabat ketua.”
Seketika suasana menjadi hening, namun keadaan sunyi ini cuma berlangsung
sekejap saja, segera terdengarlah suara protes beberapa orang, seperti Li
Ci-siang, Ong Ci-heng, Song Tek-hong dan lain2. Be-ramai2 mereka berteriak
“Tidak! tidak! bisa! Khu-cinjin menunjuk In-suheng sebagai pejabat ketua, tugas
penting ini mana boleh diserahkan lagi kepada orang lain? – Ya, tanpa sebab,
mana bisa In-suheng terserang penyakit maut seoara mendadak? Betul, di balik
urusan ini tentu ada sesuatu intrik keji, kita harap Ciangkau- suheng jangan
terjebak oleh tipu muslihat kaum pengkhianat.?
Begitulah seketika seluruh ruangan menjadi panik, Li Ci-siang dan kawan2nya sama
melotot pada Tio Ci-keng, tapi Ci-keng tampaknya tenang2 saja dari anggap sepi
sikap pihak lawan.
In Ci-peng lantas memberi tanda agar semua diam, lalu berkata: “Datangnya urusan
ini terlalu mendadak, pantas kalau saudara2 tidak paham persoalannya. Coan
cin-kau kita sedang menghadapi malapetaka, Siauto telah berbuat pula sesuatu
kesalahan besar, sekalipun mati juga sukar bagiku, untuk menebus dosaku dan
sukar menghindari bahaya yang mengancam.”
Sampai di sini, air mukanya tampak sedih sekali, sejenak kemudian ia menyambung
pula: “Sudah kupikirkan dengan masak2, kurasa hanya Tio-suheng yang
berpengetahuan luas yang dapat membawa Coan-cin-kau terhindar dari bahaya ini.
Untuk itu di antara para Suheng dan Sute harus kesampingkan pendirian pribadi
dan ber-sama2 membantu Tio-suheng melaksanakan tugas bagi keselamatan dan
kejayaan Coancinkau kita ini.”
Li Ci-siang menjadi sangat curiga, dari sikap In Ci-peng itu jelas sang Suheng
menahan sesuatu rahasia yang sukar diuraikan, kalau sang Suheng yang menjabat
ketua sudah memohon kerelaan para Sute, iapun tidak enak untuk ngotot, terpaksa
ia menunduk dan tak bersuara lagi selain diam2 memikirkan langkah selanjutnya
yang perlu diambil.
Watak Ong Ci-heng sangat jujur, tanpa pikir ia berteriak: “Kalau Ciangkau-suheng
betul2 mau mengundurkan diri juga perlu menunggu selesainya guru2 kita habis
menyepi, setelah dilaporkan barulah diambil keputusan yang lebih bijaksana.”
“Tapi urusannya sudah terlalu mendesak, tidak dapat menunggu lagi,” ujar Ci-peng
dengan muram.
“Baiklah, seumpama memang begitu, di antara sesama saudara seperguruan kita,
baik mengenai budi pekerti maupun mengenai Kanghu, rasanya yang melebihi
Tio-suheng masih cukup banyak,” kata Ci-seng pula. “Misalnya Li-suheng atau
Song-sute, mereka terlebih pintar dan tangkas, kenapa mesti serahkan tugas maha
penting kepada Tio-suheng yang tidak dapat diterima oleh semua orang.”
Tio Ci-keng adalah pemberang, sudah sejak tadi ia menahan perasaannya, sekarang
ia tidak tahan lagi, segera ia menanggapi “Dan ada lagi Ong Ci-heng, Ong-sute
yang berani bicara dan berani,berbuat! Kenapa tidak kau calonkan sekalian?”
Ci-heng menjadi gusar, jawabnya: “Aku memang bodoh dan selisih jauh kalau
dibandingkan Suheng2 yang lain, tapi kalau dibandingkan Tio-suheng, betapapun
kuyakin masih unggul setingkat Ya, ilmu silatku mungkin bukan tandingan
Tio-suheng, tapi paling tidak aku pasti takkan menjadi pengkhianat.”
“Apa katamu? Kalau berani katakanlah lebih jelas, siapa yang menjadi
pengkhianat?” teriak Ci-keng dengan merah padam, Begitulah kedua orang
bertengkar semakin sengit dan siap berperang tanding.
“Kedua Suheng tidak perlu berdebat, dengankanlah perkataanku,” sela Ci-peng.
Meski kedua orang lantas diam, namun masih saling melotot.
Lalu Ci-peng berkata pula: “Menurut peraturan kita, pejabat ketua baru ditunjuk
oleh ketua lama dan bukan diangkat secara be-ramai2 betul tidak?”
Setelah semua orang mengiakan, lalu Ci peng melanjutkan “Karena itu, sekarang
juga aku menunjuk Tio Ci-keng sebagai pejabat ketua penggantiku. Nah, para
hadirin tidak perlu bertengkar lagi. Tio-suheng, silakan maju menerima pesan.”
Dengan ber-seri2 Ci-keng lantas maju ke tengah dan memberi hormat. Segera Ci
heng dan Song Tek hong hendak bicara lagi, tapi Li Ci-siang keburu menarik baju
mereka dan mengedipi. Ci-heng berdua tahu Ci-siang pasti mempunyai pandangan
yang lebih baik, merekapun lantas diam.
“ln suheng pasti ditekan oleh Tio Ci-keng sehingga tidak berani melawannya,”
kata Ci-siang dengan suara tertahan “Maka kita harus membongkar muslihat Tio
Ci-keng itu secara diam2, sekarang In-suheng sudah memutuskan demikian, kalau
kita bicara lagi akan kelihatan pihak kita yang salah.”
Ong dan Song mengiakan, mereka lantas ikut dalam upacara penyerahan kedudukan
pejabat ketua itu. Bahwa dalam sehari terjadi penyerahan pejabat ketua dua kali,
sungguh kejadian yang luar biasa.
Selesai upacara, dengan pongahnya Ci-keng lantas berdiri di tengah didampingi
oleh anak muidnya, lalu berseru: “Silakan utusan Sri Baginda Raja MongoI hadir!”
Segera Ong Ci-heng hendak mendamperat lagi, tapi keburu dicegah Li Ci-siang.
Selang tak lama beberapa Tosu menyambut tamu telah datang dengan membawa perwira
Mongol itu dan Siau-siang-cu.
Cepat Ci-keng memburu maju untuk menyambut dengan munduk2. Perwira Mongol itu
sudah mendongkol karena telah menunggu sekian lama, kini In Ci-peng ternyata
tidak menyambut kedatangannya, keruan mukanya tambah bersungut.
Tapi segera seorang Tosu bagian protokol lantas memberitahu bahwa mulai sekarang
kedudukan pejabat ketua telah dilimpahkan kepada Tio Ci-keng.
Perwira itu melengak kaget, tapi segera ia bergirang dan mengucapkan selamat
kepada Ci-keng. Siau-siang-cu berdiri di belakang perwira Mongol itu dengan diam
saja, mukanya kaku dingin, entah suka atau duka.
Dengan munduk2 pula Ci-keng membawa perwira Mongol itu ke tengah pendopo, lalu
berkata: “Silakan Tayjin membacakan titah raja.”
Diam2 perwira itu bersyukur bahwa Coan cin kau sekarang diketuai orang macam Tio
Ci-keng.
ia lantas mengeluarkan Sengci (titah raja), Ci-keng. juga lantas bertekuk lutut,
lalu perwira itu mulai membaca titah raja: “Dengan ini ketua Coar-cin-kau di…”
Melihat secara terangan Ci-keng menerima anugerah raja Mongol, Ci-siang, Ci-heng
dan lain2 tidak tahan lagi, serentak mereka melolos pedang, Ci-heng dan Tek-hong
terus melangkah maju dan mengancam punggung Ci-keng dengan ujung pedang mereka,
Ci-siang lantas berseru dengan lantang: “Coan-cin-kau ini berdiri berdasarkan
cita2 setia kepada negara dan bakti kepada rakyat, se-kali2 kita tidak sudi
menyerah kepada Mongol, Tio Ci-keng telah mengkhianat dan setiap orang wajib
mengutuknya, dia tidak boleh menjabat ketua Coan-cin kau dan kitapun tidak
mengakuinya lagi.”
Sementara itu beberapa Tosu lain juga sudah mengelilingi perwira Mongol itu dan
Siau-siang-cu dengan pedang terhunus.
Peristiwa ini terjadi dengan sangat mendadak,
Meski sebelumnya Ci-keng juga menduga Ci-siang dan kawannya pasti tidak mau
menyerah, tapi sama sekali tidak diduganya pihak lawan berani menggunakan
kekerasan terhadap pejabat ketua yang biasanya sangat dihormati dan dijunjung
tinggi.
Sekarang senjata lawan telah mengancam, ia menjadi kaget dan gusar, tapi ia
tidak gentar, segera ia membentak: “Kurangajar, kalian, berani membangkang
terhadap pimpinan?”
Tapi Ci-heng lantas balas membentak “Bangsat! Pengkhianat! Berani kau bergerak,
segera punggungmu akan tembus!”
Sebenarnya kepandaian Ci-keng terlebih tinggi daripada kedua lawannya, tapi
secara mendadak dia dikuasai selagi tengkurap, dengan sendirinya dia mati kutu,
sebelumnya dia juga menyiapkan belasan anak muridnya yang bersenjata lengkap,
namun pihak lawan bertindak lebih dulu, betapapun anak buah Ci-keng itu tak
sempat berkutik lagi.
Segera Li Ci-siang berkata kepada perwira MongoI itu: “Mongol sudah menjadi
musuh Song Raya kami, rakyat Song mana boleh menerima anugerah dari pihak
Mongol.” Maka sekarang kalian silakan pulang saja, kelak kalau bertemu di medan
perang bolehlah kita selesaikan di sana.”
Walaupun terancam bahaya, perwira Mongol itu ternyata tidak gentar sedikitpun,
ia malah menjengek: “Hm kalian berani bertindak secara semberono, tampaknya
Coan-cin-kau yang sudah terpupuk kuat ini akan musnah dalam sekejap saja,
Sungguh harus disayangkan.”
“Negara kami seluas ini saja sudah terancam musnah, Coan-cin-kau yang cuma
secuil ini apa pula artinya?” ujar Ci-siang. “Jika kalian tidak lekas pergi,
kalau sebentar kalian diperlakukan secara kasar mungkin Siauto tidak dapat
berbuat apa2 lagi.”
Tiba2 Siau-sing-cu menimbrung: “Bagaimana perlakuan kasarnya? Coba, aku ingin
tahu!” – Mendadak kedua tangannya meraih, tahu2 pedang Ong Ci-heng dan Song
Tek-hong yang mengancam punggung Ci-keng itu telah dirampasnya.
Cepat Cikeng melompat bangun terus berdiri di samping perwira Mongol itu,
Siau-siang-cu lantas mengangsurkan sebuah pedang rampasan di tangan kirinya itu
kepada Ci-keng, sedang pedang lain terus menusuk ke arah Li Ci-siang.
Trang”, Ci-siang menangkis serangan itu, mendadak tangan terasa kesemutan,
tenaga lawan ternyata kuat luar biasa. Diam2 ia mengeluh cepat iapun mengerahkan
tenaga dalam untuk bertahan, tapi cepat terdengar suara gemerantang nyaring,
kedua pedang patah semua dan jatuh ke lantai.
Tindakan Siau-siang-cu itu dilakukan dengan cepat luar biasa, merampas pedang
dan menyerang serta menggetar pedang hingga patah, semua itu terjadi dalam
sekejap saja, Menyusul lengan bajunya lantas mengebut dan kedua tangan menyodok
sekaligus ke depan sehingga empat murid tertua Coan-cin-kau yang mengitarinya
itu didesak mundur.
Keruan semua orang kaget, sungguh mereka tidak menyangka bahwa orang yang mirip
“mayat hidup” ini ternyata memiliki kepandaian setinggi ini.
Biasanya Ci-keng suka meremehkan ilmu silat Ong Ci-heng, Song Tek- hong dan
lain2, sekarang di hadapan orang banyak dia telah diancam hingga tak bisa
berkutik selagi mendekam diatas tanah, tentu saja dia sangat murka. Maka begitu
dia menerima pedang dari Siau-siang-cu, segera pula dia menusuk ke perut Ong
Ci-heng.
Cepat Ci-heng mendoyong ke belakang, namun Ci-keng tidak kenal ampun lagi, ia
mendorongkan ujung pedang sehingga nasib Ci-heng tampaknya sukar dihindarkan,
semua orang ikut kuatir sehingga suasana menjadi hening.
Pada detik gawat itulah mendadak dari samping seorang mengebaskan lengan
bajunya, pedang Ci-keng tergulung dan tertarik ke samping, “bret”. lengan baju
robek terpotong dan kesempatan itupun digunakan Ci-heng untuk melompat mundur
menyusul dua pedang terjulur pula dari samping untuk menahan pedang Ci-keng.
Ketika diawasi orang yang mengebutkan lengan baju itu kiranya adalah In Ci-peng.
Ci-keng menjadi gusar, bentaknya sambil menuding Ci-peng: “Kau….kau
berani….”
“Tio-suheng,” kata Ci-peng, “kau sendiri menyatakan takkan menerima anugerah
raja Mongol, karena itulah aku menyerahkan pejabat ketua padamu, mengapa dalam
waktu sekejap saja kau sudah ingkar janji?”
“Bilakah pernah ku berjanji begitu?” jawab Ci keng, “Tadi kau bertanya soal
anugerah raja MongoI rni, aku menjawab: “Aku tidak ingin kau menerima, anugerah
raja Mongol! Nah, masakah aku ingkar janji? Yang menerima anugerah sekarang kan
aku dan bukan kau?”
“Oh, kiranya begitu, kiranya begitu?” Ci-peng menggumam penuh rasa pedih, “Licik
benar kau, Tio-suheng!”
Dalam pada itu Li Ci-siang sudah menerima pedang dari seorang muridnya segera ia
berseru: “Saudara2 di dalam agama, kita tetap mengakui In-suheng sebagai pejabat
ketua, marilah kita tangkap pengkhianat she Tio ini.” – Menyusul ia lantas
menubruk maju dan menempur Ci-keng.
Ci-heng dan enam orang lainnya lantas memasang Pak-tau Kiam-hoat mengepung
Siau-siang-cu di tengah, Meski tinggi ilmu silat Siau-siang-cu, tapi barisan
pedang Coan-cin-kau yang terkenal itupun sangat hebat, sekali bergebrak, daya
tempurnya juga Iihay. Cepat Siau-siang-cu mengeluarkan pentungnya untuk
menangkis kerubutan lawan.
Perwira Mongol tadi sudah mundur ke pojok ruangan, melihat gelagat jelek, segeia
ia mengeluarkan tanduk kerbau dan ditiup keras2.
Ci-peng terkejut, ia tahu orang sedang mengundang bala bantuan, menghadapi
ancaman bahaya, semangatnya terbangkit, kemampuannya memimpin biasanya Iantas
timbul Iagi. Segera ia memberi perintah: “Ki Ci-seng, kau tangkap perwira itu,
Ih To-hoan Suheng, Ong Ci-kin Suheng, kalian membawa tiga kawan dan lekas ke
Giok-bi-tong di belakang gunung untuk membantu Sun-suheng berjaga di sana agar
kelima guru kita tidak terganggu serbuan musuh.
Tan Ci-ek Sute lekas kau membawa enam orang pergi berjaga di depan gunung. Pang
Ci ki Sute dengan enam orang berjaga di kiri gunung dan Lau To-leng Sute bersama
enam orang berjaga di kanan gunung.”
Orang2 yang ditugaskan berjaga di kanan kiri dan muka belakang itu adalah murid
Ong Ju-ki semua, sedangkan Ih To-hian dan Ong Ci-kin adalah murid paman gurunya
yang dapat dipercaya dengan cara pengaturan pertahanan ln Ci-peng ini, sekalipun
musuh menyerbu secara besarkan juga sukar menembusnya.
Akan tetapi sebelum semua orang yang diberi perintah itu pergi, tiba2 terdengar
suara teriakan ramai, belasan orang telah melompat masuk, dari kanan nampak
dipimpin ln Kik-si dan sebelah kiri dipimpin Nimo Singh, dari depan dikepalai Be
Kong-co, belasan orang yang dipimpin adalah jago2 pilihan dari berbagai suku
bangsa.
Kiranya Kubilai tidak berhasil memboboI pertahanan Siangyang selama ber-bulan2,
mendadak terjangkit wabah di tengah pasukannya, maka setelah serangan terakhir
pada Siangyang juga gagal, segera ia mengundurkan pasukannya, Pasukan Mongol
yang dilihat Siao-liongli tempo hari ketika bergerak ke selatan itu adalah
serangan terakhir yang dilakukan Kubilai.
Berhubung sukarnya Siangyang direbut, dengan sendirinya kerajaan Song juga sukar
diruntuhkan, maka sebelum mengundurkan pasukannya Kubilai sudah mengirim
antek2nya untuk mendekati dan membeli orang2 gagah di Tionggoan.
Raja Mongol sengaja merangkul pihak Coan-cin-kau juga termasuk tipu muslihat
Kubilai. Tapi dia tahu Coan-cin-kau belum tentu mau menerima anugerah, maka
Kim-lun Hoat-ong diperintahkan memimpin jago2 lainnya bersembunyi di sekitar
Cong-lam-san, bila Coan-cin-kau menolak titah raja, segera digunakan kekerasan
untuk menindasnya.
Biasanya penjagaan di Cong-Iam-san cukup ketat, tapi lantaran sehari terjadi dua
kali penggantian pejabat ketua, suasana di Tiong-yang-kiong sedang kacau, anak
murid yang bertugas berjaga di luar sama di tarik ke dalam untuk ikut hadir
dalam upacara, sebab itulah kedatangan rombongan Nimo Singh, In Kik-si dan lain2
tidak diketahui
Kini musuh mendadak muncul, seketika orang2 Coancin-kau menjadi panik, Perwira
Mongol yang tadinya sudah ditawan Ki Ci-seng itu sekarang lantas berteriak:
“Para Totiang dari Coan-cin kau, kalau ingin selamat, lekas kalian membuang
senjata dan tunduk kepada perintah pejabat ketua Tio-totiang.”
Tapi Ci-peng lantas membentak: “Tio-Ci-keng telah berkhianat dosanya tak
terampunkan, dia bukan lagi pejabat ketua kita.”
Meski menyadari keadaan sangat gawat, tapi Ci-peng bertekad melawan musuh dengan
mati2an, maka dia lantas memberi aba2 untuk bertempur, Namun para Tosu sebagian
tak membawa senjata dan terkepung pula, maka hanya sebentar saja sudah belasan
orang terkapar tak bernyawa lagi.
Menyusul Ci-peng sendiri, Li Ci-siang, 0ng-Ci-heng, Song Tek-hong dan lain2 juga
kecundang ada yang senjatanya terampas musuh dan ada yang terluka dan
menggeletak atau tak bisa bergerak karena Hiat-to tertutuk. Sisa Tosu yang lain
menjadi kelabakan seperti ular tanpa kepala, mereka terdesak ke pojok ruangan
dan tak dapat melawan lagi.
Perwira Mongol tadi tidak tinggi ilmu silatnya, tapi pangkatnya sangat tinggi,
maka In Kik-si, Siau-siang-cu dan lain2 harus tunduk kepada perintahnya, Melihat
pihaknya sudah menang total, perwira itu lantas berseru kepada Ci-keng: “Tio
cinjin, mengingat kesetiaanmu, tentang pemberontakan Coan-cin-kau ini takkan
kulaporkan kepada “Sri Baginda.”
Ci-keng memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, Tiba2 teringat sesuatu
olehnya, cepat ia membisiki Siau-siang-cu: “Masih sesuatu urusan penting perlu
bantuan cianpwe. Guruku dan para paman guruku sedang menyepi di belakang gunung,
kalau mereka menerima berita dan memburu kesini…”
“Kebetulan kalau mereka ke sini, akan kubereskan mereka bagimu,” ujar
Siau-siang-cu dengan tak acuh.
Ci-keng tak berani bicara pula, dalam hati ia mendongkol karena orang berani
meremehkan gurunya, namun iapun serba susah, kalau guru dan para paman gurunya
dapat mengusir orang2 Mongol berarti pula jiwanya sendiri terancam.
Dalam pada itu perwira Mongol tadi telah berkata pula: “Tio-cinjin, silakan kau
terima dulu anugerah Sri Baginda, habis itu baru kau selesaikan kawanmu yang
membrontak itu.”
Ci-keng mengiakan dan segera berlutut mendengarkan titah raja Mongol. Ci-peng,
Ci-siang dan lain2 dapat mengikuti kejadian itu dengan dada se-akan2 meledak
saking gusarnya.
Song Tek-hong berduduk di sebelah Li Ci-siang, ia coba membisiki sang Suheng:
“Li-suheng, harap lepaskan pengikat tanganku, biar kuterjang keluar untuk
melapor pada guru kita.”
Ci-siang mengangguk punggungnya lantas dirapatkan di punggung Tek-hong, ia
mengerahkan tenaga dalam pada jarinya untuk membuka tali pengikat tangan Song
Tek-hong yang ditelikung itu. Setelah berhasil dengan suara tertahan ia memberi
pesan: “Kau harus hati2, jangan sampai kelima guru kita terkejut.”
Tek-hong mengangguk dan siap2 untuk meloloskan diri. sementara itu pembacaan
titah raja sudah selesai, Ci-keng telah berdiri, perwira Mongol itu dan
Siau-siang-cu sedang mengucapkan selamat padanya.
Melihat semua orang sedang mengitari Tio Ci-keng, cepat Song Tek-hong melompat
ke sana, segera ia berlari ke balik altar pemujaan.
“Berhenti!” Nimo Singh membentak
Akan tetapi Tek-hong tidak ambil pusing, ia berlari terlebih cepat.
Karena kedua kakinya sudah buntung, sukar bagi Nimo Singh untuk mengejar,
sebelah tangannya lantas mengambil sebuah Piau kecil berbentuk ular terus
disambitkan “PIok”, dengan tepat kaki kiri Tek-hong tertimpuk Piau itu.
Akan tetapi Tek-hong hanya sempoyongan sedikit saja dan tetap kabur ke depan
dengan menahan sakit. Beberapa jago Mongol segera mengejar, namun bangunan rumah
di kompIek Tiong-yang-kiong sangat banyak, hanya memutar beberapa rumah saja
Tek-hong sudah menghilang dari kejaran musuh.
Sampai di tempat sepi, dengan menahan sakit Tek hong mencabut Piau yang masih
menancap di kakinya itu, lalu membalut lukanya, ia kembali dulu ke kamarnya
untuk mengambil pedang, lalu berlari ke Giok-bi-tong di belakang gunung, di mana
guru dan para paman gurunya sedang menyepi.
Sesudah dekat, dari balik pepohonan ia memandang ke sana, ia jadi mengeluh
ketika dilihatnya lebih 20 orang Mongol sedang sibuk memindahkan batu2 besar
untuk menyumbat mulut gua Giok-hi-tong. Seorang , paderi Tibet tinggi kurus
mengawasi dan memberi petunjuk cara menyumbat gua itu. Di samping itu terdapat
pula dua orang lagi sedang sibuk mengatur ini dan itu.
Tek-hong kenal kedua orang di samping itu itu adalah Darba dan Hotu yang dahulu
pernah cari setori ke Tiong-yang-kiong, dengan sendirinya iapun kenal ilmu silat
kedua orang itu. Sedang paderi yang tinggi itu jelas kepandaiannya lebih tinggi
dari pada Darba dan Hotu, mulut gua Giok-hitong sudah tinggal sedikit saja yang
belum tersumbat batu, entah bagaimana keadaan kelima guru dan paman gurunya?
Song Tek-hong menyadari tenaga sendiri tak berguna andaikan menerjang maju untuk
mengalangi perbuatan musuh itu, paling2 jiwa sendiri juga akan ikut melayang,
tapi mengingat keselamatan guru dan nasib Coan cin-kau yang menghadapi
kehancuran, mana boleh ia cuma memikirkan keselamatannya sendiri.
Segera ia melompat keluar dari tempat sembunyinya, secepat kilat ia menusuk
paderi Tibet yang berdiri membelakanginya itu, ia pikir kalau menyerang harus
serang pimpinannya, kalau berhasil tentu pihak musuh kacau lebih dulu.
Paderi Tibet itu adalah Kim lun Hoat-ong, tempo hari ia sudah menanyai Tio
Ci-keng mengenai seluk-beluk Coan cin-kau, maka begitu sampai di
Tiong-yang-kiong segera ia menuju belakang gunung untuk menyumbat Giok-hi-tong
serta mengurung kelima tokoh utama Coan-cin-kau itu di dalam gua, dengan begitu
sisa anak murid Coan-cin-kau yang lain tentu mudah diatasi.
Ketika ujung pedang Song Tek-hong hampir mengenai punggungnya ternyata Hoat-ong
tidak merasakan apa2, Tek-hong bergirang, Tak terduga mendadak cahaya kuning
berkelebat menyusul terdengar suara “trang” sekali, sejenis senjata aneh paderi
itu telah menyamber ke belakang dan membentur pedangnya.
Tek-hong merasakan tangannya kesakitan, pedang terlepas dari cekalan, hanya
benturan itu saja telah membuat dia muntah darah dan pandangan menjadi gelap.
Dalam keadaan sadar-tak-sadar sayup2 ia dengar suara teriakan orang ramai di
ruangan pendopo, entah peristiwa apa lagi yang terjadi, tapi segera ia tak ingat
apa2, ia jatuh pingsan.
Kim-lun Hoat-ong juga mendengar suara teriakan ramai itu, tapi ia pikir
Siau-siang-cu, In Kik-si dan lain2 berada di sana, tentu anak murid Coan-cin-kau
takkan mampu melawan mereka, maka ia tidak menjadi kuatir, ia perintahkan para
busu Mongol itu mempercepat penyumbatan gua itu dengan batu agar Khu Ju-ki
berlima tidak sempat menerjang keluar secara mendadak.
Di ruangan pendopo memang terjadi lagi sesuatu sesudah Song Tek-hong pergi,
Perwira Mo-ngol itu telah berkata kepada Ci-keng: “Tio-cinjin, anggota kalian
yang memberontak tampaknya tidak sedikit, agaknya kedudukanmu tidak begitu enak
bagimu.”
Sudah tentu Ci-keng juga menyadari hal ini, namun keadaan sudah telanjur,
ibaratnya sudah berada di punggung macan, kalau melompat turun tentu akan
dicaplok sang harimau malah, Segera Ci-keng berteriak: “Menurut undang2 kita,
apa hukumannya bagi kaum pemberontak?”
Para Tosu diam2 saja, malahan dalam hati mereka pikir: Kau sendiri pemberontak
dan pengkhianat.”
Ci-keng bertanya lagi satu kali dan tetap tiada yang menggubrisnya, diam2
Ci-keng sangat mendongkol, ia bertanya lagi sekali sambil memandangi muridnya
sendiri, yaitu Ceng-kong, agar dia menjawab nya.
Ceng-kong ini adalah Tosu gemuk yang dahulu menganiaya Nyo Ko itulah, ia lantas
menjawab ” pemberontak harus membunuh diri di depan pemujaan Cousuya.”
“Betul” seru Ci-keng. “Nah, In Ci-peng, sudah tahu dosamu belum? Kau terima
tidak?”
“Tidak!” jawab Ci-peng tegas, “Baik, bawa dia ke sini!” kata Ci-keng.
Segera Ceng-kong mendorong Ci-peng ke depan dan berdiri dihadapan arca pemujaan.
Lalu Ci-keng menanyai Cisiang, Ci-heng dan lain2, semuanya juga menyatakan
tidak terima. Di antaranya hanya tiga orang saja yang ketakutan dan minta ampun,
segera Ci-keng memerintahkan dibebaskan, sedang 20 – an orang tetap berdiri
tegak tidak mau menyerap malahan Ci-heng dan beberapa Tosu yang berwatak keras
segera mencaci-maki.
“Kalian teramat kepala batu dan sukar diampuni” kata Ci-keng kemudian “Baiklah,
Ceng-kong, boleh kau melaksanakan hukuman bagi Coan-cin-kau kita.”
Ceng-kong mengiakan, ia melangkah maju dan mengangkat pedangnya, sekali tusuk ia
binasakan In To-hian yang berdiri di ujung kiri.
Serentak para Tosu lantas berteriak murka dan mencaci-maki lebih keras, suara
riuh ramai inilah yang tadi di dengar oleh Song Tek-hong dan Kim lun Hoat-ong di
belakang gunung.
Ceng-kong adalah manusia yang berani pada yang lemah dan takut pada yang keras,
ia menjadi jeri mendengar suara ramai orang banyak.
“Lekas kerjakan, kenapa ragu2,” bentak Ci-keng.
Terpaksa Ceng-kong mengiakan dan membunuh lagi dua orang, Yang berdiri nomor
empat ialah In Ci-peng, baru saja Ceng-kong angkat pedangnya hendak menusuk dada
Ci-peng, tiba2 suara seorang perempuan membentaknya: “Nanti dulu?”
Waktu ia menoleh, dilihatnya seorang perempuan muda berbaju putih sudah berdiri
diambang pintu, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li.
“Kau minggir ke sana, orang ini akan kubunuh sendiri” demikian kata
Siao-liong-li.
Ci-keng menjadi girang melihat Siao-liong-li mendadak muncul, ia pikir di tengah
tokoh2 sakti sebanyak ini, kedatanganmu ini berarti mengantarkan kematianmu,
maka ia lantas membentak: “perempuan siluman ini bukan manusia baik2 tangkap
saja!”
Akan tetapi para Busu Mongol itu tidak tunduk pada perintahnya, semuanya tidak
menggubris-nya. Hanya dua murid Ci-keng sendiri lantas melompat maju, tanpa
dipikir mereka terus hendak memegang lengan Siao liong-Ii.
Siao-liong-li sama sekali tidak ambil pusing terhadap serbuan para Busu MongoI
serta kekacauan yang terjadi di antara orang Coan-cin-pay sendiri. Hanya ketika
melihat Ceng-kong hendak membunuh ln Ci-peng, betapapun ia tidak mau membiarkan
orang lain membinasakan Tosu itu, maka ia lantas bersuara mencegah.
Belum lagi tangan kedua murid Ci-keng menyentuh bajunya, tahu2 tangan mereda
sendiri kesakitan, sinar perakpun berkelebat, cepat mereka melompat mundur Waktu
mereka mengawasi kiranya pedang mereka yang tergantung di pinggang tahu2 sudah
dilolos oleh Siao-liong-li dan dalam sekejap itu pergelangan tangan merekapun
telah dilukai.
Gerakan Siao liong-li ini sungguh cepat luar biasa, sebelum orang lain melihat
jelas cara bagaimana dia merebut pedang dan menyerang, tahu2 kedua Tosu itu
sudah terluka dan melompat mundur.
Keruan anak murid Ci-keng yang lain sama melengak kaget Ceng-kong lantas berseru
: “Hayo maju be-ramai2, kita berjumlah lebih banyak, kenapa kita gentar
padanya?” Segera dia mendahului menerjang dan menusuk.
Tapi sebelum orang mendekat ujung pedang Siao liong-Ii sudah bergetar, tahu2
pergelangan tangan kanan kiri Ceng-kong kedua kakinya terkena tusukan pedang.
Sambil mengaung keras, Ceng kong terus menggeletak tak bisa bangun.
Keempat kali tusukan Siao-liong-ii sungguh cepat luar biasa, sampai tokoh kelas
wahid seperti Siau-siaug-cu dan lain2 juga tercengang. Mereka heran mengapa ilmu
pedang si nona maju sepesat ini, padahal tempo hari waktu dia bertempur melawan
Kongsun Ci belum tampak sesuatu yang luar biasa, apakah mungkin dia, sengaja
menyimpan kepandaian?
Rupanya setelah mendapatkan ajaran Ciu Pek-thong, sekaligus Siao liong-li dapat
memainkan sepasang pedang dengan cara yang berbeda, kini kepandaiannya memang
sudah berlipat ganda.
Sudah sekian lama dia menguntit In Ci-peng dan Tio Ci-keng dan merasa bingung
cara bagaimana harus menyelesaikan kedua orang itu. sekarang orang Coan cin-kau
menyerangnya lebih dulu, kesempatan ini segera digunakannya untuk balas
menyerang dan sekali pedangnya berbau darah, serentak dendam kesumatnya meledak.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang, dan bayangan baju putih, dalam sekejap
saja pedang para Tosu sama jatuh dilantai, pergelangan tangan setiap orang sama
tertusuk pedang tanpa diberi kesempatan untuk menangkis atau mengelak.
Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s